
Dewa Baru saja sampai di rumahnya dan langsung memarkirkan mobilnya setelah itu ia memasuki rumahnya. Di ruang tamu dia melihat Dewi sedang mengobrol dengan seorang wanita yang ia kenal yaitu Maura. Dewa yang sudah tahu maksud kedatangan Maura tidak mempedulikan kehadiran Maura dan terus melangkah menuju kamarnya yang terletak di lantai 2. Dewi yang melihat Dewa tidak menggubris kehadiran Maura pun menyusulnya yang menaiki tangga.
"Mas Dewa, tunggu mas,"ucap Dewi.
Dewa pun berhenti tanpa menoleh ke belakang.
"Mas Dewa, di sana ada Maura lo lagi nungguin kamu dari tadi, dia udah datang jauh-jauh ke sini apa kamu nggak kasihan mas, temani sebentar dulu dong mas," bujuk Dewi.
Dewa menghela nafasnya, "Dewi, aku kan nggak ada Minta dia untuk datang ke sini. Lagian dia kan teman kamu, kamu aja yang ngajak dia ngobrol aku capek mau istirahat dulu," ucap Dewa.
"Mas Dewa, jangan kayak gini dong Nggak enak aku sama orangnya. Sebentar aja ya mas temui maura," bujuk Dewi sambil memegang lengan Dewa yang hendak berjalan menaiki tangga.
"Lah yang punya urusankan kamu, aku nggak ada bikin janji sama dia, aku mau bersih-bersih dulu aku capek mau istirahat," ucap Dewa yang berlalu pergi.
Dewa tidak mempedulikan kekesalan Maura yang memperhatikan mereka dari tempat duduknya. Maura merupakan teman dewi dari SMA, dari dulu dia begitu menginginkan dewa untuk menjadi suaminya. Maura sudah pernah menikah dan sekarang pun sudah bercerai, dia tetap mengejar cinta dewa hingga saat ini.
"Maura maafkan mas Dewa ya, dia lagi capek sekali kelihatannya jadi dia nggak bisa nemuin kamu," ucap Dewi mencari alasan.
Maura yang merasa jengkel di dalam hatinya pun hanya pura-pura tersenyum.
"Ya udahlah Wi, Biarin aja mungkin mas Dewa beneran lagi capek. Kalau begitu aku permisi dulu lah ya, Lain kali kita sambung lagi obrolannya," ucap Maura.
Dewi mengantarkan kepergian Maura sampai ke depan pintu.
"Aku enggak akan pernah menyerah mas Dewa, aku akan pastikan kalau kamu bakal menjadi milikku, dengan atau tanpa bantuan Dewi sekalipun," ucap Maura meremas setir mobilnya. kemudian ia pun melajukan kendaraan nya meninggalkan kediaman Dewa.
"Mau gimana lagi sih Mas, Mau sampai kapan kamu kayak gini terus," ucap Dewi pelan melihat sikap kakaknya yang tidak mau membuka hati untuk Maura. ya, Dewi merupakan adik dari Dewa. dia selalu mencari cara agar Dewa bisa dekat dengan Maura. Tapi, Dewa selalu mencari alasan untuk menolaknya.
Di dalam kamarnya, Dewa merasa lelah membaringkan badannya ditempat tidur dan memejamkan matanya.
Sedangkan di tempat lain Zalina yang baru selesai membersihkan dirinya duduk di depan meja belajar. Dia mengambil handphone dan mencoba mencari satu informasi dari mbah Gugel. Zalina mengetikkan nama Akbar Dewanda, seketika muncul lah berbagai macam informasi tentang pria tersebut. satu persatu dibaca oleh Zalina.
"Ya ampun Zalina, Orang terkenal gini kenapa bisa enggak peka, kamu ini bener-bener Zalina, kemana aja sih kamu," ucap Zalina merutuki kebodohannya sendiri.
Zalina terus membaca informasi tentang Dewa.
