
Setelah panggilan berakhir, Zalina jingkrak-jingkrak dikamarnya.
"Apa tadi tu? pak Dewa bilang lain kali sambung lagi? berarti dia mau telepon lagi?oh ... jantung, tenang lah dirimu," ucap Zalina pada dirinya sendiri.
Lain Zalina, lain pula dengan Dewa. Setelah panggilan berakhir dia senyum-senyum sendiri duduk di kursi kerjanya. Entah kenapa dia merasa senang setelah mendengar suara Zalina.
Ya, Dewa mengakui dia mulai tertarik dengan gadis tersebut. Setelah maju-mundur mesmastikan perasaanya, kemarin dia berniat ingin menemui Zalina di toko sekaligus ingin melihat kondisinya karena dua minggu dia tidak bertemu Zalina. Tapi, tiba di toko kata karyawan toko Zalina tidak ada, awalnya Dewa berpikir Zalina ada di toko cabang, akhirnya diapun kesana. Ternyata disana dia hanya menemui Rindu, dari Rindu lah dia mendapatkan cerita tentang Zalina berada di Jakarta.
Dewa sempat takut untuk meneruskan perasaannya pada Zalina, dia selalu berusaha membuang jauh bayangan dan perasaan yang muncul pada Zalina, karena menurutnya tidak mungkin gadis muda itu seleranya dan bakalan cocok dengannya, tapi semakin dia ingin membuang jauh bayangan Zalina, malah semakin sering muncul. Dewa selalu terbayang ke ceriaannya, senyumnya, kadang dia tampak manis, kadang tampak dewasa dari umurnya, banyak hal yang membuat Dewa kagum juga dengan Zalina selain Zalina gadis cerdas dia juga gadis mandiri dan gigih.
"Lama-lama aku bisa gila sendiri kalau gini," ucap Dewa menggaruk kepalanya.
Dewa seperti mendapat ide, dia tersenyum senang dan bergegas berdiri dari kursinya dan tidak lupa menyambar kunci mobilnya. Dia segera melajukan mobilnya dan meninggalkan kantor.
**
Dua hari setelah Dewa menghubungi Zalina, dia tidak pernah menghubungi Zalina kembali. Zalina sedikit uring-uringan, mau di telepon balik takut ke PD-an, lagian gak tau mau ngomong apa. Enggak telepon tapi pengen denger suaranya. Begitulah gejolak perasaan Zalina dua hari ini, untungnya hari ini pasien enggak rame jadi tidak terlalu mempengaruhi kerjanya karena dia yang kurang fokus.
Saat siang hari habis sholat Zhuhur Zalina masih melipat mukena yang dipakainya, Hpnya pun terasa bergetar di saku bajunya. Zalina menatap tak percaya, nama Dewa terpampang di layar ponselnya.
Zalina menelan ludahnya kasar, menghirup oksigen sebanyak mungkin setelah itu dia mengangkat panggilan tersebut.
📞"Assalamu'alaikum, Zalina."
📞"Waalaikum salam, Pak Dewa,"
📞"Apa saya mengganggu kamu yang bekerja?"
📞"Enggak Pak, kebetulan saya baru selesai Sholat," ucap Zalina menggelengkan kepalanya, padahal Dewa tidak melihatnya.
📞"Kamu sudah makan?"
Lagi-lagi Zalina menggelengkan kepalanya.
📞"Pas kalau gitu, makan siang yuk," ajak Dewa.
📞"Hah? maksud pak Dewa?" Zalina balik bertanya karena gagal paham dengan ajakan Dewa.
📞"Iya, saya ngajak kamu makan siang, mau gak?"
📞"Tapi kan-"
📞"Zalina, kamu tinggal bilang mau apa enggak?"
Zalina seperti tersihir langsung menganggukkan kepalanya.
📞"Mau pak," ucapnya lirih.
Dewa tersenyum puas mendengarnya.
📞"Kalau gitu, ayok kita makan siang bareng! saya tunggu kamu didepan sekarang."
Dewa pun segera mengakhiri panggilannya.
