Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 22 Panas Tapi Bukan Api


__ADS_3

"Zalina, Nema bareng kamu ke toko ya, kebetulan mang Asep lagi enggak enak badan, jadi gak bisa bekerja hari ini," ujar nema.


"Siap Nema, nanti Zalina antar Nema ke toko dulu, setelah itu Zalina pergi bekerja."


Setelah selesai sarapan, Nema dan Zalina bergegas meninggalkan rumah dan langsung menuju toko.


"Sayang, sekali lagi nema minta tolong boleh?"


"Tentu saja boleh Nema, emang Nema mau Zalina bantu apa?" tanya Zalina.


"Ini ada pesanan pelanggan kita, tadi dia order by phone dan minta kita yang antar. Kebetulan kurir toko belum datang, bisa gak kamu antar sekalian? alamatnya searah dengan tempat kamu bekerja," ujar Nema.


"O begitu, bisa Nema, biar Zalina yang antar sekalian."


Zalina pun memasukkan pesanan pelanggan tersebut ke dalam mobilnya, dan segera meninggalkan tempat toko Nema. Zalina mulai memasuki gerbang perumahan pelanggan tersebut dan mencari blok dan no rumah.


"Lho, ini kan rumahnya bu Dewi ... " gumam Dewi.


Zalina turun dari mobilnya, kemudian memencet Bel di dekat luar pagar. Sesaat kemudian seseorang datang membukakan pagar.


"Permisi Mbok, saya mau mengantarkan pesanan ini," ucap Zalina menyerahkan dua kantong pesanan.


"Oh ya Mbak, tunggu sebentar! saya ambil uangnya dulu,"


Zalina pun berdiri di dekat pagar menunggu ART tersebut mengambil uang. Tidak sengaja Zalina melihat tiga orang yang berdiri di pintu masuk rumah tersebut, seorang wanita yang menggendong anak kecil, dan seorang pria yang dia kenak.


"Pak Dewa .... " Zalina bergumam pelan melihat pria yang mencium gemas anak perempuan yang digendong oleh seorang wanita, "ternyata bu Dewi istrinya pak Dewa, mereka terlihat harmonis sekali. Wajah mereka mirip juga, pantesan berjodoh," ucap Zalina.


"Mbak, ini uangnya."


"Makasih Mbok," ucap Zalina sembari masuk ke dalam mobilnya.


saat Zalina akan memasuki mobilnya, seseorang memanggil namanya.


"Zalina!" seru Dewa.


Zalina menoleh ke arah suara yang memanggilnya. "Pak Dewa ... "


"Sedang apa kamu disini?"


"Saya habis mengantarkan pesanan pak," ucap Zalinan menunjuk ke arah dalam rumah Dewa. "Maaf Pak, saya pergi dulu, mau ke rumah sakit soalnya."


Dewa hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Zalina segera masuk mobil dan pergi meninggalkan kediaman Dewa. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Zalina masih tidak menyangka ternyata pak Dewa yang dia kenal selama ini adalah suami dari dosennya sendiri.


"Kenapa aku jadi memikirkan ini? kan, pak Dewa bukan siapa-siapa aku," gumam Zalina yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, "tapi, aku kangen sama Elea."


Sesampainya di rumah sakit, Zalina segera menuju ruangannya dan bersiap melakukan pekerjaan. Jam berlalu begitu cepat, saat bersiap hendak pulang, Rindu pun menghubungi Zalina.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Rin ...."


"Wa'alaikumussalam," jawab Rindu. "Udah pulang kerja belum, Lin? ngopi yuk! kebetulan aku baru pulang kerja nih ..."


"Boleh, kita ngopi di cafe biasa ya, kita langsung kesana aja kebetulan aku udah mau keluar rumah sakit ini," ujar Zalina.


"Oke, ssiipp!"


Zalina segera keluar dari rumah sakit dan menuju cafe biasa mereka nongkrong. Sampai di parkiran, sebelum turun Zalina mengambil sweater, dan memakainya, kemudian dia baru masuk ke dalam cafe. Zalina mencari meja yang ingin dia dan Rindu tempati. Saat sedang memilih menu, Rindu pun datang.


"Hai!"


"Hai, Rind, mau minum atau makan apa? biar sekalian aku pesenin."


"Seperti biasa aja Beb."


Sambil menunggu pesanan datang mereka pun bercerita, Rindu menceritakan bagaimana pertemuan dia dan Rendy kemarin dirumah.


"Jadi, gimana kelanjutan setelah pertemuan dirumah kemarin?" tanya Zalina.


"Enggak ada kelanjutannya, setelah obrolan kami berdua kemarin, aku atau dia enggak ada chat atau ngobrol lagi."


"Kamu suka dia?"


"Hufffttt, entahlah ... mungkin lebih ke rasa kagum atau bisa jadi suka pada pandangan pertama. Karena dia yang udah baik banget nolongin aku saat penjambretan, aku jadi kagum aja sama dia. Ah, sudahlah! mungkin aku aja yang baperan," jawab Rindu.


