Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 39. Jalan-jalan 2


__ADS_3

Dewa dan Zalina sampai di Sea World, sebelum turun dari mobil Dewa menggunakan kacamata hitam dan topi. Zalina terpana sampai melihat dewa tidak berkedip.


"Jangan lupa tarik nafas," ucap dewa di telinga Zalina meninggalkan Zalina yang terbengong.


Zalina malu karena di godain oleh Dewa, dia berjalan cepat meninggalkan mendahului langkah Dewa. Dewa tersenyum melihat tingkah Zalina yang menurutnya menggemaskan.


Setelah membeli tiket masuk, mereka segera menjelajahi aquarium raksasa tersebut. Zalina sangat senang, karena ini pertama kalinya ia masuk Sea World yang ada di Jakarta.


Mereka begitu menikmati ikan-ikan yang berenang, melihat atraksi hiu dan biota laut lainnya. Karena begitu menikmati pemandangan disekitarnya, Zalina tidak menyadari kalau dia menggenggam tangan Dewa dan menariknya kesana-kemari. Dewa tersenyum penuh kemenangan serta menikmati nya, bahkan membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh Zalina.


"Wwaah ... seru kalau kesini bawa anak-anak ya, Pak? hmm ... coba ada Elea, jadi kangen Elea," ucap Zalina.


"Ya ... nanti kita kesini lagi dengan anak kita," gumam Dewa lirih.


"Bapak, bilang apa? saya gak begitu jelas dengarnya?" tanya Zalina menoleh pada Dewa. Dia pun menyadari tangannya yang menggenggam tangan Dewa, dan segera dilepaskannya. "Maaf ... Pak, saya enggak sengaja."


"Sering-sering pun juga boleh," ucap Dewa berlalu meninggalkan Zalina.


Zalina merutuki kebodohannya, bisa-bisanya dia tidak menyadari telah menggenggam tangan dewa. "Ya Allah Zalina, bikin malu aja," ucap Zalina menepuk-nepuk pelan keningnya.


Setelah puas mengitari aquarium raksasa dan dunia dibawah air, Dewa dan Zalina segera pulang. Dewa mengantarkan Zalina pulang ke rumah.


"Zalina," panggil Dewa saat Zalina akan membuka Safetybelt nya.


"Ya, Pak?"


"Terima kasih," ucap Dewa tersenyum tulus.


Zalina hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dewa segera turun mengitari mobilnya dan membukakan pintu Zalina.


"Maaf ... saya tidak bisa singgah, sampaikan salam saya pada orang tua kamu."

__ADS_1


"Baik, Pak. Hati-hati dijalan, kalau begitu saya masuk dulu."


"Silahkan, saya juga langsung pamit ya," ujar Dewa masuk mobilnya.


Dewa berlalu meninggalkan rumah Zalina dan Zalina pun segera masuk rumah serta menuju kamarnya.


"Kamu udah pulang, Nak?" tanya Cindy yang melihat Zalina menaiki tangga.


Zalina segera menoleh pada mamanya. "Oh ... iya Ma, baru nyampe juga. Kebetulan tadi pulang kerja Zalina pergi sama teman Ma,Oh iya tadi teman Zalina kirim salam untuk mama dia tidak bisa singgah karena ada keperluan lain."


"Oh seperti itu, Waalaikumsalam ... lain kali kamu bisa mengajak dia singgah," ucap mama menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu Zalina ke kamar dulu ya, Mah."


Cindy pun mengangguk dan Zalina segera berlalu menuju kamarnya. Zalina sungguh tidak sabar ingin menghubungi Rindu sahabatnya, ia begitu ingin membagikan rasa bahagia yang dirasakannya saat ini. Ketika tiba di kamar dia membuka hijab dan berbaring di atas kasur, dia mengambil handphone dan menghubungi sahabatnya Rindu, apalagi kalau bukan untuk curhat dengan Rindu. Zalina begitu tidak sabar menunggu panggilan teleponnya tersambung.


"Halo ... Assalamualaikum, Rind."


"Waalaikumsalam, Zalina."


"Wah ... wah ... ternyata ada yang lagi happy? senang Kenapa kamu?" tanya Rindu.


"Rindu, tadi Pak Akbar menemui aku, terus beliau mengungkapkan perasaannya pada ku. Dia bilang menyukaiku, Rind. kamu tahu apa yang aku rasakan? OMG Rindu ... dadaku sungguh ingin meledak mendengarnya."


