Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 37. Jalan-jalan 1


__ADS_3

*Sekedar Info ya readers...


Didalam cerita ini, memang menceritakan tokoh wanitanya berhijab, tapi saat ini dia masih berhijab yang fashionable, belum sesuai syariat. jadi, jangan ada yang berfikir " Kok berhijab mau-mau aja di ajak jalan sama laki-laki?" ini masih sikap secara umum, masih seperti kebanyakan wanita yang masih awam dalam berhijab, tapi author akan coba hati-hati dalam menuliskan sikap tokoh wanita yang tidak melewati batasnya sebagai wanita yang berhijab. Sekian reader..., semoga kalian suka dengan karya ku 🥰.


...--------------------------------...


Setelah menyelesaikan makan siang, mereka berdua keluar dari restauran tersebut dan segera menuju mobil. Tidak lupa, Dewa kembali membukakan pintu untuk Zalina, hal tersebut sukses menerbitkan seulas senyum di bibirnya, dan secepat kilat senyum itu disembunyikannya saat dewa masuk mobil.


"Terima kasih makan siangnya, Pak Dewa! kalau begitu, bisa tolong antarkan saya ke klinik sekarang, saya akan kembali bekerja."


Dewa yang ingin memasang safety belt pun di urungkannya, dia memutar sedikit posisi duduknya menghadap Zalina.


"Kalau kita jalan-jalan dulu mau gak?"


"Saya masih jam kerja Pak, Maaf ... ajakan bapak terpaksa saya tolak."


"Kalau saya bilang kamu diizinin gak balik ke klinik, kamu mau temani saya jalan-jalan?"


Zalina mengerutkan keningnya, dan menoleh ke arah Dewa. " Maksud Bapak?"


"Sebenarnya saya udah minta izin agar kamu ga balik ke klinik setelah makan siang, dan kamu di beri izin. jadi, kamu mau menemani saya jalan-jalan?"


Zalina melongo menatap tidak percaya pada dewa.


"Pak Dewa, minta izin agar saya gak masuk kerja lagi setelah makan siang? kok bisa? siapa yang kasih izin?" tanya Zalina keheranan.


"Sebenarnya yang punya klinik itu teman saya, sewaktu kamu bilang kerja di klinik X saya coba memastikan padanya, apa benar kamu bekerja di sana atau tidak. Dan dia juga yang memberi izin untuk kamu." ucap Dewa lirih, dia was-was Zalina akan marah lagi karena tidak memberitahu dari awal.


Zalina geleng-geleng kepala mendengar penuturan Dewa, terjawab sudah pertanyaan Zalina yang penasaran dari mana Dewa tahu alamat tempatnya bekerja.


"Sepertinya Pak Dewa terlalu PD kalau saya akan menyetujui ajakan Pak Dewa."


Dewa yang mendengar ucapan Zalina menghela nafasnya pelan, dia sedikit kecewa ternyata Zalina tidak mau menemaninya jalan-jalan.


"Ya sudah, kalau begitu ayo saya antar kembali ke klinik," ucap Dewa yang akan memasang kembali safety belt.

__ADS_1


Zalina yang melihat kekecewaan di muka Dewa mengulas senyum tipis hampir tidak terlihat.


"Uugghh ... ntah kenapa gak bisa marah lama-lama kalau liat muka ganteng ini," gumam zalina dalam hati.


"Ehmm ... saya tidak bisa menemani Pak Dewa dengan pakaian kerja seperti ini, itu akan membuat saya tidak nyaman."


Dewa yang mendengar ucapan Zalina seketika menerbitkan senyuman.


"Kalau begitu ayo ikut saya, kita akan mengganti pakaian kamu terlebih dulu."


Zalina hanya menganggukkan kepalanya, mengikuti apapun yang dikatakan Dewa.


Mobil Dewa berhenti disebuah butik yang cukup besar, dia mengajak Zalina untuk masuk.


"Ayo! pilih baju yang kamu suka, yang membuat kamu nyaman untuk kita jalan-jalan setelah ini." ucap Dewa penuh semangat, setelah membukakan pintu mobil Zalina.


Zalina pun masuk ke dalam butik tersebut dan memilih satu stelan baju serta hijab untuk ia gunakan, setelah menemukan yang ia suka, ia pun langsung memakainya, dan terlebih dahulu dibayar oleh Dewa.


"Tidak perlu Pak, Biar saya sendiri yang bayar,"


Zalina pun tidak berkutik lagi, kemudian mereka segera meninggalkan butik tersebut.


"Apa kamu ada rekomendasi tempat yang ingin kita kunjungi?"


"Saya tidak begitu paham Jakarta Pak, ini kali pertama setelah dewasa saya kesini. Terserah Bapak saja mau kemana."


Dewa tampak berfikir sambil menyetir dengan pandangan yang tetap lurus kedepan. "Bagaimana kalau kita ke Sea World saja?"


