
"Kan saya udah bilang sebelumnya, kalau saya tidak mau hubungan yang bertele-tele, saya mau kamu halal untuk saya."
Zalina tersenyum kemudian tertawa mendengar ucapan Dewa.
"Gimana nih? kaki saya pegel gini terus."
Zalina seperti mimpi dengan apa yang terjadi, tapi ucapan Dewa seperti menyadarkannya. Yumna pun menganggukkan kepalanya, Dewa Tersenyum bahagia. Kemudian dia memasangkan cincin tersebut ke jarinya Zalina.
"Terima kasih sudah mau menerima saya dari segala kekurangan saya ini, saya berjanji akan terus membahagiakanmu," ucap Dewa sambil memegang kedua tangan Zalina.
"Jangan berjanji, Pak. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, yang jelas saya percaya pada Bapak."
"Ekhm ... bisa nggak, jangan manggil Bapak lagi? ntar dikira orang kamu anak saya?"
"Tapi kalau dipikir-pikir Bapak emang cocok jadi Bapak saya sih," jawab Zalina sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya dan melirik Dewa dengan ekor matanya. "Hahaha ... saya bercanda."
"Pinter ya sekarang, mulai berani nih," tanya Dewa. Zalina cekikikan sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu tahu? satu hal ketakutan saya mendekati mu adalah jarak usia di antara kita, karena saya cukup tua untuk menjadi pasangan mu. Saya terkadang merasa takut kalau suatu saat-"
Zalina yang mengerti lanjutan kalimat Dewa pun memotongnya.
"Pernikahan bukan tentang usia, pernikahan itu tentang menemukan orang yang tepat. Saya yakin Allah mempertemukan kita, menimbulkan rasa di antar kita karena sudah takdir, kita hanya perlu menerima dan mensyukuri takdir tersebut."
Dewa terharu mendengar kan ucapan Zalina yang menurutnya begitu bijak.
"Makin cinta jadinya, sayangnya siapa sih?"
Zalina mencebikkan bibirnya mendengar gombalan Dewa.
"Terus, saya harus panggil apa?"
"Terserah, selain nama dong, kan gak sopan kalo panggil nama sama calon suami."
"Kalo panggil Mas, gimana? Mas Dewa?"
Dewa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, Pak ... eh Mas," ucap Zalina yang masih malu-malu. "Kenapa Mas bisa percaya sekali kalau aku bakalan nerima ini semua? berarti ini semua udah dipersiapkan Sebelumnya 'kan?" tanya Zalina heran.
Dewa dan Zalina yang sudah duduk kembali, diajak Dewa berdiri di pinggiran Rooftop.
"Saya sudah tahu perasaan kamu kepada saya, bahkan sebelum kamu menyatakannya kepada saya di pantai tadi."
Zalina mengerutkan keningnya. dan teringat satu nama yang menjadi tempat dia berkeluh kesah akhir-akhir ini.
"Rindu, pasti Rindu yang memberitahu Bapak eh Mas 'kan?" cecar Zalina.
__ADS_1
Dewa menarik sudut bibirnya. "Kamu tidak perlu marah kepadanya, bukankah apa yang dilakukannya adalah demi kebahagiaan kamu. Justru saya yang memaksanya untuk berbicara dan menanyakan bagaimana sebenarnya perasaan kamu terhadap saya, karena saya yakin dia sahabat kamu yang begitu peduli kepada kamu."
Zalina pun tersenyum mendengar jawaban Dewa, dia bukan marah sama Rindu, hanya malu saja, jika teringat saat tadi dia mengakui perasaannya yang ternyata Dewa sudah tahu lebih dulu. Tapi dia pura-pura tidak tahu, bahkan sengaja mengerjainya dengan berkata tidak jelas apa yang di ucapkan Zalina, agar Zalina mau mengakui perasaannya sekali lagi.
"Jadi, bagaimana? apa kamu sudah siap untuk menjadi Nyonya Dewa dan ibu bhayangkari? Bagaimana kalau kita menikah bulan depan?"
Lagi-lagi pertanyaan Dewa sukses membuat Zalina melongo dan hampir tersedak salivanya sendiri.
"Aa-pa? bu-bulan depan???" tanya Zalina gugup. "Mas, jangan bercanda deh, pernikahan itu butuh persiapan, tidak hanya itu, kita juga butuh pengenalan antara keluarga kita masing-masing."
"Kamu tenang saja, sebelum kamu memintanya saya sudah melakukannya terlebih dahulu."
"Maksud, Mas?"
"Iya, seperti yang kamu inginkan saat ini, saya sudah meminta Restu dari Nema kamu dan juga saya juga sudah melamar kamu dengan menemui ayah kandung kamu, pak Marcel. Serta saya juga sudah melamar mu pada mama dan ayah tiri kamu."
Zalina sungguh tidak percaya dengan semua yang didengarnya, Zalina tidak menyangka bahwa Dewa begitu sat set sat set dan bergerak begitu cepat di belakangnya.
"Kapan? kapan Mas melakukannya?"
"Sepuluh hari ini saya sudah melakukannya, bahkan saya sudah mendaftarkan ke KUA juga."
"Whattttt?"
Zalina masih tidak menyangka dengan semua yang didengarnya.
Dewa pun melakukan panggilan video call dan Zalina bisa melihat foto profil pada panggilan yang dilakukan oleh Dewa. Dia sangat mengenal itu foto siapa yaitu sahabatnya Rindu.
Saat panggilan terhubung Dewa menyerahkan handphone tersebut ke tangan Zalina.
