Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab. 49 Akhirnya


__ADS_3

Serangkaian acara resepsi telah selesai digelar. Semua tamu undangan sudah meninggalkan lokasi acara. Sanak saudara sebagian sudah ada yang pulang dan sebagian lain ada yang menginap di hotel tersebut, karena Dewa telah memesan beberapa kamar untuk keluarga mereka.


Saat ini Zalina dan Dewa sudah berada di kamar mereka. Zalina menatap Dewa dengan penuh tanya. Ia tidak menyangka kamar yang tadi sore dipakai mereka untuk berhias sekarang sudah menjadi sebuah kamar pengantin yang sungguh sangat indah dengan dekorasi kamar yang begitu waw.


Taburan kelopak bunga di lantai, di atas meja rias di nakas serta lilin di setiap sudut ruangan dan juga taburan kelopak bunga yang berbentuk love di atas tempat tidur. Cahaya lampu kamar yang dihasilkan oleh Lilin dan juga pancaran Rembulan dari jendela yang tidak tertutup oleh gorden membuat suasana kamar kian romantis.


Zalina menelan ludahnya, bahkan ia merasa gugup yang teramat sangat saat ini. Kakinya pun gemetar untuk melangkah lebih dalam masuk ke dalam kamar tersebut. Dewa yang berada di belakang Zalina menutup pintu dan kemudian menguncinya.


'Ceklek'


"Kenapa dikunci, Mas?" tanya Zalina reflek saat mendengar pintu kamar tersebut dikunci.


"Apa kamu mau semua orang tidur di sini bareng kita?"


Zalina menggelengkan kepalanya, Zalina terus berjalan mundur karena Dewa yang terus berjalan maju mendekat ke arahnya. Hingga badannya mentok di tempat tidur dan Dia jatuh terlentang. Dewa meletakkan kedua tangannya masing-masing di sisi tubuh Zalina.


Zalina menelan ludahnya dengan susah payah, jarak wajah mereka yang hanya sejengkal bahkan Zalina bisa merasakan Deru nafas yang dihembuskan dari mulut Dewa.


"Kamu, kenapa? kenapa terlihat gugup dan pucat begini?" tanya Dewa sambil Menelusuri sisi wajah Zalina menggunakan telunjuknya.


"Ma-Mas ... mau ngapain?" bukannya menjawab dia malah balik bertanya pada Dewa.


Zalina seketika menyilangkan kedua tangannya di dada. Dewa tersenyum melihat aksi yang dilakukan oleh Zalina.


"Kamu mau tidur seperti ini?" tanya Dewa yang menunjuk Zalina dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Iya ... enggak, Mas. Ta-tapi gimana mau ganti kalau kamu mengungkung aku seperti ini."


Dewa pun segera bangkit dan berdiri, dia menarik tangan Zalina dan membawa ke dalam dekapannya. Dewa memeluk erat tubuh Zalina, jantung Zalina berdegup kencang. Dewa meletakkan kepalanya di ceruk leher Zalina yang masih terbungkus dengan hijab tersebut. Kemudian dengan jahilnya ia mencoba melepaskan resleting gaun Zalina.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Zalina sembari mendorong dada suaminya itu.


Dengan tampang tidak berdosanya Dewa menjawab.

__ADS_1


"Aku hanya membantu kamu biar nggak susah untuk melepasnya, sepertinya kamu kesusahan dalam membuka semua ini sehingga dari tadi kamu belum juga bergerak dan berniat untuk membukanya."


Zalina menggelengkan kepalanya dan segera bergegas masuk ke kamar mandi, saat akan membuka pintu kamar mandi dia teringat untuk mengambil handuk dan pakaian ganti untuknya. Dia pun menghampiri kopernya dan mencari pakaian ganti.


Alangkah terkejutnya dia saat isi kopernya tidak satupun ia temukan baju ganti yang biasa ia gunakan.


"Astagfirullah, baju apaan ini? ini pasti ulahnya Rindu. Masa aku harus pakai baju beginian?" gumam Zalina pelan, yang melihat isi kopernya tersebut adalah lingerie semua.


Zalina pun mengambil Lingerie tersebut dan juga handuk kimono. Mau tidak mau ia harus memakainya daripada ia harus bertelanjang untuk tidur malam ini. Zalina pun berlalu masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.


Sedangkan Dewa tersenyum menikmati ekspresi wajah Zalina. Entah mengapa ia sangat senang untuk menggoda istri kecilnya tersebut. Dia begitu bahagia ketika melihat wajah menggemaskan Zalina.


