Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
episode 54.


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah secerah hati dan perasaan Zalina saat ini. Dia dan seluruh keluarganya saat ini berada di meja makan untuk menikmati sarapan pagi bersama. Zalina bisa melihat senyuman dan canda tawa di seluruh wajah keluarganya, dia bersyukur akhirnya hari ini pun tiba, hari dimana ia begitu menunggu momen keluarganya bisa berkumpul bersama.


"Dek, kamu serius nggak mau pergi honeymoon?" tanya Rayyan membuka obrolan.


Zalina menganggukkan kepalanya. "Lebih tepatnya enggak untuk saat ini, Kak. Tapi tidak tahu kedepannya," jawab Zalina dengan tersenyum dan melihat ke arah Dewa yang duduk di sampingnya dan dibalas senyuman oleh Dewa.


"Sayang sekali, padahal 'kan kalau kamu pergi honeymoon, kakak bisa ikut nebeng."


"Idih ... ogah! Yaaaa kali honeymoon dikintilin ama kakak, yang ada bukannya Honeymoon malah bikin rusuh," cibir Zalina.


Semua yang di meja makan tertawa dan geleng-geleng kepala melihat kehebohan antara Zalina dan juga Rayyan.


"Pelit amat sama kakak sendiri, orang Pak Dewa aja nggak masalah. Ya 'kan, Pak?"


Dewa hanya mengangguk dan tersenyum.


"Iya ... Mas Dewa emang nggak masalah, tapi aku yang masalah. Kakak pergi aja sendiri! Makanya nikah, habis itu pergi honeymoon!" seru Zalina.


Rayyan hanya mencibirkan bibirnya.


"Yang dikatakan Zalina benar loh Ray, kapan nyusul Zalina? kenalin dong sama tante, siapa calon menantu tante itu?" tanya Cindy.


"Nasehatin aja Cin, soalnya kalau aku yang ngomong di anggap angin lalu," ucap Anggiya mamanya Rayyan.


"Kak Rayyan itu jones, Ma. Jomblo ngenes!" ledek Zalina, semua yang di meja makan ikut tertawa.


Dewa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah random istrinya tersebut.


"Enak aja ngenes gini-gini banyak yang antri, tapi-"


"Taapii ... bohong," sambar Zalina.


"Hahaha."


Lagi-lagi mereka semua tertawa.


"Sudah-sudah, kasihan kakak kamu, Lin. Diledekin terus," ujar Nema.


Rayyan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu. Ia tidak pernah bisa marah pada Zalina, karena ia dan Zalina memang sudah seperti itu dari dulu.


"Ngomong-ngomong, kalian jadi hari ini pindah ke rumah baru?" tanya nema.


Zalina pun menoleh ke arah suaminya. Dewa membenarkan posisi duduknya dan menjawab pertanyaan nema.


"Insya Allah jadi, Nema. Kemungkinan sore nanti, karena kebetulan pagi ini saya dan Zalina ada urusan yang lain terlebih dahulu, setelah itu saya akan mengajak zalina untuk melihat tempat tinggal kami yang baru. Seandainya yang lain juga tidak berhalangan, saya ingin mengajak Nema beserta keluarga yang lain untuk bisa ikut sekalian, biar tahu tempat tinggal kami yang baru," ucap Dewa.


"Boleh juga idenya," kata nema. "Nanti kami akan menyusul ke sana." Yang lain pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Selepas berbincang bersama, Zalina dan Dewa pun menuju kamar.


"Beneran kamu nggak mau mas antar?"


Zalina menganggukkan kepalanya.


"Tidak perlu, Mas. Nanti Rindu yang akan jemput aku ke sini."


"Ya udah kalau begitu hati-hati ya, Sayang. Nanti pulangnya barengan sama mas, mas akan jemput kamu."


Zalina tampak berpikir sebentar. "Oke itu lebih baik," ucap Zalina menampilkan gigi-gigi nya yang putih bersih.


Dewa pun mengusap puncak kepala Zalina. Kemudian Dewa mengambil dompet dari saku belakangnya dan mengeluarkan sebuah kartu Kredit card dan memberikan ke tangan Zalina.


"Ini apa, Mas?"


"Ini buat kamu, pakai untuk keperluan kamu."


"Tidak perlu, Mas. Aku juga punya sendiri dan tabunganku masih ada."


"Iya ... mas tahu, istri mas yang cantik ini punya tabungan sendiri, punya pemasukan sendiri, mandiri, cantik, baik hati, rajin menabung apa lagi ya? semuanya deh," ucap Dewa menoel hidung Zalina. "Tapi ini adalah salah satu kewajiban Mas terhadap kamu dan juga hak kamu sebagai istri. Kamu silahkan guna 'kan kartu ini untuk keperluan apapun itu."


