Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab. 43 Sidang BP4R


__ADS_3

Zalina dan Dewa tiba di Malang. Saat mereka keluar dari Bandara, Rendy asisten Dewa sudah menunggunya dan mereka segera memasuki mobil. Dewa terlebih dulu mengantarkan Zalina pulang ke rumah, sampainya di rumah Zalina sudah tidak sabar ingin segera menemui Nemanya dia begitu Rindu sudah meninggalkan Nema beberapa minggu ini.


"Nema, Zalina kangen sekali sama Nema," ucap Zalina sambil memeluk Nemanya.


"Nema juga kangen sama kamu, Nak. Bagaimana kabar kamu?"


"Seperti yang Nema Lihat, Zalina baik-baik saja, Nema sehat kan? selama Zalina tidak ada?" Nema tersenyum mendengar zalina yang selalu mengkhawatirkan kesehatannya.


"Tentu saja, Nema sehat sayang, karena Nema akan selalu sehat agar Nema bisa melihat kamu menikah nanti."


Zalina tersenyum dan mukanya bersemu merah.


"Ayo masuk! Kasihan Nak Dewa sudah capek berdiri dari tadi."


Zalina dan Dewa tersenyum menanggapi ucapan Nema.


"Ayo mas, masuk," ucap Zalina.


Dewa pun masuk ke dalam rumah, bersamaan dengan Zalina dan juga Nema.


"Duduk dulu, Nak Dewa," ucap nema.


"Terima kasih, Nema."


Zalina pergi ke dapur untuk mengambil minum. beberapa saat kemudian dia kembali dengan 3 gelas minuman di atas nampan, dan menyajikannya di atas meja.


"Diminum dulu, Mas," ucap Zalina yang meletakkan gelas yang berisi es jeruk.


"Terima kasih," jawab Dewa.


"Kenapa kamu bisa pulang barengan sama Dewa? apa kamu sudah tidak sabar ingin segera menikah dengannya?" goda Nema.


Dewa tersenyum mendengar ucapan Nema tersebut.


"Nema bisa aja, Zalina pulang karena kami harus melakukan sidang BP4R terlebih dulu," ucap Zalina. "Oh iya, apa benar Nema merestui Zalina dan Mas Dewa?" tanya Zalina serius.


Nema memegang kedua tangan cucunya tersebut.


"Tentu saja, Nema merestuinya, Nak. Nema akan selalu merestui apapun yang terbaik untukmu dan menurut Nema, Dewa adalah yang terbaik untukmu."


"Terima kasih, Nema."


Setelah berbincang cukup lama, Dewa pun pamit untuk pulang dan berjanji akan kembali besok untuk menjemput Zalina. Karena mereka akan pergi untuk sidang BP4R.


Zalina pun mengantarkan Dewa ke mobilnya.


"Mas, ada yang ingin saya tanyakan sama, Mas."


"Iya, tanyakan saja. Kamu mau nanya apa? tapi, sebelum itu gimana kalau antara kita ga ada panggilan saya lagi, kesannya kayak sama orang baru kenal aja, ganti aku dan sayang gimana?"


Zalina tersipu malu mendengarnya.


"Mas, dimana-mana itu panggilan aku itu lawannya kamu bukan sayang, hehehehe,"


"Kita 'kan spesial," ucap Dewa mengerlingkan matanya.


"Dasar, Duta Duren!"


"Apaan lagi tuh?"

__ADS_1


"Hahaha, Ada deh ... Mas cari tahu aja sendiri. Ya udah sana pulang, kasian asisten Mas jamuran nungguin Mas dari tadi."


"Kamu ini, tadi kamu mau tanya apa?"


"Ekhm ... Apa mas tidak ingin mengenalkan aku pada Bu Dewi? bukankah beliau adalah adik Mas Dewa?"


Dewa menghela nafas. "Iya, nanti aku akan mengenalkan kamu sama Dewi. Tapi saat ini dia masih ada urusan di Kalimantan bersama suaminya."


"O begitu, ya udah lain kali ya, Mas."


