
Dewa membuka pintu kamar dan mengajak Zalina masuk. Zalina melangkahkan kakinya dan memandangi seluruh isi kamar tersebut.
"kenapa? apa ada yang salah dengan kamar Mas?" tanya Dewa yang memeluk pinggang Zalina dan meletakkan lagunya di pundak istrinya itu.
Zalina menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Kamar yang luas dan rapi, susunannya juga bagus," jawab Zalina yang masih merasa risih dengan pelukan Dewa.
Zalina mencoba melepaskan pelukan tangan Dewa yang melingkar di perutnya.
"Biarkan seperti ini dulu, mas menyukai wangi ini," ucap Dewa yang mencium ceruk leher Zalina.
Zalina bisa merasakan hangat hembusan nafas Dewa di leher dan pipinya, walaupun kepalanya masih ditutup hijab.
"Mas, katanya mau aku bantuin beres-beres, kalau seperti ini kapan beres-beres nya?"
"Kita tidur aja yuk!" ajak Dewa.
Zalina menelan salivanya, karena ya tau tidur yang dimaksud oleh Dewa tidur seperti apa. "Mas, masih siang juga. Kita ke sini bukan untuk tidur, kita ke sini untuk membereskan barang-barang kamu."
"Tidur 'kan nggak harus malam, Sayang. Siang juga boleh tidur." Dewa memutar badan Zalina Dan kini ia bisa menatap wajah cantik istrinya tersebut.
"Sayang, Mas mau minta maaf atas sikap Dewi tadi. Maaf kalau dia begitu kasar berkata padamu."
Zalina meletakkan telunjuk di bibir Dewa. "Mas tidak perlu berbicara seperti itu, Mas tidak salah jadi Mas tidak perlu minta maaf, aku pun sudah memaafkan bu Dewi. Aku mengerti kalau bu Dewi belum menerimaku untuk menjadi istrimu, Mas. Tapi tidak mengapa karena aku yakin suatu saat ia pasti bisa menerima aku."
Dewa pun tersenyum dan mendengar perkataan Zalina. Dia mengusap pipi dan bibir istrinya tersebut.
Dewa pun menyatukan bibirnya kemudian ia mencium bibir yang sudah membuatnya menjadi candu itu. Zalina juga tidak menolak, dia menerima ciuman yang diberikan oleh Dewa. Ciuman yang awalnya lembut dan pelan lama-lama kian menuntut. Dewa pun membawa Zalina ke atas tempat tidur dan mereka lanjut berciuman.
Entah sejak kapan Dewa membukanya yang jelas saat ini Zalina sudah tidak menggunakan hijab dan juga bagian atas pakaiannya Dewa terus memberikan cumbuan pada istrinya tersebut.
Zalina pun ikut terbuai dibuatnya dan akhirnya siang hari itu pun menjadi panas dibuat oleh mereka. Satu jam berlalu mereka berdua sudah terkapar di atas tempat tidur. Masih menggunakan selimut, Dewa memeluknya dari belakang dan terus mencium pundak Zalina.
"Terima kasih,Sayang. Terima kasih sudah melayani Mas seperti ini."
"Tidak perlu berterima kasih, Mas. Bukankah hal ini juga sudah menjadi kewajibanku," jawab Zalina.
Zalina ingin membersihkan dirinya. "Mau kemana, Sayang?" tanya Dewa menahan lengan Zalina.
"Aku ingin bersih-bersih dulu, Mas. Gerah juga kalau berkeringat seperti ini, aku mau mandi dulu."
"Ayo, kalau begitu kita mandi bersama." Dewa ikut bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
"No ... tidak, aku tidak mau, Mas. Nanti bukannya mandi malah yang lain yang terjadi di dalam sana."
"Hahaha ...."
Dewa pun tertawa mendengar celotehan istrinya itu.
"Ya ... nggak apa-apa, sambil menyelam minum air."
"Dasar Omes, Aku mau mandi sendiri aja biar cepat selesainya." Zalina pun segera turun dari tempat tidur sambil menggunakan selimut yang melilit tubuhnya.
Dewa pun tidak ingin ketinggalan, sebelum Zalina berhasil mengunci pintu, dia terlebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas, apa yang kamu lakukan?"
"Tentu saja mandi, Sayang. Bukankah kamu tadi bilang mau mandi, ayo kalau begitu kita mandi."
"Tapi-"
"Tidak usah tapi-tapian. Yuk, kita mandi." Dewa pun dengan tampang masa bodohnya melenggang masuk kamar mandi dan berdiri di bawah guyuran shower.
Zalina geleng-geleng tidak percaya dengan kelakuan suaminya tersebut. Baru 30 jam berlalu menjadi suami istri, tapi suaminya ini sudah kelewat mesum. Zalina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa masih di sana? ayo ke sini!" ajak Dewa
Ide usil pun muncul di kepala Dewa. Dia segera menyusul istrinya masuk ke dalam bathtub.
"Aaaarggghh ... apa yang Mas lakukan," teriak Zalina yang kaget saat Dewa tiba-tiba berada dalam bathtub.
"Kata orang biar cepat selesai, mandinya langsung berdua," ucap Dewa sambil menggoyangkan kedua alisnya.
"Mas mah modus."
Zalina ingin berdiri dan keluar dari bathtub, namun Dewa segera merangkul bahu Zalina dan mendudukkannya di atas kedua pahanya.
