
Dewa kembali ke Malang menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, meskipun ada sang asistennya Rendy, dia tidak bisa lepas tangan begitu saja. Baik pekerjaan yang bersifat pribadi dan pekerjaan sebagai aparat kenegaraan.
Dewa seorang pria yang sangat tekun dalam bekerja, meskipun ia terlahir dari keluarga berada, dia tidak pernah terlena, almarhum ayahnya yang juga merupakan seorang jenderal besar dan almarhumah ibunya yang seorang Rektor tapi dia membuktikan dia bisa lebih baik tanpa embel-embel nama besar orang tuanya.
Terbukti, dirinya bisa memiliki perkebunan Apel yang hampir menyeluruh di kota Malang, dia juga memiliki beberapa saham di beberapa perusahaan. Sekalipun dia berhenti menjadi seorang anggota kepolisian, dia tidaklah khawatir karena sudah memiliki penghasilan dan beberapa aset lainnya.
Dewa mulai menyibukkan dirinya kembali setelah Rendy memberikan jadwal kegiatannya. Sedangkan Zalina juga memulai aktivitasnya seperti biasa.
hari berganti Zalina merasa kesal karena tidak mendapat kabar dari Dewa, hari ini tiga hari sudah dia tidak memberi kabar pada Zalina.
"Ya Allah, itu orang beneran suka gak sih? dimana-mana itu kalau suka di tunjukkin, di perlihatkan, di tanyain kabar kek, di tanyain lagi ngapain kek, ini boro-boro," gumam Zalina marah-marah menatap ponselnya.
"Masa aku yang telepon duluan, Aaaa ... awas aja itu aki-aki!"
Zalina mondar-mandir di dalam kamarnya, seketika ponselnya berdering. Dia yang awalnya ke girangan langsung sirna sudah dan tidak bersemangat.
"Ya, Rindu."
"Eh, Lesu amat, Neng? kamu kenapa?" kayak orang kematian laki."
"Aku lagi kesel, kamu tahu ga sih, aku lagi kesel!!!!! Hhuuuaaaa ... " teriak Zalina.
Rindu yang mendengar Zalina berteriak langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ya Allah, Zalinaaaaa ... " bisa budeg telinga aku kamu bikin, Lin.
"Kamu itu kenapa? aku gak tahu apa-apa langsung di teriakin," ucap Rindu.
"Rinduuuu, jangan-jangan pak Dewa nge prank aku bilang suka, buktinya udah tiga hari dia gak ada kasih kabar atau nanyain kabar aku, aku 'kan kesal sendiri, awas aja itu aki-aki!"
"Hahahahahaha ... jadi kamu galauin pak Akbar?" tanya Rindu tertawa kencang.
"Hahaha ... tadi kamu bilang apa? aki-aki? kamu nyadar kalau dia tuir, tuir-tuir tapi di kangenin juga, dasaarrr!" Rindu kembali menertawakan Zalina.
"Kamu kalau telepon aku cuma buat nertawain aku, mending matiin aja," jawab Rindu ketus.
"Iya deh iya, maaf ya, Lin. Aku telepon kamu cuma mau bilang, aku udah email kan laporan pembukuan toko utama dan toko cabang."
__ADS_1
"Oo ... okay ntar aku cek ya Rind, makasih sebelumnya.
"Okay, sekarang coba ceritain apa yang terjadi sama Nona Zalina Lovea Lee, mungkin saya bisa membantu Anda, Nona?" Rindu berusaha membuat sahabatnya yang galau sedikit mencair.
"Ntahlah, Rindu. Lupakan saja, aku udah gak mood membahasnya."
"Jangan gitu, Beb. kan kamu janji bakalan selalu cerita apapun, cerita donk! mana tahu aku bisa memberi sedikit masukan, kamu galau sama pak Akbar?"
"Udah tiga hari dia gak ada hubungi aku, kalau gini caranya, gimana aku yakin dia serius? gimana aku bisa yakini perasaan aku padanya kalau dia suka gak kasih kabar gini."
Rindu yang mendengar curhatan Zalina menghela nafasnya. "Jadi kamu masih belum yakin dengan perasaan kamu sendiri?"
Zalina masih bergeming tidak menjawab pertanyaan Rindu.
"Mungkin dia benar-benar memberikan kamu waktu, Lin. sembari kamu mempertimbangkan ungkapan perasaannya kamu juga mempertimbangkan perasaanmu. Kamu yakini dulu perasaan kamu Lin, kamu suka pak Akbar kan?"
"Aku bingung mendeskripsikan perasaanku sendiri, Rind. Aku takut ... aku takut perasaan yang aku rasakan hanya sementara bukan rasa yang sesungguhnya, aku tidak ingin seperti papa dan mamaku Rind, aku ingin mencintai dengan yang benar-benar mencintaiku."
"Aku takut tidak pantas untuknya, aku takut bukan yang terbaik untuknya, aku takut tidak bisa memberikan apa yang ia inginkan, Aku-"
"Satu lagi, Lin. Cinta tidak butuh alasan mencintai, karena hati tidak akan mungkin salah dalam mencinta. Kalaupun di tengah jalan cinta itu tidak sesuai dengan harapan kita, atau ia memberikan luka, bukan cinta yang salah, tapi manusianya yang tidak bersyukur."
