
"Sayang, Fokus nyetir dulu bisa enggak? aku gak suka lihat kamu sambil nyetir tapi masih sibuk dengan Hp."
"Ya Hanum ku sayang, ini aku lagi balas pesan penting mengenai pekerjaan. Satu ini aja kok, habis ini Hpnya aku non aktifkan."
"Mas Dewa ... awas!!!"
"Aaaaaarrrggghhh!!!"
'Braaaaakkkk....'
*
*
"Hosh ... hosh ..., Astaghfirullahal'azim." Dewa tersentak dari tidurnya sembari mengusap kasar mukanya dan nafas yang memburu. Dia memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Dewa kemudian berjalan menuju meja nakas disamping tempat tidur, mengambil segelas air putih dan kemudian meneguknya hingga tandas.
Dewa kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah selesai mandi, Dewa melaksanakan sholat Maghrib. Kemudian, Dewa turun untuk makan malam.
"Kenapa sepi sekali, Bi? Dewi dan Elea mana?"
"Nyonya Dewi dan non Elea tadi pergi keluar Tuan, Nyonya titip pesan agar Tuan Dewa makan saja duluan, tidak perlu menunggu mereka datang," ujar Bi Wati yang merupakan pelayan di rumah Dewa.
Dewa pun menikmati makan malamnya sendirian. selesai makan Dewa menuju ruang kerjanya. Selang beberapa menit, Dewi dan sang anak tiba dirumah.
"Mas Dewa udah makan malam belum, Bi?"
"Sudah Nyonya."
"Sekarang mas Dewa ada dimana?"
"Beliau ada di ruang kerja Nya."
Dewi pun menuju ruang kerja Dewa, sebelum itu dia pun mengantarkan Elea ke kamarnya.
Tok ... tok ... tok....
"Mas, Aku masuk ya," ucap Dewi.
Dewi masuk ke dalam ruang kerja dewa. Dia melihat Dewa yang bersandar ke kursi kerjanya dengan menengadahkan kepala dan memejamkan matanya.
"Mas, kamu nampak lelah sekali, ini aku bawakan kopi mas." ucap Dewi yang meletakkan kopi di meja kerja Dewa.
Dewa membuka matanya dan membenahi posisi duduknya menjadi tegak. "Mana Elea, Wi?" tanya Dewa. Menurut Dewa, hanya Elea obat mujarab untuk semua lelah dan masalahnya. Mendengar celotehannya membuat Dewa melupakan sejenak masalah yang dihadapinya.
"Sudah aku antar ke kamarnya Mas, sepertinya sudah tidur, karena tadi dia mengantuk," ucap Dewi. "Kamu kenapa Mas? kelihatan lelah sekali."
"Enggak apa-apa, hanya memikirkan sedikit pekerjaan saja," jawab Dewa.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu seperti ini, Mas? belum puas jugakah kamu menghukum dirimu sendiri?" ujar Dewi.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, kalo kamu mau berdebat silahkan keluar. Aku sedang ingin sendiri saat ini."
"Mas, please...! Hanum sudah tenang di sana. Dia pun tidak akan suka melihatmu menghukum dirimu sendiri seperti ini. Kamu terlihat tegar tanpa masalah jika di luar rumah. Tapi, akan rapuh jika dalam keadaan sendiri. Sampai kapan Mas? kapan? bukalah hatimu Mas, terimalah Maura agar dia bisa mengisi kekosongan hatimu." Dewi berkata dengan nada memohon.
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah mengurusi hidupku. Keluarlah! aku sedang ingin sendiri," ujar Dewa.
Dewi kesal melihat sang kakak yang tidak pernah mendengarkan perkataannya, diapun berlalu meninggalkan dewa di ruang kerjanya.
Delapan tahun berlalu bukanlah waktu yang sedikit untuk menanggung rasa bersalah dalam diri seorang Dewa. Dewa seperti menghukum dirinya sendiri, dengan menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya dan Hanum di masa lampau adalah kesalahannya.
*
*
Flashback Of
"Saya terima nikah dan kawinnya Hanum Rumaysha binti Pradipto Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar Dua ratus ribu lima belas rupiah dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi? sah?"
"SAH"
"SAH"
Dewa mengenal Hanum yang merupakan teman adiknya Dewi semasa kuliah di Jakarta. Dari perkenalan yang awalnya hanya sebatas kenal biasa, sering bertemu dan bertegur sapa ternyata menimbulkan benih-benih cinta di hati keduanya.
Mereka berdua sepakat menjalani hubungan dengan serius dan berencana untuk menikah selepas Dewa menyelesaikan pendidikan perwiranya. Begitu pula dengan Hanum yang ingin menggunakan ijazah kuliah yang sudah ia dapat dengan bekerja, agar ketika menikah nanti dia bisa fokus mengurus keluarga. Hanum dan Dewa memutuskan menikah setelah tiga tahun saling mengenal dan berpacaran.
