Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 28 Dewa dan Aldo 1


__ADS_3

Uh ... hoaaammsss, Zalina terbangun dari tidur ketika dia merasakan matanya silau oleh cahaya matahari yang masuk dari celah ventilasi kamarnya.


"Oh, ya ampun! sudah jam 8?" Zalina yang terkejut melihat jam di nakas samping tempat tidur langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas masuk kamar mandi. Zalina harus bergegas mandi biar lebih segar dan bersiap untuk melakukan beberapa rencana yang sudah dia susun.


Zalina yang kebetulan sedang tidak sholat dan juga cuti kerja tampak begitu nyenyak tidur, tidak seperti hari sebelumnya yang harus bangun pagi-pagi karena harus kerja atau kuliah terlebih dahulu, pagi ini tubuhnya seperti minta jatah dimanja tidur lebih lama dan bangun terlambat.


Selesai mandi Zalina segera berpakaian rapi karena sebelum ke toko nanti, ia akan bertemu dengan Rindu, sudah lama tidak ngopi bareng sahabatnya, membuat Zalina memanfaatkan hari ini yang masih cuti bekerja, dengan mengajak Rindu nongkrong di cafe favorit mereka.


"Udah bangun, Nak?"


"Ya, Nema ... maaf, Zalina kesiangan, ke enakkan tidurnya karena lagi libur sholat dan libur kerja, hehehe ... "


"Sesekali boleh, tiap hari enggak baik ntar rezekinya dipatok Ayam, Ok!" ucap Nema.


"Ok Nema,"


"Yuk, sarapan dulu! setelah ini baru berangkat ke toko."


"Ya Nema, o ya Nema, nanti Nema duluan bareng kang Asep aja ya ke tokonya. Soalnya, Zalina ada janji ketemuan dengan Rindu, setelah itu baru Zalina ke toko, tapi inget, Nema hanya memantau dan tidak mengerjakan apapun, Okay!"


"Okay sayang, ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati dijalannya."


"Okay, Nema."


Setelah sarapan, seperti rencana sebelumnya, Nema berangkat ke toko bersama kak Asep, sedangkan Zalina menyetir sendiri menuju cafe tempat ia janjian dengan Rindu.


Sesampainya Zalina di cafe, bersamaan juga dengan Rindu yang juga baru sampai di cafe.


"Cie ... cie ... yang gelar Bidannya udah sah nempel? hebat eiyy sahabat aku ini," ucap Rindu yang langsung nyamperin dan memeluk Zalina.


"Hahaha ... makasih beb, apa kabar kamu?"


"Alhamdulillah seperti yang kamu liat, sehat walafiat dan makin makmur plus subur, hehehe ..., maaf ya beb, kemaren ga bisa hadir pas acara wisuda, kebetulan ada seminar dan aku diminta hadir perwakikan dari tempatku bekerja," ucap Rindu dengan menyesal.


"It's Okay, Beb! kita masuk yuk, lanjut ngobrol di dalam aja," ajak Zalina pada Rindu.


"Yuk ... yuk!"


Mereka berdua segera mencari meja kosong untuk mereka tempati. setelah dapat, mereka juga memesan beberapa makanan dan minuman untuk kawan mengobrol mereka.


"Kayaknya kamu makin sibuk ya, Lin? terus jadi buka cabang toko satu lagi?" tanya Rindu.


"Lumayan lah Rin, tapi mungkin enggak terlalu padat seperti kemaren karena udah enggak kuliah lagi, jadi bisa fokus kerja dan toko aja. Insyaallah jadi Rin, tinggal finishing aja lagi. Tinggal prepare beberapa hal yg harus aku bawa kesana, dan pengen nyari orang yang bisa dipercaya megang toko disana juga Rin, karna aku gak bisa tiap hari kesana kan? palingan aku selang-seling dengan toko lama untuk survei kesana." Zalina menjelaskan pada Rindu.


