
Setelah membereskan barang-barang Dewa, Zaalina dan Dewa pun segera menuju rumah Zalina.
20 menit berlalu, mereka tiba di kediaman Zalina. Di sana keluarga serta sanak saudara Zalina masih berkumpul.
Dewa dengan gagahnya menggenggam tangan Zalina masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Dewa dan Zalina bersamaan pada semua keluarga yang sedang duduk di ruang tamu.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak, Nema terlebih dulu menghampiri mereka berdua dan memeluk Zalina.
"Cie ... pengantin baru, lama bener tidurnya baru bangun dan keluar hotel jam segini," ledek Rayyan.
Zalina sungguh malu dibuatnya, mukanya pun memerah.
"Apaan sih, Kak. Aku dan Mas Dewa dari rumahnya Kok, orang keluar hotelnya udah dari tadi, wee...." ucap Zalina menjulurkan lidahnya.
"Kamu ini suka sekali meledek adikmu," ucap nema.
"Ayo silakan duduk dulu, Nak Dewa," ucap nema mempersilakan Deewa dan Zalina.
Dewa pun duduk bergabung dengan keluarga Zalina.
"Apa kalian sudah makan?"
"Sudah Nema, tadi sebelum ke sini kami makan terlebih dalu," jawab Dewa.
"Kalian pergi honeymoon kemana? Tante akan memberikan kado tiket pesawat dan hotel untuk kalian berdua," ucap Anggia yang merupakan mama Rayyan.
"Terima kasih, Tante. Tapi kami berdua sudah memutuskan untuk sementara ini kami tidak pergi honeymoon karena ada beberapa urusan yang harus dikelarkan oleh Mas dewa terlebih dulu dan kami juga ingin beberes di tempat tinggal yang baru," ujar Zalina.
"Tempat tinggal yang baru?" tanya Nema.
"Iya, Nema. Rencananya saya akan membawa Zalina ke rumah kami yang baru, kalau Nema dan keluarga lain mengizinkan, saya akan segera memboyong Zalina untuk tinggal di rumah kami yang baru."
Nema hanya bisa menghela nafasnya. Iya menyadari kalau suatu hari seperti hari ini akan tiba. Hari dimana dia akan melepaskan Zalina.
"Tentu saja kami mengizinkan, karena sudah sepatutnya di mana Nak dewa berada, Zalina pun harus berada di sana," ucap Nema.
"Terima kasih, Nema," ucap Dewa dan Zalina bersamaan. Zalina pun dengan manjanya memeluk Nema dengan erat. Ia tahu kalau saat ini Nema merasa sedih karena akan berpisah dengan dirinya, sama halnya dengan yang dirasakan Nema, Zalina pun merasa sedih untuk berpisah tinggal dengan Nema.
"Jadi, kapan rencana kalian akan tinggal di sana?"
__ADS_1
"Insyaallah besok, Nema. Untuk malam ini kami akan menginap di sini terlebih dulu," ucap Zalina.
"Baiklah, kalau begitu malam ini kita akan mengadakan makan malam bersama. Selagi seluruh keluarga kita masih berada di sini," ucap Nema.
Zalina pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kita bakar-bakar?" ucap Rayyan.
"Setuju!" seru Hafizah dan Zalina bersamaan. Mereka semua pun tersenyum.
Pada malam hari, mereka semua mengadakan bakar-bakar bersama. Zalina turut mengundang Rindu, Dewa pun mengundang Rendy asistennya.
"Cie .... pengantin baru," goda rindu yang barusan nyampe di rumah Zalina. Dia segera menghampiri Zalina yang tampak sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk dibakar.
"Dasar, kamu pasti 'kan yang punya kerjaan nukar isi koper aku?" tanya Zalina dengan menyipitkan matanya.
"Hahaha ... gimana? berjalan lancar 'kan?" tanya Rindu sambil menaik turunkan alisnya.
"Ada deh."
"Nggak asik ah ... Cerita dong! Enak nggak?" tanya Rindu yang masih penasaran.
"Dasar, awas kamu ya," teriak Rindu.
Rindu melihat sekelilingnya dan menatap Rendy yang berdiri di samping Dewa yang sedang membakar Arang.
"Eeh ... itu manusia dingin hadir juga? tumben bisa hadir acara ginian, biasanya kalau nggak penting-penting amat pasti nggak bisa hadir, karena nempel mulu sama si ulat bulu," gumam Zalina lirih.