"Loh, jadi kemarin dia juga memberikan sambutan saat acara kelulusan wisuda aku, dan dia yang mewakili alumni. kok aku bisa nggak tahu ya."
Zalina tampak mengingat kejadian saat dia wisuda kemudian Dia teringat bahwa saat perwakilan alumni memberikan sambutan dia pergi ke toilet, Zalina lanjut membaca informasi mengenai Dewa.
"Kenapa nggak ada data pribadinya ya, kenapa hanya tentang karir dan pendidikannya saja? aku jadi penasaran seperti apa istrinya," ucap Zalina. "aaahhh ... bodo amat, emang apa urusan dengan diriku," ucap Zalina.
Saat Zalina sedang asyik membaca berita tentang Dewa, panggilan Video Call dari Rindu pun masuk.
"Assalamualaikum Rin, " ucap Zalina.
"Waalaikumsalam beb, Kamu lagi di mana?" tanya Rindu.
"Ini lagi di rumah," ucap Zalina.
"Zalina, Kamu hutang penjelasan sama aku. Sekarang juga kamu jelasin sama aku bagaimana bisa pak Akbar seperti sudah akrab dengan kamu, terus bagaimana juga dia bisa mengetahui minuman kesukaan kamu dan satu lagi kenapa kamu memanggilnya dengan Pak Dewa Padahal semua orang tahu kalau panggilannya adalah Pak Akbar," ucap Rindu mencecar Zalina dengan banyak pertanyaan.
"Busetttttt ... banyak banget pertanyaannya," ucap zalina. "Aku jelasin dari mana ya Rin aku sendiri menjadi bingung sebenarnya, aku dengan Pak Dewa itu nggak dekat-dekat banget. pak Dewa itu orang tua pasien yang seorang anak kecil di tempat aku bekerja. terus aku juga ingat, kalo dia adalah laki-laki yang pernah aku tabrak di koridor rumah sakit saat kita PKL terakhir. kamu ingat kan?" tanya Zalina.
"Ya, aku ingat, cowok ganteng waktu itu, oh yaa, bener ... itu pak Akbar," ucap Rindu.
__ADS_1
"Aku berkenalan dengan beliau tepatnya saat kejadian bentrokan massa tempo hari, beliau sempat antar aku balik karena udah larut malam,"
"Oh my God, kamu diantar sang jenderal? Hebat Sahabat ku,"
"Tapi, aku belum tahu kalau beliau orang penting Rind," ucap Zalina. "Terus aku sempat ketemu beliau lagi tempo hari Pas kejadian kamu dijambret,"
"Tempo hari pas aku di jambret?kan, kamu sama aku, terus kamu juga langsung pulang."
"Tempo hari sepulang kita dari mall saat kamu kejadian penjambretan. nah ... saat itu aku nggak jadi pulang ke rumah aku berniat untuk singgah terlebih dahulu ke rumah singgah di perkampungan yang biasa kita tuju. Saat itu aku diganggu sama preman kebetulan Pak Dewa yang membantu menyelamatkan aku dari para preman tersebut yang kebetulan saat itu Pak Dewa bersama putrinya melewati jalan itu. Putrinya itu mengenalku sewaktu dia dirawat di rumah sakit. Selama putrinya dirawat aku dan putri nya dekat. Jadi kemarin itu dia merengek minta aku ikut bersama mereka ke mall dan menemani dia bermain. Saat itu pak dewa memperkenalkan dirinya dengan nama Dewa bukan Akbar. "ucap Zalina.
"Tunggu ... tunggu ..., tadi kamu bilang Putri Pak Akbar? Emang pak Akbar punya putri? dari gosip beredar bukankah dia seorang duda?" tanya Rindu.
"Aku enggak tahu dia duda atau enggak, yang jelas dia punya putri usianya kurang lebih 4 tahun dan dari cerita putrinya dia juga memiliki mama. aku lihat di Mbah Google nggak ada tuh keterangan dia seorang duda," ucap Zalina.
