
Zalina berada di kamarnya memandangi 3 buket bunga di dekat meja riasnya. Dua buket bunga yang tadi malam, satunya dari Dewa tadi.
"Melamun aja! itu bunga enggak akan tumbuh akar atau makin subur kalau kamu pandangi," ucap Rindu yang tiba-tiba masuk kamar Zalina dan ngagetin sahabatnya itu.
"Astaghfirullah, Rindu. ngagetin aja!
"Habis siiihh, diketok pintu dan di panggilin gak nyahut, ternyata lagi melamun."
"Masa sih?" ucap Zalina muka ga bersalah.
"Yeeeyyy ... udahlah. kamu ngapain melamun, lagian itu buket dari siapa aja, dipandangi mulu."
"Dari Pak Dewa dan Kak Aldo."
'Proookk ... proookk ...'
"Waah ...waah ... ternyata sahabat aku ini lagi di taksir 2 cowok ya, yang satu pemain lama yang bertahan, yang satu pemain baru yaitu Duta Duren, cie ... cie ... " ledek Rindu menggoda Zalina.
"Apa sih Rindu, siapa pula itu Duta Duren? jangan ngaco deh."
"Duda tampan berduit dan keren alias Pak Akbar, hahahaha," ucap Rindu sambil tertawa.
Zalina memutar matanya mendengar ocehan Rindu.
"Kamu gak kerja? ngapain kesini?"
"Ish ... ish ... jadi aku gak boleh kesini nih, aku itu kesini sengaja mau seharian bareng kamu, aku cuti kerja sehari aja, kan besok kamu mau ninggalin aku."
"Jadi Nema udah kasih tahu kamu ya, kalau besok aku mau pergi."
Rindu hanya menganggukkan kepalanya. "Jangan lupain aku ya, Beb. Sering-sering hubungin aku juga, jangan lama-lama di sananya entar aku bakal kangen kamu."
Zalina menggelengkan kepalanya melihat ke-Lebay an sikap Rindu.
"Mending, kamu bantu aku packing barang yang mau aku bawa, Rind."
"Boleh, yuk sini aku bantuin."
**
"Nema, harus janji jaga kesehatan ya. Zalina gak mau dengar Nema sakit," ucap Zalina yang memeluk Nema.
"Tentu, kamu juga harus segera kembali dengan bahagia, nikmati suasana barumu, anggap ini adalah liburanmu yang tertunda."
"Rindu, aku titip toko ya, tolong kelola dengan baik selagi aku enggak ada."
"Kamu tenang aja, Lin. Aku akan mengelola semua dengan baik. Kamu juga harus happy dan sehat selalu ya," ucap Rindu sembari memeluk Zalina.
"Mbak Asih, Kang Asep ... Zalina titip Nema, tolong jagain Nema," ucap Zalina yang diangguki oleh dua orang tersebut.
Setelah berpamitan pada semua orang, Zalina dan cindy segera masuk ruang tunggu, karena jadwal keberangkatannya sebentar lagi.
*
*
Di Jakarta
Selama hampir 2 jam 30 menit penerbangan akhirnya Zalina sampai juga di Jakarta. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dsri bandara menuju rumah mamanya, akhirnya Zalina sampai di kediaman mamanya tersebut.
"Selamat datang dirumah kita, Sayang. Yuk! masuk," ajak Cindy.
Zalina dan Cindy pun memasuki rumah 2 lantai, lebih luas sedikit dari rumah Nema di Malang. Rumah dengan gaya Eropa, dan nuansa rumah di dominasi warna Gold.
"Kak Zalina! teriak Hafizhah adik tiri Zalina. dia segera berlari menuruni tangga saat melihat kedatangan sang kakak, dan segera memeluknya.
"Astaghfirullah, Hafizhah! ngapain lari-lari Nak, Kalau jatuh gimana?" ucap Cindy.
"Hehehe, ya Maaf ... Ma."
"Apa kabar, Kak? Hafizah senang lho pas dapat kabar dari Mama kalau Kakak ikut ke Jakarta.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar?"
"Baik juga donk."
"Sekarang kamu ajak kakak kamu ke kamarnya ya, biar kakak kamu istirahat dulu," ujar Cindy.
"Okay, Ma!"
**
Seminggu sudah Zalina berada di Jakarta, lumayan mengobati keadaan hatinya dengan lingkungan baru dan suasana baru. Cindy kerap mengajak Zalina dalam kegiatannya, salah satunya mengurusi butik.