Rendy yang merasa diperhatikan pun menatap ke arah Rindu, seketika tatapan mereka pun terkunci.
"Ayo, ngapain tatap-tatapan, kalau suka ... sana Sosor aja."
"Iidih ... ngapain sama ulat bulu, lagian dia 'kan udah ada ulat keketnya yang nempel terus, aku nggak mau dong jadi pelakor. kayak nggak ada cowok lain aja di dunia ini,"
"Ingat ya Rindu, selagi janur kuning belum melengkung, ijab qobul belum diucapkan maka semuanya masih bisa kita miliki."
"Tapi nggak gitu juga kali konsepnya Maimunah. Masa iya orang udah ada pasangan gue sosor."
"Hahaha"
Zalina tertawa lagi-lagi meledeknya dan meninggalkan dirinya sendirian di dapur. Zalina menyusul Dewa dengan membawa bahan-bahan yang akan dibakar.
__ADS_1
Mau tidak mau Rindu pun ikut menyusul Zalina, dan malam itu pun mereka menikmati kebersamaan dengan penuh sukacita. Zalina tersenyum bahagia melihat kelengkapan keluarganya saat ini. Akhirnya angan-angannya pun tercapai, bisa berkumpul bersama seluruh keluarganya, sekaligus ia bisa melihat kebahagiaan papanya bersama keluarga kecilnya, serta kebahagiaan mamanya dengan keluarga kecilnya juga.
Sedangkan ia sendiri sekarang juga sudah memiliki orang yang dia cintai.
"Ayo ... apa yang di pikirkan?" tanya Dewa membuyarkan Lamunan Zalina sambil merangkul pinggang Zalina.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya merasa senang saja kalau malam ini semua keluargaku bisa berkumpul di sini, ditambah ada kamu saat ini di sisiku."
Dewa tersenyum mendengar apa yang diucapkan Zalina.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu ya, Sayang," ucap Dewa mencium punggung tangan Zalina.
"Aamiin, begitu juga dengan kamu ya, Mas."
"Weleh ... weleh, emang ya kalau pengantin baru ini dunia serasa milik berdua, yang lain di sini pada ngontrak," ucap Rayyan yang tiba-tiba hadir di antara mereka berdua.
"Nggak heran sih, Kak. Maklum kalau lagi kasmaran itu kita semua dianggap obat nyamuk ama mereka," ujar rindu yang juga tiba-tiba menimpali omongan Rayyan.
Zalina memutar boal matanya, Dewa hanya tersenyum melihat kedua orang tersebut.
"Kalian berdua macam jelangkung, datang nggak diundang pulang nggak diantar. Kalau dilihat lama-lama kalian berdua ini kayaknya cocok, Gimana kalau kalian berdua nikah aja, sepertinya serasi," ucap Zalina pada Rayyan dan Rindu.
Rindu dan Rayan pun saling menatap dan mereka berdua pun menjadi salah tingkah. Di sisi yang berbeda tidak jauh dari mereka, Rendy bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Zalina, entah mengapa ia merasa tidak senang saat mendengar Zalina menjodohkan Rindu dengan Rayyan. Rendy meneguk habis air minum di dalam gelas yang digenggamnya.
Saat semuanya menikmati kebersamaan mereka, Marcel menghampiri Dewa yang sedang duduk sendirian karena Zalina sedang bercengkrama dengan Rindu, Anggia dan Cindy.
"Dewa." Sapa Marcel.
Dewa pun menoleh ke arah sumber suara di belakangnya.
"Bukankah seperti itu saya harus memanggil kamu? seperti Zalina memanggil kamu?" tanya Marcel.
"Iya, Pak. panggil saja saya Dewa."
"Jangan panggil saya Bapak, karena saya sekarang tidak hanya rekan kerja kamu, panggil saya seperti Zalina memanggil saya."
Baiklah, kalau begitu saya akan memanggil Pak Marcel dengan sebutan papa. Mereka berdua pun tertawa bersama.
"Saya senang Zalina bisa menemukan orang yang benar-benar mencintainya, saya bisa melihat kalau kamu benar-benar tulus dengan anak saya. Saya hanya berpesan tolong jangan pernah sakiti hatinya, karena ia cukup merasa terluka dari kecil akibat keegoisan kami orang tuanya."
"Tentu, Pa. Saya akan menjaga Zalina dengan segenap jiwa dan raga saya karena saya tulus mencintainya."
__ADS_1