'Tuutt ... '
'Tuutt ... '
"HAH??? apa tadi maksudnya? pak Dewa ada didepan?" gumam Zalina
__ADS_1
Zalina pun segera keluar ruang sholat dan berlari melihat ke depan klinik. Ternyata benar, Dewa ada di parkiran klinik, bersandar di badan mobil dengan kaki yang disilangkan, dan tangannya masuk kedalam saku celana. Dewa yang sadar ada yang menatapnya, menoleh kearah Zalina dan melambaikan tangannya kearah Zalina.
Zalina tersenyum dan segera masuk kembali, diapun mengambil dompet dan ponselnya serta izin makan siang dengan tiga orang temannya yang lain.
Zalina segera menghampiri Dewa, entah kenapa kaki dan telapak tangannya dingin sekali. Berjalan menuju mobil Dewa membuat dia gugup sekali, padahal ini bukan pertama kalinya dia bersama Dewa, mereka sudah sering melewati waktu bersama, walaupun dulu ada Elea di tengah-tengah mereka. Tapi kali ini Zalina merasa gugup.
"Hai, apa kabar?"
"Baik Pak, Pak Dewa apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, saya baik. Yuk, kita pergi makan sekarang," ajak Dewa.
Dewa pun membukakan pintu mobil untuk Zalina, Zalina semakin gugup diperlakukan seperti itu. Zalina duduk sambil meremas tangannya sendiri. Dewa duduk di belakang kemudi, dan melajukan kendaraannya.
"Mau makan dimana?" tanya Dewa.
"Terserah Pak Dewa saja, saya belum terlalu mengenal daerah disini, apalagi tempat makan yang terkenal disini," ucap Zalina.
"Okay, kalau begitu saya bawa ke salah satu tempat makan yang pernah saya datangi saja ya, kebetulan ada di daerah sini juga."
Zalina menganggukkan kepalanya.
Sepuluh menit berlalu mereka sampai di sebuah Restoran yang menyajikan makanan Nusantara. Mereka berdua masuk dan Dewa memilih meja yang agak belakang.
"Kamu mau makan apa?"
"Terserah aja, Pak."
Dewa pun memesan menu makanan dan minuman untuk mereka berdua. Sembari menunggu makanan datang, mereka berdua pun saling bertukar cerita.
"Kamu betah disini?"
Dewa tersenyum geleng-geleng kepala mendengar Zalina melempar banyak pertanyaan padanya.
"Ada yang penasaran rupanya, pertanyaannya di borong gitu."
Zalina jadi salah tingkah mendengar ucapan Dewa.
"Saya ada pekerjaan sangat penting," ucap Dewa.
Zalina hanya ber-O ria mendengar jawaban Dewa.
"Zalina, saya ingin ngomong sesuatu."
Zalina yang mendengar ucapan Dewa seperti ingin berbicara serius pun langsung terdiam.
Sedangkan Dewa sudah menelan ludah berulang kali untuk memulai berbicara dengan Zalina. Dewa menjeda ucapannya bertepatan dengan datangnya pelayan mengantarkan makanan dan minuman mereka.
"Zalina, saya tahu mungkin apa yang saya katakan nanti akan membuat kamu terkejut atau bahkan tidak nyaman. Tapi, terlepas dari apa hasilnya nanti saya merasa lega kalau sudah menyampaikannya. Saya tahu mungkin saya ini tidak tahu diri, tidak tahu umur, tapi semua yang ingin saya katakan semata-mata hadir begitu saja. Jika nanti kamu kecewa dengan saya, silahkan. Tapi, tolong jangan putus tali silaturahmi kita, itu tidak baik.
Zalina yang mendengar Dewa berbicara yang menurutnya berbelit-belit malah semakin penasaran, apa sebenarnya yang akan dikatakan Dewa? Kenapa tidak mengatakan saja langsung? tidak mesti pakai mukaddimah seperti pidato begini. Begitulah kira-kira batin Zalina yang sama penasarannya dengan apa yang akan dikatakan Dewa.
"Zalina, saya menyukai mu, saya menyukaimu lebih dari sekedar kita mengenal sebelumnya, saya menyukaimu dengan rasa berbeda, rasa ingin memiliki, rasa ingin selalu berada didekatmu, serta rasa ingin terus bersama."
Dewa menghembuskan nafasnya setelah menahan nafas saat mengucapkan kalimat panjang tersebut.
Sedangkan Zalina bengong, terkejut, shock, senang semua rasa menjadi satu, mendengar kata-kata tersebut langsung dari mulut dan orangnya, yang sekarang berada tepat di depannya.
