Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 32 Zalina Bangkit


__ADS_3

Sehari, Dua hari bahkan hampir seminggu Zalina di rumah Sakit kondisinya bisa dikatakan baik bisa dikatakan juga tidak baik.


Zalina memang tidak histeris lagi, juga tidak menangis lagi, tapi dia lebih banyak termenung. Kalaupun diajak bicara dia akan menjawab seadanya, dan tersenyum pun hanya menarik sedikit sudut bibirnya. Badannya memang sehat, tapi Psikisnya terguncang. itulah satu baris kalimat yang di ingat Nema kala Dokter menjelaskan keadaan Zalina.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dok?"


"Kita harus bisa membuat nona Zalina melupakan kejadian ini, mungkin bisa dengan suasana baru, seperti tempat baru, Orang-orang baru atau hal-hal lain yang biasa disukai nona Zalina," ucap Dokter yang menangani Zalina.


"Apa dia sudah bisa saya bawa pulang, Dokter?"


"Sudah, sepertinya itu lebih baik, agar dia memikiki suasana baru, dan tidak jenuh lagi setelah hampir sepekan dia berada disini."


Setelah perbincangan Nema dengan dokter Pagi tadi, siang ini Nema akan membawa Zalina pulang kerumah.


Saat akan keluar ruangan, seorang perawat menghampiri Zalina dengan membawa buket bunga yang sangat indah yaitu bunga Daisy dan bunga Iris yang digabung dalam satu buket.


"Permisi, Mbak Zalina, ini ada titipan bunga dari seseorang," ucap perawat tersebut.


Zalina yang masih duduk di tepi ranjang rumah sakit menerimanya.


"Dari siapa?" tanya Zalina lirih


"Maaf, beliau tidak menyebutkan namanya, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu."


Nema melihat ke khawatiran di mata Zalina, Nema pun mencairkan suasana agar Zalina tidak takut dan khawatir dengan kiriman bunga tersebut.


"Wwaahh, ini kan bunga Daisy dan bunga Iris. Kamu tahu, Nak? kalau 2 bunga ini memiliki arti yang hampir sama, yaitu kebahagian. Selain Kebahagiaan bunga Daisy itu lambang keceriaan sedangkan Iris itu biasanya dipakai seseorang sebagai hadiah untuk seseorang yang harus tetap optimis di masa-masa yang sulit. Dan Nema yakin, orang yang memberikan ini adalah orang yang peduli padamu," ucap Nema menyentuh pundak Zalina.


Zalina hanya menanggapi dengan sedikit senyuman.


"Kalau begitu, ayo kita pulang," ajak Nema

__ADS_1


Nema dan Zalina segera meninggalkan rumah sakit setelah dijemput oleh kang Asep sopirnya Nema.


Sampainya dirumah, Zalina disambut oleh Rindu, mbak Asih dan juga Cindy mama Zalina yang baru sampai Malang. Cindy baru mendapatkan kabar dari Nema di hari ke tiga Zalina di rawat, Awalnya Cindy ingin segera terbang ke Malang, tapi setelah Nema menjelaskan kondisi Zalina dan juga Zalina yang menolak untuk bertemu siapapun, Cindy mengurungkan niatnya tapi dia selalu memantau keadaaan Zalina dari video yang dikirim Nema.


"Selamat datang dirumah, Bebeb ku!!!!" teriak Rindu penuh kegirangan. Rindu sangat antusias menyambut Zalina, bahkan ia menghias sedikit ruangan dengan berbagai macam balon.


Zalina pun tersenyum melihat sahabatnya tersebut begitu antusias menyambutnya.


"Selamat datang, Sayang ... Apa mama boleh memelukmu?" tanya cindy hati-hati.


Zalina pun mengangguk pelan, Cindy segera memeluk putrinya itu dengan erat, dia tidak bisa menahan air mata yang menetes di pipinya, dengan segera dia menghapus air mata tersebut agar Zalina tidak melihatnya.


"Ayo kita masuk, mama ada masak sesuatu buat kamu, apa kamu mau mencobanya?"


Lagi-lagi Zalina hanya menganggukkan kepalanya, semua yang di dekat Zalina hanya memandang dia dengan haru, tidak menyangka gadis ceria yang mereka kenal akan seperti ini.


