
Setelah sarapan Zalina dan Nema bersiap pulang ke Malang, karena Zalina menyetir sendiri mobilnya, jadi dia berangkat lebih cepat agar bisa santai di jalan.
"Hati-hati dijalan ya, Zalina. Sering-seringlah main ke Surabaya,Onty dan adik-adikmu pasti merindukanmu," ucap Liliana memeluk Zalina.
"Ya, Onty. Insyaallah ada kesempatan Zalina akan datang lagi. Onty juga ya, ajak adik-adik ke Malang." Yang dijawab anggukan kepala oleh Liliana. "Kalau begitu, Zalina dan Nema pamit ya Pa ... Onty, terima kasih juga oleh-olehnya."
"Ya Sayang, hati-hati dijalan," ucap Liliana.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, Zalina dan Nema pun sampai di rumah mereka. Mereka masuk ke dalam rumah dengan membawa sedikit barang bawaan mereka.
"Nema, Zalina langsung ke kamar ya, Zalina mau istirahat sebentar."
"Ya, Nak. Nema juga mau istirahat dulu. Duduk dimobil aja ternyata capek juga, apalagi kamu yang nyetir. ayo, kita istirahat dulu, biar ntar sore badan kita bisa segar lagi."
Zalina dan Nema pun memasuki kamar mereka masing-masing. Zalina masuk ke dalam kamarnya, setelah meletakkan semua barangnya, dia pun menghempaskan badannya keatas kasur.
"Hah ... lelah sekali rasanya," gumam Zalina.
Baru saja ingin memejamkan matanya, Hp-nya pun berdering menampilkan nama Rindu di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Rin."
"Waalaikumsalam, Business Woman ku ... " Teriak Rindu dengan pelan. "Masih di Surabaya, ya?"
"Baru aja nyampe, Rin. Baru memejamkan mata kamunya telpon," ucap Zalina.
"Hehehe, Sorry ... gimana dengan pertemuan pemilik kebun Apel itu? berjalan lancarkan?"
"Alhamdulillah lancar, Rin. Dan kamu harus tahu kalau aku akan bekerja sama dengan siapa? Aku akan bekerja sama dengan pak Dewa," ujar Zalina.
"Pak Dewa? maksud kamu pak polisi Akbar Dewanda?"
Zalina menganggukkan kepalanya walupun Rindu tidak melihatnya. "Ya Rindu, kamu enggak nyangka kan ... Sama, aku juga enggak menyangkanya. Aku aja kaget saat bertemu beliau."
"Tapi, kenapa harus ke Surabaya? bukankah bisa bertemu dengan beliau di Malang?" tanya Rindu.
"Pak Dewa sedang ada pekerjaan di Surabaya, dan lebih banyak menghabiskan waktunya saat ini di Surabaya."
"Ooo ... keren pak Akbar ya, gak nyangka kalau beliau memiliki kebun Apel di Malang, bahkan bukan aku atau kamu saja yang tidak menyangka, orang lain oun tidak akan menyangkanya." ujar Rindu panjang lebar.
"Ya, tapi itulah kenyataannya. Dan aku juga bertemu Rendy lho Rind, beliau mendampingi pak Dewa bertemu denganku kemarin."
"Oohh ... " jawab Rindu singkat dan lirih.
"Kamu udah gak pernah bertemu Rendy lagi ya, Rin?"
__ADS_1
Rindu menghela nafasnya, malas rasanya untuk membahas masalah ini. "Terakhir aku bertemu dengan dia dua minggu yang lalu, Lin. Biasalah, dia mau bertemu denganku, minta tolong berpura-pura di depan mamanya. Mamanya mengira kami sudah berpacaran, karena dia belum bisa memperkenalkan pacarnya itu karena mamanya enggak menyukai perempuan itu," ungkap Rindu.
"Yang sabar ya, Rind. Gimana kalau kamu jujur aja sama mamanya Rendy, biar kamu tidak perlu terlalu jauh berpura-pura dan membohongi beliau." tukas Zalina.
