
Hari ini hari libur Zalina dan dia sudah janjian dengan Rindu yang kebetulan juga libur bekerja. Mereka berdua akan pergi menonton film di bioskop. Selesai berdandan Zalina keluar kamar dan kebetulan pas juga dengan kedatangan Rindu di depan rumah.
Tiiin ... tiiin ...
"Nema, Zalina pamit pergi dengan Rindu ya, kami mau nonton," ucap Zalina izin terhadap Nema.
"Iya, hati-hati ya Nak, ntar pulangnya jangan malam-malam kali," ucap Nema.
"Sssiiaaappp bos kuh ... " ucap Zalina sambil membuat tanda hormat, yang membuat Nema geleng-geleng kepala.
Zalina dan Rindu segera pergi ke bioskop yang terdapat di sebuah Mall terbesar di daerah mereka. Mereka memilih film Hollywood genre Action yang selalu booming setiap release, ini udah part X yang mereka tonton, semenjak mereka masih SD film ini sudah release. Walaupun, mereka hanya mengikuti semenjak mereka SMA. Film yang selalu memenuhi bioskop setiap tayangnya, kali ini Zalina dan Rindu pun tidak mau kalah setelah mereka memesan popcorn ukuran besar dan dua cup cappucino serta air mineral mereka segera memasuki ruang theatre.
Dua jam setengah mereka menonton film action dan balapan tersebut mereka keluar dari ruang theatre.
"Kita makan dulu yuk Lin," ucap Rindu.
"Yuk, di Cafe biasa aja ya, Rind."
Sesampai di cafe mereka memesan makanan untuk mereka berdua, Zalina memesan jus sirsak dan kwetiau seafood goreng, sedangkan Rindu memesan jus jeruk dengan bihun seafood goreng. Sambil menunggu makanan dan minuman sampai mereka pun bercerita banyak sehingga menimbulkan tawa diantara keduanya. Sesaat kemudian mereka pesanan mereka terhidang di atas meja dan mereka berdua menikmatinya. Saat baru selesai makan sebuah panggilan W* masuk ke Hp Zalina.
"Assalamu'alaikum Kak," ucap Zalina saat melihat nama Mita di layar Hp nya.
"...."
"Ah ... Astaghfirullah, oh baiklah Kak tapi mungkin agak terlambat Kak, soalnya posisi aku lagi di luar jadi mesti pulang kerumah dulu ganti pakaian, baru ke RS," ucap Zalina.
"...."
Setelah panggilan berakhir di hpnya, Zalina segera memasukkan ke tas nya.
" Rindu, maaf banget aku mesti balik duluan, dapat telepon dari RS. Aku disuruh masuk karena lagi butuh tambahan tenaga medis. Kebetulan di RS banyak pasien masuk akibat bentrok massa di stadion sepak bola X tadi, jadi sekarang aku mau pulang ke rumah ganti pakaian habis itu aku langsung ke rumah sakit," ucap Zalina panjang lebar sambil bersiap berdiri dari mejanya.
"Zalina tunggu, kamu kan enggak bawa kendaraan lagian tadi kan bareng aku ke sininya kalau begitu biar aku antar," ucap Rindu.
"Enggak usah Rin, aku biar naik Taxi aja. Lagian ini udah sore juga, kasian kamu bolak balik nganterin aku ntar," ucap Zalina.
"Justru kalau kamu naik Taxi bakalan lama, nyari Taxi terus nunggu Taxinya datang lagi kan," ucap Rindu.
"Iya juga sih, ya udah deh kalau gitu, tolong antarin aku ya, sorry gara-gara aku nongki kita jadi berantakan," ucap Zalina.
"Husstt ... apasih ngomongnya, buruan kalo gitu kita langsung ke parkiran aja."
Setelah sampai di parkiran, mereka segera masuk mobil dan Rindu segera mengemudikan mobilnya pulang ke rumah Zalina. Rindu mencoba menghidupkan siaran radio di mobilnya untuk mencari berita yang mereka dengar tadi. 'Bentrokan massa yang terjadi di stadion X antara para pendukung kedua club menimbulkan banyak korban. Banyak yang mengalami luka ringan bahkan ada juga yang luka berat, sebagian besar para korban dibawa ke RS. Bhayangkara dan sebagian lagi ke RSUD X' kurang lebih seperti itu berita yang mereka dengar. Zalina pun segera membuka media sosial dan media berita lainnya di Hp-nya yang ternyata sudah banyak berita tentang bentrokan massa tersebut.
Sesampainya dirumah, Zalina segera berlari turun masuk rumah, sedangkan Rindu menunggu di mobil. Tanpa mandi dan hanya mencuci mukanya saja Zalina segera berganti pakaiannya dengan seragam putih-putih memasang jilbab dan mengambil tas selempang kecil sambil memasukkan dompet serta Hp-nya, tidak lupa ia juga memakai cardigan untuk menutupi baju putihnya. Zalina segera keluar rumah dan masuk ke mobil Rindu, Zalina hanya Berpamitan pada Nemanya lewat panggilan Hp karena tidak ada waktu kalau harus pergi ke toko terlebih dahulu. Rindu juga segera mengemudikan mobilnya untuk mengantarkan Zalina ke RS.
