Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 44. Adik Ipar Tidak Setuju


__ADS_3

Hari Berganti Hari terus terlewati waktu pernikahan semakin dekat. Gugup? sudah pasti. Zalina sangat gugup menghadapi ini, tapi dia berusaha tenang, yakin serta percaya kalau semuanya akan berjalan dengan lancar.


Zalina bersyukur dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang baik. Benar seperti yang dikatakan orang 'uang bukanlah segalanya, tapi segalanya lebih mudah jika ada uang' mungkin hal itu pula yang meringankan segala urusan Zalina dan Dewa saat ini.


Zalina tidak terlalu repot dalam urusan pernikahan ini, karena semuanya sudah dipersiapkan sangat matang oleh Dewa. Di handle oleh WO terbaik dan menyerahkan segala urusan ini kepada asistennya Rendy dan dibantu oleh sahabat Zalina yaitu Rindu.


Rindu begitu paham apa dan bagaimana selera dan kesukaan Zalina, sehingga semuanya begitu perfect sesuai kemauan Zalina. Mulai dari warna yang dipakai, desain undangan, souvenir, seragam keluarga, pakaian pengantin, dekorasi ruangan dan pelaminan semuanya sudah diatur oleh Rindu.


Hari ini Zalina dan Dewa berencana untuk bertemu dengan Dewi adik kandung Dewa, yang kebetulan kemarin telah datang dari Kalimantan. Sambil menunggu Dewa menjemputnya ke rumah, Zalina pun mulai bersiap-siap.


**


Di lain tempat Rindu yang sudah tidak bekerja di klinik lagi, Sekarang dia hanya fokus untuk mengurus toko kepunyaan Zalina dan Nema, yang sekarang sedang persiapan untuk membuka cabang ketiga.


Hari ini Rindu sudah janjian dengan Rendy akan pergi memastikan beberapa hal yang berkaitan untuk di hari H pernikahan Zalina dan Dewa, yang kebetulan tinggal dua hari lagi.


"Udah jam segini, ke mana sih ini orang? katanya 15 menit lagi, ini mah udah 20 menit, dasar lelet!" gerutu Rindu yang terus ngedumel sendiri.


Lima menit kemudian terdengar bunyi mobil masuk ke halaman rumah rindu, Rindu melihat dari jendela kalau itu adalah mobil yang biasa dikendarai oleh Rendy. Rindu segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Rendy.


"Kemana aja sih, Mas? tadi katanya cuma 15 menit, ini aku nunggunya udah lebih dari 20 menit. lagian jarak rumah kamu dari tempat aku nggak jauh lho Mas, Kecuali Kamu tinggalnya di Planet Mars," omel rindu sambil bersedekap tangan di dadanya.


Rendy hanya mengulum senyumnya. "Lebih baik diam, kalau dijawab makin panjang nih ceritanya, pasti nggak siap-siap marahnya," batin Rendy.


Rendy benar-benar tidak menjawab apapun dan langsung melajukan kendaraannya, mereka pun diam selama di perjalanan, karena Rendy tidak berani untuk membuka obrolan.


"Mas, kok diam aja sih, aku dicuekin Kamu ke mana tadi? aku tahu ... aku tahu, pasti kamu sama si ulat bulu 'kan? eh sorry ... sorry." Rindu reflek menutup mulutnya.


Rendy mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rindu.


"Ulat bulu? siapa maksud kamu?"

__ADS_1


"I-Iya.. siapa lagi kalau bukan pacar kesayangan kamu itu, Mas."


Rendy cekikikan mendengar jawaban Rindu. "Enak aja kamu bilang pacar aku ulat bulu."


"Eh ... iya tau! hanya ulat bulu yang suka nempel, terus bikin gatal-gatal juga. Nah, Mas ini kena efeknya juga ikutan gatal buktinya kamu nemplok terus dan ga bisa lepas tuh sama si cewek."


Rendy bukannya marah tapi malah tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd Rindu. tidak berselang lama mereka pun sampai di tempat tujuan.


**


Dewa sampai di rumah Zalina. Dan Zalina yang sudah siap sedia langsung keluar rumah saat mendengar suara mobil Dewa.


"Yuk! udah siap?" tanya Dewa


"Udah, Mas. Apa Mas mau masuk dulu?"


"Kayaknya nggak usah deh, kita langsung aja kali ya, biar cepat juga kelar hari ini," ucap Dewa sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Dewa pun segera melajukan mobil menuju kediamannya dan Dewi. Setelah 20 menit mereka sampai di kediaman Dewa. Dewa turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zalina, kemudian dia menggenggam tangan zalina dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kamu gugup ya? tangan kamu dingin sekali."


"Iya, Mas. Gimana Kalau Bu Dewi nggak menyetujuinya."


