Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 11 Masa Lalu Marcel dan Cindy


__ADS_3

Zalina menuju balkon kamarnya yang terdapat satu meja mini bulat dan dua kursi, Zalina berdiri di pagar balkon dengan kedua tangan menggenggam sisi pagar. Zalina teringat beberapa kali pertemuannya dengan Papa dan Mamanya, saat ulang tahun ke lima mama nya datang dengan memberikan kado kesukaannya boneka Teddy bear, tak berselang lama Papanya juga datang tapi tidak membawa kado.


Zalina tidak mempermasalahkan Papanya tidak membawa kado yang terpenting mereka berdua hadir. tapi, Mamanya malah marah sama Papa Zalina dan menuduh kalo Papanya tidak pernah peduli pada Zalina dan hanya peduli sama dirinya sendiri, yang pada akhirnya Papa dan Mamanya pun bertengkar, saat itu Zalina kecil sedih melihat itu semua.


Di setiap momen apapun, kalau Papa dan Mamanya bertemu selalu bertengkar. Mamanya menuduh Papanya yang tidak peduli pada Zalina, tidak pernah memperhatikannya. Sedangkan Papa Zalina juga seperti itu yang menganggap Mama Zalina adalah ibu yang egois, yang tidak becus menjadi ibu, yang tidak pernah ada untuk Zalina.


Saat Zalina kelas dua SMA, tepat di ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Zalina bertanya pada Nema nya. 'kenapa Zalina dibesarkan oleh Nemanya sedangkan dia memiliki Mama dan Papa'


*Flashback On


"Selamat ulang tahun Nak, kamu sekarang udah dewasa, semoga tidak hanya dewasa umurnya saja ya Nak, dewasa juga dalam bersikap dan bertutur kata, Nema sayang kamu," ucap Nema.


"Sekarang kamu mau kado apa dari Nema, walaupun kamu dapat kado dari Papa kamu sebuah mobil, dan kado diizinin bikin SIM oleh Mama kamu, tetap ya NO ... NO ... untuk menyetir kendaraan kamu sendiri selama kamu belum lulus SMA," ucap Nema tegas.


"Hehehehe ... ya deh, kan Zalina udah janji kemaren kalau nyetir mobilnya kalau udah lulus SMA. Tapi Nema, Zalina minta kado yang lain boleh?" tanya Nema pelan.


"Tentu sayang, tentu saja boleh. Kamu mau kado apa? Nema janji akan berikan," ucap Nema.

__ADS_1


"Beneran Nema ... "


"Iyaa ... (Nema menganggukkan kepalanya)."


"Zalina mau ... mau mendengarkan cerita tentang Papa, Mama dan Zalina, kenapa Zalina dibesarkan oleh Nema padahal Papa dan Mama bisa membesarkan Zalina walau hanya salah satu dari mereka," ucap Zalina pelan.


"Hmmpphhttfff ... (Nema menarik nafas), baiklah kalau kamu ingin mendengarkannya. Nema rasa kamu cukup dewasa untuk memahami cerita yang kamu dengar."


"Marcel dan Cindy menikah diusia yang cukup terbilang masih muda, Cindy menikah usia sembilan belas tahun, Marcel usia dua puluh satu tahun. Saat itu Cindy berprofesi sebagai model di Surabaya, sedangkan Marcel masih berstatus anak kuliahan. Mereka berpacaran semenjak masih di SMA, Marcel orang yang posesif dan protektif, sedangkan Cindy orang yang suka kebebasan.


Singkat cerita, karena karir model Cindy sedang naik daun, dia menerima banyak tawaran show dalam dan luar kota bahkan foto untuk cover majalah dengan model laki-laki. Sehingga hal tersebut membuat Marcel cemburu dan memaksa Cindy menikah saat itu juga. Awalnya Cindy menolak karena terikat kontrak yang tidak mengizinkan dia menikah 2 tahun. Tapi, karena Marcel mengancam akan memutuskan hubungan mereka, Cindy terpaksa menerima ajakan menikah karena dia mencintai Marcel, dengan syarat asal tidak mengadakan acara besar-besaran karena dia tidak ingin sampai orang banyak tahu, agar karirnya tetap aman.


Setelah menikah dan tidak bekerja Cindy dan Marcel tinggal di rumah pemberian orang tua Marcel. Marcel yang masih kuliah mendapatkan


uang dengan bekerja part time di perusahaan Papanya. Pernikahan yang mereka jalani sering terjadi pertengkaran mungkin karena mereka masih sangat muda dan ego mereka pun masih belum bisa dikendalikan. Bulan pun berganti kamu pun lahir, Cindy sering mengeluh bosan dengan Marcel karena hanya dirumah saja, sedangkan Marcel tidak memiliki waktu untuk menemani hari-hari Cindy karena sibuk bekerja.


