
Satu persatu rak buku diteliti oleh Zalina untuk mencari buku yang diinginkannya. Selain mencari buku untuk tambahan daftar pustaka skripsinya, Zalina juga ingin mencari bacaan novel favoritnya.
"Wwaahhh ... Alhamdulillah masih ada aku kirain gak kebagian lagi ... " gumam Zalina pelan sambil memegang novel dari penulis favoritnya.
"Ternyata masih sama seperti Zalina yang aku kenal dulu, Zalina yang suka baca novel dimana ada kesempatan untuk membaca pasti akan membaca," ucap suara dibelakang Zalina.
"Kak Aldo," ucap Zalina seketika menoleh kebelakang.
"Hai Zalina, apa kabar?" tanya Aldo yang berdiri di ujung rak dengan kedua tangannya berada didalam saku jaket.
"Baik Kak, Kakak apa kabar? mau beli buku juga?" tanya Zalina.
"Mau beli ayam goreng," ucap Aldo bercanda.
"Maaf pertanyaan aku salah ya Kak," ucap Zalina sambil garuk kepala yang enggak gatal.
"Hehehe, enggak apa-apa, kebetulan tadi aku dimintain adikku nyari buku liat kamu disini makanya aku samperin. Udah dapat belum buku yang kamu cari? mau aku bantuin? kebetulan buku pesanan adikku udah ketemu," ucap Aldo.
"Udah nih Kak," ucap Zalina sambil mengangkat dua buah buku di tangannya. Kebetulan udah mau pulang juga Kak," ucap Zalina.
"Kalo gitu ayok ke kasir," ucap Aldo. "Mbak, sekalian total sama buku teman saya ini ya," ucap Aldo pada kasir.
"Ee-eeehh, enggak usah Kak aku bayar sendiri aja." Zalina menolak dengan halus.
"Enggak apa-apa, sekali-sekali juga pun," ucap Aldo.
"Tapi-"
"Enggak pake tapi Zalina, udah yuk buruan keluar atau masih mau buku yang lain," ucap Aldo yang melihat Zalina masih berdiri.
Zalina pun segera berjalan beriringan dengan Aldo keluar toko buku.
"Makasih ya Kak, aku malah repotin kakak jadinya."
"Aku enggak merasa direpotkan Lin, kan aku yang mau bukan kamu yang minta. Jadi enggak perlu pake enggak enakan," ucap Aldo tersenyum.
Zalina pun hanya membalas dengan tersenyum saja.
"kamu parkir dimana biar bareng ke parkiran?" ucap Aldo.
"Tadi aku nebeng temen ke sini Kak, aku pulang naik taksi aja. Kalo gitu aku duluan ya Kak," ucap Zalina.
"Tunggu Lin aku antar kamu pulang ya," ucap Aldo seakan memohon.
"Hmm ... apa enggak ngerepotin kakak?"
"Ya enggak dong, berarti kalo gitu bolehkan aku yang antar, kalo gitu cus kita ke parkiran."
Aldo pun mengajak Zalina ke basement tempat dia memarkirkan mobilnya. Aldo segera melajukan mobilnya keluar mall.
"Langsung pulang atau mau singgah tempat lain dulu Lin? mau makan dulu mungkin," ucap Aldo sambil menyetir dan mata fokus ke depan.
"Langsung pulang aja ya kak, kebetulan tadi aku udah makan bareng Rindu, rencananya tadi cari buku dan pulangnya barengan Rindu, enggak taunya Rindu dapat kabar untuk bimbingan sore ini ke kampus," ucap Zalina.
"O gitu, oke deh kita langsung pulang aja ya," ucap Aldo. Dua puluh menit perjalanan Zalina sampai di rumahnya.
"Kak, yuk singgah dulu, kebetulan Nema udah di rumah kayaknya," ucap Zalina karena melihat mobil dan sopir Nema dirumah.
"Boleh deh udah lama juga enggak ketemu Nema," ucap Aldo.
__ADS_1
Zalina dan Aldo pun masuk kedalam rumah. di dalam Zalina melihat Nema di ruang tengah yang sedang menonton televisi. Zalina dan Aldo pun langsung menghampiri Nema.
"Assalamu'alaikum Nema," ucap Zalina.
"Waalaikumsalam Nak, udah pulang, wah ada Nak Aldo juga. Udah lama Nema enggak lihat Nak Aldo main kesini. Apa kabarnya? sibuk ya? ayok mari silahkan duduk dulu," ucap Nema sambil mempersilahkan Aldo duduk di sofa yang masih kosong.
