
Saat ini Zalina dan juga Dewa sedang menuju kediaman Nema. Mereka ingin mengambil beberapa barang yang akan mereka bawa ke tempat tinggal baru, sekaligus ingin berpamitan kepada keluarga mereka yang di sana.
"Mas apa Jumlah ART tersebut tidak terlalu berlebihan, Mas? lagian Zalina bisa kok Mas mengerjakannya sendiri."
"No, kamu tidak perlu mengerjakan yang lain. Kamu cukup melayani Mas saja."
Zalina memutar bola matanya malas. "Tapi Zalina akan merasa bosan Mas kalau tidak melakukan pekerjaan apapapun.
"Siapa bilang kamu tidak melakukan pekerjaan apapun, kamu itu bakalan capek setiap harinya."
Zalina mengernyitkan keningnya. "Maksud Mas?"
"Iya, karena setiap hari Mas akan mengajak kamu olahraga di kasur baru kita."
Zalina pun menelan ludahnya dengan berat.
"Dasar Omes!!!"
"Hahaha ...." Dewa pun tertawa kemudian ia menggenggam sebelah tangan Zalina dan mengecupnya. "Mas hanya tidak ingin kamu capek, Sayang. Kamu boleh mengerjakan apapun yang kamu inginkan, tapi tidak berlebihan karena Mas sudah menggaji mereka semua untuk membantu kamu di rumah."
"Benarkah?"
Dewa mengangguk 'kan kepalanya.
"Kalau aku kembali mengurus toko boleh nggak? soalnya Rindu mulai kewalahan untuk memanage 2 toko dan satu toko yang akan buka cabang kembali, Mas."
"Tentu saja boleh, kalau semua itu membuat kamu merasa nyaman melakukannya. Ingat kamu melakukan itu bukan untuk bekerja tetapi Mengisi waktu luangmu karena sekarang kamu sudah-"
"Menjadi seorang istri," potong Zalina.
"Itu pintar, hahaha." ucap Dewa tertawa.
"Istrinya siapa?" pancing Dewa.
"Istrinya Jenderal nih! jangan macam-macam," ucap Zalina.
Dewa geleng-geleng kepala mendengar ucapan istrinya. Tidak terasa mereka pun sampai di rumah Nema saat sore hari menjelang magrib, beberapa keluarga sedang menikmati teh sorenya di ruang tamu.
"Assalamualaikum," ucap Dewa dan Zalina bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
"Ayo sini masuk, gimana tadi, jadi lihat rumahnya?" tanya Nema. "Jadi pindah hari ini?" tanya Nema lagi.
Zalina pun menatap Dewa, belum jadi Dewa berucap Hafizah adik tiri Zalina berbicara terlebih dulu.
"Kak, pindahnya besok aja dong, malam ini tidur di sini aja lagi. Karena besok pagi kami semua mau pulang ke Jakarta, sedangkan tadi Om Marcel udah balik duluan ke Surabaya, jadi sepi deh."
Zalina yang tidak tega dengan permintaan adiknya tersebut menoleh pada Dewa.
Dewa mengerti maksud tatapan Zalina tersebut. "Iya, kami pindahnya nggak jadi sore ini, kami pindah besok. Jadi malam ini kita akan tidur di sini lagi," ucap Dewa.
"Yeeeyy, makasih Kak, Om- ups," ucap Hafizah yang seperti salah memanggil sebutan untuk Dewa. "Hehehe ... Maaf, Hafizhah bingung dan belum terbiasa untuk manggil dengan sebutan lain," ucap Hafizah merasa malu.
"Nggak apa-apa, terserah Hafizah mau manggil saya Mas, kakak atau Om. Karena semua baik untuk didengar, asal tidak memanggil dengan sebutan nama itu baru tidak baik."
Zalina pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dewa. Ia mengerti kalau adiknya tersebut merasa sungkan, karena Dewa yang tidak jauh berbeda usianya dengan sang mama.
"Tante Anggia udah pulang juga ya,Ma?" tanya Zalina pada mamanya.
"Iya, kebetulan Om kamu dan kakakmu ada tugas yang harus diselesaikan cepat, jadi tadi selepas shalat zhuhur mereka langsung balik. Mereka titip salam pada kalian karena tidak bisa menunggu kepulangan kalian, dan tidak bisa berpamitan langsung kepada kalian berdua."
