
"Apa-apaan ini?" ucap Nema marah. "Siapa yang sudah berani melakukan ini?"
"Aku ... aku tidak tahu, Nema. Tadi aku menerima paket yang diberikan, Mbak Asih. Saat aku membukanya,ternyata isinya boneka yang sudah berdarah seperti itu." Zalina berkata dengan rasa takut dan gugup.
"Asih, siapa yang memberikan paket tersebut?" tanya Nema.
"Saya juga nggak tahu Nema, tadi saat bel depan pagar berbunyi, saya langsung menuju ke depan untuk membuka pagar, tapi saat saya buka tidak ada siapa-siapa hanya ada kotak itu," ucap Asih.
"Mama, apa CCTV kita masih aktif, Mungkin kita bisa cari tahu siapa yang mengantar paket tersebut?" tanya Cindy.
"Selalu aktif Cindy, coba kamu liat rekamannya dan Panggil Kang Asep untuk bantu kamu."
"Ya, Ma."
Cindy pun meninggalkan kamar Zalina dan pergi mengecek rekaman CCTV.
"Kamu sekarang tenang dulu, orang ini udah kelewatan ngasih terornya. Coba kamu hubungi Dewa, bilang sama dia apa yang terjadi saat ini. Sepertinya ini ada hubungannya dengan pernikahan kalian, karena dia langsung merusak gaun pernikahanmu."
"Iya, Nema," ucap Zalina.
Saat ia akan menghubungi Dewa, masuk sebuah pesan ke ponsel Zalina. Zalina langsung membukanya.
Bagaimana? apakah kado pernikahan dariku kamu suka? hahaha ... itu belum seberapa, apa kamu ingin yang lebih? aku akan memberikannya! karena aku tidak akan membiarkan kau bahagia!
Tangan Zalina gemetar membaca pesan tersebut. Nema bisa melihat kalau Zalina tidak baik-baik saja.
"Ada apa lagi?" tanya Nema.
"Ada yang mengirimkan pesan, tapi tidak tahu nomor siapa."
Nema mengambil ponsel tersebut dan mencoba menghubungi nomor itu, tapi nomor itu sudah tidak aktif.
"Nomornya sudah tidak aktif, Ya sudah sekarang kamu hubungi Dewa dan ceritakan semuanya."
Zalina pun menghubungi Dewa dan memberitahu apa yang terjadi. Dewa terkejut dan menyuruh Zalina tenang, dan dia pun bergegas menuju rumah Zalina.
Cindy memeriksa rekaman CCTV dan dia bisa melihat seseorang di luar gerbang meletakkan kotak tersebut. Orang itu tidak dapat di lihat jelas wajahnya karena menggunakan topi, kacamata, masker serta pakaian yang serba hitam dan dia juga turun dari sebuah mobil tapi mobil tersebut tidak memakai plat.
"Dia sudah merencanakan ini agar tidak terdeteksi dan diketahui orang," gumam Cindy.
Cindy pun kembali memberitahukan kabar tersebut kepada Nema. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit Dewa pun sampai di rumah Zalina dan dia langsung masuk ke dalam rumah, semuanya sudah menunggu kedatangan Dewa di ruang tamu.
__ADS_1
"Apa rumah ini memiliki CCTV-nya, Nema?" tanya Dewa.
"Ada, kebetulan Cindy sudah melihatnya, ada seseorang yang meletakkan tapi tidak bisa diketahui orang tersebut siapa? dan kendaraannya juga tanpa plat mobil," jelas Nema.
"Boleh saya melihatnya lagi, Nema?"
"Tentu, mari saya antar," ucap Nema.
Setelah Dewa melihat rekaman tersebut, Dewa juga meng-copy rekaman tersebut ke dalam flash disk, karena dia akan menyelidiki siapa orang di dalam rekaman tersebut, dan orang yang sudah berani mengirim pesan ancaman untuk Zalina.
"Sekarang tidak usah takut, Mas akan segera menyelidiki ini. Nanti Mas akan menempatkan beberapa orang di rumah ini untuk berjaga-jaga Sampai hari H, karena Mas juga tidak ingin ada kegaduhan atau kekacauan lagi yang terjadi sampai pernikahan kita nanti," ucap Dewa pada Zalina.
Zalina pun menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya, Mas. Maaf jadi merepotkan, Mas."
"Tidak, kamu tidak perlu bicara seperti itu. itu memang sudah menjadi tugas Mas."
Dewa tidak berlama-lama di rumah Zalina, dia segera pergi meninggalkan kediaman Zalina, karena dia akan pergi ke kantor Polisi untuk mengusut perkara ini. Sepanjang perjalanan Dewa berpikir siapa gerangan yang tega berbuat seperti itu?
"Apa ini semua perbuatan Dewi? tapi tidak mungkin dia Senekat itu. Dia tidak akan berani sejauh itu," gumam Dewa pelan.
Setelah sampai di kantor polisi, Dewa segera turun dan masuk ke dalam ruangannya dan dia meminta beberapa anggotanya untuk menemuinya.
