
Jam sudah menunjukkan pukul 08. 50 tapi tanda-tanda kehadiran Dewa belum juga tampak, Zalina beserta keluarga sudah gelisah.
"Ini kenapa mas Dewa belum datang juga ya? malah nomornya nggak diangkat lagi," ucap Zalina yang gelisah dan tidak tenang.
"Gimana, Nak? apa Dewanya sudah kamu hubungi?" tanya Nema yang masuk menemui Zalina.
"Sudah, Nema. tapi nggak diangkat."
"Coba kamu hubungi asistennya itu,"
Zalina pun mencoba menghubungi Rendy, dan Rendy pun tidak mengangkat panggilan dari Zalina. Perasaan Zalina semakin tidak enak, dia khawatir terjadi sesuatu pada Dewa.
"Ya Allah, kenapa perasaanku nggak enak begini, semoga mas Dewa baik-baik saja ya Allah," gumam Zalina pelan.
Zalina yang tadi duduk sekarang berdiri dan mondar-mandir di dalam kamarnya. Zalina Kamu duduk dulu tidak baik gelisah seperti ini, Cindy Berkata sambil membawa Zalina duduk di salah satu kursi yang ada di kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.10 WIB, di luar ruangan para tamu undangan sudah berbisik-bisik kenapa pernikahan belum juga terjadi, Bapak KUA juga sudah bertanya apakah pernikahan ini dilanjutkan atau tidak? Marcel selaku wali nikah Zalina, meminta tunggu sebentar lagi.
"Bisa tunggu sebentar lagi, Pak. Saya yakin, calon menantu saya sedang di perjalanan."
"Baik, saya akan menunggunya 15 menit lagi, Pak Marcel. Karena saya juga harus menikahkan pasangan yang lainnya." Bapak KUA berkata sambil melirik jam di Pergelangan tangannya.
13 menit kemudian terdengar sebuah mobil berhenti di depan pagar. Zalina yang tidak sabar berlari keluar ingin memastikan siapa yang datang. Zalina merasa lega dan tenang melihat orang yang turun dari kendaraan tersebut adalah Dewa dan juga Rendy.
Zalina mengernyitkan keningnya saat melihat mobil yang ditumpangi oleh Dewa adalah taksi online, hingga saat Dewa berjalan ke arahnya, Zalina melihat beberapa luka di wajah Dewa dan Rendy yang sudah diperban Zalina segera menghampirinya.
Dewa terpesona melihat penampilan Zalina, sehingga tidak menyadari kegelisahan dan kekhawatiran pada muka Zalina.
"Mas, apa yang terjadi? kenapa muka kalian diperban seperti ini?" tanya Zalina
__ADS_1
Zalina mengulangi pertanyaannya, bahkan menepuk pelan lengan Dewa yang tidak menjawab pertanyaan mnya.
"Hah ... Kamu bicara apa?" tanya Dewa yang terpesona dengan penampilan Zalina sehingga tidak mendengarkan apa yang ditanyakan oleh Zalina.
"Apa yang terjadi dengan luka-luka ini?" tanya Zalina lagi.
"Oh ... nanti Mas jelaskan, sekarang kita masuk dulu dan kita lanjutkan acara akad nikah kita."
Akhirnya Zalina pun menurut dengan perkataan Dewa.
"Karena pasangan pengantin yang sudah datang Kita bisa mulai acara akad nikahnya ya," ucap bapak KUA.
Dewa pun menjabat tangan Marcell selaku wali nikah Zalina.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zalina Lovea Lee binti Marcel Lee dengan Mas kawinnya seperangkat alat sholat dan uang Rp100.000 dibayar tunai."
"Bagaimana, Saksi?"
'SAH'
'SAH'
Dia begitu terharu ketika mendengar kata Ijab Kabul tersebut diucapkan dengan lancar oleh Dewa, dan ketika kata 'sah' diucapkan para saksi, membuat dadanya berdesir hangat dan jantungnya bergetar, dia sadar saat ini dia sudah berubah status menjadi seorang istri.
Zalina pun kemudian mengambil tangan Dewa dan menciumnya. Sedangkan Dewa meletakkan telapak tangannya di kepala Zalina dan membacakan doa, setelah itu dia mencium kening Zalina. Setelah penandatanganan berkas dan buku nikah Zalina dan Dewa pun meminta Restu dan sungkeman pada keluarga, isak tangis pun tak terbendung baik Dewa dan Zalina serta keluarga menangis Haru dan bahagia melihat anak kesayangan mereka mendapatkan pasangannya.