"Zalina, temen mama mempunyai Klinik bersalin yang kebetulan salah satu karyawannya cuti lahiran, dan dia butuh bidan pengganti. Kamu mau enggak kerja disana? kalau kamu mau nanti mama kabari temen mama itu, lumayan nambahin kegiatan kamu dan juga tambah temen baru pastinya." ucap Cindy.
"Boleh deh, Ma. biar nambah kehiatan Zalina juga."
Cindy tersenyum senang mendengar jawaban Zalina. "Kalau begitu, nanti mama akan menghubungi teman mama itu."
Sesuai dengan apa yang dikatakan Cindy, Zalina pun diminta mulai bekerja keesokan harinya oleh teman mamanya tersebut.
Zalina diantar oleh mamanya ke klinik tempat ia mulai bekerja. Tiba disana ia mulai memperkenalkan diri belajar menyesuaikan keadaan sama halnya sewaktu dia baru mulai bekerja di RS bhayangkara dulu.
Zalina anak yang cepat mempelajari hal baru, dan mudah bergaul sehingga tidak menjadi sulit ketika berada di lingkungan baru.
sehari dua hari dan seminggu berlalu, Zalina pun mulai terbiasa dengan lingkungan barunya, demgan suasana Jakarta. Terkadang dia juga merindukan suasana Malang, setiap hari bahkan persis orang minum obat tiga kali sehari ia berkomunikasi dengan Nema dan juga Rindu. Kalau bukan dia maka mereka yang akan menghubunginya terlebih dulu.
'Kriiiing ... '
'Kriiiiingg ... '
Zalina yang baru sampai rumah pulang dari bekerja, langsung mendapatkan telepon dari Rindu.
"Panjang umur ni anak, baru mau di omongin dah telepon duluan," gumam Zalina.
"Assalamu'alaikum, Rin."
"Waalaikum salam Zalina, udah pulang kerja ya?" tanya Rindu.
Karena Zalina tahu kalau hari ini, dari pagi tadi Rindu berada di toko karena sedang libur bekerja.
"Ya Lin, kebetulan udah kelar juga makanya aku pengen ngobrol ama kamu, buat gak bosan."
"Kamu pasti capek banget kerja dan ngurus toko juga, maaf ya Rin, aku gak ada jadi kamu yang handle semuanya."
"Apa sih, itu lagi ... itu lagi, kan aku dah bilang kalau aku gak apa-apa, kalo bosan biasa kan? bukan berarti aku gak suka kerjaan ini. Ah sudahlah! aku telepon bukan mau ngobrol ginian. aku mau kasih kabar sesuatu, kamu mau tahu gak?" ucap Rindu dengan penuh semangat.
"Apaan, nguntungin gak? kalo malah rugiin gak usah aja?"
"Bisa di bilang untung sih, ruginya dikit aja menurut aku, Hahahha ...."
"Apaan, bikin penasaran?"
"Ciee ... penasaran nih ye. Tadi Duda Duren nanyain kamu, pas aku bilang kamu ke Jakarta dia kayak terkejut gitu."
"Maksud kamu, Pak Dewa?"
"Cieee ... nyambung langsung dia, Ia Lin ... kayaknya tebakan aku bener deh Lin, kalau beliau itu suka kamu. Dia kayak khawatir gitu pas aku bilang kamu di Jakarta, dia langsung nanyain keadaan kamu juga."
Zalina yang mendengar apa yang dikatakan Rindu menarik bibirnya, entah kenapa dadanya terasa berdesir dan menghangat. Dia langsung teringat perhatian Dewa sewaktu dia dirawat beberapa waktu lalu.
Zalina menggelengkan kepalanya, "No! Zalina, ga usah pikirin aneh-aneh," batin Zalina yang langsung sadar dari hayalannya.
"Lin, kamu dengar aku ngomong, kan?"
"Iya-iya ... aku dengar kok, ya udah biarin ajalah Rindu, mungkin dia perhatian biasa aja. Gak mungkin juga lebih dari itu, beliau itu jauh lebih dewasa dari kita Rind, mana mungkin suka sama bocah kayak aku gini."
"Jangan salah Zalina, kadang orang yang sudah matang kayak pak Dewa itu, carinya yang kayak kita pecicilan dan daun muda gini untuk melengkapi hidupnya biar lebih garing dan berwarna, lagian nih Lin, kalau beneran Duta Duren itu suka kamu itu lumayan lho, karena yang lebih tua kan lebih berpengalaman, sebab mainnya udah jauh, hahahaha."