Kata-kata Rindu bagai air yang menyirami tanah yang tandus, seperti mendapat angin segar di tempat yang pengap itulah yang di rasakan Zalina.
"Aku terharu dengar kamu ngomong, Rindu. tumben pinter kalau ngomong."
"Hehehe ... masa sih? iya ... ya? jangan disuruh ulang aja, soalnya aku juga ga tau ngomong apa tadi, wkkwwk."
Rindu memutar matany malas mendengar sahabatnya berkata seperti itu.
"Yang penting sekarang kamu yakini perasaan kamu sendiri, satu lagi nih ... walaupun aku ga alim-alim banget, tapi perlu kamu cobain. Kamu sholat tahajud minta petunjuk sama Allah SWT."
"Masyaallah, Neng. hari ini makannya apa? bijaksana beut, hahaha ... tapi makasih ya." ucap Zalina.
"Ya sama-sama, ya udah aku mau lanjut kerja dikit lagi, habsi itu mau pulang. bye Zalina, Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam."
__ADS_1
setelah panggilan terputus Zalina pun mempertimbangkan semua omongan Rindu, walaupun sahabatnya belum berpengalaman soal pasangan seperti dirinya, tapi tidak ada yang salah dengan ucapannya. Zalina menarik nafasnya. "Baik, aku akan pastiin bagaimana perasaan aku terhadapnya, Semangatttt!!!"
**
Seminggu berlalu Dewa tidak ada memberi kabar apapun pada Zalina, Zalina tidak hanya kesal, dia bahkan menjadi uring-uringan. Dia seperti kehilangan, dia juga merindukan adanya Dewa di dekatnya.
Setiap hari Rindu jadi tong sampahnya, tempat Zalina membuang keluh kesahnya, tapi sahabatnya tersebut selalu memberikan support positif dan meyakininya kalau pak Dewa serius dengan ucapannya, karena Pak Dewa bukan lagi laki-laki muda yang ingin bertele-tele, begitulah dari sudut pandang Rindu.
Zalina pun akhirnya meyakini dirinya, dia akan tenang dan sabar menunggu Dewa. Dia sudah mempunyai jawaban atas perasaanya, dia tidak mau gegabah, maka dia akan tenang dan sabar menunggu semuanya.
Hari ini, hari ke sepuluh Dewa tidak memberi kabar dan Zalina pun tidak lagi berkeluh kesah pada Rindu. Dia sudah mengerti kemana arah perasaannya, dan dia juga akan bersabar untuk itu semua. Tiga hari ini dia lebih ceria, tidak uring-uringan lagi, sudah bisa melakukan semua dengan fokus dan makan juga sudah bisa dinikmati dengan baik. Dia juga bekerja dengan penuh semangat, tanpa galau bolak-balik melihat ponselnya lagi.
Sepulangnya bekerja, Zalina melihat mobil asing terparkir di halaman rumah mamanya. Zalina berpikir kalau mamanya sedang ada tamu. Zalina pun masuk perlahan dan mengucapkan salam, alngkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang menjadi tamu tersebut yang sedang mengobrol dengan mama dan ayah tirinya.
"Waalaikum salam, Sayang. Alhamdulillah sudah pulang. Sini, Nak! ini Pak Dewa nungguin kamu dari tadi, jadi Mama dan Ayah temenin ngobrol dulu, kasihan kalo sendirian."
Zalina melongo tidak percaya dengan rahang yang hampir terjatuh, melihat otang yang tidak ada kabar sepuluh hari ini tengah asyik mengobrol dengan orang tuanya.
"P-pak Dewa?"
Dewa tersenyum melihat keterkejutan Zalina dengan kedatangannya, ia memang sengaja tidak memberi tahu kalau ia akan datang mengunjungi Zalina hari ini.
"Zalina, sini duduk dulu, Nak. ngapai berdiri bengong di situ," ujar Cindy.
Zalina yang mulai stabil dari rasa terkejutnya hanya bisa menelan ludah karena gugup berada antara orang tuanya dan juga keberadaan Dewa yang di dekat mereka saat ini.
"Kamu siap-siap ya, Pak Dewa mau ngajak kamu keluar katanya, barusan dia udah izin sama Mama dan Ayah."
Zalina yang menunduk langsung menegakkan kepalanya dengan mata yang melotot karena terkejut mendengar ucapan mamanya. "Apa tadi? pak Dewa izin sama orang tuaku mau ngajak aku jalan? dan mama izinin? kok percaya gitu aja, kan baru kenal?" batin Zalina bermonolog sendiri.
"Hei, kenapa menatap Mama seperti itu? buruan gih, Siap-siap! mau pergi apa gak?"
Zalina yang gugup pun menjawab dengan tidak singkron, mulutnya jawab iya tapi kepalanya ikut menggeleng bukannya mengangguk.
"Iya, Ma," ucap Zalina tapi menggelengkan kepalanya.
Zalina pun menyadari kebodohannya tersebut merasa malu, dan berlari menuju kamarnya. Dewa dan orang tuanya tertawa dan menggelengkan kepala mereka.
__ADS_1