Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
episode 56. Rumah Baru 2


__ADS_3

Dewa menggenggam tangan Zalina, kemudian ia menekan bel pada pintu dan seorang wanita paruh baya membukakan pintu tersebut.


"Selamat datang, Tuan ... Nyonya," ucap perempuan tersebut menundukkan kepalanya.


Zalina masih diam dan sedikit bingung.


"Terima kasih, Bi." ucap Dewa.


Dewa masuk ke dalam rumah tersebut sambil terus menggenggam tangan Zalina. Kemudian ia duduk di salah satu sofa.


"Ayo, Sayang. Kita duduk dulu!"


"Mas, nggak sopan. Ini rumah siapa? jangan langsung duduk aja, tuan rumahnya mana?"


Dewa tersenyum melihat istrinya tersebut.


"Sini duduk dulu!"ucap Dewa menarik Zalina duduk di pangkuannya. Kemudian Dewa memeluk pinggang Zalina.


"Mas, lepasin! malu ntar dilihat orang."


"Nggak ada siapa-siapa di sini, cuma kita berdua yang lainnya pada pada sibuk di belakang."


Zalina mengernyit 'kan keningnya. "Terus yang punya rumahnya ke mana?"


"Ini yang duduk di pangkuan, Mas." Dewa mengecup sekilas bibir Zalina. Sayang rumah ini adalah hadiah pernikahan dari Mas untuk kamu, jadi pemilik rumah ini adalah kamu."


"Hah, Mas bercandanya nggak lucu," ucap Zalina.


"Iya bener, ayo sini Mas mau nunjukin sesuatu." Dewa berdiri dan langsung menggendong Zalina.


"Mas lepasin, ntar ada yang lihat 'kan malu."


"Udah Mas bilang nggak ada yang lihat." Dewa membawa Zalina naik ke lantai 2. Dewa masuk ke dalam sebuah kamar kemudian menurunkan Zalina.


 Zalina bisa melihat sekeliling kamar tersebut, kamar yang luas dengan sentuhan warna peach bergaya modern. Tempat tidur yang luas, sofa, meja rias, kamar mandi dan juga ruang ganti. Tepat di dinding atas tempat tidur terdapat sebuah pigura lumayan besar yang menampilkan foto pernikahan mereka berdua.


Zalina menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ia speechless, terpukau serta kagum dengan apa yang dilihatnya. Dewa memeluk Zalina dari belakang dan meletakkan dagu di bahu Zalina.


"Kamu suka, Sayang?"


Zalina menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Mas. Ini terlalu berlebihan."


"Tidak ada yang berlebihan, menurut Mas semua ini belum apa-apanya dibandingkan Mas mendapatkan kamu yang jauh lebih istimewa."


Zalina tersenyum kemudian memutar tubuhnya. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Dewa.

__ADS_1


"Berjanjilah, Mas. Kalau kamu akan selalu berada di sampingku. Aku tidak butuh semua harta dan kemewahan kamu, Mas. Tapi, aku ingin kamu menua hingga akhir hayat bersamaku."


Dewa mencium kening Zalina.


"Mas mencintai dirimu, Mas tidak bisa berjanji karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Satu hal yang harus kamu tahu kalau kamu akan selalu ada di sini." Tunjuk Dewa pada dadanya. "Doa Mas akan selalu menyertaimu."


Zalina pun memeluk Dewa.


"Zalina mencintai, Mas."


"Mas juga mencintai kamu, Sayang."


Kemudian Dewa mengangkat tubuh Zalina dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Mas, apa yang kamu lakukan?"


"Tempat tidur ini baru, alangkah lebih baik kita mencobanya terlebih dahulu, kokoh atau tidak."


Zalina tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya tersebut. Tapi ia pun tidak mungkin menolaknya. Alhasil selama kurang lebih 1 jam mereka benar-benar mencoba kekuatan tempat tidur baru tersebut.


Kemudian mereka pun membersihkan diri, setelah itu mereka keluar dari kamar mandi.


"Mas, gimana dengan pakaian kita? bajunya, lihatlah!" tunjuk Zalina pada pakaian mereka yang berserakan di lantai. "Udah kusut semua, Mas."