"Saluuttt banget aku sama kamu, enggak nyangka aja sekarang kamu udah bisa nambah buka toko, semoga suatu saat aku juga bisa aeperti kamu, Lin."


"Aamiin, eh ... tunggu, aku seperti kepikiran sesuatu nih! enggak tau kamu setuju apa enggak?"


"Apaan?"


"Gimana kalau kamu yang megang toko cabang kami, maksud aku kamu jadi orang kepercayaan aku, Rin. jadi, aku gak usah cari orang lain lagi, kamu aja yang bantuin aku di toko cabang, ntar soal gajinya gampang tu, gimana?"


"Hahahaha ... aku? kamu gak salah Lin? aku kan gak pandai bisnis, malah langsung di suruh pegang toko cabang, Oh My God," ucap Rindu yang terkejut dengan tawaran Zalina.


"Aku kan dulu juga gak paham, Rin. Belajar pelan-pelan akhirnya jadi bisa, daripada aku cari dan ngajarin orang yang gak aku kenal lebih baik aku ngajarin kamu, Rin. lagian itu kan gak jauh juga dari tempat kamu kerja, palingan 5-10 menit aja dari tempat kamu bekerja. Jadi, kamu bisa datang ke toko setelah atau sebelum kamu berangkat bekerja, kamu sesuaikan aja sama shift kerja kamu. Gimana? mau ya?"


"Serius ya, Beb? Okay deh kalau kamu mau ngajarin dan bimbing aku, aku juga mau coba suasana baru beb, semoga berhasil kayak kamu juga," jawab Rindu.


"Aamiin, Alhamdulillah ... satu persoalan aku clear, sekarang aku tinggal mikirin tentang penjualan produk Rin, rencana aku mau memperbaiki lebih tepatnya memperbaharui pemasaran toko Rin, kamu punya ide ga?"

__ADS_1


"Ehm ... kamu kan tau kalo aku ini nol mengenai bisnis, tapi aku ada saran nih, tapi gak tau kamu setuju apa gak," ucap Rindu.


"Maksud Kamu? emang saran apa?"


"Gimana kalau kita minta tolong kak Aldo? m-maksud aku itu kita pakai jasa dari tempat kak Aldo, kan kak Aldo punya usaha Advertising, jadi aku yakin tu kalau kak Aldo bisa membantu rencana kamu, tidak hanya soal pemasarannya bahkan kalau kamu ingin memperbarui foto produk juga bisa, Lin"


Zalina menghela nafasnya. "Ya sih, kak Aldo kemungkinan bisa karena emang pekerjaan dia, Tapi kan-"


"Lin! profesional ... aku yakin, kalau kak Aldo akan profesional mengenai ini, dia gak akan mencampurkan dengan masalah pribadi. Rindu memootong ucapan Zalina.


" Baiklah, aku akan menghubungi kak Aldo."


Zalina menhubungi Aldo, dan terdengar nada dering tersambung. Tidak lama panggilan Zalina pun langsung diterima Aldo.


📞"Assalamu'alaikum, Lin. Tumben telepon?"


📞"Waalaikum salam, Kak. ya Kak, kebetulan aku ada perlu sama kakak, kapan kakak ada waktu? biar aku jelaskan langsung."


📞"Kebetulan sekarang aku lagi diluar, kalau kamu mau hari ini aja."


📞"Oh ya Kak, kebetulan aku juga lagi di luar bareng Rindu. Tepatnya aku lagi di Cafe X Kak, gimana kalau kita janjian di sini aja Kak? aku dan Rindu akan menunggu kakak di sini."


📞"Oh, boleh deh, kebetulan aku lagi di jalan X dan enggak terlalu jauh dari tempat kamu berada. kalau begitu tunggu aku di sana saja, nanti aku samperin."


📞"Okay, Kak. Kalau gitu aku tutup teleponnya dulu ya kak, Assalamu'alaikum ...."


