
"Hai Zalina."
Zalina dan Rindu yg sedang tertawa berhenti dan menoleh ke arah sumber suara.
Zalina dan Rindu saling menoleh dan mengernyitkan kening mereka, seperti mengingat-ingat siapa orang yang menyamperin mereka berdua.
"Kalian lupa sama kami?" tanya perempuan itu.
"Maya bukan?" tanya Zalina.
Perempuan itu pun menganggukkan kepalanya.
"Yes betul, aku Maya. Ternyata masih ingat, apa kabar kamu?"
"Baik," jawab Zalina singkat.
Perempuan yang bernama Maya itu langsung duduk di bangku yang tersedia, kebetulan bangku tersebut memang hanya tinggal satu dan teman yang lain tetap berdiri.
"Aku dengar kamu udah nikah?"
Zalina menganggukkan kepalanya.
"Beneran nikah sama duda?"
Zalina lagi-lagi menganggukkan kepalanya
"Wow ... ternyata Selera kamu boleh juga."
Zalina mengerutkan keningnya dan menatap Rindu. Sedangkan Rindu mengedikkan bahunya.
"Seorang Zalina yang dulu kesayangan semua guru, berprestasi dan katanya cantik, ternyata nikahnya dengan om-om Duda dan berpangkat tinggi. Siapa sih nggak kenal dengan pak Akbar? kok bisa? kamu jadi sugar babynya ya?"
"Apa maksud kamu, Maya?" tanya Zalina dengan tatapan tajam.
"Hahaha ...."
Maya dan temannya yang lain pun tertawa.
"Zalina ... Zalina, semua orang juga tahu siapa pak Akbar dan siapa kamu. Ya nggak mungkin dong pak Akbar mau gitu aja sama kamu, secara 'kan dia orang penting terkenal sedangkan kamu-"
Maya menunjuk Zalina dari ujung rambut sampai ujung kakinya. "Nggak selevel Zalina."
Zalina masih berusaha menahan amarahnya, sedangkan Rindu yang mulai gerah mendengar ocehan tak bermutu Maya tersebut pun mulai angkat bicara.
"Eh, Maya! nggak ada yang undang kamu datang ke sini, nggak ada juga yang nyuruh kamu untuk duduk di sini, apalagi untuk dengerin bacot kamu yang nggak bermutu itu. Maaf ya, kami sedang mengobrol berdua dan tidak diingin diganggu oleh siapapun apalagi oleh jelangkung sepertimu."
Maya tidak terima dengan ucapan Rindu, dia benar-benar marah dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Eh ... Rindu, dari dulu sampai sekarang kamu itu selalu menjadi bayangannya Zalina. Kamu itu tidak berarti apa-apa, nggak usah asal ngebacot. Aku nggak ada urusan sama kamu!" ucap Maya menunjuk Rindu.
Zalina memutar bola matanya malas, mendengar semua ocehan Maya yang tidak berfaedah.
"Maya ... maaf, kalau kehadiran kamu ke sini hanya untuk menghina kami silahkan pergi. Tolong jangan buat masalah, apalagi ini lagi di tempat umum."
"Alah ... Sok-sokan kalian, kamu mentang-mentang udah nikah dengan seorang polisi, seorang jendral bicaramu sok berwibawa .Aku yakin kamu itu mendapatkan pak Akbar pasti dengan menjual tubuhmu," ucap Maya dengan menekankan dan membisikkan kata-kata terakhir pada telinga Zalina.
Zalina mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan amarahnya memejamkan kedua matanya kemudian menghela nafasnya.
"Ck ... kamu tahu Maya? sebenarnya mudah saja membandingkan berlian dengan batu kali. Berlian itu diletakkan di mana pun dia akan bersinar, tapi batu kali harus dipoles terlebih dulu luar dan dalam baru tampak bersinar dan kamu-"
Tunjuk Zalina pada wajah Maya.
"Kamu adalah batu kalinya, ketika didandani seperti ini dan juga mulutmu disumpel dengan uang aku rasa kamu baru akan tampak bersinar. Tapi bersinar dalam kepalsuan. Kamu menuduh aku menjual tubuhku, Hahaha ... lucu sekali! aku jadi sanksi, karena kau gampang mengucapkan itu padaku jangan-jangan dirimu sendiri lah yang sudah mempraktekkan nya. Aku jadi penasaran sugar daddy mana yang berhasil kamu ajak untuk menidurimu." Zalina membalas telak ucapan Maya.
