Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 41. Perasaan Zalina


__ADS_3

Zalina sudah berada di dalam mobil Dewa, mereka akan pergi ke suatu tempat yang hanya Dewa yang tahu. Sedangkan Zalina diam dan tidak ada bertanya apapun pada Dewa dari awal mula masuk mobil hingga mobil melaju cukup jauh saat ini.


Zalina hanya diam cemberut dan menatap ke arah jendela di sampingnya.


"Kenapa diam aja? wajahnya kok ditekuk cemberut begitu?" tanya Dewa.


Zalina bergeming dan tidak mengindahkan pertanyaan Dewa.


"Kenapa sih? Lagi kesel ya? atau lagi PMS?" lagi Dewa bertanya pada zalina dengan tangan masih mengemudi dan matanya sesekali melihat Zalina di sampingnya. Tapi zalina masih tetap pada pendiriannya, dia hanya diam dan tidak memberi reaksi apapun.


Dewa menghela nafasnya, kemudian meminggirkan mobilnya dan berhenti.


"Ya udah, kalau nggak mau ngomong kita berhenti di sini aja, nggak usah jalan deh, masa iya saya di cuekin terus dari tadi."


Zalina yang sedang kesal mulai terpancing emosinya dan menjawab dengan ketus.


"Gimana? Nggak enak kan dicuekin? enggak enak kan didiamin gini? Makanya kalau nggak mau dicuekin, jangan bikin kesel. Lama-lama macam Jelangkung datang gak diundang pulang gak diantar, suka nggak ada kabar," jawab Zalina penuh kekesalan.


Dewa bukannya marah tapi malah tersenyum melihat Zalina yang kian cemberut, menurutnya itu sangat menggemaskan.


"Jadi, ada yang kesel karena nggak ada kabar dari saya? ya udah saya minta maaf ya," ucap Dewa yang menggenggam tangan zalina. "maafin saya karena seminggu ini selain ada urusan pekerjaan, saya benar-benar ingin memberikan ruang dan waktu untuk kamu bisa memikirkan perasaan kamu."


"Iya, tapi kan setidaknya bisa tanya kabar kek, apa kek, ah ... sudahlah! malas bahasnya lagi."


Zalina masih dengan mode cemberutnya menatap jendela samping.


Dewa bukannya marah malah mengulum senyumnya melihat tingkah Zalina seperti ini, lucu dan menggemaskan begitulah pikir Dewa. "Tapi kalau gak di bujuk bisa nginap di pinggir jalan nih," batin Dewa.


"Ya deh, saya salah, maaf ya. Kan sekarang orangnya udah di sini. Jadi, gimana? masih mau lanjut jalan atau mau diam di sini?" tanya Dewa menggoda Zalina.


Zalina dengan tangan bersilang di dada dan menunjukkan muka kesalnya menatap pada Dewa.


Dewa pun tersenyum geleng-gelengkan kepalanya.


"Iya deh, kita jalan sekarang."


20 menit berlalu mereka sampai di sebuah pantai. Zalina begitu senang sekali saat mengetahui Dewa membawanya kepantai, bagaimana mungkin dewa bisa tahu dengan pikirannya saat ini yang menginginkan suasana pantai.


Dewa bisa melihat raut berbinar dari wajah Zalina, diapun tersenyum puas di dalam hati. Dewa menepikan mobilnya, ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zalina.


Hal kecil tersebut membuat hati Zalina jadi berbunga, mereka berdua menuju tepi pantai dan duduk di atas pasir yang tidak tersentuh oleh air pantai. Zalina memejamkan matanya begitu menikmati semilir angin yang menyapu wajahnya.


"Kamu senang?"


Zalina membuka mata dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu tunggu sini sebentar ya, saya ke sana dulu. Jangan kemana-mana!" Zalina pun menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Dewa kembali lagi dan mengajak Zalina beranjak dari sana.

__ADS_1


"Zalina, kita ke sana yuk! kita duduk di pondokan itu," ajak Dewa.


"Ayo, pak!"


Tidak berapa lama datang seorang lelaki yang mengantarkan air kelapa muda dan beberapa cemilan.


"Cuma ada ini aja di sekitar sini, jadi saya pesan ini aja."


"Nggak apa-apa, Pak. Ini juga udah cukup."


Mereka pun menikmati sore di tepi pantai dengan ditemani semilir angin yang semakin terasa dingin dikulit. Zalina sudah tidak sabar untuk melihat matahari terbenam. pasti cantik banget ya pak sunsetnya, udah nggak sabar lihatnya.


"Iya cantik banget," jawab Dewa memandang wajah Zalina.


Zalina menyadari kalau Dewa memperhatikannya dari tadi, dia pun mulai salah tingkah.