📞"Waalaikum salam."


Setelah panggilan berakhir, Zalina pun menutup panggilan teleponnya.


"Kak Aldo setuju Rin, sebentar lagi dia kesini, kebetulan dia lagi di jalan X," ucap Zalina pada Rindu.


"Aamiin ... semoga, Rind"


Setelah Menunggu kurang lebih sepuluh menit, Aldo pun sampai di Cafe.


"Hai, Zalina! hai, Rindu! apa kabar?


"Hai juga Kak," jawab Zalina dan Rindu bersamaan.


"Alhamdulillah kami baik, Kak. Kak Aldo apa kabar? ayo, silahkan duduk, Kak!" ucap Zalina.


"Alhamdulillah baik juga," jawab Aldo sembari duduk. "Jadi ada perlu apa nih, sampai menghubungi aku?"


Zalina pun menjelaskan maksud dan tujuan dia menghubungi Aldo tadi, serta meminta bantuan Aldo juga.


"Kurang lebih seperti itu kak, intinya aku ingin penjualan, serta pemasaran ini semakin baik lagi dari sebelumnya. Aku juga ingin memperbaharui foto-foto produk toko kami kak, Jadi ... apa Kak Aldo bisa membantu kami?" tanya Zalina.


"Insyaallah, aku akan membantu kamu Zalina, jawab Aldo.


"Alhamdulillah, makasih kak."


Setelah membicarakan pekerjaan Zalina, Aldo dan Rindu pun saling bertukar cerita, karena sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu. Aldo yang kesibukannya bekerja di salah satu RS juga sibuk mengurusi bisnis yang baru di rintisnya yaitu bidang Advertising.


"Kak Aldo, terima kasih atas waktunya ya, makasih juga bantuan kakak. Ingatnya kak! ini bisnis, jadi harus ada nota yang aku terima, aku gak mau gratis," tegas Zalina.


Karena Zalina tahu bagaimana Aldo pada dirinya, makanya sebelum itu terjadi dia sudah memperingatkan terlebih dahulu.


Aldo tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Zalina. "Okay ... okay."

__ADS_1


"Kalau gitu, aku dan Rindu permisi dulu ya kak, karena aku juga harus ke toko."


"Tunggu, Lin. Apa kamu buru-buru? Aku ingin berbicara dengan kamu sebentar aja, setelah itu kita ke toko barengan, karena aku juga mau lihat beberapa hal untuk keperluan aku nanti," ujar Aldo.


Zalina menatap Rindu dan Rindu pun menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu aku duluan ya Li, Kak Aldo," ucap Rindu.


Setelah Rindu berlalu meninggalkan Cafe, Zalina yang semula berdiri pun duduk kembali dengan tenang. Mau menolak ajakan Aldo tapi gak enak hati, karena Aldo sudah bersedia membantu urusan tokonya.


"Kak Aldo mau bicara apa?"


"Aku sudah lama tidak bertemu kamu, Lin. Bahkan, aku begitu menahan rasa inginku untuk bertemu kamu atau menghubungimu, semua itu demi menghargai keinginan kamu yang fokus kuliah. Aku tidak mau egois sehingga kamu makin menjauh dariku Zalina, Aku gak mau itu terjadi. Lin, aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah tidak sanggup aku tahan, aku harap kamu benar-benar memikirkan jawabannya dengan baik. Aku sangat mencintai kamu Zalina, aku ingin hubungan kita lebih dari seperti saat ini, aku ingin kita punya ikatan, dan aku ingin membahagiakan kamu sepenuhnya."


Aldo mengatakan seluruh isi hatinya, tampak dia menghela nafasnya, menunjukkan kalau dia lebih plong alias lebih merasa puas setelah mengungkapkan perasaannya terhadap Zalina.


Zalina menelan ludah berkali-kali, bingung mau mengatakan apa, berkali-kali dia menolak Aldo di waktu yang lampau dengan alasan fokus kuliah, sekarang apalagi alasannya, entahlah.