"Alhamdulillah Aldo baik Nema," ucap Aldo sambil mencium tangan Nema. Nema apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat Nak, terus gimana kabar keluarga kamu, terutama gimana kabar Oma kamu? sehat? udah lama Nema enggak ketemu sama Oma kamu."
"Alhamdulillah sehat semua Nema, dan oma kebetulan lagi di jakarta di tempat tante Audy."
"Alhamdulillah kalo gitu, udah pada makan belum, kalo belum makan dulu ya, biar Nema minta mbak Asih siapin dulu," ucap Nema.
"Enggak usah Nema, aku dan Zalina udah makan tadi. Lain kali aja ya Nema kebetulan masih kenyang juga," ucap Aldo sopan sambil mengusap perutnya.
"Baiklah kalau begitu biar Nema minta mbak asih buatin minum aja ya kalo ini enggak boleh nolak," ucap Nema.
"Makasih Nema," ucap Aldo.
Karena sudah lama enggak bertemu Aldo, Nema bercerita banyak hal baik soal pekerjaannya ataupun soal oma Aldo. Zalina yang hanya jadi pendengar hanya tersenyum saja melihat interaksi dua orang di depannya. Zalina memperhatikan sikap ramah Aldo dan santunnya dalam berbicara. Zalina bisa melihat kalau Nema begitu nyaman bicara dengan Aldo. Tapi entahlah, Zalina pun bingung kenapa hatinya belum bisa menerima Aldo dengan hubungan yang serius. Hampir satu jam Aldo bertamu dia pun izin pulang kerumah.
"Nema kebetulan sudah sore juga, Aldo pamit pulang dulu ya lain kali insyaallah main kesini lagi."
"Ya udah deh padahal tadinya Nema mau ajakin kamu makan malam disini. Lain kali beneran ya makan di sini kalau bisa ajak oma kamu juga, Nema kangen juga sama beliau," ucap Nema.
"Insyaallah Nema lain kesempatan aku datang kesini bareng Oma. Kalau gitu aku pamit ya Nema, Zalina, Assalamu'alaikum," ucap Aldo tidak lupa mencium tangan Nema.
"Waalaikum salam, hati-hati dijalan ya," ucap Nema.
"Hati-hati ya kak Aldo," ucap Zalina.
Setelah Aldo pergi Nema dan Zalina pun kembali duduk diruang tengah.
"Ya Nema, kak Aldo dari dulu memang baik. sekarang pun masih baik," jawab Zalina.
"Kalau Nema perhatiin, kayaknya dia suka sama kamu Nak, tatapan matanya sama kamu tadi, dia ngobrol sama Nema, tapi tatapan matanya penuh cinta sama kamu," ucap Nema tersenyum.
"Nema bisa aja udah kayak mami Lauren bisa meramal," ucap Zalina tersenyum.
"Nema pernah muda Nak, Nema tau lah hal semacam ini. Lagian nak Aldo itu udah lama juga kenal sama kamu, kamu juga kenal dengan keluarganya, Nema juga kenal sama keluarganya. Kalaupun dia serius sama kamu ya enggak apa-apa Lin, Nema malah senang bisa nyerahin kamu sama orang yang kenal bibit bebet dan bobotnya," ucap Nema.
"Soal perasaan enggak bisa dipaksainkan Nema, Zalina tau kalau kak Aldo dan keluarganya itu memiliki bibit, bebet, bobot yang baik. Tapi yang jelas untuk sekarang ini Zalina masih nyaman dengan hubungan pertemanan kami. Zalina enggak mau memaksakan hati Nema, biar enggak ada yang terluka diantara kami," ucap Zalina.
"Hmmm ... ya udah, Nema percaya sama kamu. Karena yang menjalani kedepannya adalah kamu, jadi kamu pasti tau mana yang membuat hidupmu nyaman. Pasangan kita ibarat pakaian, kalau tidak nyaman dipakai maka akan membuatnya risih di tubuh kita," ucap Nema.
"Makasih Nema selama ini Nema orang yang begitu mengerti Zalina, yang selalu menyayangi Zalina juga," ucap Zalina sambil memeluk Nema.