Dewa pun mengangguk. "Mas pulang dulu ya, sampai ketemu besok." ucap Dewa sambil mengusap kepala Zalina.


"Titi DJ, ya," ucap Zalina melambaikan tangannya.


Dewa mengernyitkan keningnya kemudian tersenyum dan menggelengkan kepala.


Rendy segera melajukan mobil dan meninggalkan kediaman Zalina.


"Pak Dewa akhir-akhir ini lebih banyak cerianya, sepertinya Mbak Zalina membawa aura positif ya, Pak?"


"Apa iya, Ren?" jawab Dewa mengulum senyumnya.


Rendy pun tersenyum melihat atasannya tersebut tersenyum. Dewa mengakui, semenjak ia mengenal Zalina hidupnya lebih berwarna, gadis tersebut dengan sikapnya yang random kadang manja, kadang dewasa, kadang bijak, kadang cengeng membuat jiwa Dewa seperti tergelitik bila sudah berjumpa.


Pada malam harinya Zalina menghubungi papanya, karena sebelum dia kembali ke Malang mamanya berpesan agar dia menghubungi papanya tersebut. Papanya sudah menyesal dan malu atas apa yang sudah ia lakukan terhadap Zalina.


Papanya ingin menghubungi terlebih dahulu tapi, takut Zalina yang masih kecewa kepadanya tidak ingin berbicara. Tidak lama kemudian panggilan pun terhubung.


"Assalamu'alaikum, Pa."


"Waalaikumsalam, Zalina. Gimana kabar kamu, Nak?"


"Semua, Baik. Papa senang kamu menghubungi, Papa. Apa kamu sudah tidak marah sama papa? Maafkan papa atas semua kesalahan papa, papa menyesal, Zalina."


"Papa tidak perlu minta maaf, Zalina sudah memaafkan Papa dari awal, walau bagaimana pun, Papa tetap orang tua Zalina."


"Terima kasih, Nak. Kamu memang anak baik. semoga kamu selalu bahagia."


"Aamiin, Papa ... Apa papa merestui hubungan aku dan Mas Dewa?"


"Tentu, Papa merestuinya! Papa mengenal Dewa yang memiliki kepribadian yang baik dan bertanggung jawab. Saat dia menemui Papa dan melamar kamu, Papa sama sekali tidak ragu. papa yakin, dia bisa membahagiakanmu."


Zalina terharu mendengar ucapan papanya.


"Makasih, Pa."


Setelah panggilannya dengan papanya berakhir, Zalina merasakan perasaan yang lega dan senang. Akhirnya ia dan sang papa akur kembali sejujurnya Zalina Tidak Membenci ataupun marah kepada Papanya, Ia hanya sedikit kecewa karena papanya yang berniat menjodohkannya semata-mata hanyalah urusan bisnis. Tapi saat ini dia merasa lega karena papanya sudah mengakui kesalahannya.


Keesokan harinya Dewa datang bertepatan dengan Zalina yang akan sarapan, Nema pun mengajak Dewa masuk ke dalam rumah dan sarapan bersama.


"Ayo, Nak Dewa. Jangan sungkan! kita sarapan dulu, kebetulan ini Zalina yang memasaknya.


"Oh ya?" tanya Dewa antusias.


"Ala kadarnya, Mas. Semoga Mas bisa suka."


"Sepertinya ini tampak lezat sekali," ucap Dewa yang melihat semangkuk bubur ayam di depannya.


"Semoga," ucap zalina

__ADS_1


Mereka pun menikmati sarapan tersebut. Benar saja, Dewa benar-benar menikmati bubur ayam tersebut. Dia tidak menyangka gadis muda yang akan menjadi istrinya itu ternyata sangat lihai dalam mengolah makanan. 'Lezat' Itulah satu kata yang bisa diucapkan oleh Dewa terhadap masakan Zalina.


"Terima kasih, buburnya benar-benar lezat dan enak sekali," ucap Dewa.


Zalina tersipu malu atas pujian yang diberikan oleh dewa. Nema tersenyum melihat interaksi antara keduanya.