"K-kaakk, A-aku, Aa-ku ... "


"Lin, tolong di pikirkan terlebih dahulu, kita sudah sama-sama dewasa, aku tidak ingin sebuah hubungan tidak jelas, apalagi tidak pasti. Kalau kamu menyetujuinya, aku tidak ingin kita pacaran, Lin. oleh sebab itu, aku tidak mau kamu memberi alasan yang klise dengan alibi 'jalani dulu'. Aku akan menunggumu sampai akhir tahun ini," ucap Aldo.


"Akhir tahun? itu berarti 1 1/2 bulan lagi," ucap Zalina didalam hatinya.


"Ya sudah, sekarang ayo kita ke toko, kamu tidak perlu berkata apa-apa, kamu cukup memikirkan dan memberikan jawaban pastinya akhir tahun nanti."


Zalina yang masih diam dalam kebingungan, hanya tersenyum tipis pada Aldo menanggapi omongan Aldo.


"Apa kamu bawa mobil, Lin? kebetulan tadi aku bareng teman dan diantar sekalian kesini, kalau boleh aku numpang di mobil kamu," ucap Aldo.


"Oh, ya Kak. Aku bawa mobil, Yuk bareng aku aja, ini kakak aja yang nyetir mobilnya."


Aldo tersenyum tipis hampir tidak terlihat dengan hati kegirangan. Merasa berhasil bisa berdua dengan Zalina dan rela meninggalkan mobilnya di parkiran. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan Cafe tersebut dan langsung menuju toko.


Sesampainya di toko, Zalina dan Aldo turun dari mobil. Bertepatan dengan turunnya seseorang dari mobil yang terparkir disebelah kiri mobil Zalina.


"Pak Dewa."


"Zalina ...." Dewa kaget saat Zalina memanggil namanya.


Dewa menatap Zalina, yang kini sudah berdiri seorang pria disamping Zalina. Dewa ingat pria tersebut adalah oria yang pernah dilihatnya dulu mengobrol dengan Zalina di salah satu Cafe. Dengan tatapan mata tajam tak terbaca, Dewa memandangi Aldo. Aldo tampak biasa saja dan balik menatap Dewa dengan santai.


"Pak Dewa, ada perlu apa? pak-"


Dewa yang sibuk menatap kebersamaan Aldo dan Zalina, sampai tidak sadar kalau Zalina sudah memanggilnya dua kali.


"Eh ... oh, saya mau beli sesuatu, kalau begitu saya duluan kedalam," ucap Dewa yang kaget dengan yang melangkah masuk meninggalkan Aldo dan Zalina.


"Kamu kenal dia?" tanya Aldo.


"Semua orang juga kenal, Kak. Beliau kan Kapolda kita."


"Yups, aku juga tahu itu. Maksud aku, kamu kenal dia lebih dari itu ya? soalnya, kamu seperti akrab banget sampai manggilnya dengan panggilan 'Dewa' padahal orang tahunya 'Akbar'.


Zalina yang sudah melangkahkan kakinya, mendengar pernyataan Aldo memutar matanya malas, dia berhenti dan menoleh pada Aldo.


"Toko kami bekerja sama dengan kebun Apel beliau, Kak. Mulai saat ini kami akan memproduksi sendiri produk-produk yang berbahan dasar Apel, dan semua Apelnya itu didatangkan dari kebunnya Beliau, kalau soal pemanggilan nama tersebut, itu karena beliau memperkenalkan namanya dengan sebutan Dewa."


Zalina menjelaskan secukupnya, karena ia malas menjelaskan hal lainnya kenapa dia bisa kenal dengan Dewa.


Aldo yang mendengar penjelasan Zalina hanya ber-O ria. Zalina berjalan masuk ke dalam toko dan diikuti oleh Aldo dibelakangnya.

__ADS_1


__ADS_2