"Cie ... cie ... yang lagi berbunga-bunga, gimana-gimana? lamaran Pak Akbar berhasil dong?" tanpa salam pembuka, Rindu langsung mencecar Zalina saat mukanya tampak di layar ponsel.
"Awas kamu ya Rin! kamu cerita apa aja sama Pak Dewa."
"Hahaha ... dikit aja kok, Beb. habis gimana lagi Pak Akbar maksa terus, ya udah aku cerita aja soal perasaan kamu, hehehe ..." jawab rindu tanpa bersalah. Zalina memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan Rindu.
"Kamu nelpon aku pasti mau nanyain sesuatu 'kan? ayo ngaku? pasti kamu mau mastiin sesuatu?" tanya Rindu.
"Kamu pasti tahu maksud aku menelpon kamu, Rind. aku hanya kaget saja dan masih tak percaya dengan yang terjadi semuanya, seperti mimpi." ucap Zalina yang melirik ke arah Dewa. Dewa hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya.
"Tapi itu benar Zalina, semua yang dikatakan Pak Akbar tersebut benar, beliau serius, Lin. Bahkan beliau sudah mempersiapkan segalanya, mungkin bisa dikatakan sudah 60% persiapan matang."
"Whatttt????? OMG," ucap Zalina kaget.
"Yes, all right," jawab Rindu.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Zalina segera mematikan panggilan video call mereka. Rindu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya tersebut. Dewa masih menatap Zalina yang keheranan.
"Apa kamu masih belum percaya?"
"Ya sudah, sekarang gimana kalau kita pulang saja. Nanti kamu bisa tanyakan juga sama mama kamu." Zalina pun menganggukkan kepalanya.
Dewa mengantarkan Zalina pulang ke rumahnya, kali ini dia pun ikut turun dan menemui orang tua Zalina. Zalina merasa gugup serta canggung saat iya dan Dewa berhadapan dengan mama serta ayah tirinya.
"Duduk dulu, Pak Dewa," ucap Cindy mamanya Zalina. "Terima kasih sudah mengantarkan Zalina pulang ke rumah," ucap Cindy lagi.
"Panggil saya Dewa saja, Bu."
"Oh baiklah," jawab Cindy.
"Bagaimana, Nak? apa Dewa sudah mengatakan niat baiknya sama kamu?" tanya Cindy yang kali ini beralih bertanya pada Zalina.
"Jadi, beneran mama juga sudah tahu dengan maksud, Mas Dewa?"
Cindy tersenyum mendengar pertanyaan Zalina, dan ia menganggukkan kepalanya.
"Lima hari yang lalu Nema kamu menelpon Mama dan menjelaskan maksud dari Dewa. Dewa juga sudah menemui Mama dua hari yang lalu dan dia berbicara kepada Mama dan juga Ayah maksud kedatangannya tersebut."
Zalina mengernyitkan keningnya saat mendengar jawaban mamanya. "Dua hari yang lalu dia ke sini? dan dia nggak menemui aku? dasar!" batin Zalina.
"Apa Mama dan Ayah merestui kami?" tanya Zalina.
Ayah dan Mama Zalina tersenyum. "Tentu saja kami merestui kalian, Nak. Kalau tidak Ayah dan Mama tidak akan mungkin mengizinkan kamu berduaan pergi hari ini dengan Dewa," ucap Zaki Ayah tirinya Zalina. "Sebelumnya Dewa sudah menjelaskan kepada Ayah dan Mama bahwa dia mempunyai misi tersendiri hari ini terhadap kamu. Jadi, gimana? apa misinya berhasil, Dewa?" tanya Zali.
"Alhamdulillah berhasil, Pak."
"Selamat kalau begitu!" ucap Zaki. "Ingat Dewa! tolong kamu jaga putri kami dengan baik, bahagiakan dia, jangan sakiti hatinya!"
Zalina terharu mendengar ucapan Ayah tirinya tersebut, dia tidak menyangka Ayah tirinya tersebut menaruh harapan dan doa pada Dewa selaku calon suaminya.
"Tentu, Pak. Saya akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga saya," ujar Dewa. "Oh iya, Pak ... Bu, saya juga ingin meminta izin, Bagaimana kalau zalina pulang ke Malang dengan saya berbarengan? karena kebetulan kami harus melakukan sidang BP4R terlebih dulu, dan kebetulan sidang tersebut akan dilakukan dalam minggu ini."
Zalina hanya menyimak apa yang dikatakan oleh Dewa terhadap orang tuanya.
"Baik, kalau memang seperti itu adanya, lebih cepat lebih baik. Tapi, ingat! kalian jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Halal dulu baru boleh!" ucap Ayah Zaki sambil meledek Zalina dan Dewa.
"Iya, Pak. pasti akan saya ingat," jawab Dewa.
"Tapi, Mas. Saya tidak mungkin mendadak seperti ini untuk bisa resign dari tempat kerja," ucap Zalina.
"Apa kamu lupa, Nak? kalau pemilik klinik tersebut adalah teman Mama dan juga temannya calon suami kamu ini? So, waktu Dewa ke sini dua hari yang lalu beliau juga sudah berbicara dengan teman Mama tersebut, dan dia sudah menjelaskan duduk permasalahannya dan juga sudah meminta mencarikan pengganti kamu yang baru."
__ADS_1
Lagi-lagi Zalina hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan semua hal yang terjadi pada dirinya tapi dia tidak mengetahuinya sama sekali.