Semenjak lulus kuliah Marcel diberi kepercayaan oleh ayahnya mengelola perusahaan cabang mereka yang ada di Bandung, sehingga Marcel sering pergi ke Bandung dan meninggalkan Cindy dan kamu di Surabaya. Saat usia kamu satu tahun, Cindy nekat untuk bergabung kembali dengan agency yang menaungi dia sebelumnya. Setelah dia tanda tangan kontrak, dia memberi tahu Marcel mengenai hal tersebut. Awalnya Marcel marah, dan tidak setuju Cindy kembali jadi model. Tapi Cindy beralasan selama dia jadi model maka tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu tidak dia lupakan, akhirnya Marcel pun setuju.

__ADS_1


Suatu hari Kamu demam tinggi, dan disertai muntah juga. Baby sitter yang jagain kamu panik dan menghubungi kedua orang tuamu tidak ada yang mengangkat panggilan, mamu dilarikan ke rumah sakit dan di opname. Saat kamu sudah di opname orang tuamu baru bisa dihubungi. Mereka berduapun bergegas ke rumah saki, tapi sesampainya dirumah sakit mereka malah bertengkar dan saling menyalahkan. Marcel menyalahkan Cindy karena lebih mementingkan karirnya dari pada kamu, Marcel juga kecewa karena Cindy tidak menepati janjinya untuk mengurus kamu. Cindy pun tidak terima dimarahi oleh Marcel, dia balik menyalahkan Marcel karena semua yang terjadi ini adalah karena Marcel.


Menurut Cindy kalau Marcel bisa meluangkan sedikit waktu untuk dirinya dan kamu, maka ini tidak akan terjadi. Menurut Cindy, Marcel hanya peduli pada perusahaannya tapi tidak peduli pada istri dan anaknya. Semenjak kejadian itu, rumah tangga mereka tidak pernah harmonis lagi dan selalu saling menyalahkan. Tidak ada yang mau mengalah dan menurunkan ego yang pada akhirnya mereka pun berpisah saat usiamu dua setengah tahun.


Saat itu Cindy kembali ke Malang dan membawa kamu Nak. Dia meminta Nema untuk menjagamu dan berjanji akan sering menjengukmu, karena dia harus melanjutkan karir modelnya. Nema dengan senang hati menerima cucu cantik dan menggemaskan seperti mu dan hingga saat ini, Nema senang kamu ada disamping Nema Nak. Hari-hari Nema tidak pernah merasa kesepian lagi," ucap Nema mengakhiri ceritanya.


"Satu hal yang perlu kamu ingat Nak, kamu terlahir atas dasar cinta. Mama dan Papa kamu memang berpisah, tapi kamu tetap dihati mereka. Kesalahan mereka mungkin karena tidak ikut mendampingi kamu tumbuh besar, tapi percayalah kalau kamu ada dalam hati mereka. Oleh sebab itu, kamu harus tumbuh jadi anak baik, anak pintar dan membanggakan semua orang," ucap Nema


"Terima kasih Nema, terima kasih ceritanya, Terima kasih juga telah menjadi orang tuaku. Zalina sayang Nema," ucap zalina memeluk Nema.


*Flashback Of


"Bagaimana pun kalian tetap orang tuaku, aku menyayangi kalian berdua," ucap Zalina sambil mengusap foto dalam bingkai diatas meja belajar nya. foto yang diambil saat ulang tahunnya ke Lima tahun."


"Harusnya aku merasa bahagia dan bersyukur sekarang ini, karena aku memiliki banyak keluarga. Mama dengan keluarga kecilnya dan Papa juga dengan keluarga kecilnya, aku bahkan memiliki empat orang adik dari ayah dan ibu yang berbeda, bukankah itu menyenangkan?" ucap Zalina berbicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum.


"Onty Liliana istri Papa juga baik, Ayah Zaki suami Mama juga baik, bahkan anak-anak mereka tidak sungkan padaku. Ya allah, harusnya aku mengerti kenapa Papa dan Mama tidak sepenuhnya bisa peduli padaku, itu karena mereka berdua punya tanggung jawab dan kewajiban yang lain, tidak hanya diriku," gumam Zalina.

__ADS_1


"Baiklah Zalina, mulai hari ini kamu harus positive thinking! kamu harus percaya bahwa banyak yang peduli padamu, banyak yang menyayangimu dan kamu tidak boleh bersedih. Kamu harus bisa mandiri, dan membuat orang disekitarmu bangga, semangat Zainal!!!" seru Zalina sambil mengepalkan tangannya ke udara.


Nema yang tadinya ingin masuk kekamar Zalina, dan mendengar ocehan Zalina urung untuk masuk. Nema menutup kembali pintu kamar zalina dengan pelan, Nema merasa lega melihat zalina yang tersenyum. Awalnya Nema sempat merasa Zalina masih sedih dan masih memikirkan percakapan mereka di dapur tadi. Setelah melihat tingkah Zalina tadi, Nema merasa yakin kalau cucunya baik-baik saja.


__ADS_2