Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 24 Main Bersama Lagi


__ADS_3

Hari berganti hari, semenjak pertemuan Elea dan Dewa di toko Nema, mereka kerap bertemu minimal satu sampai dua kali dalam seminggu.


"Maaf ya Zalina, kalau Elea suka mengganggu waktu bekerja kamu di toko, dia selalu merengek dan ngambek minta diantar kesini." Dewa berkata seolah tidak enak sudah mengganggu waktu Zalina.


"Tidak apa-apa Pak, namanya juga anak kecil belum begitu paham walaupun sudah kita jelaskan."


"Kak Zalina, Elea sama Papi ke sini mau ajak Kakak ke Mall, mau ajak main bareng lagi, Kakak bisa kan?"


Zalina tampak berpikir sebentar. "Hmmm ... boleh deh, kita akan main bareng karena sepuluh hari ke depan kemungkinan kita akan susah bertemu," ucap Zalina pada Elea.


"Kakak cantik mau kemana?"


"Enggak kemana-mana sayang, kakak mau belajar karena kakak ada ujian dari kampus."


"Oooo ...." Elea membulatkan bibirnya mendengar ucapan Zalina ntah dia mengerti atau tidak.


*


*


Sekarang disinilah Zalina, Dewa dan Elea berada, di tempat permainan anak-anak yang memiliki arena bermain luas dan lengkap. Zalina menemani Elea bermain, menuruti semua yang gadis kecil itu inginkan. Elea begitu senang dan sangat menikmati semua permainan.


"Kakak cantik, Elea senang deh bisa main sama kakak cantik, Elea jadi punya teman belmain. Soalnya mama selalu enggak ada waktu untuk belmain dengan Elea ... " ucap gadis itu lirih.


Zalina yang mendengar keluhan Elea, tertegun sejenak. "Sayang, mungkin saat ini mama kamu memang masih sibuk, dan kesibukan mama kamu saat ini pasti untuk masa depan kamu. Kamu harus bersabar sayang, suatu saat mama kamu pasti akan banyak waktu dengan kamu," ucap Zalina menjelaskan pada Elea.


"Ya udah, sekarang masih mau main atau mau makan?" tanya Zalina.


"Elea main sebental lagi ya kak ...."


"Ok, kakak tunggu di sana ya, Elea main sendiri enggak apa-apa kan?"


"Okay!"


Zalina duduk beristirahat di kursi dekat arena bermain anak-anak tersebut. Dia sedikit merasa lelah mengikuti kemauan Elea untuk menjajal permainan kesana kemari.

__ADS_1


"Minumlah!" Dewa datang menyodorkan sebotol air mineral pada Zalina yang baru saja duduk. "Pasti capek sekali mengikuti kemauan Elea untuk ikut bermain, anak itu memang aktif sekali, diamnya hanya pas tidur," ucap Dewa.


Zalina masih menggenggam botol air mineral tersebut, dan belum meminumnya.


"Anak seumuran Elea memang lagi fasenya bermain pak, dan tingkat penasarannya dan ingin tahunya pun tinggi, makanya semua jenis permainan akan dicobanya, hitung-hitung olah raga untuk saya Pak," ucap Zalina tersenyum tipis, dan matanya tetap memperhatikan Elea yang berlari kesana-sini.


Dewa memperhatikan dan mendengar dengan seksama Zalina yang berbicara, dan Dewa menarik sudut bibirnya.


"Apa kamu melanjutkan kuliah? karena tadi di toko kamu bilang akan belajar."


"Oh, ya Pak, kebetulan saya melanjutkan kuliah profesi 1 tahun ini, dan beberapa hari ke depan akan disibukkan dengan ujian tengah semester Pak."


Dewa hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan Zalina.


"Oh ya Pak, bu Dewi apa kabar? saya baru tahu, saat beberapa waktu lalu mengantarkan pesanan dari toko ke alamat rumah bu Dewi yang ternyata itu juga rumah bapak, ternyata Dosen saya dulu adalah istri bapak," ucap Zalina dengan sedikit senyuman.


Dewa yang mendengar ucapan Zalina, mengerutkan keningnya. Lagi-lagi gadis ini salah memahami dirinya, yang dari awal dia tidak tahu nama Dewa, tidak mengenal siapa dewa, dan sekarang menyangka bahwa adiknya adalah istrinya. Dewa tersenyum lebar mendengar penuturan Zalina.


Zalina yang sadar kalau Dewa tidak menanggapi ucapannya, menoleh ke arah Dewa disampinnya.