Mereka semua menuju meja makan, Cindy melayani Zalina dengan penuh cinta. Cindy memasak sop iga, karena Cindy ingat saat Zalina berumur 6 tahun anaknya tersebut pernah meminta dimasakin Sop iga, setelah Sop iga tersebut dimasak Cindy, Zalina pun makan dengan begitu lahapnya.


"Sudah cukup ma, aku sudah kenyang, sekarang aku mau istirahat di kamar saja, Ma," ucap Zalina.


Cindy serta yang lainnya bahagia dan terharu mendengar Zalina bisa mengucapkan kata-kata yang cukup panjang menurut mereka tadi. Nema sampai menghapus sudut matanya yang berair.


"Baiklah Sayang, ayo mama antar," ucap Cindy dengan semangat.


"Tidak perlu, Ma. Zalina bisa sendiri," tolak Zalina.


"Aku anterin Ya Lin, aku kangen sama kamu," rengek Rindu dengan manja.


Zalina pun menganggukkan kepalanya dan berlalu ke kamarnya. Rindu menatap Cindy dan Nema yang menganggukkan kepala mereka tanda memberi izin, Rindu pun segera menyusul Zalina ke dalam kamarnya.


"Kamu sudah lihat kondisinyakan, Cindy? Mama, bingung apa yang harus mama lakukan agar dia kembali seperti semula," ucap Zalina.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ma. Maafkan Cindy yang masih merepotkan mama hingga saat ini," ucap Cindy mengusap air matanya.


"Mama ikhlas Cin, mama menyayanginya dan mama ingin dia bahagia."


"Bagaimana kalau Cindy bawa Zalina ke Jakarta, Ma? seperti yang Dokter anjurkan, kalau kita bisa memberikan suasana, lingkungan serta orang-orang baru untuk Zalina."


Nema menghela nafas pelan, ucapan Cindy tidak ada yang salah, tapi apa dia sanggup berjauhan dengan Zalina dalam keadaan seperti sekarang ini? lalu apa Zalina akan mau?


"Mama, akan coba bicara pelan-pelan dengan Zalina," ucap Nema.


**


"Kamu mau istirahat, Lin? kalau begitu aku keluar aja dulu, nanti saja ngobrolnya ya," ucap Rindu.


"Tidak Rin, kamu di sini aja temani aku,"


"Okay, gimana kalo kamu mandi biar segar, terus dandan dikit minimal pake lipgloss biar gak keliatan pucat gini."


Zalina hanya diam tak memberi reaksi apapun, membuat Rindu merasa apa ada yang salah dengana ucapannya.


Rindu menggigit bibirnya. "Lin, maaf ya ... kalau ucapanku ada yang salah." Rindu berkata dengan sangat menyesal.


Zalina menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak salah, Rind. Aku hanya takut menatap diriku sendiri di cermin, saat aku menatap diriku di cermin, aku bisa melihat tubuh ku yang mana saja yang disentuh bajingan itu. Di sini, di sini, di sini, di sini bahkan dia merobek bajuku, dan mencium paksa bibir, wajahku, juga tubuhku, Rin," ucap Zalina dengan tangisan pilu dan bahunya ikut berguncang.


Rindu yang merasa iba dengan sahabatnya itu ikut meneteskan air matanya, dia mendekap Zalina memberikan ketenangan, agar sahabatnya itu menjadi lebih baik.


"Kamu harus kuat Lin, aku tau kamu bisa bangkit. Kamu harus ingat ini, jangan sampai bajingan itu merasa senang bisa membuatmu trauma, terpuruk atau tidak bisa bangkit berdiri seperti sedia kala. Jangan biarkan dia bertepuk tangan diatas penderitaanmu, buktikan pada bajingan tersebut, kalau kamu bukan Zalina yang lemah, yang mudah diperdaya karena dia bukanlah siapapun yang berarti untukmu."


Zalina terasa lebih tenang dalam pelukan Rindu setelah mendengar ucapan sahabatnya itu. dia melepaskan pelukannya pada Rindu.


"Makasih ya, Rind. Kamu selalu ada disampingku," ucap Zalina menghapus air matanya.

__ADS_1


"Of Course, Beb."


__ADS_2