Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab. 48 Resepsi


__ADS_3

Shalat berjamaah pertama kali yang berhasil menyentuh perasaan Zalina. Ia terharu hingga meneteskan air mata sepanjang shalat dilakukan. Setelah Shalat dan doa yang dibaca oleh Dewa dan diamini oleh Zalina, Dewa menghadap pada Zalina dengan posisi mereka yang masih duduk. Zalina mengambil tangan Dewa dan menciumnya.


"Kenapa menangis hem?" tanya Dewa yang mengangkat dagu Zalina karena melihat bekas air mata yang mengering di pipinya.


Zalina menggelengkan kepalanya.


"ini air mata bahagia, Mas. Ternyata begini rasanya menjadi seorang makmum dari seorang suami."


Dewa tersenyum dan mencium pucuk kepala Zalina.


"Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kebersamaan hingga akhir hayat," ucap Dewa.


"Aamiin ...."


"Ayo ... kita istirahat!" seru Dewa.


"Tapi Mas masih hutang cerita sama aku apa yang terjadi pada Mas dan asisten Mas dengan keadaan muka yang di plester dan diperban kayak gini," tunjuk Zalina pada wajah Dewa.


Dewa menghela napasnya. "Oke!! Mas akan jelasin. Sekarang kamu ganti mukenanya dulu, setelah itu kita duduk di kasur.


Setelah berganti mukena Zalina menyusul Dewa yang sedang bersandar pada kepala tempat tidur. Dewa memulai ceritanya dari awal kejadian sampai akhirnya ia tiba di kediaman Zalina.


"Tapi, kamu tenang saja! Mas sudah membuat laporan dan menyuruh bawahan Mas untuk menyelidiki kasus ini. Sebentar lagi Mas yakin orang yang berbuat ini akan segera tertangkap."


Zalina hanya mendengarkan dengan melongo dan rasa tak percaya.


"Alhamdulillah ... dibalik musibah ternyata masih ada rasa syukur yang harus diucapkan ya, Mas. Ternyata Allah masih menyayangi Mas sehingga masih melindungi Mas."


"Iya, kalau tidak ... mungkin kita tidak jadi menikah hari ini."


"Astagfirullah! Jangan Bicara begitu, Mas! tidak baik."


"Hehehe ada yang nggak sabar rupanya untuk nikah," ucap Dewa yang menggida Zalina dengan menaik turunkan alisnya.


Zalina tersipu malu. "Ya nggak gitu juga, Mas."


Zalina langsung berbaring menutup seluruh badan dan kepalanya dengan selimut. Dewa gemas melihat aksi Zalina tersebut, dia pun ikut berbaring dan memeluk Zalina dari luar selimut. Seketika tubuh Zalina menegang dan jantungnya berpacu cepat.


"Enggak usah tegang begini, Mas janji tidak melakukan apapun karena Mas tidak mau kamu kelelahan nantinya. Karena kita juga masih ada acara nanti malam."

__ADS_1


Zalina bisa bernapas lega dan tersenyum di dalam selimut. Dia pun membiarkan tangan Dewa yang memeluknya. Tidak begitu lama, Zalina bisa mendengar deru napas Dewa yang teratur menandakan Dewa sudah terlelap.


Zalina menyembulkan kepalanya keluar dan mengintip ke arah Dewa, ia melihat Dewa sudah tidur nyenyak.


"Kamu pasti capek banget ya, Mas. Apalagi setelah insiden tadi pagi, apa orang yang sama dengan orang yang menerorku kemarin ya? siapa sih sebenarnya? tega banget berbuat seperti ini." Zalina bergumam dengan lirih.


Zalina terus memperhatikan wajah Dewa ,pahatan wajah tersebut sungguh tampan. Dewa yang memiliki rahang yang kokoh, hidung yang mancung, alis tebal dan bibir bawah sedikit tebal dan tatapan mata yang tajam. Dari cerita yang Zalina tahu, Dewa memiliki keturunan dari kakeknya yang berdarah Belanda, mungkin itu yang membuat Dewa terlihat tampan karena ada darah campuran pada orang tuanya.


"Mungkin aku orang yang beruntung, Mas. Bisa dimiliki dan memilikimu," ucap Zalina sambil menelusuri wajah Dewa dengan telunjuknya. Entah dorongan dari mana, Zalina mencium kening Dewa. Setelah itu, dia pun memejamkan matanya.


Sedikit senyuman samar di bibir Dewa tapi tidak disadari oleh Zalina. Mereka pun akhirnya terlelap, sore harinya mereka sudah bersiap untuk segera pergi ke hotel tempat diadakannya acara. Dewa dan Zalina berada dalam mobil yang sama, sedangkan keluarga yang lain ada di dalam mobil yang berbeda.


Dewa mengendarai mobil kepunyaan Zalina dengan tidak terburu-buru. Saat mereka sampai mereka langsung menuju ruangan Presiden Suite yang sudah di booking oleh Dewa untuk mereka berdua.


Di sana sudah menunggu MUA untuk merias mereka. Setelah beberapa jam akhirnya mereka berdua pun siap di rias. Dewa tampil begitu tampan dengan setelan tuxedo warna hitam dan dasi kupu-kupu. Sedangkan Zalina menggunakan gaun Princess warna putih dan tetap menggunakan hijab yang dibentuk sedemikian rupa ditambah mahkota Princess di kepalanya.


