
"Bagaimana dengan kuliah kamu, Zalina?" tanya Marcel.
"Minggu depan aku sidang skripsi, Pa. Mohon doanya semoga dilancarkan dan wisuda sesuai jadwalnya," jawab Zalina.
"Tentu, Papa akan selalu mendoakan kamu semoga berhasil dalam segala hal."
"Amin ... terima kasih, Pa."
Zalina termasuk jarang berkunjung ke Surabaya tempat papanya, selain karena jarak, mungkin juga karena dia memang tidak begitu dekat dengan papanya yang memiliki kesibukan layaknya pengusaha lainnya. Terkadang, Marcel lah yang sering mengunjungi Zalina di Malang, sesudah urusan pekerjaan selesai maka dia akan mampir untuk menjenguk Zalina.
"Bu, Zalina, menginaplah di sini terlebih dulu untuk beberapa hari, sudah lama kalian tidak menginap di sini," ucap Marcel.
"Ibu akan ikut dengan keputusan Zalina, kalau dia setuju menginap maka ibu akan menginap juga, Bagaimana, Zalina?" Nema bertanya pada Zalina yang masih diam.
"Zalina, kamu ingatkan kalau ayah pernah ingin mengenalkan kamu pada anak teman ayah, kalau kamu mau menginap beberapa hari di sini, maka ayah akan meminta mereka datang kesini agar kalian bisa berkenalan terlebih dahulu."
Zalina yang mendengar penuturan papanya hanya bisa menghela nafas. Bukan karena rasa kangen atau rindunya terhadap Zalina, papanya meminta untuk menginap di sini, tapi karena adanya niat lain.
"Baik, kami akan menginap disini, tapi aku enggak bisa terlalu lama, Pa. Karena aku ambil cuti kerja cuma 3 hari, lusa aku harus sampai Malang lagi," ujar Zalina.
Marcel yang mendengar perkataan Zalina menarik bibirnya tersenyum senang. "Tidak apa-apa, malam ini akan papa minta mereka datang kemari, agar kalian bisa berkenalan terlebih dahulu."
Zalina hanya membalas dengan sedikit senyuman, walaupun sebenarnya dia tidak menyukai rencana papanya ini. Tapi, tidak ada salahnya menuruti kemauan sang papa kali ini, mana tau semua untuk kebaikannya.
Nema tidak bisa berkata apapun, dia tahu kalau Zalina sebenarnya tidak menyukai hal ini, tapi Nema juga tahu kalau Zalina tidak ingin mengecewakan Marcel kali ini. Nema hanya bisa berdoa semoga apapun yang terjadi pada Zalina, semuanya adalah takdir baik untuk kebahagian Zalina dimasa depan.
Malam harinya, di meja makan yang panjang di rumah Marcel sudah terhidang berbagai makan sajian menu. Bahkan, mereka sudah duduk di kursi masing-masing sambil menunggu orang yang akan berkunjung malam ini.
"Zalina, kamu cantik sekali malam ini," ucap Liliana istrinya marcel.
"Terima kasih onty, sebaliknya juga begitu, onty juga terlihat cantik," puji Zalina pada ibu sambungnya tersebut. Ya, Liliana memang cantik karena memiliki darah Tionghoa sama seperti papanya. Begitu juga dengan Zalina, yang memiliki darah Tionghoa turunan sang papa.
"Onty berharap kamu mendapatkan jodoh di Surabaya ini, jadi kamu bisa tinggal berdekatan dengan kami," tukas Liliana.
Zalina hanya tersenyum mendengar ucapan Liliana.
Ting nong ...
Ting nong ...
Ting nong ...
__ADS_1
"Biar aku yang buka," ujar Liliana seraya berdiri dari kursinya.
Liliana pun berjalan menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat Malam, Jeng Liliana," ucap seorang wanita setelah Liliana membukakan pintu.
"Selamat Malam juga, Jeng Melisa," jawab Liliana sembari cipika-cipiki dan memeluk sebentar.
"Mari semua, silahkan masuk!" ujar Liliana yang mempersilahkan tiga orang di depannya.
Liliana dan para tamu itupun berjalan menuju meja makan besar.
"Mari, Silahkan duduk! Andre," Marcel mempersilahkan tamu yang bernama Andre dan keluarganya duduk di meja makan.
"Zalina, ini tamu yang kita tunggu. Beliau ini Pak Andre dan Bu Melisa, serta putra mereka yang bernama Ferdy," ujar Marcel memperkenalkan Andre dan keluarganya.
Zalina tersenyum ramah sambil mengangguk sopan pada semua tamunya.
"Ferdy ini bekerja di perusahaan papanya yang bergerak di pertambangan batu bara, Zalina. Bahkan, dia ini lulusan dari universitas luar negeri," ucap Marcel yang memperkenalkan Ferdy pada sang putri.
Zalina hanya memberikan senyuman tipisnya pada Ferdy, yang disambut dengan smirk oleh Ferdy.
"Kamu cantik sekali, Nak," ucap Melisa.