"Waalaikumsalam," jawab Zalina dan diangguki kepala oleh Dewa.
"Dewa ... Zalina, nanti kalau ada kesempatan berlibur, Mainlah ke Jakarta. Kemarin kamu ke Jakarta belum sempat menginap di rumah kami, sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami jadi kami akan menunggu kedatangan kalian untuk berlibur dan menginap di tempat kami," ucap Ayah tiri Zalina.
"Tentu, Pak. Saya akan membawa Zalina untuk liburan di Jakarta. Semoga akan ada waktu yang pas nantinya."
Malam itu mereka benar-benar habiskan untuk saling berbagi cerita dan tertawa bersama, hingga hampir larut malam mereka semua memasuki kamarnya, Zalina juga membereskan barang-barang yang akan ia bawa seperlunya ke tempat tinggalnya yang baru.
"Tidak perlu banyak-banyak, Sayang. Bukankah semuanya sudah ada di rumah kita?"
"Iya, Mas. Ini aku hanya membawa barang-barang seperlunya saja."
"Kalau begitu ayo sini," ajak Dewa sambil menepuk kasur di sampingnya.
Zalina yang sudah selesai membereskan barang yang akan dibawanya menyusul Dewa ke atas tempat tidur.
"Kamu pasti capek banget, sini Mas pijitin." ujar Dewa yang duduk bersila dan mulai memijit kaki Zalina.
"Tidak perlu, Mas. Mas tidak perlu seperti ini?"
"Kenapa tidak, memang ada larangannya?"
__ADS_1
"Tapi aku yang tidak enak, masak Mas mijitin aku."
"Loh, 'kan Mas yang mau. Lagian siapa yang larang suami mijitin iistrinya? Kamu pasti capek banget hari ini."
"Ini nggak modus 'kan?" tanya Zalina memicingkan matanya.
"Mas baik tapi dituduhnya modus, nasibb ... nasib."
"Aku khawatir aja, Mas. Kalau endingnya berakhir lain."
"Hahaha, Emang kamu mikir endingnya apa?"
"Mas 'kan Omes, dikit-dikit arahnya ke sana."
"Nah 'kan ketahuan sekarang yang Omes siapa?"
Zalina mencebikkan bibirnya meledek sang suami.
"Sudah Mas, sekarang gantian biar aku yang pijitin Mas."
"Tidak perlu, ayo sini!" seru Dewa menarik Zalina ke dalam pelukannya dan membaringkan tubuh mereka. "Mas tidak perlu pijitan kamu, Mas ingin memeluk tubuhmu dan mencium aroma rambutmu, karena itu jauh lebih merilekskan pikiran Mas dan tubuh Mas."
Zalina tersenyum mendengar penuturan suaminya, dan dia semakin mengeratkan pelukan pada tubuh suaminya.
"Mas, aku kangen Elea, rasanya udah lama banget nggak jumpa sama gadis kecil itu."
"Hhhh, Mas juga kangen sama dia. Tapi mau bagaimana lagi saat ini ia sedang berada di tempat neneknya di Kalimantan."
"Sayang sekali dia gak diajak datang ke sini sama Bu Dewi, aku yakin dia pasti terkejut saat tahu yang menjadi istri Mas adalah aku."
"Lebih tepatnya bukan terkejut, tapi pasti sangat bahagia. Kamu tahu dulu dia pernah mengatakan sama Mas kalau dia menyukai kamu yang begitu cantik dan baik. Dia bilang kalau nanti besar dia ingin menjadi seperti kakak cantik."
Zalina tertawa mendengar penuturan suaminya.
"Begitulah anak kecil Mas, masih polos dan lugu."
"Tapi perkataan anak kecil itu jujur loh, murni dari hati karena ia akan mengatakan apapun yang ada di pikirannya dan apa yang dilihatnya," ucap Dewa. "Menurut Mas, Elea benar kalau istri Mas ini adalah perempuan cantik, baik, mandiri dan tulus. Pokoknya banyak deh yang lainnya, makanya dunia Mas teralihkan oleh kehadiran kamu."
"Dasar gombal!" seru Zalina.
Mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1