"Sama-sama Cah Ayu, sing penting kamu bahagia Nema akan bahagia juga," ucap Nema. "Ya udah, sekarang Nema mau ke kamar dulu udah sore juga. Kamu istirahat atau mandi sana biar fresh karena tadi seharian diluar rumah kan," ucap Nema.
"Ya Nema kalau gitu Zalina ke kamar dulu ya," ucap Zalina. Zalina berlalu ke kamarnya. tiba dikamarnya Zalina duduk di meja rias mulai membuka hijabnya. Matanya memandang kearah cermin tapi pikirannya terbang jauh kebelakang. Mengingat ucapan Nemanya tadi tentang Aldo. Zalina jadi teringat bagaimana Awal mula kenal dengan Aldo.
*Flashback On
Pagi itu panas terasa menyengat, jam masih menunjukkan pukul 09.30, tapi panas matahari sanggup membuat keringat mengucur di pelipis bahkan dipunggung mereka, semua mahasiswa baru berkumpul di lapangan terbuka kampus. Para mahasiswa tersebut sedang mengikuti kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus atau yang dikenal dengan istilah Ospek.
Zalina dan Rindu adalah termasuk dari mahasiswa baru tersebut. Zalina dan Rindu memang memutuskan kuliah di kampus yang sama bahkan dengan jurusan yang sama juga. Setelah 2 hari kemarin para mahasiswa ospek didalam ruangan, untuk mengenal, sejarah kampus, visi dan misi kampus, Dosen-dosen pengajar yang berkontribusi dikampus, sekarang mereka ospek diluar ruangan untuk mengenal organisasi dikampus mereka, mengenal teman-teman baru mereka biar semakin akrab.
Pagi itu beberapa anggota BEM yang terlihat dari almamater yang mereka gunakan khusus almamater yang ada tulisan BEM nya, berdiri di depan para mahasiswa baru tersebut. Setelah memberikan beberapa informasi, maka untuk menambah keseruan mereka hari ini maka para mahasiswa akan mengambil satu undian didalam wadah. Dan para mahasiswa harus melakukan perintah yang sesuai dengan tulisan dalam undian tersebut.
__ADS_1
Satu persatu mahasiswa mengambil undiannya. Zalina juga mengambil undiannya, Zalina membuka undiannya dan membaca kalimat yang terdapat di kertas tersebut 'cari anggota BEM yang bernama AYAM dan minta tanda tangannya' Zalina mengerutkan dahinya membaca kalimat tersebut.
"Kamu disuruh ngapain Lin," tanya Rindu yang duduk di sebelahnya.
Zalina hanya memperlihatkan kertas kecil ditangannya, Rindu yang membaca itu pun spontan cekikikan.
"Ckckck, emang ada nama orang Ayam? ada-ada aja," ucap Rindu.
" Hussshh ... jangan keras-keras ntar kedengaran yang lain enggak enak lo, kamu dapat apa?" tanya Zalina pada Rindu.
"Nih ... aku disuruh ini nih," ucap Rindu sambil nyodorin kertas kecil ditangannya.
Zalina membacanya 'Dengan uang 3000 rupiah, kamu harus membeli tepung ketan, kelapa, kacang hijau, gula, wijen, dan minyak goreng' Zalina mengulum senyumnya setelah membaca tulisan tersebut.
"Rasain, tadi ngetawain aku sekarang kamu beli sana semuanya dengan uang Tiga ribu rupiah bisa beli apa aja," ucap Zalina.
Mereka berdua kemudian mendengarkan arahan dari salah satu pembicara didepan mereka. Ada beberapa point yang tidak boleh mereka lakukan, diantaranya mereka tidak boleh membawa dompet dan HP mereka selama menjalankan tugas, bagi yang memerlukan uang akan diberikan uang sesuai jumlah di kertas yang mereka dapatkan, dan bagi mereka yang disuruh meminta tanda tangan maka jangan berbohong dengan memberikan tanda tangan palsu karena mereka harus meminta foto selfi dengan nama orang yang punya tanda tangan. Dan mereka diberi waktu satu jam dimulai dari sekarang.
Zalina, Rindu dan mahasiswa lainnya mulai kelimpungan mengerjakan tugas yang diberikan. Zalina mulai bertanya satu persatu kepada BEM nya.
"Maaf Kak, apa kakak yang namanya A-aayyam ... " ucap Zalina pada salah satu anggota BEM.
"Kamu punya mata kan nih baca," ucap anggota BEM perempuan itu sambil menunjukkan name tag nya.