"Kamu pilih, Sayang. Kamu mau pakai yang mana? semua ini untuk kamu."


"OMG ... Mas. Banyak banget, kapan kamu menyiapkannya?"


"Itu tidak perlu kamu pikirkan, apa kamu lupa siapa suami kamu ini?"


Zalina memutar bola matanya. Zalina menelusuri satu persatu rak dan lemari. Banyak baju model kekinian yang begitu pas dengan selera Zalina.


Zalina heran kenapa suaminya ini bisa tahu persis dengan gaya fashionnya, mulai dari baju harian, baju tidur, rumahan, baju jalan, baju kantor, berbagai hijab atau pashmina bahkan juga baju pesta semuanya lengkap tersedia. Begitu juga sepatu dan sandal serta tas semua tersedia, Zalina berdecak tak percaya.


Di lemari sebelahnya juga lengkap dengan berbagai macam jas, celana, seragam, Sepatu, jam tangan milik Dewa.


"Ya ampun jam tangannya brand mehong semua, Mas?ini semua jam jam kamu dan semuanya baru?"


Dewa mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya.


"Itu jamnya udah lama semua, Sayang. Cuma karena selalu dirawat jadi kelihatan masih baru. Aku pakai tiap hari secara bergantian kok."


"Oh ... ya?" tanya Zalina.


"Apa aku yang tidak pernah memperhatikan barang branded yang menempel di tubuhnya?" gumam Zalina dalam hati.

__ADS_1


Setelah memilih pakaian dan menggunakannya, mereka pun keluar kamar.


"Sayang, kamu mau lihat-lihat rumahnya dulu gak? kalau mau biar mas temenin.


Zalina menganggukkan kepalanya. Mereka mengitari area rumah tersebut, mulai lantai 2 terus lanjut lantai 1. Rumah yang cukup luas, di belakang rumah juga terdapat kolam renang, gazebo dan mini garden.


"Kamu suka, Sayang?"


"Suka Mas, Terima kasih atas semua yang kamu berikan."


"Terima kasih juga sudah mau mencintaiku dengan tulus. Kita makan yuk! Habis olahraga ternyata laper."


"Kapan kamu olahraga?" tanya Zalina bingung.


"30 menit yang lalu olahraga di kasur," ucap Dewa berjalan meninggalkan Zalina.


Zalina malu dan mukanya bersemu merah saat ini, untung Dewa tidak melihatnya. Kemudian ia segera menyusul langkah Dewa.


Saat ini mereka duduk di meja makan dan seorang pelayan pun menyuguhkan beberapa makanan.


 Zalina berdiri membantu pelayan tersebut.


"Kamu mau ngapain, Sayang?"


"Aku mau membantu bibi nyiapin makan."


"Tidak perlu, kamu duduk saja di sini."


"Nggak apa-apa, Mas. Karena aku ingin yang melayani kamu itu adalah aku. Bukan yang lain."


Dewa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian Zalina membantu ART untuk menyajikan makanannya. Setelah tersaji semua, Ia menyendok 'kan nasi dan beberapa lauk ke piring Dewa dan menghidangkannya di depan Dewa.


Setelah selesai makan, mereka pun duduk di ruang keluarga dan memanggil seluruh pekerja di rumah tersebut.


"Sayang kenalkan mereka semua ini adalah orang-orang yang akan membantu kita di rumah ini. Ini adalah Bi Ijah yang bekerja di bagian dapur, yang ini Bi Neneng dan Bi Surti bagian bersih-bersih, yang ini Kang Yudi satpam dan yang ini Kang Supri tukang kebun. Mereka ini masing-masing pasangan suami istri Kang Supri Ini adalah suaminya Bi Ijah sedangkan Kang Yudi ini adalah suaminya Bik Nining, Bi Surti suaminya sudah meninggal," ujar Dewa menjelaskan.


"Salam kenal semuanya, Bi ... Kang, kenalkan saya Zalina," ujar Zalina menyalami satu-satu pekerja tersebut.


"Semoga Nyonya betah tinggal di sini."


"Aamiin, Terima Kasih."


"Jadi, kamu tidak akan merasa kesepian selama Mas tinggal bekerja. Karena mereka juga tinggal di sini," ucap Dewa


Zalina mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2