Acara resepsi berlangsung begitu meriah, Dewa yang merupakan Anak sulung dan laki-laki satu-satunya putra dari Seorang Jenderal bintang satu, sedangkan Hanum anak bungsu dan perempuan satu-satunya putri dari pengusaha ternama di Surabaya. Pesta yang di adakan di hotel mewah dengan tamu undangan dari berbagai kolega dari keluarga masing-masing memenuhi ballroom hotel tersebut.
"Sayang, apa kamu lelah? bagaimana kalau kita istirahat duluan saja ke kamar?" tanya Dewa.
"Sedikit, kita tunggu saja sebentar lagi karena tamu undangan juga sudah mulai berkurang."
Tepat jam 23.00 wib, Dewa dan Hanum meninggalkan ballroom hotel. Mereka segera menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua.
"Sayang, Kamu duluan aja bersih-bersihnya, aku mau melepaskan ini dulu," ucap Hanum yang duduk di depan meja rias, dan mulai melepaskan satu persatu perhiasan dan menghapus make up nya. Sedangkan Dewa segera masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya yang terasa lengket dan gerah.
Selesai mandi, Dewa sudah keluar dengan piyama tidurnya, dan melihat Hanum yang kesusahan membuka resleting belakang pada gaunnya.
"Kenapa tidak minta tolong kalau merasa susah, huh?" ucap dewa yang sudah berdiri dibelakang tubuh Hanum dan menurunkan Resleting gaun sang istri.
Serrr, darah Hanum dipompa kuat, jantung berdetak tidak karuan, kulitnya meremang dari ujung kaki sampai ujung kepala.
'Srrreeeeeekk....'
__ADS_1
Resleting gaun tersebut berhasil diturunkan oleh dewa. Hanum yang sadar dengan cepat memegang gaun bagian depannya, menahannya agar tidak jatuh.
"Huh, Mas .... " Hanum berkata lirih menahan rasa geli.
Dewa menciumi pundak putih bersih milik pujaan hati yang sudah menjadi istrinya tersebut. menyentuhnya, membelai dari atas hingga turun ke pinggang. Kemudian Dewa memeluk Hanum dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Mandilah dulu, kemudian kita istirahat. Aku ingin malam ini kita istirahat dulu, karena aku tahu kamu pun lelah seharian ini. Lagian, aku ingin malam pertama kita kita lakukan saat honeymoon. besok pagi setelah sarapan kita akan berangkat untuk honeymoon," ucap dewa sembari mencium ceruk leher Hanum.
Hanum tidak sanggup berkata-kata, dia hanya menganggukkan kepala, melepaskan pelukan tangan Dewa, dan segera berlalu ke kamar mandi. Mukanya terasa panas menahan malu, sungguh ia pun merasa malu sekedar membuka gaun di depan Dewa, sehingga dengan baju gantinya pun dibawa masuk dalam kamar mandi.
Lima Belas menit berlalu, Hanum keluar kamar mandi dengan memakai piyama couple dengan dewa. Hanum segera mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, agar ia bisa segera beristirahat.
"Sini, aku bantu," ucap Dewa yang mengambil hairdryer dari tangan Hanum.
Hanum dengan senang hati memberikan hairdryer tersebut, dia merasa senang dan dimanja oleh sang suami. Setelah selesai, mereka berbaring di atas kasur.
"Kemarilah!" pinta Dewa menyuruh Hanum mendekat dengan meletakkan kepalanya di lengan sang suami.
Hanum merapatkan tubuhnya pada tubuh Dewa, memeluk tubuh suaminya tersebut.
"Tidurlah! agar besok badan terasa lebih fit." Dewa berkata sembari mencium kepala istrinya.
"I love you Mas"
"I love you too"
Keesokan paginya Hanum dan Dewa segera sarapan di Restoran hotel, dan bergegas menuju Bandara.
"Sayang, Fokus nyetir dulu bisa enggak? aku gak suka lihat kamu sambil nyetir tapi masih sibuk dengan Hp."
"Ya Hanum ku sayang, ini aku lagi balas pesan penting mengenai pekerjaan. Satu ini aja kok, habis ini Hpnya aku non aktifkan."
"Dewa ... awas!!!"
"Aaaaaarrrggghhh!!!"
'Braaaaakkkk....'
*
*
Dewa membuka matanya dan memijit pelipisnya. Mimpi buruk itu selalu saja hadir ketika Dewa menutup matanya. Entah mengapa, walaupun sudah Delapan Tahun berlalu ia tetap memimpikan kejadian naas tersebut.
Dewa menatap jam di pergelangan tangannya, kemudian dia pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dewa membuka pintu kamar Elea dan melihat Elea yang sudah tertidur pulas.
"Good night Baby...." Dewa berkata dengan mencium kening Elea. Dewa pun keluar kamar Elea dan menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1