Zalina pun membaca nama 'Anggun dahlia', "Bussyeett nama anggun tapi mulutnya bar-bar banget," ucap Zalina dalam hati.
Zalina pun lanjut bertanya pada yang lain, bahkan anggota BEM tersebut menjawab seadanya dengan menunjukkan name tag disuruh baca sendiri, ada yang jawab ketus 'kamu kira ini kebun binatang'. Hampir 30 menit berlalu Zalina masih zonk dengan pencariannya, sudah 13 anggota BEM yang di tanyainya tapi tidak satupun yang bernama Ayam.
Zalina tampak berfikir, tidak mungkin seseorang itu benar-benar bernama ayam, pertanyaan ini pasti jebakan, seperti punya Rindu. Zalina kemudian membuka kembali catatan nama-nama yang dia dapatkan, setelah menelaah semua nama, Zalina pun tersenyum. Seperti mendapatkan angin segar Zalina segera berdiri dan menghampiri salah seorang anggota BEM.
"Permisi Kak, maaf mengganggu lagi," ucap Zalina pada salah seorang anggota BEM pria.
"Ada apa lagi bukannya tadi kamu udah tau namaku," ucap pria tersebut sambil menunjuk name tagnya.
"Ya Kak, justru saya kemari ingin memberikan jawaban saya dan meminta tanda tangan kakak. Karna saya yakin yang bernama a_aayam itu adalah kakak ... " ucap Zalina pelan.
"Percaya diri banget kamu," ucap anggota BEM lainnya.
"Kamu yakin, gimana kalo kamu salah," ucap pria yang dikira nama Ayam oleh Zalina. Kamu bisa dapat hukuman lho, masih ada waktu 20 menit lagi buat kamu nyari dengan benar, lagian apa yang membuat kamu yakin?" tanya pria tersebut dengan muka datar.
"Aku yakin Kak," jawab Zalina masih sambil menunduk. "menurutku nama ayam itu singkatan nama aja Kak, Ayam itu dari nama kakak Aldo Yamri Muhammad," ucap Zalina pelan.
Pria yang ternyata bernama Aldo tersebut senyum tipis hampir tak terlihat.
"Gimana kalo aku bilang kamu salah," ucap Aldo yang membuat Zalina seketika mengangkat kepala. "kamu liat nih, Aldo menarik tangan seorang anggota BEM dan menunjukkan name tag pria tersebut 'Aydan Anggara miftah ahmad' bukankah namanya juga bisa disingkat menjadi Ayam? jadi mana yang benar," ucap Aldo.
Zalina nampak terkejut tapi kemudian dia berfikir dan tersenyum tipis. "Maaf Kak, nama Kak Aydan memang bisa di singkat menjadi AYAM tapi akan menyisakan satu huruf terakhir yaitu huruf A pada kata Ahmad. Jadi menurut pemikiran saya, kalau penyingkatan nama tersebut tidak mungkin meninggalkan kata lain dalam sebuah nama. Makanya saya yakin kalau nama kak Aldo yang disingkat menjadi AYAM, kalaupun saya salah saya siap mendapatkan hukuman kak," ucap Zalina.
Aldo yang mendengar penuturan Zalina hanya tersenyum tipis.
"Udah lah do, lumayan diajak selfie ga malu-maluin, kalo kamu ga mau, biar aku aja," ucap pria yang bernama Aydan".
Aldo yang mendengarkan kalimat Aydan hanya diam dengan muka datar. Sedangkan Zalina merasa lega dengan kalimat yang dia dengar, itu kemungkinan dia tidak salah menebak.
"Ya udah sini, mana buku kamu untuk aku tanda tangan," ucap Aldo datar.
Zalina langsung sigap memberikan Notebooknya. "Maaf kak, boleh foto selfienya gak kak?" tanya Zalina.
Kalau bukan untuk kebutuhan ospek Zalina pun malas untuk melakukannya, Aldo pun hanya menganggukkan kepalanya dan mereka pun melakukan selfie. Setelah selesai Zalina pun berlalu pergi mencari Rindu.
__ADS_1
"Gilaaa ... tu cewek, setengah jam aja langsung tau nama kamu Do, biasanya anak Ospek lain kena hukuman dulu baru tau, pinter juga dia berpikirnya cepat tanggap," ujar teman Aldo.
sedangkan Aldo hanya tersenyum sambil memandang Zalina yang berlalu pergi meninggalkan mereka.