Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 30 Trauma Zalina


__ADS_3

"Ferdy, Please ... lepaskan aku! aku akan melaporkan pada papa sikapmu yang seperti ini," teriak Zalina memohon dan ketakutan.


Ferdy terus mendekati Zalina, meletakkan sebelah tangannya pada dinding dibelakang Zalina, tubuh tingginya mengungkung tubuh Zalina. Ferdy mendekatkan wajahnya ke wajah Zalina, dengan Reflek Zalina menolehkan wajahnya ke samping.


"Hahaha, kau tahu Zalina, dari awal aku sudah menyangka kau akan bersikap seperti ini. Pertama kali kita berjumpa, kau tampak begitu sombongnya menatapku, kau ... ya kau! Satu-satunya perempuan yang menolakku. Aku semakin tertarik mendekatimu, dan aku juga penasaran, kau pasti lebih cantik tanpa penutup kepala ini," ucap Ferdy yang ingin melepaskan hijab Zalina.


Dengan sekuat tenaga Zalina mendorong Ferdy sehingga tubuh Ferdy mundur beberapa langkah ke belakang. Zalina segera berlari ke arah pintu, mencoba membuka, menggedor dan minta tolong. Zalina merogoh tasnya mencari Hp, kemudian berusaha menghubungi papanya.


"Kau mau minta tolong, hah!" ucap Ferdy yang merampas Hp Zalina dan melemparkan ke sembarang arah.


Ferdy menarik kasar tangan Zalina, dan melemparkannya ke lantai. Ferdy melapaskan jasnya dan melonggarkan dasinya.


"Kau benar-benar tidak bisa diajak kompromi Zalina, tidak akan ada yang bisa menolongmu, bahkan ruangan ini juga kedap suara. Berteriaklah sekuat kau bisa, eh tidak, mendesahlah ... karena aku akan memuaskanmu," ucap Ferdy yang sudah menindih Zalina.


Ferdy mulai mencumbunya, Zalina berusaha memberontak sekuat tenaganya dengan teriakan memohon ampun dan deraian air mata. Dengan sekuat tenaga Ferdy berusaha menyobek baju Zalina, alhasil salah satu lengan bajunya pun terkoyak. Zalina kian deras berderai air mata.


"Aku mohon, Lepaskan aku! pleasee, Hikss...."


Ferdy yang sudah penuh gairah pun menciumi Zalina, menyentuh bagian manapun yang bisa disentuhnya, dia semakin bergairah setelah melihat kulit putih mulus lengan Zalina.


Ferdy melapaskan ikat pinggang, Zalina berusaha duduk dan mundur mencari perlindungan. Ferdy kembali menarik kaki Zalina dan menindihnya. Ia menyingkap gaun Zalina dan berniat akan melepaskan Legging yang dipakai Zalina.


'Braaaakkk ... '


'Braaaakkk ... '


"Kurang Ajar! bangs*t! bed**ah!"


"Bugh!"


"Bugh!"


Dewa tiba-tiba mendobrak pintu, menarik kerah Ferdy dan menghajarnya. hingga terjadilah perkelahian antara dua orang tersebut. Ferdy tersungkur karena tendangan yang dilayangkan Dewa, terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Zalina yang sadar dengan kedatangan Dewa segera berdiri, dan berlari kearah Dewa.


"Hiks ... hiks ... tolong aku, tolong aku." Zalina menangis dengan bahu yang bergetar hebat, memeluk tubuh Dewa, Dewa begitu merasa iba dengan keadaan Zalina, dia ingin membelai kepala Zalina memberikan ketenangan. Tapi, tiba-tiba Zalina Ambruk dipelukannya.


"Zalina! Hei, bangun Zalina! bangunlah!"


"Sh***!"


Bergegas Dewa mengangkat tubuh Zalina dan membawanya pergi dari ruangan tersebut. Bersamaan dengan masuknya dua orang keamanan restoran tersebut yang menciduk Ferdy, dan membawanya ke pihak berwajib.

__ADS_1


*


*


Satu jam kemudian Zalina siuman, dia terbangun dengan rasa trauma dan ketakutan yang mendalam.


"Hiks ... tolong aku, tolong aku, aku takut ...." Zalina terus berteriak sembari duduk, menarik selimut menutupi dadanya, menggenggam erat selimut tersebut. dia celingak-celinguk ke kanan ke kiri dan terus minta tolong, wajahnya menunjukkan rasa takut mendalam, nafasnya memburu, dan air mata mengalir di pipinya.


Dewa yang duduk di salah satu sofa di ruangan tersebut, bergegas mendekati Zalina yang sudah siuman.


"Zalina, Hei ... Zalina, ini saya Dewa, kamu aman disini," ucap Dewa menenangkan Zalina yang terus histeris.


Dewa segera memencet tombol panggilan tenaga medis. Menunggu tenaga medis datang, Dewa kembali menenangkan Zalina yang nampak terpukul dan histeris.


"Zalina, ini saya Dewa, tenanglah! kamu sudah aman disini," ucap dewa sambil memegang pundak Zalina dan sedikit menyentaknya.


Zalina seperti tersadar, menatap dalam mata Dewa dengan matanya yang basah oleh air mata yang terus mengalir.


"Ini saya Dewa, kamu aman disini, tenanglah!" ucap Dewa yang terus memberikan ketenangan pada Zalina.


"Hiks ... dia menyentuhku, hiksss ... dia menyentuhku, aku kotor, aku jijik! aku jijik!" teriak Zalina berusaha mengusap kasar lengan dan tubuhnya yang diingatnya telah disentuh Ferdy.