"Aku juga berpikir seperti itu, Lin. Aku akan mencari waktu yang pas untuk bicara dengan mamanya Rendy," ucap Rindu. "Ya sudah, Rin. Istirahatlah dulu, kamu pasti capek habis nyetir jauh, aku juga mau lanjut kerja dulu, Lin."
"Ya, Rin. Bye ... bye ...
"Bye, Beb."
Setelah obrolan singkatnya dengan Rindu, Zalina pun mengistirahatkan badannya. Hingga sore menjelang Zalina pun terbangun, dia segera mandi agar badannya lebih segar lagi. Selesai mandi dia keluar kamar karena perut yang sudah terasa lapar.
"Mbak Asih, masak makanan ya?" tanya Zalina pada mbak Asih yang sedang memasak di dapur.
"Ya, Mbak. Saya pikir Mbak Zalina dan Nema pasti lelah sekali pulang dari Surabaya, makanya saya inisiatif masakin buat Nema dan Mbak Zalina."
"Masyaallah, Mbak Asih baik banget. Makasih ya Mbak, tahu aja kalo Zalina lagi lapar banget bangun tidur. Ngomong-ngomong Nema udah bangun belum, Mbak?"
"Sudah, Mbak. Dan Nema juga sudah makan, barusan beliau pergi ke toko, Mbak. Karena kata Nema kangen toko 2 hari ga kesana, beliau juga pesan untuk memastikan Mbak Zalina juga makan," ucap mbak Asih.
"Ya ampun, Nema. Baru juga nyampe, udah ke toko aja," ucap Zalina geleng-geleng kepala. "Mbak, duduk sini dong! kita makan sama-sama, Gak enak makan sendiri."
"Saya udah makan, Mbak. Saya makan buah aja ya Mbak, sambil nemenin Mbak Zalina makan."
Zalina pun segera makan dengan lahapnya. Dia berencana akan menyusul Nema ke toko, karena Zalina tidak ingin Nemanya tersebut sampai banyak melakukan pekerjaan di toko.
*
*
Sepulang dari kampus, Zalina langsung menuju toko. Zalina menemui Nema yang ada diruang istirahat. Zalina melihat Nema yang sedang beristirahat pun, menutup kembali pintu tersebut. Dia pun pergi ke meja kerjanya di depan, ingin segera memantau bagaimana pemasaran di tokonya beberapa hari ini.
Setelah mengganti pakaiannya, Zalina memulai pengecekan barang masuk dan keluar, persentase penjualan, mengecek buku laporan keuangan, semua dikerjakan Zalina dengan antusias.
"Kapan datang, Nak?" tanya Nema yang menghampiri Zalina.
"Nema sudah bangun? Zalina sampai toko sekitar 40 menit yang lalu, Nema. Mau bangunin Nema enggak tega, kayaknya capek banget. Ayoooo ... pasti tadi enggak mau diam, kan? banyak yang dikerjain ya?" tanya Zalina dengan gaya pura-pura mencurigai.
"Kamu ini, mana bisa Nema banyak melakukan pekerjaan di sini, sedangkan kamu sudah berpesan dan melarang semua karyawan di sini untuk tidak membiarkan Nema mengerjakan apapun."
"Hehehe ... Ya dong, Nema kalau mau ke toko Zalina izinin, tapi bukan untuk mengerjakan pekerjaan, hanya memantau hingga Zalina datang ke toko."
Nema hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zalina. "Ya udah, kalau gitu kita beli makanan yuk! Nema pengen makan Salah buah." ucap Nema.
"Ssiaap Nema, Zalina Delivery Order aja ya."
__ADS_1
"Okay."
Sambil menunggu pesanan salad buahnya datang, Zalina kembali melanjutkan pekerjaanya agar cepat selesai dan bisa pulang kerumah segera. Hampir 20 menit berlalu, pesanan salad buah pun sampai, bertepatan dengan selesainya pekerjaan Zalina. Kemudian, dia pun menikmati salad buah bersama dengan Nema.