"Aaargghh ..., itu Anaconda Mas ngapain bangun lagi sih! ganggu aja."
"Habis mau gimana lagi, Sayang. Dia selau connect kalau dekat pawangnya."
Zalina menelan ludah membayangkannya. Bagaimana gagahnya Anaconda tersebut saat beraksi. Zalina tersadar langsung dari khayalannya dan menggelengkan kepalanya.
"Ya Ampun Zalina, kenapa otakmu jadi ikutan mesum," gumam Zalina dalam hati.
__ADS_1
"Aku mau mandi sendiri aja," ucap Zalina yang ingin keluar bathup.
"Eit ... tidak bisa." Dewa segera meraih lengan Zalina dan menariknya. Sehingga Zalina terjatuh kembali ke atas pangkuannya. Dada Zalina dan Dewa pun beradu. Dewa yang sudah bergairah dari tadi tidak bisa menahan rasa yang sudah menggebu di dadanya. Akhirnya pertempuran Kedua mereka pun terjadi. Mandi yang sekiranya selesai dalam waktu hanya 10 menit akhirnya selesai dalam waktu hampir satu jam.
Mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan Zalina yang digendong oleh Dewa, kemudian Dewa meletakkan Zalina perlahan di tepi tempat tidur. Zalina menggunakan handuk kimono dengan rambut yang masih basah, Dewa mengambil sebuah handuk kecil kemudian mengeringkan rambut Zalina.
"Biar aku saja, Mas."
"Sudah, kamu diam saja. Biar Mas bantu mengeringkan rambut kamu."
"Maafkan, Mas kalau membuat kamu jadi lelah, Mas tidak bisa menahannya kalau sudah di dekatmu."
Zalina mengakui kalau memang dirinya sangat lelah tapi ia menyadari yang namanya laki-laki tidak bisa menahan syahwatnya, terlebih laki-laki ini adalah suaminya, tentu ia akan berdosa kalau tidak menuruti keinginan suaminya tersebut.
"Aku hanya ingin istirahat sebentar Mas setelah itu aku akan membantu Mas untuk beres-beres."
"Iya, Sayang," ucap Dewa yang masih mengeringkan rambut Zalina.
***
"Ada apa kamu kemari Apa kamu hanya ingin menertawakan ku? ck ... tidak usah senang dulu Dewi, aku tidak selemah yang kamu kira."
Dewi menelan ludahnya dengan payah. Ia tahu kalau maura saat ini sangat marah padanya.
"Maura, kenapa kamu jadi marah padaku? memang apa salahku padamu? aku datang ke sini karena aku peduli kepadamu," ucap Dewi dengan penuh basa-basi.
"Ck ... kamu datang ke sini itu hanya kepura-puraanmu untuk peduli padaku, karena aku tahu kamu tidak setulus itu. kamu datang ke sini Karena rasa takut suami tercinta mu itu tidak jadi naik pangkat, hahaha ... tapi tidak mengapa, dengan kedatanganmu ke sini setidaknya aku bisa mengatakan secara langsung, kalau suamimu itu tidak akan pernah naik jabatan. Jadi bersiap saja dia dengan jabatan lamanya dan bisa jadi mungkin dia akan dipecat," ucap Maura menekankan kata-kata terakhirnya.
"A-Apa maksudmu, Maura? Kenapa suamiku harus dipecat? bukankah kemarin kamu berjanji akan menaikkan pangkat suamiku?"
"Ya, aku memang berjanji akan menaikkan pangkat suamimu, tapi dengan satu syarat. Kau juga berjanji saat itu akan membantu aku, menjadikan Mas Dewa menjadi suamiku. Tapi apa? kau hanya diam tidak melakukan apapun, malahan kau mengompori diriku seolah-olah mendukung aku untuk melakukan kejahatan ini. Well ... aku cukup tahu teman seperti apa dirimu kau hanya berteman denganku karena ingin mencari keuntungan!" seru Maura dengan sinis dan kasar. Bahkan dia berbicara sudah menggunakan kata 'Kau'.
Dewi pun tidak terima dia dikatakan seperti itu, dia merasa kesal dianggap remeh oleh Maura.
"Okay, maksud kedatanganku ke sini baik untuk menjenguk mu, tapi kalau kau menganggap aku berpura-pura itu hakmu. Satu hal yang harus kau tahu, menurutku penilaian mu terhadapku itu tidak jauh lebih baik karena kau pun sama dengan diriku. Kau berteman denganku karena ada maksud lain, aku rasa cukup sampai disini pertemanan kita. Selamat menikmati dinginnya jeruji besi," ujar Dewi dengan seringai mengejeknya.
"Kurang ajar!!! apa kau lupa aku siapa Dewi? orang tuaku tidak akan membiarkan aku berlama-lama di tempat seperti ini."
"Iya, tentu aku tahu itu. Oleh sebab itu mari kita lihat berapa lama kau berada di sini," ucap Dewi sembari berdiri dari duduknya. Dia berniat untuk meninggalkan ruangan itu segera.
"Saat itu tiba maka kaupun akan merasakan hadiah dariku, Dewi." Maura mengancam Dewi.
__ADS_1
Dewi mengepalkan tangannya, tanpa menoleh ke belakang ia ke terus berjalan keluar dari ruangan itu.