Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 25 Bekerja Sama


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, sepuluh hari sudah Zalina melalui harinya dengan mengikuti ujian tengah semester, sembari bekerja dan juga belajar. semua harus dilakukannya karena ia harus bertanggung jawab dengan keputusan yang ia ambil.


Zalina ingin kuliah profesinya ini selesai dan wisuda tepat waktu. karena ia tak ingin membuang-buang hari, jam yang ia miliki. Dan sudah sepuluh hari juga ia tidak ada bertemu dengan Dewa serta Elea, bahkan dengan sahabatnya Rindu pun tidak sempat bertemu, hanya say hello lewat Hp.


Dilain tempat, Dewa sedang melakukan perjalanan dinas keluar kota. Selain menyelesaikan urusan dinasnya, Dewa juga bertemu dengan sahabat lamanya yang kini juga sudah sukses menjadi pengusaha.


"Sampai kapan kamu seperti ini, Wa? Lihatlah! Kita sudah tak muda lagi, tahun depan umur mu ataupun aku sudah kepala empat. Hanum sudah tenang disana, Move on bro, move on ...." Sahabat Dewa yang bernama Akhsan bertanya pada Dewa.


"Huffffttt ... mimpi buruk itu selalu menghantuiku, yang semakin membuat rasa bersalah itu terus ada," ucap Dewa yang menyandarkan kepalanya ke sofa sambil menerawang langit-langit ruangan.


"Bukalah hatimu! cari pengganti Hanum, agar kamu bisa melupakan mimpi itu. Seorang Dewa yang semasa sekolah, kuliahnya dulu diperebutkan para gadis, bahkan hingga sekarang, tidak mungkin kesulitan mencari satu orang perempuan, atau kamu mau aku bantu mencarikan pasangan untukmu," ucap Akhsan menaik turunkan alisnya.


Dewa yang mendengar celotehan sahabatnya tersebut hanya diam saja, sekelebat bayangan Zalina muncul di benaknya. Senyum tipis hampir tidak terlihat pun menghiasi bibir Dewa. "Ck, Sudahlah! aku malas membahas ini, aku kesini untuk membahas pekerjaan, bukan membahas pasangan," jawab Dewa ketus.


Akhsan yang mendengar Dewa sudah mulai kesal hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dewa dan Akhsan melanjutkan obrolan mereka mengenai pekerjaan.


*


*


Beberapa bulan berlalu, tepatnya ini adalah bulan ke 10 dalam perkuliahan Zalina. Begitu banyak kesibukkan yang dilalui oleh Zalina, Zalina harus membagi waktunya antara kerja, kuliah dan mengurusi toko Nema. Bahkan saat ini, Toko tersebut akan membuka cabang di tempat lain. semua berkat kegigihan Zalina setiap harinya, gadis muda itu begitu tangguh dan cekatan, tidak mau membuang sedikitpun waktu yang dimilikinya.


Hari ini, Zalina dan Nema berencana akan bertemu langsung dengan pemilik kebun Apel di Malang. Kalau selama ini, makanan dan minuman berbahan dasar Apel dipasok dari luar, dalam bentuk yang sudah jadi, untuk selanjutnya mereka berencana akan memproduksi sendiri olahan Apel tersebut.


Zalina dan Nema berangkat ke Surabaya untuk membicarakan kontrak kerja dengan sang pemilik kebun Apel yang ada di Malang. Dari kabar yang Zalina dapat, lebih setengah kebun Apel yang berada di Malang adalah milik orang yang akan bertemu dengannya nanti. Semua rencana ini tentunya di bantu oleh papa Zalina yang notabenenya adalah seorang pengusaha. Zalina minta tolong papanya agar dia bisa bertemu dengan pemilik kebun tersebut. Papa Zalina sudah menawarkan bantuan modal dan lainnya, bahkan bantuan membuka perusahaan kecil-kecilan untuk Zalina kelola, tapi Zalina menolak semuanya. Karena ia ingin memulai ataupun melakukan sesuatu dengan usaha sendiri.