__ADS_1
"Makasih ya beb, aku masuk dulu, kamu hati-hati pulangnya. See you ... " ucap Zalina sambil buru-buru keluar Mobil.
"Okay see you too!" teriak Rindu karena Zalina sudah berlalu keluar mobil.
Sesuai pesan dari kak Mita tadi, Zalina segera ke IGD dan ternyata disana memang sudah banyak korban, bahkan ada yang di rawat di lobby RS karena kekurangan ruangan. Dari setiap ruangan, baik bidan atau perawat yang sedang tidak shift dinas atau sedang libur diminta untuk membantu menangani korban yang terluka. Zalina juga segera mengambil bagian, mana pasien yang belum di tangani dan bisa di tangani nya segera ia tangani. Sedangkan yang parah dan perlu penanganan dokter maka akan di tangani dokter terlebih dahulu. Karena jumlah pasien yang banyak dan tenaga dokter yang terbatas, maka perawat atau bidan pun ambil bagian dalam perawatan luka pasien.
Sekitar satu jam setengah Zalina serta tenaga medis lainnya menangani korban yang terluka, saat mendengar adzan Maghrib dia pun pergi ke mushola untuk sholat Maghrib. Zalina tidak bisa berlama-lama untuk sholat Maghrib karena ia harus bergantian dengan yang lainnya. Selepas sholat ia segera pergi melihat pasien-pasien dari korban bentrokan masa tadi.
"Zalina, saya minta tolong sama kamu, tolong ke bagian gudang obat untuk mengambil obat-obat ini. Kebetulan saya tadi udah ke bagian Apotik karena stok di apotik habis jadi disuruh langsung ke gudang obat. Karena saya ada panggilan dari dokter bedah, saya minta tolong kamu yang mengambilnya bisa kan," ucap seorang perawat wanita di depan Zalina.
"Baik Kak, biar saya yang ambil," ucap Zalina mengambil kertas ditangan perawat tersebut.
Zalina segera pergi ke gudang obat, yang terletak di belakang Rumah sakit karena memiliki gedung tersendiri. Tapi saat keluar pintu belakang rumah sakit, dan ingin mengeluarkan id card holder nya Zalina menyadari kalau id card holder nya tidak ada di gantungan leher ataupun di saku celananya. Seketika Zalina teringat meletakkan id card holder tersebut di Rak sepatu saat ia memasang sepatunya di Mushola. Tanpa ID Card holder tersebut, Zalina tidak bisa mengakses pintu masuk gudang obat. Zalina seketika bergegas menuju mushola untuk mencari id card holdernya. dia celingak celinguk mencari benda tersebut tapi tidak ada.
"Seingat aku, aku meletakkannya disini tapi kenapa enggak ada ya, aku yakin kok kalau aku meletakkannya disini, tapi kemana yaa ... " ucap Zalina bermonolog sendiri.
"Maaf Sus, suster cari ini ya?" tanya seseorang dari belakang Zalina.
Zalina yang menyadari ada seseorang yang mengajaknya berbicara segera menoleh ke belakang. "Dia kan papinya Elea," batin Zalina.
"Ini punya Sus kan?" Tadi saya ketemu disini. rencananya tadi saya mau kembalikan ke ruangan yang tertera di ID Cardnya, tapi tiba disana Susternya enggak ada jadi saya kesini lagi, mana tau susternya balik lagi kesini mau ambil ini," ucap pria yang merupakan papinya Elea tersebut.
"Iya Pak, ini punya saya, terima kasih Pak maaf saya buru-buru, sekali lagi terima kasih Pak," ucap Zalina.
Zalina pun segera pergi menuju gudang obat dan mengambil obat-obatan yang diperlukan. Setelah semua yang diperlukan dia dapat, Zalina segera pergi dan kembali ke UGD mengantarkan obat-obatan yang diambilnya. Sesampainya disana, rekan kerjanya sedang mengambil nasi kotak yang di sediakan.
"Zalina, jangan lupa ambil nasi kotaknya, ntar bisa gantian makannya. Kebetulan kita dapat rezeki dari Pak Akbar karena sudah bekerja keras sore ini," ucap salah satu rekan kerjanya.
"Baik Kak," jawab Zalina singkat sambil bertanya-tanya didalam hatinya 'pak akbar siapa ya?'
Malam semakin larut, jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 21.30 wib. Pasien yang terluka sudah semua mereka tangani. Zalina dan rekan kerjanya yang lain sudah menyelesaikan pekerjaan mereka semaksimal mungkin. Sebagian dari mereka ada yang tetap bertugas dan ada yang disuruh pulang dan gantian esok hari untuk berjaga. Zalina kebagian jadwal pulang tapi esok hari ia akan masuk shif pagi, karena untuk tiga hari ini zalina dan beberapa tenaga medis lainnya akan ditugaskan untuk membantu merawat pasien dari korban bentrokan tersebut.