Membuat penampilannya sungguh memukau dan benar-benar menjadikannya Ratu malam hari ini. Dewa bahkan sampai tidak berkedip melihat istrinya tersebut.


"Mas, lihatnya gitu banget, jelek ya?"


Dewa menggelengkan kepalanya.


Zalina tersipu malu dan menundukkan pandangannya. Dewa mengangkat dagu zalina dan pandangan mata mereka berdua pun saling mengunci. Dewa mendekatkan wajahnya ke arah wajah zalina kemudian mencium bibir Zalina.


Melihat situasi tersebut para MUA berangsur keluar meninggalkan ruangan.


Ciuman yang begitu dinikmati oleh pasangan baru tersebut. Ciuman yang awalnya pelan lama-kelamaan mulai menuntut, Dewa menyadari Zalina mulai kesusahan bernapas, dia pun menghentikan ciuman tersebut. Setelah itu Zalina mulai mengatur napasnya, dan menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.


Dewa mengusap bibir Zalina dengan ibu jarinya.


"Ayo kita keluar! kalau tidak, Mas takut ... tidak bisa menahannya."


Zalina mengulum senyumnya, bahkan ia masih merasa mukanya sangat panas saat ini. Saat mereka berdua memasuki tempat acara, semua mata memandang ke arah mereka. Ya, malam ini mereka adalah raja dan ratunya. Yang satu tampan dan yang satu cantik, Dewa dan Zalina berjalan pelan dengan senyuman yang terukir indah menuju Kursi Pelaminan yang sudah disediakan.


Ballroom acara tersebut dipenuhi dengan tamu undangan dari berbagai kalangan, karena Dewa memiliki begitu banyak teman dan rekan kerja. Begitu juga dengan Zalina, walaupun ia tidak memiliki teman atau rekan kerja sebanyak Dewa, Tapi orang tuanya dan juga Nema ikut serta Mengundang teman-teman mereka dan pihak keluarga lainnya.


Di sudut yang berbeda ada Rindu dan Rendy sedang menikmati beberapa makanan yang tersedia.


"Pelan-pelan makannya, gak ada yang mau minta juga, kayak anak kecil aja belepotan!" ucap Rendy sambil menyerahkan selembar tisu.

__ADS_1


"Hehehe ... laper Mas, dari pagi makannya cuma dikit karena sibuk ini itu," jawab Rindu. "Oo ya, Mas. Kenapa ulat bulu kesayanganmu ga di angkut sekalian?" Lanjut Rindu bertanya pada Rendy.


"Ck ... kamu ini, emang dia barang? diangkut."


"Biasanya 'kan dia suka nempel selain kayak ulat bulu, dia juga kayak perangko!" ledek Rindu.


Rendy hanya geleng-geleng kepala mendengar ledekan Rindu. Rendy pun mengingat, bagaimana Kekasihnya tersebut menolak saat ia ajak menghadiri pesta malam ini, dengan alasan dia ingin menemui sepupunya yang baru datang dari luar kota.


"Buruan di nikahin, Mas. Kelamaan ntar ditikung orang lain, nangisss kejerrr lhoo. Lagian pacaran ngapain lama-lama, kalau kredit mobil dah lunas tuh." Lagi-lagi Rindu meledek Rendy. "Liat tu, Mas. pak Akbar sat set sat set langsung Ijab Qabul."


Rendy sama sekali tidak menggubris omongan Rindu, tapi dalam hati dia membenarkan apa yang Rindu katakan. Rendy menghela napasnya, karena sampai saat ini hubungannya dengan sang kekasih tidak tahu arahnya.


Hingga jam 11.00 malam tamu undangan berangsur meninggalkan tempat acara. Dewa bisa melihat gurat kelelahan di wajah istrinya.


"Kamu lelah sayang? bagaimana kalau kita ke kamar saja sekarang?"


"Tapi ini masih ada tamu, Mas. Nggak enak kalau kita mau meninggalkan mereka, aku gak apa-apa kok."


Dewa jongkok dan membuka sedikit gaun Zalina, kemudian ia melepaskan heels dari kaki Zalina dan sedikit memijatnya.


"Apa yang kamu lakukan, Mas?"


"Tidak usah menggunakan heels iniagar kamu tidak semakin lelah, lagian para tamu juga sudah mulai pulang, sebentar lagi Kita istirahat," ucap Dewa.


Zalina tersenyum dengan perlakuan Dewa, yang begitu perhatian padanya. Zalina menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Mas."


Dewa mengganggukan kepalanya, kemudian menggenggam tangan Zalina dan menciumnya. Dia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu.


"Tapi semua itu nggak gratis."


Zalina mengerutkan keningnya. "Hah ... jadi, aku harus bayar, Mas?" tanya Zalina yang sedikit kecewa.


Dewa menganggukkan kepalanya kemudian berbisik kembali.


"Bayarannya akan Mas minta nanti saat kita balik ke kamar. Ingat!!! kamu harus tampil cantik nanti."


Dewa mengedipkan sebelah matanya. Zalina yang tahu arah pembicaraan Dewa pun menelan ludah, dan mukanya sudah terasa panas bahkan memerah. Dewa tertawa karena berhasil menggoda Zalina, ia semakin gemas melihat istrinya yang salah tingkah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2