Dengan petunjuk dan bantuan Papanya, Zalina dan Nema sampai di sebuah restoran tempat mereka membuat janji dengan pemilik kebun Apel tersebut. Mungkin mereka yang datang lebih cepat, karena baru mereka berdua yang ada di dalam ruangan VIP tersebut.


"Orang ini apa enggak capek ya, punya kebun di Malang, eh tinggalnya malah di Surabaya," ucap Nema.


"Mungkin ada orang kepercayaannya Nema, sehingga dia Enggak perlu bolak-balik Surabaya-Malang," ucap Zalina


Sepuluh menit berlalu, seseorang mengetuk pintu. dan membukanya. Zalina pun menoleh kearah pintu yang terbuka.


"Loh, bukankah dia Rendy asistennya pak Dewa?" tanya Zalina di dalam hatinya.

__ADS_1


Rendy pun sedikit terkejut saat melihat Zalina yang terdapat dalam ruangan tersebut, selang beberapa saat seseorang pun masuk. Zalina pun tak kalah terkejut melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan tersebut yang tak lain adalah Dewa. Begitupun dengan Dewa yang sama terkejutnya dengan Zalina.


"Pak Dewa, Anda-?" Zalina langsung berdiri saat Dewa sudah berdiri di depannya.


Sama seperti Zalina yang terkejut dengan kehadiran Dewa, Nema bahkan tidak menyangka kalau orang yang akan mereka temui adalah salah satu orang penting di kota Malang.


"Silahkan duduk, apa kabar Zalina?" tanya Dewa sembari menjabat tangan Zalina.


"Baik Pak." Menerima uluran tangan Dewa.


"Dan ini-" Dewa menanyakan Nema yang duduk disamping Zalina.


"Oh ya Pak, ini nenek saya, saya memanggilnya Nema," terang Zalina.


"Salam kenal bu, kenalkan saya Dewa," ucap Dewa mencium tangan Nema Zalina.


Zalina dan Nema kaget melihat Dewa menciun tangan Nema, tidak menyangka orang dengan kedudukan tinggi dikenal masyarakat tapi masih mau menciun tangan dan membungkukkan badannya pada orang tua yang kedudukannya rakyat biasa.


"Ss-saya Ratih Pak Dewa," jawab Nema dengan sopan.


"Panggil saya Dewa saja, Bu."


"Tidak apa-apa bu, saya tidak sedang bertugas kedinasan, ini dalam urusan pribadi saya, saya sama seperti ibu dan Zalina," ucap Dewa.


"Oh, Baiklah," ucap Nema yang sudah tidak terlalu tegang lagi.


Zalina senang melihat Dewa memperlakukan Nema seperti itu. Dia pun tidak menyangka seseorang yang hebat dengan kedudukan dan jabatan tinggi bisa sangat low profile.


"Baik, agar tidak banyak membuang waktu kita mungkin bisa memulai niat awal kita berkumpul disini. pak Marcel sudah memberi tahu saya tentang keinginan Zalina untuk bekerja sama, sebaiknya Zalina bisa membaca terlebih dulu beberapa point penting dalam bekerja sama sebelum menanda tanganinya, kalau setuju kita bisa melanjutkan kerja sama ini," terang Dewa terhadap Zalina dan Nema yang duduk di depannya.


Dewa pun meminta Rendy menyerahkan berkas yang harus dipelajari oleh Zalina. Rendy menyerahkan sebuah map yang di dalamnya terdapat beberapa kertas yang harus di baca terlebih dahulu sebelum ditanda tangani. Zalina dan Nema membaca dengan seksama isi dari berkas tersebut.


Zalina begitu seksama mempelajari berkas di depannya, sedangkan Dewa begitu seksama menatap Zalina yang di depannya, beberapa bulan tidak bersua, entah kenapa saat ini hatinya merasa lega dan rongga dadanya seperti baru terisi oksigen. Dewa terus memandang Zalina yang fokus membaca, dia melihat Zalina yang lebih anggun, lebih berkelas dalam berbicara, dan tentunya lebih cantik juga.


