
"Liatinnya gitu amat, beb ...." Rindu melihat Zalina yang melotot ke arah dirinya.
"Mulai pinteerr yaa sekarang, pakai alasan mau ke toilet segala."
"Hehehe ... tapi beneran mau ke toilet lho Lin, yaaa ... walau ada udang di balik bakwan ujung-ujungnya," jawab rindu menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ngasih waktu berdua Lin, biar aku gak jadi obat nyamuk disini."
Zalina yang mendengar penuturan Rindu hanya mencebikkan bibirnya.
"Pulang yuk! udah sore soalnya," ucap Zalina.
"Yuk."
Zalina dan Rindu pun segera pulang, mereka mengendarai kendaraan masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Zalina tidak pulang kerumah melainkan singgah ke toko Nema terlebih dulu.
"Nemaa!" seru Zalina langsung memeluk Nema yang sedang di meja kasir.
"Zalina sayang, bikin Nema senam jantung tau gak sih, ucapin salam dulu, Nak!"
"Hehehe ... maaf Nema, Assalamu'alaikum Nemanya aku yang paling cantik ... " ucap Zalina sambil memeluk Nema dari belakang dan menempelkan pipinya pada pipi Nema.
"Waalaikum salam, baru pulang dari rumah sakit, Nak?"
"Pulangnya sih, udah dari tadi, cuma singgah ngopi dulu bareng Rindu di Cafe biasa Nema, makanya baru nyampe toko jam segini," ucap Zalina. "Nema, istirahat saja di dalam lagi, semua ini biar Zalina yang lanjutin."
"Masyaallah, cucu Nema semenjak diajarin tentang bisnis ini nampaknya udah mahir nih!"
"Masih jago Nema, walau badan enggak muda, tapi jiwa bisnisnya selalu muda dan hebat, Zalina mah kalah jauuhhhh ... " ucap Zalina. "Zalina gantiin Nema biar Nema bisa istirahat, Okay! yuk Zalina antar ke ruangan, biar Nema bisa istirahat."
"Kamu kan juga capek, Nak? di rumah sakit banyak kerjaan dan ngurusin pasien juga."
"Nema, tenang aja, Liat nih otot Zalina, Zalina kuat tau Nema." Nema tertawa dan geleng-geleng kepala melihat sang cucu.
Zalina mengantarkan Nema ke ruangannya untuk beristirahat, kemudian ia melanjutkan pekerjaan Nema yang belum selesai tadi.
Zalina sudah mempelajari bagaimana mengelola toko, mulai peneyetokan barang, menghitung barang keluar dan masuk, audit keuangan, nge-rekap orderan dan lain sebagainya. Nema mengajari Zalina tidak memerlukan waktu yang lama, karena pada dasarnya Zalina anak yang cepat tanggap. Semenjak ia mulai bekerja, ia pun menepati janjinya membantu Nema mengelola toko, alhasil Nema bisa lebih banyak istirahat dari sebelumnya.
Dengan kejelian dan kemampuan Zalina melihat pasar, Zalina pun memasarkan produk dari Toko Nema di Toko Oren, sehingga penjualan pun semalin meningkat. Bahkan, di toko pun saat ini sudah di tambah karyawan. Zalina bersyukur? tentu saja ya, tapi ada yang jauh lebih bersyukur yaitu Nema, dia bersyukur sang cucu membuat penjualan di toko semakin meningkat, berkat kecerdasan Zalina yang ikut mengelola toko.
*
*
Sepulangnya dari cafe, Dewa langsung pulang ke rumah. Setelah memarkirkan mobilnya diapun bergegas masuk rumah dan menuju kamarnya. Baru saja akan membuka pintu kamar, suara imut nan menggemaskan memanggil dirinya.
"Papi ...." Elea berjalan dari arah kamarnya menuju kamar Dewa.
"Elea, haap ...." Dewa langsung menggendong gadis kecil tersebut.
"Kenapa Papi pulang keljanya sole sekali?"
"Ya sayang, kebetulan tadi Papi ada kerjaan diluar sebentar, setelah kerjaannya selesai, baru Papi bisa pulang," ucap Dewa.
"Papi, kita tempat kak Zalina lagi yuk! Elea mau main bareng sama kakak cantik la---"
"Kakak siapa, El?" tanya Dewi yang baru saja menuju kearah mereka.
Elea yang dalam gendongan Dewa segera menatap Dewa, Dewa pun mengedipkan sebelah matanya.
"Itu ma-"
"Anak rekan kerja aku, Wi. lebih besar 3 tahun dari Elea, Kebetulan kemaren jumpa di pusat permainan anak-anak saat tempo hari kita bermain," tukas Dewa memotong ucapan Elea.
"Ooo ... ya udah Elea, sekarang ayok mandi dulu, kasian Papi juga capek pulang kerja."