"Zalina, Saya mencintaimu."
__ADS_1
'Uhhuuukkk ... '
'Uhhuuuukk ... '
Zalina terbatuk-batuk mendengar pengakuan cinta Dewa. Dengan sigap Dewa memberikan air putih pada Zalina, dia pun meminumnya dengan segera.
"M-mmaaf, Pak," ucap Zalina gugup. "Apa saya tidak salah dengar Pak?"
Dewa hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak perlu menanggapinya, bagi saya yang terpenting saya sudah mengutarakan apa yang saya rasakan."
Zalina memicingkan matanya memandang Dewa yang mengatakan hal tersebut. Dia tersenyum sinis mendengar ucapan Dewa.
"Lalu menurut Bapak, Bapak sedang berbicara dengan patung pajangan? sedang berbicara dengan mannequin yang ada d toko pakaian, begitu? Lalu, kalau anda tidak ingin saya memberikan tanggapan, kenapa harus datang menemui saya, dan mengatakannya pada saya? apa tadi ... anda mengatakan anda mencintai saya? terus anda juga mengatakan saya tidak perlu menanggapinya? Anda lucu, Pak Dewa. Saya tidak lapar, saya mau kembali ke klinik, Permisi."
Zalina begitu emosi, mendengar ucapan Dewa. Zalina yang awalnya sudah melambung tinggi dengan ungkapan perasaan Dewa tiba-tiba kesal bukan main mendengar dewa mengatakan kalau dia tidak perlu memberikan tanggapan apapun, kalau begitu buat apa kehadirannya, buat apa Dewa mengatakan perasaannya, apa menurut Dewa jawaban dan tanggapan Dewa tidak penting? Zalina sungguh kesal dan ingi segera meninggalkan Restaurant tersebut.
Dewa menelan ludahnya dengan berat, tidak menyangka reaksi gadis cantik yang dicintainya ini akan seperti ini, Dewa sadar salah berucap, sehingga memancing kekesalan Zalina, tapi dia tidak menyangka kalau Zalina akan sekesal ini.
"Maaf, bukan begitu maksud saya," ucap Dewa menahan tangan Zalina yang akan meninggalkan meja. "Duduklah dulu, tidak baik pergi dalam keadaan marah seperti ini."
Zalina pun duduk kembali, tapi dia memalingkan wajahnya kearah samping, membiarkan Dewa yang gugup karena kesalahannya.
"Maksud perkataan saya tadi bukan seperti itu, bukan saya tidak memerlukan tanggapan kamu, Zalina. Maksud saya, saya ingin kamu memikirkan terlebih dahulu kata-kata saya, saya ingin ketika saya mengatakan kembali isi hati saya dan mungkin dengan pertanyaan yang berbeda, kamu sudah yakin dan memahami isi hati kamu. Saya tulus mencintai kamu Zalina, saya bukan laki-laki muda yang ingin main-main, makanya saya tidak ingin gegabah langsung mengajukan pertanyaan yang akan membuatmu justru terkejut dan bahkan akan menjauhi saya. Oleh sebab itu, saya membiarkan kamu tahu dulu dengan perasaan saya. Maafkan saya, kalau ucapan tadi menyinggung kamu," ucap Dewa menyentuh punggung tangan Zalina.
Zalina melihat kearah Dewa, bisa tampak diwajah pria itu yang penuh ketegangan dan penyesalan. Zalina menarik nafas pelan, menetralkan emosinya.
"Ayo kita makan," ucap Zalina yang mengambil sendok dan mulai menyuapi makanan tidak mempedulikan Dewa.
Dewa yang merasa kalau Zalina masih kesal padanya terus membujuk Zalina.
"Please, maafkan saya," ucap Dewa menyentuh tangan Zalina.
Zalina meletakkan sendoknya, dan menatap mata Dewa.
"Untung ganteng," batin Zalina. "Ehm ... Ya saya maafin, kalau gitu bisa kita makan sekarang? saya lapar,"
Dewa menarik sudut bibirnya. "Tentu, ayok kita makan."
Mereka berdua pun makan dalam diam dan tenang.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Kesal ga tu Zalina??? kira-kira gimana ya jawaban Zalina?????????????????
__ADS_1