*
*
Waktu begitu cepat berlalu, hari ini Zalina akan melakukan sidang skripsinya. Walaupun dia sudah merasa mempersiapkan dengan matang semuanya, tetap rasa gugup itu menghampirinya.
Tiba giliran Zalina masuk ke dalam ruangan untuk sidang skripsi. "Bismillah, aku serahkan semuanya pada mu ya Rabb," batin Zalina sebelum masuk ruang sidang.
Tiga puluh menit berlalu, Zalina keluar dari ruang sidang dengan rasa syukur tak terkira. Zalina merasa senang, perjuangannya hampir 10 hari ini dalam mempersiapkan bahan untuk ujian sidangnya tidak sia-sia.
"Zalina ... teriak Rindu dari kejauhan, berjalan dengan cepat menghampiri dirinya. Aku telat ya beb, kamu udah selesai ya? bagaimana, lulus dong bebeb aku ini?" tanya Rindu.
"Alhamdulillah, Rind. Aku lulus!" jawab Zalina girang.
"Wwah ... selamat ya beb, aku udah nyangka kalau kamu bakalan lulus, Nah ... ini ambil buat kamu." Rindu menyerahkan buket balon yang ada tulisan ' Congratulations Lulus Sidang Skripsi'.
"Makasih lho, Beb. Pakai repotin datang segala, kan kamu lagi kerja."
"Ya, aku izin keluar sebentar, karena pas jam istirahat juga, aku pengen ikut rasain kebahagian yang kamu rasain, Beb. Mana tau, setelah ketularan bahagianya langsung dapat hidayah buat kuliah profesi juga," ucap Rindu yang nyengir sambil memperlihatkan barisan giginya.
"Aamiin, semoga beneran segera nyusul."
"Aamiin, ya semoga," jawab Rindu tersenyum.
Setelah itu Zalina dan Rindu segera meninggalkan area kampus, tidak ada acara makan-makan seperti tahun dulu bersama Rindu, karena Rindu mesti balik kerja lagi, dan Zalina juga ingin memberi tahu kabar ini kepada Nema.
Sebulan setelah sidang skripsi dilaksanakan, Zalina pun melaksanakan Wisuda profesinya. sama seperti sebelumnya, kali ini pun ia ditemani Nema.
"Cucu Nema ini, kalau udah pakai kebaya cantiknya dua kali lipat," puji Nema yang melihat Zalina begitu anggun dengan kebaya warna sage yang lagi trend.
"Nema, mujinya gitu banget. Masa ya, Zalina mesti pakai kebaya tiap hari biar cantiknya jadi dua kali lipat," Seloroh Zalina yang disambut tawa ke duanya.
"Boleh juga tuh idenya," ledek Nema. "Hahahah ... sudah, sudah ... ayok kita berangkat."
Nema dan Zalina pun segera menuju tempat acara Wisudanya, yang kali ini diadakan di salah satu hotel ternama di Malang, yang memiliki Ballroom yang bisa menampung banyak wisudawan/ti serta tamu undangan.
Walaupun bukan menjadi mahasiswa paling unggul dari semua fakultas, Zalina masih bisa berpuas diri, karena menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi di jurusan ilmu kebidanan, yaitu dengan nilai IPK 39,2.
Nema sangat bangga dengan cucu perempuannya tersebut, yang sangat bertanggung jawab dengan semua yang dilakukannya. Zalina pun sudah sangat puas dengan hasil yang dia dapat, disamping dia harus bekerja dan mengelola toko, dia pun harus tetap belajar dan kuliah juga.
"Selamat ya, Nak. Akhirnya perjuangan kamu satu tahun ini berbuah manis. semoga semua yang kamu dapat ini, mendapat keberkahan oleh Allah SWT," ucap Nema ketika Zalina tirin dari panggung dan menghampiri dirinya.
__ADS_1
"Aamiin, makasih Nema. Makasih juga atas doanya. Karena setiap usaha yang Zalina lakukan tidak luput juga dari doa-doa yang Nema panjatkan," jawab Zalina.