"Cie cie yang udah Scroll scroll dan stalking, udah pandai kepo sekarang jeng? hati-hati Lakik orang, hahaha ... " ucap Rindu meledek Zalina.
"Yeee ... aku penasaran, gara gara kaget liat beliau pakai seragam polisi. ternyata aku yang kudet, enggak tahu beliau siapa," ucap Zalina membela diri.
"Kamu bukan kudet, tapi kuped alias kurang peduli karena kamu pedulinya cuma buku dan belajar aja. Makanya baru tahu sekarang, lagian Beliau pernah ngasih sambutan saat wisuda kita Zalina," ucap Rindu.
"Yesss ... Aku juga liat di beberapa artikel yang aku baca di mbah gugel. Dan aku juga ingat, saat pak Dewa kasih kata sambutan aku pergi ke toilet, jadi aku gak liat mukanya," ucap Zalina.
"Panteessss ..." ucap Rindu.
"Kalau soal Jus sirsak, kebetulan mungkin Rin, lagian aku enggak pernah kasih tahu aku suka jus sirsak," ucap Zalina.
Rindu hanya manggut-manggut saat Zalina menjelaskannya.
"Terus tadi kamu ngapain sama Pak Akbar, bukankah pak akbar bilang ada keperluan dengan kamu," ucap Rindu.
"Pak Dewa minta tolong aku mencarikan kado untuk ulang tahun putrinya lusa," ucap zalina.
"Aku juga heran Rin, kalo kamu tanya aku terus aku tanya siapa dong."
" Noh, tanya rumput yang bergoyang!" ucap Rindu.
"Sekarang giliran kamu, gimana tadi urusan kamu sama mama kamu? kenapa sampai diancam segala mau dijual tuh si merah?" tanya Zalina.
"Hmmm, hufftt ... Zalina Aku mau ngasih tahu kamu sesuatu. Nggak tahu ini beritanya baik entah buruk untuk aku Yang jelas sekarang rasanya nano-nano," ucap Rindu.
*Flashback off
Rindu sampai di rumah dan memarkirkan kendaraan nya, di halaman rumah dia melihat mobil yang menurutnya tidak asing.
"Kayak pernah lihat Mobil ini, mobil siapa ya?" tanya Rindu berusaha mengingat. Rindu memasuki rumah dia melihat mama dan Papanya serta beberapa tamu yang sudah Duduk seperti menunggu kedatangannya.
"Nah, ini dia anaknya udah datang," ucap mama Rindu yang berdiri menghampiri Rindu.
"Sayang, ayo ke sini mama kenalin kamu sama anak teman mama yang kemarin mama bilang," ucap Savira mamanya Rindu.
Rindu melihat seorang pria yang duduk membelakangi dirinya. "Kayak kenal ... " batin Rindu.
"Ren, kenalin ini Rindu anak tante," ucap Savira memperkenalkan Rindu, pria tersebut pun menoleh ke arah Rindu.
"Mm-mas Rendy ... " ucap Rindu pelan.
__ADS_1
"Kamu ... " ucap Rendy.
"Jadi kalian berdua udah saling kenal?" tanya Savira menunjuk mereka satu sama lain.
"Mas Rendi ini yang mengantar aku ke klinik tempo hari Ma," ucap Rindu.
"Wah Bagus dong kalau udah saling kenal berarti perkenalannya nggak perlu lama-lama," ucap mamanya Rendy.
"Ya udah, sekarang Duduk dulu," ucap Trisno Papanya Rindu. Rindu pun duduk di samping mamanya berhadapan dengan Rendy.
"Rendy, jadi anak tante yang ingin tante kenalin sama kamu itu Rindu, dia Putri tante satu-satunya. Nah Rindu, anak teman Mama yang kemarin Mama ceritain yang ingin Mama kenalin sama kamu itu Rendy ini," ucap Savira yang menjelaskan pada Rendy dan Rindu.