Dan Saat ini dirumah sudah rame orang, beberapa kerabat sudah ada yang datang, dan beberapa sudut rumah juga di dekorasi agar lebih indah. Untuk akad nikah besok akan diadakan di rumah, karena Zalina ingin sesuatu yang begitu sakral dan kekeluargaan. Siangnya setelah akad nikah akan diadakan resepsi pernikahan di sebuah hotel berbintang.
Siang berganti malam, malam pun berganti pagi setelah salat Subuh Zalina sudah selesai mandi dan dia akan di make up karena akad nikah yang akan diadakan jam 09.00 pagi. Dua orang MUA ternama di kota Malang sudah hadir, MUA yang di booking oleh Dewa atas rekomendasi sang sahabat yaitu Rindu.
Para MUA itu begitu lincah dan terampil mendandani Zalina.
"Ya ampun, cantik banget, Mbak. Seperti barbie," ucap MUA itu setelah selesai mendandani Zalina.
"Pada dasarnya, Mbak Zalina ini udah cantik, mau diapain juga tetap cantik," ujar MUA satunya.
"Makasih, Mbak. ini berkat dari tangan Mbak yang terampil." Zalina memuji hasil makeup-nya.
**
Dewa telah selesai bersiap dia akan segera menuju kediaman Rindu. Dewa tampak gagah menggunakan pakaian pernikahan serba putih bertemakan Melayu sesuai dengan keinginan Zalina, dia ingin pernikahan ini menggunakan pakaian dengan nuansa Melayu yaitu di mana mempelai pria menggunakan songket di bagian luarnya serta peci warna putih.
Sedangkan Zalina menggunakan baju kurung dengan motif payet-payet dan pakai selendang serta jilbab pashmina yang dibentuk sedemikian rupa dan menggunakan hiasan sunting kecil di atas kepalanya sebagai pemanis. Jam di pergelangan tangan Dewa sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, dia akan berangkat di antar Rendy. Sedangkan Dewi dia akan berangkat bersamaan dengan suami dan juga anaknya Elea.
__ADS_1
"Apa sudah siap, Pak? apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Rendy.
"Iya, Ren. Ayo kita berangkat sekarang!"
Dewa dan Rendy pun segera menuju kediaman Zalina.
Rendy menyetir dengan tenang dan juga hati-hati di pertengahan jalan ketika Rendy ingin merem mobilnya, dia merasakan kalau rem mobil tersebut blong.
"Ada apa? Kenapa kamu panik?"
"Pak, Kenap tiba-tiba rem-nya blong?"
"****!!! Rem nya blong?" tanya Dewa.
"Iya, Pak."
Dewa pun menyesal tidak mengecek dulu mobil tersebut. "Siapa yang melakukan ini?" batin Dewa.
"Ambil posisi sebelah kiri, agar kita tudak mencelakai pengendara lain."
Rendy pun mengambil posisi sebelah kiri, dan berusaha menyeimbangkan laju kendaraannya. Tapi ... sialnya ada sebuah kendaraan yang tiba-tiba menyalip di depannya. Ia akhirnya membanting setir ke arah kiri menabrak tiang papan reklame yang besar. Sebuah dentuman yang kuat pun berbunyi dan membuat mereka terhempas ke depan.
Bersyukur airbag mobil pun bisa menyelamatkan mereka berdua. Seketika mobil mereka dikerumuni oleh massa, beberapa massa mengetuk-ngetuk jendela mobilnya.
"Keluar ... keluar ... keluar, ada asap ... asap!" teriak beberapa orang diluar mobil.
Rendi dan Dewa yang berusaha bangkit akibat dentuman dan juga hentakan pada kepalanya meringis kesakitan, kaca depan mobil pecah akibat benturan yang terjadi, dan serpihannya berserakan kedalam mobil. Menyebabkan luka di pelipis Rendy dan juga Dewa.
"Pak, Bapak tidak apa-apa? pelipis Bapak berdarah," ucap Rendy meringis menahan sakit pada dirinya.
"Saya nggak apa-apa, Ren. Nggak usah pikirin saya. Kamu bagaimana?"
"Saya tidak apa-apa, Pak. Sebaiknya kita keluar sekarang, mobil mengeluarkan asap."
Mereka berdua pun keluar dari mobil tersebut.
"Siapa yang berbuat seperti ini benar-benar ingin mencari mati," ucap Dewa.
"Sudah, Pak. Sebaiknya kita sekarang pergi ke klinik terdekat, karena luka di dahi Bapak cukup lebar, biar diobati terlebih dahulu."
"Iya ... baik, itu lebih bagus karena kamu juga terluka."
__ADS_1
Dewa pun mencari bantuan Siapa yang bisa mengantarkan mereka ke klinik atau rumah sakit terdekat. Setelah menemukan seseorang yang bisa bersedia mengantarkan mereka ke klinik terdekat, Mereka pun pergi ke sana.