20 menit berselang, Zalina pun keluar dari kamar mandi menggunakan kimono dan rambut yang dibungkus menggunakan handuk. Dewa menatap Zalina tidak berkedip, bahkan ia menelan saliva dengan bersusah payah.


"OMG ... melihatnya berpakaian seperti ini aja udah panas dingin," gumam Dewa dalam hatinya.


Dewa bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena ia tidak ingin menyentuh Zalina sebelum dia membersihkan dirinya. 10 menit kemudian dia pun selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Zalina masih duduk di meja riasnya, dia bisa melihat pantulan Dewa dari cermin di depannya.


Tangan Zalina kian dingin dan jantungnya tidak bisa diajak kompromi, terus berdetak kencang. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena dia tahu setelah pernikahan pasti ada yang namanya malam pertama.


Dewa naik ke tempat tidur.


"Sayang ... lama banget sih, ayo sini! Kita istirahat lagi."


Zalina menelan salivanya. Ia pun bangkit dan naik ke atas tempat tidur.


"Kamu tenang saja. Kalau kamu belum siap, Mas tidak akan meminta hak Mas malam ini."


Zalina tersenyum tipis.


"Ya, Allah ... apa aku berdosa tidak memberikan haknya Mas Dewa? karena aku yakin setiap laki-laki pasti menginginkan malam pertama tersebut sesegera mungkin." batin Zalina.


Dewa membaringkan badannya, Zalina pun ikut berbaring di samping Dewa. Karena mereka tidur yang masih berjarak, Dewa pun menarik Zalina agar mendekat dengan dirinya. Saat Dewa menarik Zalina, tidak sengaja ia malah menarik tali kimono Zalina. Alhasil kimono itu tersibak dan terpampang nyata, sehingga tampaklah Zalina yang menggunakan lingerie warna marun yang begitu kontras dengan kulit putih mulus milik Zalina.

__ADS_1


Dewa menelan ludah dengan kasar, badannya terasa panas dingin bahkan juniornya langsung menegang dan berdiri. Zalina yang tersadar segera mencari selimut tapi tangan Dewa lebih dulu menahan tubuhnya.


Dewa menatap lapar Zalina, sepertinya Dewa benar-benar tidak bisa menahan puasanya lagi. Dia lupa dengan ucapannya pada Zalina untuk tidak menyentuhnya malam ini, bahkan belum sampai lima menit.


Dewa mencium Zalina, ciuman yang awalnya pelan dan lembut lama-kelamaan terasa menggebu dan menuntut. Zalina dan Dewa sama-sama menikmatinya, Dewa melepaskan kimono Zalina, tinggalah lingerie tipis membungkus tubuh Zalina. Zalina ingin menolak, tapi tubuhnya memberi reaksi sebaliknya.


Dewa menatap Zalina dengan tampang memohon.


"Bolehkah, Mas-"


Dewa belum selesai berbicara tapi Zalina sudah menganggukkan kepalanya. Merasa mendapatkan lampu hijau, Dewa pun melanjutkan aksinya hingga akhirnya Mereka pun melewati malam panjang tersebut dengan penuh peluh dan rasa cinta di antara keduanya. Disaksikan oleh Rembulan Dan juga Bintang


Di saat waktu subuh Zalina terbangun, ia melihat jam di ponselnya menunjukkan sudah saatnya menunaikan salat subuh. Dia segera bangkit ingin menuju kamar mandi, tapi ternyata dia kesulitan karena rasa nyeri dan ngilu di tubuh bawahnya. Ia berjalan dengan tertatih dan tubuh yang ditutupi selimut. Dia berjalan perlahan masuk ke kamar mandi kemudian ia membersihkan tubuhnya.


Dewa yang menyadari tidak ada Zalina di sampingnya pun terbangun, mendengar suara air di kamar mandi kemudian ia meyakini kalau istrinya tersebut sedang mandi. Dewa mengingat kegiatan yang mereka lakukan semalaman. Dewa tersenyum bahagia, ia melihat noda darah di sprei yang mereka tiduri, Dewa pun merasa bahagia karena bisa memiliki Zalina seutuhnya.


Dering ponsel Dewa pun berbunyi ia mengerutkan keningnya saat melihat nama yang menghubunginya pagi-pagi seperti ini. Dewa pun mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamualaikum."


"..."


"..."


"Iya, ada apa?"


"..."


"Apa kamu yakin?"


"..."


"Baiklah, Nanti siang saya akan datang."

__ADS_1


Panggilan tersebut pun berakhir tepat saat terdengar Zalina membuka pintu kamar mandi.


__ADS_2