__ADS_1
"Ya Ma, bentar aja boleh ya, Zalina mau ngobrol sesuatu sama Papi sebentar, boleh ya?"
"Ngobrol apa?" Dewi memicingkan matanya dengan gaya mencurigai.
"Sini Ma ... " Elea membisikkan sesuatu ke telinga Dewi.
"Kamu ini, ya udah Mama tunggu kamu di kamar ya, jangan lama-lama!"
"Oke!" jawab Elea.
Dewi pun masuk ke kamar Zalina, sedangkan Elea di bawa masuk oleh Dewa ke dalam kamarnya.
"Kamu bilang apa sama Mama, Mu?" tanya Dewa
"Elea bilang, kalau Elea mau melayu Papi beli mainan telbalu buat Elea," ucap gadis kecil itu.
"Kamu bohongkan? sebenarnya bukan itu kan? ayo ngaku ...!" ucap Dewa menggoda dan menggelitik Elea.
"Hahaha ... ampun ... ampun Pi! Ya ... kan, Papi juga bohong sama Mama soal kak Zalina, kenapa Papi bohong?"
"Kamu ini." Dewa menoel gemas hidung Elea. "Kamu mau, kalo Papi jujur sama Mama, terus kamu gak dibolehin lagi ketemu kak Zalinanya?"
Elea yang mendengarkan ucapan Dewa langsung menggelengkan kepalanya.
"Berarti, kita masih bisa ketemu kakak cantik Pi?"
Dewa mengedikkan bahunya. "Kan kita enggak punya nomor ponselnya kak Zalina, gimana kita bertemu? semoga aja suatu saat kita ketemu lagi sama dia," ucap Dewa.
"Yaaaaahhh ... " jawab Elea lesu.
"Ya udah, sekarang mandi dulu sana, nanti kita pergi beli ice cream, mau?"
"Mauuuuu, kalau gitu Elea mandi ya Pi ...."
"Ada apa denganku? kenapa aku seolah takut Dewi mengetahui soal Zalina? kan, dia bukan siapa-siapa." Dewa bermonolog sendiri sembari menyugar rambutnya dibawah guyuran air.
Dewa tahu pasti, bahwa adiknya Dewi sangat menginginkan dirinya dan Maura bisa bersama. Jadi Dewi pasti tidak menyetujui siapapun perempuan yang dekat dengan dirinya. seperti yang pernah terjadi, Dewa pernah menghadiri undangan di salah satu hotel yang diadakan oleh pejabat tinggi daerah, Dewa bersama rekan kerjanya yang lain bertemu di tempat acara, dan saat itu Dewa bertemu dengan teman lamanya yang seorang polwan yang bernama Niken, mereka pun mengobrol. Kalau sekilas orang melihatnya, mungkin mereka berdua adalah pasangan karena secara kebetulan pakaian yang mereka gunakan berwarna senada. Dewa juga tidak menduga kalau ternyata Dewi bakalan datang karena suaminya juga di undang.
Dewi mengira kalau Niken tersebut adalah pacarnya Dewa, dia langsung melabrak Niken. Dewa yang malu dengan kelakuan sang adik pun meninggalkan adiknya dan membawa Niken menjauh dari Dewi, sedangkan Dewi di tenangkan oleh suaminya.
Menurut Dewi, yang pantas mendampingi Dewa adalah Maura. Karena Maura wanita berkelas, dari keluarga terpandang, dan punya bibit bebet bobot yang jelas.
Selesai mandi Dewa segera berganti pakaian dan duduk dipinggir tempat tidur sambil memainkan handphonenya. Sekelebat bayangan Zalina dengan Aldo di cafe tadi lewat di benaknya.
"Sssstt ... ****!!, ada apa denganku, kenapa kalau mengingat itu aku jadi kesal sendiri?" Dewa menggelengkan kepalanya seperti ingin membuang pikiran tentang Zalina barusan.
Tapi, sesaat kemudian dia teringat kelembutan Zalina pada Elea, kecerian Zalina, senyumnya, malah membuat Dewa menarik bibirnya dan kesemsem sendirian.
"Huuuuuffffttt ...." Dewa mengusap kasar wajahnya.
Dewa mendengar Adzan Maghrib berkumandang, dia pun segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Maghrib.
*
*
Zalina yang sudah sholat Maghrib sekaligus berganti pakaian, kebetulan Zalina ada menyimpan beberapa potong pakaiannya ataupun Nema di ruangan istirahat Nema.
"Nema, kita makan malam dulu yuk! ntar habis makan baru lanjutin kerjaan lagi, dikit lagi kok nema, jadi siap makan bisa Zalina lanjutin lagi," ucap Zalina.