"Terima kasih ,Mas. Alhamdulillah kalau Mas menyukainya."


"Nak Dewa, nanti Nak Dewa tidak akan bisa makan di tempat lain, karena Nak Dewa akan ketagihan dengan masakan Zalina," ucap Nema yang membanggakan cucunya itu.


"Oh ya? sepertinya itu lebih baik dan saya akan menyukainya Nema." lagi Dewa memujinya.


Zalina bersemu merah dan Dewa melihatnya begitu menggemaskan. Setelah sarapan Zalina pun membereskan meja dan meletakkan piring kotor tersebut ke belakang. Setelah selesai Ia pun segera menemui Dewa dan mengajaknya segera pergi agar mereka tidak terlambat.


Sesampainya di kantor Kepolisian mereka menunggu beberapa waktu untuk memulai sidang BP4R. Setelah menunggu 20 menit sidang pun dimulai, 2 jam berlalu sidang pun selesai dilakukan.


"Sayang, kamu tunggu masih sebentar ya. Mas ada perlu di ruangan sebentar nanti habis itu kita akan langsung pergi."


Zalina yang mendengar panggilan Sayang dari Dewa pun bersemu merah. Zalina menganggukkan kepalanya dan dia menunggu di ruang tunggu. Lima menit duduk kemudian datang seorang OB yang mengantarkan segelas jus sirsak padanya.


"Maaf, Mbak. Ini dari dari Bapak di dalam, menyuruh saya memberikan ini kepada Mbak."


Zalina mengernyitkan keningnya dan menerima jus sirsak tersebut. Seperti dejavu dia teringat saat OB tersebut adalah OB yang sama yang juga memberikannya jus sirsak padanya dulu saat ia menemani Rayyan di kantor ini.


"Terima Kasih, Pak."


OB itu akan berbalik meninggalkannya, ia pun memanggilnya kembali.


"Maaf, Pak. Siapa yang menyuruh Bapak memberikan ini kepada saya? saya seperti mengingat kejadian dulu, kalau ga salah Bapak dulu juga pernah memberikan jus sirsak ini kepada saya?"


OB tersebut tersenyum. "Iya, saya ingat, Mbak. Yang memberikannya orang yang sama, Mbak. Beliau adalah Pak Akbar.


Zalina tersenyum mendengarkan jawaban OB tersebut."Ya sudah, Pak. Terima kasih!"


Selang 20 menit, Dewa keluar dari ruangannya dan menemui Zalina. Dewa mengajak Zalina untuk makan siang terlebih dulu.


"Mas, makasih ya jus sirsaknya. Saya seperti Dejavu, dulu juga pernah seseorang memberikan saya jus sirsak saat saya sedang berada di ruang tunggu seperti tadi, dan OB yang sama yang memberikan saya jus sirsaknya," ucap Zalina pura-pura tidak tahu.


Dewa hanya tersenyum tipis. "Iya sama-sama," jawab dewa singkat.


"Saya penasaran loh, Mas. siapa dulu yang memberikan saya jus sirsak?"


"Terus kenapa kamu nggak tanya sama OB tersebut?"


"Iya juga ya, kenapa saya nggak bertanya? tapi, saya berharap ada orang yang bakalan jujur untuk mengatakannya. Sepertinya itu terdengar lebih manis."


Zalina melirik Dewa dengan sudut matanya.


Dewa tertawa melihat Zalina. "Hahaha, kenapa? kamu sudah tahu jawabannya, tapi pura-pura tidak tahu, ya kan?"


"Aku ingin dengar langsung dari mulut, Mas."


"Iya ... iya, aku yang memberikannya. kebetulan hari itu aku sedang puasa jadi daripada mubazir aku melihat kamu yang gelisah duduk di ruang tunggu, berinisiatif untuk memberikan jus tersebut untukmu. Dan dari jauh aku bisa melihatnya kalau kamu begitu menikmatinya."


Zalina pun tersenyum mendengar penjelasan Dewa.


***


Please Like nya donk, biar Madafi makin semangat nulisnya. 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2