Rindu dan Rendy hanya diam saja, melihat mereka yang tidak begitu banyak bereaksi membuat papa Rindu bersuara.
"Ya udah, kalian berdua ke belakang sana ngobrol berdua, mungkin akan lebih leluasa dan rileks kalau tidak ada kami," ucap Trisno ayahnya Rindu dan diangguki kepala oleh yang lainnya.
Rendy pun mengikuti langkah Rindu menuju halaman belakang.
"Jadi tadi Mas buru-buru pulang itu mau ke rumah aku?" tanya Rindu.
Rendy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya," jawab Rendy.
"Kalau tahu gitu mending kita tadi pulang barengan aja ya Mas biar sekalian aja tuh orang tua kita heboh melihatnya," ucap Rindu sambil tertawa menutup mulutnya. Rendy hanya tersenyum mendengar ucapan Rindu.
"Rindu, ada yang ingin aku omongin sama kamu," ucap Rendy.
"Belum apa-apa udah mau ngomong serius aja nih Jonas Rivano, berasa jadi Asmirandah beneran kalo gini," ucap Rindu di dalam hati.
"Rindu Maaf sebelumnya aku menerima ajakan Mama ke sini itu semata-mata tidak ingin membuat Mama kecewa Aku tidak mau membuat mama bersedih karena aku menolak pilihannya. tapi sejujurnya aku sudah memiliki wanita pilihanku sendiri," ucap Rendy.
"Deg ... patah deh," batin Rindu.
Rindu yang mendengar ucapan Rendi terasa sakit Lubuk hatinya Rindu mencoba menguasai keadaan dia tidak ingin terlihat seperti begitu mengharapkan kehadiran Rendy.
"Hehehe ... Mas Rendy tenang aja dari awal aku juga tidak setuju dengan Perjodohan seperti ini Emangnya ini zamannya Siti Nurbaya masih di jodoh-jodohin seperti kita nggak bisa nyari seseorang yang pantas untuk kita aja," ucap Rindu sambil menekankan kata pantas.
"Jadi kamu setuju Kalau Perjodohan ini nanti dibatalkan?" tanya Rendy.
Rindu yang perasaannya sudah tidak karuan berusaha menahan gejolak di dalam hatinya agar tidak marah ataupun kesal Rindu menggenggam jemarinya kuat-kuat. Rindu tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat ini, dia akui dia mengagumi Rendy sejak pertama kali mereka bertemu 'pria tampan, peduli dan perhatian' itulah yang Rindu fikirkan sejak pertama bertemu kali. Entah mengapa hatinya menjadi sesak mendengar ucapan rendi barusan.
"Mas Rendy tenang aja dari awal aku udah bilang sama mama dan papa pertemuan kita yang pertama ini hanya untuk saling mengenal kalau memang kita tidak ada kecocokan maka Mama tidak berhak untuk memaksakan hubungan ini terus berlanjut jadi mas tenang aja nanti aku akan bilang sama mama dan papa kalau kita tidak ada kecocokan satu sama lainnya," ucap Rindu dengan tegas.
"Makasih ya Rindu ternyata kamu jauh lebih mengerti aku," ucap Rendy tidak sadar menggenggam tangan Rindu.
"OMG ... jantung, tenang ... tenang ... " batin Rindu menahan dag dig dug di dadanya.
* Flashback ON
"Jadi aku harus gimana Lin? keputusan aku bener kan, Lin?" tanya Rindu.
"Udah bener Rind, buat apa juga melanjutkan hubungan kalau kamu udah tahu hati laki-laki itu sudah buat perempuan lain. kamu percaya deh, Allah udah nyiapin laki-laki yang pantas buat kamu, sekarang kamunya yang harus bersabar," ucap Zalina.
"Kamu benar Rin, semangattttttt ... " ucap Rindu. "O ya Lin, mobil kamu besok aku antar ya, enggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"It's okay beb, see you ... " ucap Zalina.
"See you too."