"Boleh, gimana kalau makan disini aja? kita pesan makanan aja, sekalian pesankan untuk karyawan yang lembur dan masih kerja, kita makan sama-sama."
"Ide bagus, kalau gitu Zalina pesan dulu ya."
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan makan malam mereka datang, Zalina melanjutkan sedikit pekerjaannya yang tertunda.
"Aku mau cudel ini, telus pia ini juga ya pi ... " ucap Elea yang menginginkan Strudel dan bakpia di rak etalase toko.
Zalina yang sedang di meja kerjanya disebelah kasir, seperti mengenal suara anak kecil yang dia dengar barusan. Zalina mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko, seketika dia menangkap dua sosok yang dikenalnya. Benar, itu Dewa dan Elea yang datang ke toko Nema, mereka berdua baru saja pulang membeli es krim, singgah untuk membeli beberapa makanan di toko Nema.
"Elea, Pak Dewa ...." Zalina memanggil nama mereka berdua.
Dewa dan Elea spontan menoleh ke sumber suara.
"Kakak cantik," teriak Elea bergegas mendatangi Zalina yang berjalan ke arahnya, teriakan Elea yang berhasil mengundang pengunjung dan karyawan toko menoleh ke arah mereka.
"Kamu apa kabar?" tanya Zalina.
"Baik kakak cantik, kakak cantik lagi apa disini?"
"Kerja," jawab Zalina sambil tersenyum.
Dewa yang mendengar penuturan Zalina mengerutkan keningnya, tidak menyangka kalau Zalina bekerja di sini.
"Kamu bekerja di sini juga?" tanya Dewa.
Zalina yang mendengar pertanyaan Dewa, hanya tersenyum. "Lebih tepatnya menyelesaikan sedikit pekerjaan Pak, kebetulan toko ini milik keluarga saya, saya lagi membantu pekerjaan di toko aja sepulang dari rumah sakit." Zalina menjelaskan dengan lembut dan penuh senyuman, sedangkan Dewa hanya memandanginya dengan pandangan tak terbaca.
"Tadi kakak denger kalau Elea mau strudel dan bakpia kan? yuk sini! kakak akan kasih strudel dan bakpia yang kamu suka," ucap Zalina yang mengajak Elea mengambil makanan yang diinginkannya.
Elea mengikuti langkah Zalina, sedangkan Dewa mengambil beberapa makanan dan sambel botol untuk dibawanya pulang. Zalina melihat dewa mengambil banyak sambal, dia jadi teringat saat dia membawakan sambal ke rumah Dosen pembimbingnya bu Dewi, Dosennya bilang kalau sambal itu sangat disukai olehnya dan keluarganya.
"Dia perhatian banget sama keluarganya, hal kayak gini aja di peduliin, beruntung banget bu Dewi bisa jadi istri pak Dewa," batin Zalina.
"Kak! melamun yaa? aku panggil dari tadi diam aja," ucap Elea.
"Eh, maaf sayang, ada lagi yang kamu mau? ini gratis dari kakak," ucap Zalina yang dikejutkan Elea.
"Udah Kak, ini aja, makasih ya Kak ...."
"Ya, sama-sama."
Setelah Dewa membayar belanjaannya, mereka berdua pun pamit pada Zalina.
"Makasih ya Zalina makanan buat Eleanya, kami pamit dulu."
"Ya Pak, sama-sama, hati-hati dijalan."
Setelah Dewa keluar toko, Zalina segera kembali ke meja kerjanya.
"Siapa tadi, Lin? kayak familiar gitu wajah yang laki-lakinya," ucap Nema tiba-tiba hadir di belakang Zalina.
"Oh, beliau itu polisi Akbar Dewanda Nema, Kapolda daerah kita."
"Oo ... pantas wajahnya familiar, mungkin sering masuk TV kali ya, jadi familiar ... " ucap Nema yang seperti mengingat-ngingat.
"Beliau itu juga pernah jadi pembicara saat Wisuda Zalina, Nema ingat?"
"Nah!! yaa ... itu baru bener, Nema ingat sekarang kalau beliau yang kasih sambutan saat wisuda kamu, berarti Nema bukan liat di TV."
Zalina hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan nemanya.
"Terus, kok kamu bisa kenal dekat sama beliau? anak kecil tadi juga akrab sama kamu," ujar Nema.
"Itu karena beberapa waktu lalu, anaknya tadi pernah jadi pasien Zalina di rumah sakit. Kebetulan pula saat dia dirawat, dia maunya sama Zalina, Nema."
Nema hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Zalina. "Ya udah, sekarang kita makan dulu yuk! habis itu kita pulang, biar istirahat di rumah."
__ADS_1
"Siap Kanjeng Ratu! Laksanakan ...." Membuat Nema tersenyum melihat tingkah sang cucu.