Tepat di depan Zalina, pria yang bernama Ferdy tersebut menyunggingkan senyuman penuh Smirk nya. Dia menatap Zalina dengan tatapan yang tidak Zalina sukai, tapi Zalina bukanlah wanita lemah, penakut dan yang mudah goyah dengan tampang, atau dengan rayuan. Zalina memasang wajah EGP alias emang gue peduli saat Ferdy memandangnya, dengan masa bodohnya Zalina pun mengalihkan pandangannya kearah lain, tidak tertarik sama sekali dengan Ferdy.
"Nak Zalina, apa kegiatannya sekarang?" tanya Melisa lagi.
"Saya kuliah dan juga kerja, Bu."
"Putri mu ini cantik dan berbakat, Marcel. Kamu mengatakan, kalau saat ini dia juga terjun berbisnis walaupun masih merintis. Aku suka wanita seperti ini menjadi calon menantu ku, bukankah begitu, Ma?" tanya pak Andre pada istrinya.
semua yang di ruangan tersebut tertawa, Zalina hanya menanggapi dengan senyumannya saja.
"Papa benar, tapi kita ini hanya jembatan untuk mereka berdua, kalau mereka merasa cocok maka kita akan mendukungnya. Kita serahkan pada mereka berdua, lagian ini baru pertama kali bertemu, mungkin bisa mengatur kesempatan bertemu lagi agar semakin akrab," tutur Melisa dengan bijak.
Zalina tidak menanggapi apapun dari ucapan orang-orang di meja makan, dia hanya tersenyum saja ataupun menjawab seadanya jika ditanya.
"Sekarang, ayo kita makan dulu! setelah itu kita masih bisa melanjutkan ngobrol dengan santai." Marcel mempersilahkan semua di meja makan untuk memulai makan malam mereka.
Mereka semua menikmati makan malam dengan penuh keakraban. Selesai makan mereka kembali mengobrol, ntah apa saja yang di obrolkan Zalina tidak mempedulikannya. Hingga Andre dan keluarganya berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Zalina, kalau ada kesempatan singgahlah ke rumah kami, atau kalau kamu sedang main ke Surabaya kabari kami, biar Ferdy menjemputmu," ucap Melisa.
"Insyaallah, Bu." Zalina hanya bisa memberi tanggapan seperti itu, karen dia pun ntah kapan akan datang ke Surabaya lagi.
"Nanti, kalau saya ada pekerjaan ke Malang, saya akan mengajak Ferdy, agar dia bisa mengunjungi Zalina dan mengenal lebih jauh lagi, saat ini mereka masih malu-malu karena baru pertama bertemu, dilain waktu mungkin bisa ngobrol berdua," ucap Marcel.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu Marcel. Terima kasih atas makan malamnya," ucap Andre.
"Sama-sama Andre, terima kasih sudah datang." Marcel menyalami Andre.
Setelah Andre beserta keluarganya pulang, Marcel mengajak Zalina kembali duduk di ruang keluarga.
"Zalina, bagaimana menurutmu Ferdy? apa kamu menyukainya?" tanya Marcel.
"Ntahlah, Pa. Mungkin baru pertama kali bertemu jadi belum saling mengenal juga," jawab Zalina santai.
"Papa harap kedepannya ada kabar baik untuk hubungan kalian berdua. Nanti, papa akan mengajak Ferdy ke Malang, agar kalian bisa bertemu dan ngobrol berdua agar semakin mengenal satu sama lain."
Zalina hanya menghela nafas pelan mendengar penuturan papanya. Setelah mengobrol dengan papanya, Zalina menyusul Nema yang sudah duluan masuk kamarnya setelah mengobrol dengan keluarga Andre tadi.
Zalina membuka pintu kamar Nemanya, dan melihat Nema yang baru keluar dari kamar mandi.
"Zalina kira Nema sudah tidur," ujar Zalina berjalan masuk kamar Nemanya.
"Belum sayang, ini baru siap bersih-bersih. Ayo, Kemarilah!" ucap Nema menepuk pinggir tempat tidur disebelah dia duduk. "Kamu menyukai pria yang di kenalin papa kamu tadi?"
Zalina menghela nafasnya, bingung mau mengatakan apa pada Nemanya. Zalina menyandarkan kepalanya kepundak Nema.
"Entahlah, Nema. Kami baru pertama kali bertemu dan belum mengobrol satu sama lain, mungkin karena situasi yang masih canggung juga.
"Ya sudahlah, semoga dia pria yang baik untukmu, Nak."
"Apa menurut Nema, dia pria yang baik untuk Zalina?"
"Nema tidak berani menyimpulkannya sekarang, karena yang lebih mengenal dia tentu papa kamu, papa kamu tidak mungkin salah memilihkan pasangan untuk putrinya, sudahlah! tidak usah memikirkan itu lagi, malam ini ayo kita istirahat, karena besok kita akan pulang ke Malang."
"Hmmmm ... Ya Nema, kalau begitu Zalina akan kembali ke kamar Zalina. Selamat malam, Nema," ucap Zalina sembari mencium pipi Nema.
"Selamat malam, Nak."
Zalina pun meninggalkan kamar Nemanya dan pergi ke kamar dirinya.
__ADS_1
"Semoga penilaian ku salah, semoga pria tersebut pria yang baik dan tepat untuk cucuku," ucap Nema bermonolog dalam hatinya.