"Kenapa Pak Dewa jadi ngeliatin saya? ke sini mau lihat pantaikan? kenapa malah ngeliatin saya?"


"Tadinya gitu, saya mau lihat keindahan pantai. Tapi, pas sudah ada kamu, ternyata kamu lebih indah daripada pantai. Jadi, saya mandangi kamu aja."


Zalina tersenyum lebar mendengar gombalan receh Dewa.


"Bisa aja gombalnya, belajar Dari kamus mana itu?"


Mereka pun tertawa bersama, kemudian suasana pun menjadi hening di antara mereka.


"Saya minta maaf, kalau 10 hari ini saya tidak menghubungi kamu. Maaf ya?"


"Apa Pak Dewa tidak ingin menanyakan bagaimana perasaan saya terhadap Pak Dewa?"


"Apa kamu sudah yakin dengan perasaan kamu?" Dewa malah balik bertanya.


Zalina pun mengangguk pelan.


"Lalu, apa?" tanya Dewa


Zalina menelan ludah menghela nafas serta meremas jari jemarinya.


"S-saya juga menyukai, Pak Dewa," ucap Zalina lirih.


Dewa mengulum senyum mendengar jawaban Zalina.


"Apa? saya kurang jelas mendengarnya."


Salina memajukan bibirnya. "Ih ... udah jelas gitu kok, nggak ada ah siaran ulang!"


"Serius saya nggak denger, karena ada siara ombak dan anginnya juga kencang, ulangi lagi dong ... Yang jelas ngomongnya, jangan berbisik gitu. Lagian saya duduknya di depan kamu, kamu lihatnya malah ke bawah meja, emang saya di kolong meja?" Dewa mengerjai Zalina.


Zalina Kian cemberut, kemudian dengan mengumpulkan keberaniannya lagi dia pun mengutarakan perasaannya terhadap Dewa.

__ADS_1


"Saya menyukai Bapak," ucap Zalina cepat.


Dewa tertawa kecil melihat tingkah Zalina.


"Ih ... kok malah diketawain."


"Sorry ... sorry."


Dewa pun menggenggam tangan Zalina di atas meja.


"Terima kasih atas kejujuran kamu, saya senang kamu bisa mengucapkannya langsung pada saya."


Zalina pun tersipu malu mendengar ucapan Dewa.


"Nah ... tuh kan cantik."


"Gombal lagi," ucap Zalina.


"Serius, cantik itu sunsetnya," ucap Dewa tersenyum.


Zalina pun memajukan bibirnya karena dikerjain oleh Dewa. Dewa tersenyum melihat sikap menggemaskan Zalina, Melihat Zalina cemberut. Makanya dia sengaja mengerjainya Zalina.


"Habis ini saya mau ngajak kamu ke suatu tempat, mau ya?" Zalina Pun menganggukkan kepalanya.


Di sinilah mereka berada sekarang, di sebuah restoran dengan konsep Rooftop. Zalina pun tercengang melihat tempat tersebut seperti sudah dipersiapka.


"Kenapa sepi sekali? Terus kenapa tempat ini seperti didekor begini?" tanya Zlaina yang melihat banyak lampu, lilin-lilin juga.


"Mungkin ada seseorang sebelum kita yang menyewa tempat ini," jawab Dewa. "Ya sudah, Yuk! kita duduk."


Kemudian datang beberapa pelayan yang sudah menghidangkan makanan dan minuman.


Saya harap kamu suka dengan apa yang saya pilihkan.


"Terima kasih, Pak."


Mereka pun melanjutkan makan bersama, tidak lupa Dewa juga memesankan dessert es krim coklat kesukaan Zalina. Zalina begitu senang bisa menikmati makanan favoritnya tersebut. Saat Zalina menyendokkan es krim ke mulutnya dia seperti merasakan ada sesuatu benda di dalam mulutnya, Zalina mengernyitkan keningnya saat mengeluarkan benda tersebut.


"ini-"


Dewa pun mengambil cincin dari tangan Zalina yang masih dengan ekspresi kebingungan. Dewa berjongkok di depan Zalina.


"Will you marry me? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika kamu berkata tidak, jadi bisakah kamu menyelamatkanku dan berkata iya."


Zalina sangat kaget, dia melongo tak percaya, menutup mukutnya dengan kedua telapak tangan.


"Ta-tapi kan baru aja ungkapin perasaan, masa mau langsung nikah?"


"Kan saya udah bilang sebelumnya, kalau saya tidak mau hubungan yang bertele-tele, saya mau kamu halal untuk saya."

__ADS_1


Zalina tersenyum kemudian tertawa mendengar ucapan Dewa.


"Gimana nih? kaki saya pegel gini terus."


__ADS_2