Zalina tersenyum mendengar penjelasan Dewa, dia pun memeluk Dewa sebentar kemudian melepaskannya.


"Makasih ya, Mas."


"Iya, sama-sama, tapi ... nggak cukup loh dengan makasih aja."


Dewa pun menunjuk pipinya dan memiringkan wajahnya bersiap menerima ciuman dari Zalina. Yang artinya Dewa ingin pipinya dicium. Zalina pun merasa malu tapi ia tetap ingin memberikannya, saat Zalina akan mencium pipi suaminya itu, Dewa pun memutar kepalanya menghadap Zalina, alhasil Zalina tidak jadi mencium pipi Dewa melainkan mencium bibirnya.


Dewa tidak melepaskan kesempatan itu, dia menahan tengkuk Zalina. Tidak hanya sekedar mencium tapi juga me****t bibir Zalina. Saat dia menyadari Zalina mulai sulit bernafas, ia pun melepaskan ciumannya tersebut. Zalina segera menarik dan membuang nafas pelan.


"Ih ... Mas curang!" seru Zalina sambil memukul pelan lengan Dewa.


"Hahaha ... Sambil menyelam minum air, Sayang."


"Hemm ... pasti lipstiknya belepotan," ucap Zalina.


"Siapa bilang? istri Mas masih tetap cantik kok," Puji Dewa.


Zalina pun mencibirkan bibirnya menganggap tidak percaya guyonan Dewa.


"Sini ... sini ... sini," ucap Dewa sambil menarik tangan Zalina ke arah meja rias. "Tuh 'kan, masih cantik! perempuan yang cantik di sana itu istrinya Pak Polisi Akbar Dewanda yang ganteng ini," ucap Dewa menunjuk cermin sambil memeluk Zalina dari arah belakang.


"Hahaha, dasar suami narsis," ucap Zalina sambil tertawa.


"Loohh, emang iya 'kan? jadi kamu nggak ngakuin kalau suami kamu ini ganteng?"

__ADS_1


Zalina memutar badannya, kemudian menatap Dewa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian menyipitkan mata dan menggelengkan kepalanya, dia bisa melihat reaksi Dewa yang cemberut.


"Enggak! enggak sedikit maksudnya, Hahaha."


Dewa pun ikut tertawa, kemudian menggelitik perut Zalina.


"Pintar ya sekarang."


"Hahaha ... ampun, Mas. Aku bercanda."


Saat asik bercanda, terdengar ketukan pintu.


"Sebentar Mas, aku buka pintu dulu."


Dewa menganggukkan kepalanya dan Zalina berjalan ke arah pintu, kemudian membuka pintu.


'Ceklek'


Tampak Cindy berdiri depan pintu.


"Lin, ada Rindu tuh di bawah udah nungguin kamu," ucap Cindy.


"O h iya, Ma. Sebentar lagi Zalina nemuin Rindu. Makasih ya, Ma."


Cindy menganggukkan kepalanya dan meninggalkan kamar Zalina.


"Mas, Rindu udah nyampe."


"Kalau gitu aku pamit dulu ya."


"Oh baiklah, kalau gitu kita barengan aja keluarnya. Kamu berangkat sama Rindu, Mas langsung berangkat juga ke kantor."


Zalina mengangguk. Mereka pun keluar kamar barengan dan menemui Rindu.


"Gini nih kalau berurusan dengan pengantin baru, nempel terus kayak amplop dan perangko," ledek Rindu.


"Sirik ... bilang!"


Rindu pun mencebikkan bibirnya. Dewa hanya tersenyum melihat sikap dua Sekawan tersebut.


"Ya udah yuk. Sebelum terlalu siang kita pergi sekarang aja!" ajak Rindu.


Zalina mengangguk 'kan kepalanya, kemudian dia berpamitan pada Dewa dan juga yang lain. Rindu masuk dalam mobil, disusul dengan Zalina yang duduk di samping Rindu. Dewa juga masuk ke dalam mobilnya mereka berdua pun meninggalkan rumah dengan tujuan yang berbeda.


20 menit kemudian Zalina dan Rindu tiba di sebuah Cafe langganan mereka yang terdapat di dalam Mall x, setelah mendapat meja dan duduk, mereka memesan minuman untuk menemani obrolan mereka.


Saat asyik mengobrol Dua orang perempuan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Hai Zalina."


Zalina dan Rindu yg sedang tertawa berhenti dan menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2