Di lain tempat, seorang perempuan sedang melempar semua barang di dalam kamarnya, kamar tersebut bak kapal pecah.
"Kurang ajar!!!! bagaimana itu bisa terjadi? bagaimana dia bisa selamat? Kau jahat Mas!!! bahkan Kau menolakku hanya untuk perempuan ingusan itu, dulu kau juga tidak melirik padaku dan lebih memilih Hanum, sekarang kau juga tidak memilihku dan lebih memilih bocah ingusan itu. Aku tidak terima, Mas!"
__ADS_1
Perempuan yang tidak lain adalah Maura. Ya, Maura murka telah mendapatkan sebuah kiriman video pernikahan Dewa dan Zalina, video tersebut dikirimkan oleh Dewi adik kandung Dewa.
"Baik, Mas. Ini belum berakhir, aku tidak akan membiarkan perempuan lain bisa memilikimu. Kau tunggu saja, Mas!" ucap Maura dengan seringai licik di wajahnya.
Setelah acara akad nikah, Dewa dan Zalina pun beristirahat di kamar. Karena mereka akan melanjutkan resepsi di sebuah hotel berbintang nanti malam. Saat ini mereka berdua yang sudah berada di kamar sama-sama merasakan gugup, terlebih Zalina ini adalah kali pertama untuknya satu kamar berduaan dengan laki-laki.
Zalina masih duduk di meja rias menghapus sedikit demi sedikit make up di wajahnya. Dewa keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dan sudah berganti pakaian dengan pakaian santai. Iya menghampiri Zalina yang masih duduk di meja rias dan menghapus make up nya, perlahan dia berdiri di belakang Selina kemudian memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Zalina.
Jantung Zalina berdegup sungguh kencang, Zalina yakin Dewa pun bisa mendengar bunyi jantungnya yang sudah seperti genderang mau perang. (hahaha ibarat lagu Ya kan Readers) 😅
"Cantik." Satu kata tersebut diucapkan oleh Dewa, pandangan mata mereka bertemu di dalam kaca di depan mereka. Zalina bersusah payah menelan salivanya.
"Kenapa lama sekali? Mas bantu ya melepaskannya?" Zalina menelan ludahnya, dia belum menjawab apapun tapi tangan dewa sudah lebih cepat melepaskan satu persatu jarum yang menempel di hijabnya.
Dewa melepaskan hijab tersebut dari kepala Zalina, kemudian dia bisa melihat rambut Zalina yang disanggul. Dia juga melepaskan ikatan rambut tersebut, Dewa menelan saliva dengan susah payah dia bisa melihat wanita yang sudah sah menjadi istrinya ini sungguh Bak Bidadari.
'Glek'
"Sempurna!"
Itulah satu kata yang bisa diucapkan oleh Dewa melihat Zalina saat ini. Rambut panjang tergerai hingga pinggang berwarna hitam legam, muka Zalina perpaduan antara ibu dan ayahnya keturunan Tionghoa memang menghasilkan kecantikan yang berbeda. Zalina memiliki hidung mungil yang mancung, bibir kecil tipis, dagu yang Lancip mata bulat serta bulu mata yang lentik, tidak lupa lesung pipi sebelah kanan.
Zalina yang dipandang oleh Dewa merasa malu dan semakin gugup. Dia pun menundukkan kepalanya. Dewa menyentuh dagu Zalina dan mengangkatnya, entah dorongan dari mana Dewa mengecup bibir Zalina.
'Cup'
Ya, hanya sekedar mengecupnya karena Dewa tidak ingin dia Kebablasan sehingga membuat Zalina ataupun dia akan kelelahan untuk melanjutkan resepsi nanti malam. Zalina terkejut dan membelalakkan matanya, seketika wajahnya panas dan memerah.
"Maaf, Mas tidak bisa menahannya, sekarang kamu ganti baju dulu habis itu kita shalat ya," ucap Dewa dan diangguki oleh Zalina.
__ADS_1
Zalina masuk ke dalam kamar mandi, dia bersandar di pintu menarik nafas banyak-banyak, karena dia sungguh sesak saat ini, setelah mendapat kecupan dari Dewa. Zalina menatap kaca dan tersenyum menyentuh bibirnya.
20 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian santai, setelah berwudhu dan bersiap untuk shalat Zhuhur, mereka berdua pun salat berjamaah dengan Dewa sebagai imamnya.