"Kamu tidak usah memperdulikan itu, dia setuju atau tidak kita akan tetap menikah, Mas datang membawamu padanya untuk diperkenalkan, bukan untuk minta persetujuan, Karna kita ga butuh persetujuannya." Dewa berkata begitu tegas tanpa keraguan mengucapkannya.


Zalina berusaha membuang nafasnya untuk menetralkan rasa gugup di Dada. Tangannya terus di genggam Dewa masuk kedalam rumah. Tampak Dewi berdiri di ruang tamu membelakangi pintu masuk, ia seperti sedang menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum,"


Dewi yang baru selesai menelpon, menjawab salam Dewa dan memutar badannya.

__ADS_1


"Wa'alai-"


Dewi bengong dan mengernyitkan keningnya, tidak melanjutkan menjawab salam yang akan di ucapkannya tadi. Dia melirik tangan Dewa yang menggenggam tangan Zalina, dia masih tidak menyangka dengan wanita yang digenggam oleh Dewa saat ini.


"Zalina, kamu Zalina 'kan? yang menjadi mahasiswa bimbingan saya waktu itu?"


"I-iya, Bu."


"Mas, apa ini? jangan bilang kalau dia yang akan menjadi istri kamu?"


Dewa tidak berkata apa-apa, dia hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Mas, nggak salah? Zalina ini mahasiswa aku dan lebih pantasnya itu untuk menjadi anak kamu, Mas? dia ini masih muda, ya nggak cocok lah untuk menjadi istri kamu, Astaga," ucap Dewi memijit keningnya, dia heran dan tidak menyangka kalau yang akan menjadi istri kakaknya atau menjadi kakak iparnya itu adalah mantan mahasiswanya.


Dewa mengeratkan genggaman tangannya, seperti memberikan ketenangan pada Zalina.


"Aku ke sini, bukan minta persetujuan kamu Dewi. Aku ke sini hanya untuk memperkenalkan dia sebagai calon istriku. Kamu setuju atau tidak itu urusan kamu. Dan satu hal lagi, setelah kami menikah aku tidak akan tinggal di sini. Silakan kalau kamu mau tinggal sini! karena aku akan tinggal berdua dengan Zalina.


"Mas sadar dong, kamu itu sungguh-sungguh nggak pantas Mas bersanding dengan dia. kamu lebih pantas bersanding dengan Maura, yang lebih segala-galanya dibandingkan. Dia ini masih bocah ingusan, jangan-jangan kamu ini hanya dimanfaatin sama dia, dia ini hanya gadis muda yang labil yang masih suka berpura-pura. Bagaimana kalau kamu hanya diporotin hartanya?" Dewi berbicara dengan menggebu-gebu.


"Dan kamu juga, Eh ... bocah ingusan! jangan-jangan kamu udah guna-guna kakak saya, iya 'kan? dasar gadis murahan!" ucap Dewi kasar sambil menunjuk muka Zalina. Zalina tidak melawan dan menjawab apapun, dia hanya beristighfar di hati untuk menguatkan hatinya sendiri.


"STOP DEWI!!!" Dewa benar-benar marah dengan tuduhan Dewi yang begitu keterlaluan. "Kalau kamu kelewatan lagi seperti ini, maka jangan salahkan aku kalau aku akan bertindak lebih kasar terhadapmu. Terserah!!! kamu mau datang atau tidak, kamu mau setuju atau tidak atas pernikahanku, itu terserahmu." Dewa berkata dengan lantang.


"Zalina Ayo kita pergi." Dewa menarik tangan Zalina keluar dari rumah tersebut.


Zalina merasa tidak enak hati atas apa yang terjadi, Dia menyadari ternyata dirinya tidak diterima dengan baik oleh Dewi yang tidak lain adalah adik kandung Dewa. Ia tidak berkutik saat tangannya ditarik dan kembali masuk ke dalam mobil. Sampai mobil tersebut melaju dan meninggalkan kediaman Dewi, Zalina ataupun Dewa tidak ada yang membuka suara, Zalina tahu kalau saat ini Dewa dalam keadaan marah.


"Maafkan sikap Dewi, dia memang seperti itu, selalu tidak menyetujui apapun yang menjadi pilihan saya, karena dia merasa mempunyai hak untuk mencarikan saya pendamping tapi dia tidak pernah memikirkan apa yang menurut saya pantas dan apa yang saya sukai."


Zalina sama sekali tidak menyela ucapan Dewa, dia berusaha untuk mendengarkan semua apa yang dikatakan oleh Dewa dulu. Setelah Dewa selesai bicara Zalina kemudian menyahutinya

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa, Mas. aku mengerti kalau Bu Dewi tidak setuju denganku, Semoga nanti seiringnya waktu bu Dewi bisa menerima pernikahan kita ya, Mas," ucap Zalina


__ADS_2