"Apalagi yang mau diceritakan, kemaren kan sudah aku ceritain. Aku hanya menemani pak Dewa mencari kado untuk putrinya Elea, udah gitu aja, habis itu aku pun langsung diantar pulang."


"Prok ... prok ... , hebat sahabat aku ini, bisa jalan sama seorang jenderal, awas! entar SDJC lho ..." ungkap Rindu sambil memainkan ke dua alisnya.


"Apaan SDJC?" tanya Zalina mengerutkan keningnya.


"Sering Dekat Jadi Cinta ..." bisik Rindu yang kemudian dia pun tertawa.


"Ia kaliii, Ogah! enggak mau aku sama laki orang," jawab Zalina. "Ada hal yang harus kamu tahu Rin, pak Dewa itu ternyata suaminya bu Dewi Dosen pembimbing skripsi ku kemarin."


"What!!!!!!!!"


"Aku tadi pagi diminta Nema untuk antar pesanan pelanggan, enggak tahunya alamat rumah itu rumah bu Dewi. Nah, saat aku menunggu pelayan rumah itu mengambil uang, aku menunggu di dekat pagar rumahnya, aku melihat Pak Dewa dan Elea yang di gendong oleh seorang wanita. Tampak pak Dewa seperti pamit gitu, dan mereka sangat dekat sekali," ujar Zalina.


"Hmmmm ... berarti bohong dong gosip tentang beliau duda."


Zalina hanya mengedikkan bahunya.


"Beruntung ya bu Dewi jadi istri pak Dewa, udah cakep, badannya Ok, tampangnya masyaallah, karirnya Alhamdulillah, duitnya wasyukurillah, hahaha ...." Rindu mengucapkannya dengan penuh semangat dan dibumbui sedikit candaan.


"Bisa aja kamu Rin ...."

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan sambil menikmati makanan dan minumannya. Mereka tidak sadar di sudut meja lainnya, ada sepasang matabyang menatap mereka dari tadi, lebih tepatnya menatap Zalina. Dia begitu menikmati setiap ekspresi wajah Zalina dan ikut tersenyum jika ia melihat wajah Zalina yang tersenyum atau tertawa.


"Menggemaskan ..." ucap pria tersebut.


"Ya Pak, Pak Akbar mengucapkan sesuatu?" tanya seseorang. Ya, pria yang memperhatikan Zalina tersebut adalah Akbar alias Dewa.


"Ti-tidak, silahkan dilanjutkan!" ucap Dewa. "Ya ampun, ada apa denganku?" batin Dewa sambil membenarkan posisi duduknya.


*


*


"Hai, boleh aku gabung duduk disini?"


"Kak Aldo-" Zalina terkejut dengan kedatangan Aldo.


"Hai Zalina, hai Rindu, apa kabar kalian?"


"Baik kak, silahkan duduk kak!" Ga enak liatnya kalau berdiri terus, kayak orang lagi nagih hutang," kelakar Rindu.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Aldo.


"Enggak Kak, kakak sama siapa kesini?" tanya Zalina.


"Aku tadi sama kawan, kami di meja lantai dua, kebetulan pas mau pulang enggak sengaja aku liat kalian makanya aku samperin."


"Zalina, aku ke toilet bentar ya," ucap Rindu.


Zalina memicingkan matanya menatap Rindu tajam, dia tahu maksud Rindu tidak lain karena ingin membuat Aldo dan Zalina berduaan.


"Gimana kerjaan kamu? kata Nema, kamu lanjut kuliah lagi ya? sibuk bangetlah sekarang," ujar Aldo.


"Kerjaan Alhamdulillah lancar. Ya Kak, aku lanjut kuliah smabil kerja juga, sibuk banget gak juga sih karena kuliah lebih banyak pake sistem daring, jadi bisa agak santai dirumah. Nema juga cerita, kata Oma, Kak Aldo lagi jalanin bisnis Advertising ya?"


"Ya, baru mulai juga, aku join bareng kawan. Do'ain semoga berjalan lancar ya ...."


"Aamiin ... " ucap Zalina.


Zalina dan Aldo mengobrol seperti biasanya, sesekali Zalina hanya menanggapi dengan sedikit senyuman. Dari sudut yang tidak jauh Dewa memperhatikan keakraban mereka berdua, dengan tatapan tajam dan muka datarnya. Entah mengapa Dewa tidak menyukai kebersamaan Aldo. Dia pun meneguk habis habis air mineral yang ada di atas mejanya, ternyata ada yang panas tapi bukan api.


Rindu yang sudah kembali dari toilet pun segera bergabung dan duduk di kursinya.


"Kalau gitu aku duluan ya, kebetulan masih ada keperluan lainnya," ujar Aldo.


"Lho ... cepet banget Kak, aku aja baru balik dari toilet," ucap Rindu.


"Maaf ya Rindu, kebetulan aku ada keperluan lainnya, kalau gitu aku pergi dulu ya, bye Lin, bye Rind."

__ADS_1


"Bye Kak ..." ucap Zalina dan Rindu Bersamaan.


__ADS_2