"Ya Allah, senyumnya laki orang kenapa manis banget ... sadar Zalina, lakik orang itu," batin Zalina.


Dewa berusaha menahan tawanya. "Zalina, Dewi itu bukan istri saya, dia adik saya dan mamanya Elea."


Zalina yang terkejut mendengar penjelasan Dewa sampai membuka mulutnya, sadar dengan reaksinya, Zalina cepat-cepat menutup mulut dan tersenyum.


"Hehehe, maaf ya Pak Dewa, saya salah mengira." Zalina yang merasa malu merutuki kebodohannya sendiri.


"Enggak apa-apa, sudah biasa itu. Dulu juga ada seseorang yang kaget saat saya berseragam polisi, dan herannya saya bahkan sebelumnya orang tersebut juga tidak mengenal saya bahkan tidak tahu nama saya, ternyata saya ini masih kurang terkenal," ucap Dee


Zalina yang sadar akan ucapan Dewa seperti menyindir dirinya, tertawa pelan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak," ucap Zalina yang merasa malu.


"ternyata saya masih kalah terkenal dari Alif Cepmek ya, yang suka bikang 'kamu nanya? kamu bertanya-tanya?" ucap Dewa yang mengundang tawa Zalina.

__ADS_1


"Hahahhaha ... enggak sama dia juga kali Pak, masa Bapak di samain sama Alif Cepmek," ucap Rindu yang hampir tersedak karena sedang minum. "Sayanya aja yang kudet Pak, kalo kata Rindu teman saya, saya ini kuped alias kurang pedulipeduli. Saya sering mendengar nama Bapak, tapi enggak terlalu memperhatikan dan mengingat wajah, bahkan Bapak juga mengisi sambutan saat wisuda kami, hanya saja, saat itu saya sedang ke toilet jadi gak lihat bapak memberi sambutan."


"Ya sudahlah, saya juga tidak mempermasalahkannya."


"Saya tidak menyangka, Elea bisa begitu dekat dengan Bapak, dan salah satu alasan juga kalau saya mengira dia adalah putri kandung bapak," ucap Zalina memandang Elea yang semangat sekali bermain.


"Hmmm ... saya tidak punya anak, walaupun saya pernah menikah ... " ucap Dewa sendu. "Ah ... sudahla! yuk kita pulang, atau mungkin makan dulu," ucap Dewa mengalihkan pembicaraan.


"Eh," Zalina mengerutkan keningnya karena kaget dan bingung mendengar ucapan Dewa.


Zalina mendekati Elea. "Elea, udah selesai belum bermainnya? kita pergi makan dulu yuk!" ajak Zalina sambil me-lap keringat Elea yang membasahi mukanya.


"Ayok kak, Elea pengen jajan es klim juga ... "


"Let's go ... " ucap Zalina.


Di sini mereka saat ini, di Restoran dengan menu ala Nusantara. Dewa mengajak Zalina dan Elea makan di sana, karena dia begitu menyukai makanan Nusantara.


"Elea mau makan apa? O ya Zalina, silahkan pilih mau makan dan minum apa ...."


"Di samakan aja Pak," ucap Elea.


"Elea mau makan ayam bakar madu ya, Pi ...."


"Okay," ucap Dewa.


Setelah menunggu beberapa saat, makanan mereka pun datang. Ada menu Ayam bakar madu, Ayam kremes, sayur asem, jus sirsak serta es milo. Satu menu beda dan dua menu yang sama. Dewa pun, meletakkan di depan Zalina, seporsi Nasi ayam kremes + sayur asem dengan minuman jus sirsak, sama dengan menu di depan Dewa.


"Sepertinya Bapak penyuka jus sirsak, dan ini kedua kalinya saya diberi jus sirsak oleh Bapak."


"Tiga! lebih tepatnya tiga kali saya memberi kamu jus sirsak, dan saya rasa kamu juga menyukainya karena kamu enggak menolak saat saya memberikannya." ucap Dewa dengan santainya.


Zalina mengerutkan keningnya dan tampak berfikir, seingat dia baru dua kali.


"Seingat saya baru dua kali Pak, apa saya mulai pikun ya?"

__ADS_1


Dewa hanya tersenyum menanggapi ucapan Zalina. "Sudahlah! ayok dimakan dulu."


Mereka bertiga pun makan dengan tenang, sesekali Zalina membantu Elea yang kesulitan memotong daging ayamnya. Dewa yang melihat itu menarik sedikit bibirnya.


__ADS_2