"Cie ... ada yang lagi berbunga-bunga nih ye?" ledek Rindu.


"Hehehe, Kami juga jalan ke Sea World, Rind," ucap Zalina penuh senyuman.


Dia bahkan membayangkan kembali kebersamaan mereka hari ini.


"Bisa aja si tua-tua keladi. Berarti, kalian udah jadian dong. Selamat ya Zalina!"

__ADS_1


Zalina menghela nafasnya. "Nah, itu dia ... aku belum menyatakan perasaanku padanya, dia juga memberikan aku waktu untuk berfikir dulu sebelum memberikan jawaban."


"Ya Allah Zalina, kamu nolak duta duren? kalau kamu gak mau biar buat aku aja, hahahaha ... menang banyak kalau dapat si duta duren, ibarat kelapa nih ya Lin, makin tua makin berminyak."


Rindu tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air matanya.


"Ishhhh ... apa sih Rind, aku serius ini."


Rindu berusaha meredam tawanya, karena dia sudah mendengar mode serius Zalina.


"Aku hanya bisa kasih masukan secara subyektif ya Rind, secara garis besar pandangan aku aja, yaa ... semua balik lagi pada perasaan kamu, kan kamu yang ngerasain dan kamu juga yang jalanin."


Zalina diam dan sangat antusias ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Rindu.


"Kalau menurut aku pak Akbar orang yang baik, tulus dan apa adanya. Mungkin karena beliau sudah cukup umur alias sudah dewasa, jadi tidak menyukai hal yang bertele-tele. Dari segi penampilan beliau tinggi, keren, tampan, gagah, dan punya karir yang bagus. Mungkin banyak perempuan yang ingin dengannya, dan aku rasa laki-laki yang sudah cukup umur seperti itu akan lebih perhatian dan lebih memanjakan pasangannya, bisa jadi lebih protektif dan posesif juga nantinya karena takut pasangannya yang lebih muda diambil atau berpaling pada yang lain.


"Masalah di antara kalian kali ini hanya di umur, jarak umur yang tidak sedikit, mungkin pak Akbar harus bisa mengimbangi cara berpikir kamu yang belum tentu sama dengan cara berpikirnya Pak Akbar begitu juga sebaliknya, Sekarang gini deh ... aku mau nanya sama kamu, kamu gimana dengan Pak Akbar, suka nggak? Lagian kalau kamu suka sama dia nggak ada yang salah sih kan kita nggak tahu perasaan dan rasa cinta itu, kemana akan bermuara dan berlabuhnya di mana? mungkin saja benar Pak Akbar adalah Jodoh kamu," ujar Rindu panjang lebar.


Zalina yang mendengarkan semua perkataan Rindu menggigit bibirnya, bertanya pada dirinya sendiri. Apa benar dia juga menyukai pak Akbar? Zalina takut mengenali perasaannya, dan akhirnya menyesal.


"Aku tahu, kamu itu sekarang bingung dengan perasaanmu saat ini. Pak Akbar benar, dia memberikan kamu waktu untuk menyadari perasaan kamu dengan membiarkan kamu mengetahui perasaannya, kamu tunggu aja agak beberapa hari ini, kamu akan menyadari sendiri sebenarnya seperti apa perasaanmu terhadap Pak Akbar, apapun keputusan kamu nanti kamu tidak perlu khawatir, Lin. Aku ... Rindu, sahabat kamu akan selalu mendukung semua keputusanmu."


Zalina yang mendengar ucapan rindu tersenyum dan terharu.


"Huuaaa ... So Sweet, makasih ya Rin ... kamu selalu ada buat aku, aku jadi pengen peluk kamu."


"iya dong, aku nih sahabat terbaik stok terakhir, Gak ada lagi sahabat seperti aku ini coba aja kamu cari kalau nggak percaya, hehehe."


Zalina dan Rindu pun kompak tertawa bersama.


"Tapi aku penasaran, kasih bocoran dikit deh, kamu suka gak sama Pak Akbar?"

__ADS_1


Rindu berusaha mengorek perasaan Zalina.


"Hmmm ... kasih tau ga ya? ada deh ... hahaha." Zalina semakin membuat Rindu penasaran.


__ADS_2