Zalina yang sudah bersiap pulang dan sudah memakai cardigannya keluar rumah sakit. Saat di halaman rumah sakit, Zalina yang asyik mengotak-atik Hp-nya karena sedang memesan Taxi online tidak menyadari ada sebuah sedan mewah berdiri di depannya.
Tiiiin ... tiiin ....
"Astaghfirullah," ucap Zalina yang terkejut dengan bunyi klakson mobil tersebut. Zalina segera menoleh ke dalam mobil.
"Suster mau pulang? mari saya antar sekalian." ucap pria yang tidak lain adalah papi Elea.
"**-ttidak usah pak, terima kasih saya lagi pesan Taxi juga," ucap Zalina menolak dengan sopan.
"Beneran enggak mau, soalnya kalau udah jam segini Taxi online agak susah dapatnya apalagi mau hujan gini," ucap Papi Elea.
'Gluudduuukkkk ... jeedeeerr ...' tiba-tiba bunyi petir terdengar.
__ADS_1
"Aaargghhh ... Astaghfirullah Hal'adzim," teriak Zalina sambil menutup kupingnya.
seolah semesta mendukung ajakan papi Elea, Zalina pun menoleh ke dalam mobil tersebut.
"Bagaimana, mau nunggu Taxi atau mau bareng saya?" tanya papi Elea datar.
Zalina yang khawatir hujan lebat, dan bunyi petir yang menggelegar mau enggak mau menerima ajakan papi Elea, apalagi dari tadi pesanan Taxi Online nya tidak satupun yang diterima.
"Kalau begitu saya numpang ya Pak," ucap Zalina sambil membuka pintu belakang mobil. Saat akan menutup pintu mobilnya, papi Elea menyuruh nya pindah ke depan.
"Kamu kira saya sopir kamu, pindah ke depan duduknya. Lagian saya enggak akan gigit kamu kok kamu kira saya Serigala mau gigit kamu," ucap papi Elea ketus.
Zalina yang mendengar kan ucapan papi Elea hanya menelan ludahnya. "Siapa juga yang ngira dia serigala, aku kan cuma enggak mau ke PD an duduk di samping dia," ucap Zalina bermonolog di dalam Hati. Zalina pun segera pindah ke kursi depan. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara, Zalina hanya sibuk memainkan Hpnya, mau bersuara pun bingung apa yang akan diucapkannya.
"Suster, Terimakasih ya kemaren sudah menangani anak saya," ucap papi Elea yang memecah kesunyian dengan tatapannya masih lurus kedepan.
"Sama-sama Pak, itu memang sudah menjadi tugas kami Pak".
"Saat pulang dan suster lainnya melepaskan infusnya, dia tidak mengizinkan plester yang suster pasang ikut dilepaskan," ucap papi elea sambil tertawa kecil.
"Namanya juga anak-anak Pak, kalau suka sesuatu hingga bosan akan tetap di jaganya. Oya Pak sampaikan maaf saya, karena saya berjanji pada Elea untuk membelikan dia es krim kalau dia sembuh. Tapi saat dia pulang kemarin saya lagi libur Pak jadi kita enggak bertemu," ucap Zalina.
"Enggak apa-apa Sus, lagian dia bakal lupa juga," ucap papi elea. "Oo ya, by the way ntar kasih tahu arah jalannya ya," ucap papi Elea.
"Iya pak, Pak ... saya mau minta maaf beberapa waktu lalu saya tidak sengaja menabrak bapak di lorong rumah sakit, waktu itu saya buru-buru, akibat kecerobohan saya Hp Bapak jatuh dan retak," ucap Zalina gugup dan menunduk.
"Saya kira Anda lupa kejadiannya Sus." Papi Elea tersenyum tipis. "Saya juga minta maaf, karena waktu itu enggak merhatiin jalan karena juga buru-buru," ucap Papi Elea. "O ya, ntar kasih tau alamat rumahnya ya ... " ucap papi Elea.
"Iya Pak, ini udah gak jauh lagi kok Pak, nanti tolong berhenti di ujung jalan ya Pak," ucap Zalina.
"Oke ... "
"Berhenti di toko itu ya pak," ucap Zalina menunjuk toko Nemanya, karena tadi Nema mengajaknya pulang bareng kerumah.
"Kamu tinggal disini?" tanya papi Elea sambil menepikan mobilnya.
"Saya ada keperluan Pak, saya turun disini aja. makasih banyak Pak-"
" Dewa ... " potong papi Elea, saat melihat Zalina bingung mau memanggil namanya dengan sebutan siapa.
"Oh ya, Pak Dewa Makasih banyak udah mengantar saya. Salam untuk Elea dan sampaikan juga maaf saya yang belum menepati janji kepadanya," ucap Zalina.
"Baiklah, nanti saya sampaikan," ucap Dewa.
Zalina segera turun dari mobilnya dan segera masuk kedalam toko. Sedangkan Dewa yang melihat Zalina hanya tersenyum bingung sambil sedikit mengerutkan keningnya saat mengingat Zalina enggak tahu namanya. Dewa pun segera berlalu pergi dari sana dan meluncur pulang ke rumahnya.
__ADS_1