Setelah membacanya, Zalina menoleh pada Nema yang menganggukkan kepalanya, hal tersebut menunjukkan bahwa Nema setuju dengan isi berkasnya. Akhirnya Zalina pun menanda tangani berkas tersebut.

__ADS_1


"Baik, Karena Bu Ratih dan Zalina sudah menanda tangani berkas ini, itu berarti mulai saat ini kita sah bekerja sama. Sebelum kita pulang alangkah baiknya kita menikmati makanan yang sudah tersedia ini, tidak baik bukan, kalau kita meninggalkannya tanpa menyentuh dan memakannya?" tanya Dewa.


Zalina dan Nema yang saling tersenyum menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Pak. Mari kita makan!" seru Zalina.


Mereka pun menikmati makanannya dengan sesekali melempar pertanyaan.


"Bagaimana Kabar Elea, Pak?" tanya Zalina.


"Dewi dan Elea pindah ke Kalimantan ikut papa Elea, kurang lebih sudah enam atau tujuh bulan juga."


Zalina hanya menganggukkan kepalanya.


"O ya, apa kamu ada hubungan dengan pak Marcel? sepertinya beliau kenal dengan dengan kamu dan Bu Ratih," tanya Dewa.


"Beliau papa kandung saya Pak, hanya saja kami tidak tinggal bersama, karena saya memilih tinggal bersama Nema."


"Oh ... pantas, darah bisnis kamu sudah mengalir dari papa kamu."


"Mungkin yang bapak katakan ada benarnya, tapi ada seseorang yang membuat saya begitu bersemangat ikut mempelajari bisnis ini, walau belum sebesar papa saya, yaitu Nema saya. beliau wanita hebat, di umurnya yang tidak lagi muda bisa mengajari saya seperti ini, beliau jauh lebih hebat dari saya," tukas Zalina yang memuji Nemanya.


Nema hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya tidak percaya, kalau sang cucu begitu menyanjungnya. "Zalina terlalu berlebihan bicaranya Nak Dewa, kesuksesan yang di raihnya tentu karena kecerdasan dan ketekunan yang dilakukannya, saya ini hanya membimbingnya sedikit saja," ungkap Nema sambil menyentuh punggung tangan sang cucu kesayangan.


Dewa dan Zalina hanya tersenyum mendengar penuturan Nema yang begitu lembut dan bijak dalam berkata, menunjukkan sikap rendah hatinya.


"Nak Dewa, Terimakasih sudah memberi kesempatan kepada kami untuk bisa bekerjasama dengan Nak Dewa. Saya yakin banyak yang menginginkan bisa mengambil alih hasil panen Apel langsung dari kebun Nak Dewa, Alhamdulillah ternyata Allah menggerakkan hati Nak Dewa agar menerima kami." Nema berkata karena masih tidak menyangka dia bisa mendampingi cucunya untuk bekerja sama dengan salah satu orang terkenal di Malang.


"Sama-sama Bu, semoga kerja sama ini membawa manfaat yang baik untuk kita dan orang lain juga," jawab Dewa. "Baik, kalau begitu mungkin sampai di sini pertemuan kita kali ini. Kalau ada hal yang perlu ditanyakan, bisa lewat asisten saya Rendy atau mau langsung dengan saya juga boleh. Maaf Bu Ratih, Zalina, saya duluan karena ada keperluan yang lain setelah ini."


"Oh, Silahkan Pak!"


Setelah bersalaman, Dewa pun meninggalkan ruangan tersebut dengan asistennya Rendy.


"Ternyata orangnya humble ya, Nak."


"Ya Nema, bahkan karena sikap beliau seperti itu Zalina enggak percaya dulu kalau beliau seorang Kapolda yang bahkan juga seorang Jenderal."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu ayok kita pulang," ucap Nema.


Zalina dan Nema segera meninggalkan restoran tersebut. Mereka menuju kediaman papa Zalina terlebih dulu sebelum pulang ke Malang.


__ADS_2