"Kurang ajar! dasar perempuan murahan! bisa-bisanya kau menghina aku seperti itu."
Rindu hanya geleng-geleng kepala melihat Maya tidak terima diskakmat oleh Zalina.
"Tunggu apalagi sekarang, silahkan pergi karena kami tidak pernah mengundang perempuan sok suci sepertimu," ucap Rindu mengusir Maya.
Maya pun menghentakkan kakinya dan meninggalkan tempat tersebut disusul oleh temannya yang lain.
"Prok ... prok ... prok"
"Nggak nyangka ternyata boleh juga bu jenderal ini."
"Kamu tahu nggak? mukanya kayak kepiting rebus saat kamu balas omongannya. Emang enak nuduh orang sembarangan," ucap Rindu
Zalina hanya menggeleng kepalanya, kemudian menyeruput minuman.
" Emang beneran Maya jadi sugar baby?" tanya Zalina memastikan.
Zalina mengedikkan bahunya. "Aku asal ngomong, biar dia tahu rasa gimana rasanya dituduh tapi nggak ada bukti."
"Buset, aku kirain beneran."
"Sudahlah! nggak usah bahas dia lagi, gak penting juga."
Kemudian mereka pun melupakan kejadian tersebut dan mulai bercerita yang lainnya. Tidak terasa hampir dua jam mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol.
Zalina pun mendapat telepon dari Dewa.
"Rin, bentar ya ... Mas Dewa nelfon, aku angkat dulu ya."
Rindu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Halo, Mas."
" ... "
"Boleh, aku tunggu di sini ya, Mas."
" ... "
"Ya, Mas. Hati-hati ya ... Assalamu'alaikum."
Panggilan telepon pun berakhir.
"Mas Dewa Otw ke sini, Rin"
"Oh ... ya udah kalau gitu, nanti keluarnya barengan aja," jawab Rindu.
20 menit berlalu Dewa mengabarkan kalau ia sudah di parkiran. Zalina dan Rindu segera menuju parkiran, saat sampai di parkiran Zalina dan Rindu berpisah karena Zalina masuk dalam mobil Dewa dan Rindu masuk dalam mobilnya sendiri. Setelah itu mereka pun meninggalkan lokasi Mall tersebut.
"Gimana tadi Mas urusannya udah kelar?" tanya Zalina.
"Alhamdulillah sudah, semuanya udah di handle dengan baik. Ada beberapa yang belum kelar tapi Renyi bisa menghandle nya."
Zalina pun menganggukkan kepalanya.
"Ini kita mau ke mana, Mas?" tanya Zalina saat melihat jalan yang dilewatinya, bukanlah jalan yang biasa mereka lewati.
"Mas akan bawa kamu ke suatu tempat, Mas harap kamu suka."
Zalina tersenyum mendengarnya, setelah 30 menit mereka sampai di sebuah kawasan perumahan elit. Zalina tahu di sana tempat tinggal orang-orang kelas menengah ke atas.
"Kita mau ke rumah siapa, Mas?" tanya Zalina.
"Nanti kamu juga tahu, Sayang."
Zalina terus memperhatikan keluar jendela. "Besar-besar ya Mas rumahnya, bagus juga modelnya, tapi sayang tampak sepi," ucap Zalina.
"Iya, kamu suka nggak kalau seandainya kita tinggal di kawasan kayak gini?"
"Emang Mas mau ngajak aku tinggal di kawasan kayak gini?" Zalina balik bertanha.
"Lhoooo ... Mas nanya kamu, tapi kamu malah balik nanya."
"Tinggal di mana aja asalkan sama kamu Insyaallah aku suka dan betah, Mas," ucap Zalina bergelayut di lengan suaminya.
Dewa tersenyum dan mencium sekilas Puncak kepala Zalina. Beberapa saat kemudian mobil Dewa pun berhenti di depan sebuah rumah 2 lantai, rumah tersebut sudah berpagar tinggi dan tampak berbeda dari rumah-rumah yang lain seperti tampak sudah direnovasi, saat mobil tersebut berhenti di depan gerbang, gerbang itu pun otomatis terbuka dengan sendirinya dan Dewa pun masuk kemudian memarkirkan mobil di halaman rumah.
"Ayo turun!" ajak Dewa yang sudah membukakan pintu mobil Zalina.
__ADS_1
"Tapi ini rumah siapa, Mas?" tanya Zalina.
"Ayo masuk! Mas kenalin sama pemilik rumahnya."