Zalina hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ocehan sahabatnya tersebut.
"Ah sudahlah! mulai ngelantur kemana-mana nih omongannya, aku mau bersih-bersih dan mandi dulu ya Rind, kamu pulang aja lagi dan istirahat dirumah, pasti capek juga seharian di toko."
__ADS_1
"Okay, Lin! Kalau gitu, nanti kita sambung lagibya, Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam."
Zalina pun segera masuk kamar mandi karena badannya yang sudah terasa gerah sekali, lima belas menit berlalu dia selesai mandi. Zalina duduk di pinggiran kasurnya, mengambil HP karena ingin membaca novel online.
"Lho, ada dua panggilan tak terjawab? tapi siapa? nomornya ga di kenal," gumam Zalina.
Saat Zalina masih mengingat itu no siapa dan menimbang telepon balik apa gak, Nomor asing tersebut kembali meneleponnya.
"Angkat aja kali ya, mana tau penting," ucap Zalina pelan.
📞"Assalamu'alaikum, Hallo?"
📞"Waalaikum salam."
Deg ... jantung Zalina berdetak gak karuan saat mendengar suara dari seberang teleponnya.
📞"Pak Dewa?"
📞"Wah, ternyata kamu ngenalin suara saya ya? gak surprise dong jadinya, apa kabar?"
Zalina tersenyum mendengar ucapan Dewa, entah kenapa hatinya senang mendapat telepon dari Dewa.
📞 "Alhamdulillah baik, Pak. Pak Dewa apa kabar?" tanya Zalina yang senyum-senyum sendiri berkali-kali menggigit bibirnya karena gugup.
📞"Alhamdulillah baik juga. Saya ga nyangka aja kalau bisa dengar suara kamu lewat telepon gini, ga nyangka juga kalau kamu udah di Jakarta."
📞"Eh ... i-iya, Pak," ucap Zalina gugup.
📞"Zalina, Kamu gag nanya kenapa saya telepon kamu?"
📞"Hah? oh ... ya Pak, ada apa pak Dewa telepon saya?" tanya Zalina salah tingkah.
📞"Hmmm ... Zalina, saya kangen kamu."
'Dddduuaarrr ... '
'Deg ... '
'Tuutt ... '
'Tuutt ... '
Berasa tersambar petir, dan jantungnya pun berdetak ga karuan, itulah yang dirasakan Zalina sekarang.
"OMG ... kok tepencet akhiri panggilan? apa tadi tu? apa aku ga salah dengar? budeg kali ya ini telinga, mana salah pencet pula. Ya Allah Zalina ... Zalina," gumam Zalina sambil menepuk-nepuk keningnya sendiri.
Zalina menepuk-nepuk Hpnya ke telapak tangan, mondar-mandir di dalam kamar katena bingung apa yang harus dilakukan.
"Telepon ... enggak ... telepon ... enggak? OMG gini amat kalau grogi," ucap Zalina yang masih kebingungan.
Saat Zalina yang masih larut dalam kebingungannya, Hp nya berbunyi kembali. dan terpampanglah nomor yang barusan dia matikan. Mau gak mau dia harus mengangkatnya. Zalina menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan untuk membuang groginya.
📞"Hallo, Pak Dewa?"
📞"Kenapa di matiin, saya salah ngomong ya?"
📞"Eh, m-maaf Pak, tadi bapak ngomong apa ya?" tanya Zalina yang ingin memastikan keterkejutannya tadi.
📞"Bukan apa-apa, lupakan saja. Oh ya katanya kamu kerja juga di Jakarta, kerja dimana?"
📞"Iya Pak, biar ada kegiatan. Saya kerja di Klinik X, Pak."
📞"Ooo ... ya sudah kalau begitu, lain kali kita sambung lagi ya. Saya ada keperluan yang lain juga, Assalamu'alaikum."
📞"Oh ya, Pak. Waalaikum salam,"
Setelah panggilan berakhir, Zalina jingkrak-jingkrak dikamarnya.
"Apa tadi tu? pak Dewa bilang lain kali sambung lagi? berarti dia mau telepon lagi?oh ... jantung, tenang lah dirimu," ucap Zalina pada dirinya sendiri.
__ADS_1