Dewa berusaha memegang tangan Zalina yang kian semakin tak terkendali, ingin melepas infus yang terpasang juga terus mengusap dan menggaruk kasar tubuhnya karena merasa Jijik. Beberapa saat kemudian beberapa tenaga medis pun masuk, memberikan suntikan penenang agar Zalina tidak histeris lagi. Bersamaan dengan terkulai lemas Zalina karena obat penenang, Nemanya pun Masuk ke dalam ruangan tersebut dengan seorang pria yang pernah diliat Dewa, yaitu Aldo.


Tangis Nema pun pecah melihat cucu kesayangannya menjadi seperti ini. Nema, mendapat kabar dari papa Zalina yang menghubunginya melalui telepon, sedikit kalimat yang diucapkan papa Zalina, kalau Zalina sedang dirawat di RS X karena pingsan.


"Maaf ibu, tolong jangan biarkan pasien istirahat, sepertinya pasien mengalami trauma dan rasa takut yang amat dalam, sehingga membuat dia menjadi histeris seperti saat ini.


"Trauma ... "


"Trauma ... "


Aldo dan Nema seperti terkejut mendengar pernyataan Dokter tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Zalina?" tanya Aldo pada Dokter tersebut.


"Dokter, cucu saya kenapa? ada apa dengan dia?" tanya Nema yang juga tidak sabar menunggu jawaban Dokter.


"Mungkin, Pak Akbar lebih tepat untuk menjelaskannya, karena beliau yang sudah membawa cucu Anda ke sini," ucap Dokter tersebut.


Sontak, Aldo dan Nema langsung memandang ke arah Akbar yang berdiri di belakang mereka.


"Ada apa dengan Zalina, Nak Dewa? bukankah tadi dia pergi bersama dengan Ferdy? kenapa dia bisa bersama Anda sekarang?" tanya Nema pada Dewa yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Aldo dengan tatapan tajamnya, rahang yang mengeras, dan tangan yang mengepal seperti ingin mengeluarkan amarahnya pada Dewa. Dewa menghela nafasnya dengan berat. sebelum menjelaskan kronologinya, ia pun menatap seluruh tenaga medis di ruangan tersebut.


Para tenaga medis pun mengerti dengan tatapan Dewa, mereka meninggalkan ruang rawatan Zalina.


Flashback Of


Dewa sedang melakukan meeting dengan seseorang di Restoran jepang, yang kebetulan saat itu posisi duduknya menghadap pintu masuk. Dewa pun bisa melihat dengan jelas bahwa Zalina datang bersama seorang pria yang pernah dilihatnya mengobrol kemarin saat acara grand opening toko cabang.


Dewa terus memperhatikan langkah Zalina yang naik ke lantai dua, sebagaimana diketahui Dewa, bahwa lantai dua tersebut adalah ruangan VIP. Dewa mencoba untuk tidak peduli, tapi entah kenapa dia malah gelisah setelah melihat Zalina yang begitu cantik, pergi Dinner dengan laki-laki lain. beberapa menit berlalu, Dewa terus bersikap tenang, tapi hatinya malah semakin gelisah karena terbayang-bayang wajah Zalina.


Karena dia yang terus tidak tenang, Dewa pun pergi ke toilet. Setelah keluar toilet, Dewa melihat Ferdy bersama seorang pelayan sedang berbisik-bisik dan kemudian memasukkan beberapa lembar uang kedalam saku kemeja pelayan tersebut.


Dewa merasa curiga dengan gerak-gerik Ferdy, setelah Ferdy menjauh, Dewa pun menghampiri pelayan tersebut.


"Ehm ...." Dewa berdehem sehingga membuat pelayan di depannya terkejut dan segera memutar badannya melihat siapa yang ada dibelakangnua.


"Mm-maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pelayan tersebut yang tampak gugup.


"Apa yang pria tersebut inginkan, tampaknya kamu begitu menikmati dia berbisik-bisik sehingga dihadiahinya uang ini," ucap Dewa sambil mengambil uang di kantong kemeja pelayan tersebut.


"Bb-bukan, AA-pa apa Pak."


"Oh, ya. tapi aku tidak percaya, Kamu lihat ini, aku bisa membuat mu mengatakan semuanya, jika kamu tidak bicara jujur saat ini." Dewa berkata pada pelayan tersebut, sambil memperlihatkan tanda pengenal Kepolisiannya.


Pelayan tersebut menelan ludah dengan kasar. "**-tapi, Pak-"


"Kamu tak perlu takut, kalau kamu bicara jujur, maka aku sendiri yang akan melindungimu."


"Pria tadi, meminta saya mematikan seluruh CCTV di ruangan ini pak, d-dan ... dan ... menghapus rekaman CCTV hari ini," jawab pelayan tersebut dengan gugup.


Dewa mengernyitkan keningnya dan berpikir sebentar. "Kamu ingat satu hal, jangan pernah kamu melakukan perintahnya kalau tidak mau dipenjara, terus dimana ruangan pria tadi?"


Pelayan itu pun mengantarkan Dewa ke ruangan dimana Ferdy dan Zalina berada. Sesampainya di depan pintu ruang VIP tersebut, Dewa langsung saja mendobraknya. Entah kenapa hatinya merasa Zalina sedang tidak baik-baik saja, walaupun dia tidak mendengar satu suarapun dari dalam ruangan. Dewa akan menerima konsekuensi jika tebakannya salah.


'Braaaakkk ... '


'Braaaakkk ... '


Saat itu dewa melihat kalau Ferdy tengah mencoba memperkos* Zalina yang meronta meminta di lepaskan. Dewa pun dengan dada yang penuh amarah menghajar Ferdy hingga tersungkur.


"Kurang Ajar! bangs*t! bed**ah!"


"Bugh!"

__ADS_1


"Bugh!"


__ADS_2