Zalina menyukai ide Dewa, dia tanpa ragu menganggukkan kepalanya berkali-kali.


Dewa pun melajukan kendaraannya menuju Sea World . Walaupun ini bukan kali pertama dia duduk di samping dewa dan dalam satu mobil, entah kenapa dia menjadi gugup. Zalina merasa perjalanan ini sungguh panjang, karena lebih banyak keheningan. Zalina tidak tahu harus membicarakan apa, agar mereka tidak canggung seperti ini. Akhirnya Zalina mencari bahan pembicaraan mereka.


"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Zalina yang terus meremas jemarinya karena gugup.


"Silahkan! kamu mau menanyakan apa?" ujar Dewa yang masih fokus menyetir.

__ADS_1


"Hmm ... kenapa harus saya pak? kenapa bisa suka dengan saya?"


"Apa cinta perlu alasan? kepada siapa cinta itu singgah apa saya yang mengaturnya? saya tidak tahu sejak kapan saya menyukai dan mencintaimu, tapi saya merasa kehilangan kalau tidak melihatmu, merasa tidak nyaman jika tidak tahu keadaan mu?" jawab Dewa.


"Apa karena kasihan dengan saya? karena bapak melihat apa yang terjadi dengan saya di restauran saat itu, bahkan bapak melihat bagaiman keadaan saya setelah kejadian tersebut, jadi bapak bukan suka, tapi kasihan. Lagian, bukankah bapak mencintai almarhum istri bapak? bagaimana bisa bayangannya lupa begitu saja, sedangkan bapak sangat begitu mencintainya, saya bukanlah apa-apa dibandingkan dirinya."


'Cciiiiiittttttt ... '


Dewa seketika langsung menghentikan laju mobilnya, dan menepi agar tidak mengganggu kendaraan lainnya.


Zalina merasa sedikit takut dengan reaksi apa yang akan diberikan Dewa, sepertinya Dewa tidak menyukai pertanyaan Zalina karena dia tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya. Zalina pun tidak menyangka dengan bibirnya yang begitu lancar berbicara pada Dewa barusan.


Sebelum memulai berbicara, tampak dewa menghela nafasnya pelan.


"Apa kamu tidak percaya dengan perasaan saya? saya memang kasihan dengan keadaanmu karena kejadian saat itu, tapi bukan itu yang membuat saya mencintaimu, sebelum kejadian itu saya sudah cemburu melihatmu dengan pria lain, bahkan saat kamu datang ke restauran saat kejadian itupun saya melihatnya, hati saya gelisah melihat kebersamaan kalian. Tapi, saya belum menyadari dengan perasaan saya yang sesungguhnya."


"Dulu, ya ... dulu saya sangat mencintai almarhum istri saya, bahkan saya susah untuk move on darinya. Bahkan saya sempat tidak ingin menikah lagi, tapi apa kamu tahu? kehadiranmu memberi warna baru dalam hidup saya, kamu bukan Hanum almarhum istri saya, tentu saja kalian berbeda. Kamu adalah kamu dengan versi mu sendiri, dengan apa adanya dirimu itulah yang membuat saya menyukaimu. Hanum adalah masa lalu saya, sedangkan kamu adalah seseorang yang saya harapkan untuk menjadi masa depan. Kamu bertanya kenapa saya bisa melupakannya begitu saja? saya tidak melupakannya, tapi menyimpannya rapat-rapat karena saya tidak ingin menggabungkan dua rasa menjadi satu, itu akan menyakiti saya dan juga pasangan saya kedepannya."


Dewa diam sejenak setelah menjelaskan panjang lebar pada Zalina, Zalina tidak menyangka jawaban Dewa benar-benar membuatnya menelan ludah dengan susah.


"Begini, nih ... berurusan hati dengan orang yang berpengalaman, mati kutu dibuatnya," Zalina bermonolog dalam hati.


"Sekarang saya yang ingin bertanya dengan kamu," ucap Dewa.


Zalina menggigit bibirnya bersiap mendengar pertanyaan Dewa.


"Apa selama ini dan sampai saat ini kamu bersedia menemani saya itu karena kasihan juga? karena saya terlihat seperti pria yang menyedihkan dan perlu di kasihani? seperti pria kesepian, seperti itu?"


Zalina spontan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tentu saja tidak, Lagian saya baru mengetahui masa lalu Pak Dewa saat Bapak datang ke rumah Nema terakhir kali, kalau saat ini ... saat ini ... karena bapak minta ditemani, Ya! minta ditemani, benar seperti itu kan?" ucap Zalina gugup.


Dewa mencebikkan bibirnya dan tersenyum tipis tidak terlihat.


"Okay, kalau begitu apa perjalanannya bisa dilanjutkan? atau masih ada yang ingin kamu tanyakan?"

__ADS_1


Zalina menggelengkan kepalanya, Dewa pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Sea World.


__ADS_2