
"Kamu itu benar-benar payah Mas, dari dulu seleramu memang tidak ada berkelas sama sekali," ucap Maura dengan tersenyum sinis dan mengejek Dewa.
"Dulu Hanum yang tidak ada apa-apanya dengan diriku, sekarang perempuan ingusan ini." Maura menunjuk Zalina dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Dewa dan Zalina masih diam, Dewa seperti sudah terpancing emosi. Tapi karena Zalina menggenggam tangannya kuat dan menahannya, Dewa pun diam dan sabar.
"Kamu tahu, Mas? Kamu orang yang paling jahat yang pernah aku temuin. Begitu banyak pria yang tergila-gila denganku, tapi kamu, yaaa.... kamu! kamu, orang yang sama sekali tidak melihat diriku. Apa kurangku, Mas? cantik? aku lebih cantik dari dua perempuan pilihanmu. Kaya? aku juga kaya bahkan lebih kaya dari istri pertamamu. Aku pintar, berpendidikan semuanya aku punya Mas, tapi kamu sama sekali tidak melirik padaku. Kamu jahat, Mas! aku sudah meruntuhkan egoku mengemis cinta padamu, tapi kamu sama sekali tidak melirikku, sekarang aku membencimu, Mas! mem-ben-ci-mu! ucap Maura menekankan kata terakhirnya.
Maura terdiam menundukkan pandangannya, bahunya berguncang kemudian terdengar isak tangis dirinya.
Zalina sekarang mengerti siapa wanita di depannya ini. Ternyata wanita yang begitu menginginkan suaminya dan tidak ikhlas kalau dirinya menikah dengan Dewa.
"Kau tahu apa yang membedakanmu dengan almarhum istriku dan juga perempuan yang aku cintai di sebelahku ini? kamu yakin ingin mendengarnya?"
Maura mengangkat wajahnya, menatap Dewa dan menghapus kasar Air mata di pipinya.
"Hati, karena kamu tidak memiliki hati yang baik dan tulus, perasaan yang kamu miliki padaku bukan cinta, itu obsesi! cinta tidak egois, cinta tidak menyakiti. Kalau kamu mempunyai hati yang tulus maka akan lahir sikapmu yang juga tulus. Dan aku tidak pernah melihat itu ada pada dirimu.
"Hahaha ... Maura tertawa terbahak bahkan cekikikan, tertawa tapi terdengar memilukan. Zalina sungguh miris melihatnya.
"Apa, Mas? Hati? jadi Menurutmu aku ini kurang baik dan kurang tulus mencintaimu? bullshit!" teriak Maura.
Dewa semakin muak melihat Maura, dia segera berbalik ingin meninggalkan ruangan tersebut. Langkanya terhenti saat Maura memanggilnya kembali.
"Kamu tahu, Mas. Aku sama sekali tidak menyesal melakukan ini. Tadinya aku berharap perempuan tersebut tidak bisa memilikimu, sama seperti aku yang tidak bisa memilikimu. Tapi tidak apa, mungkin belum Sekarang waktunya, hahaha ..." Maura kembali tertawa.
'Deg'
Zalina merasa takut dengan apa yang diucapkan Maura, seperti sebuah ancaman. Ya, dia takut ancaman tersebut benar-benar direalisasikan oleh Maura seperti yang terjadi kemarin pada Dewa, Maura begitu nekat ingin mencelakai suaminya.
__ADS_1
Dewa mengepalkan tangannya, segera membawa Zalina meninggalkan ruangan tersebut. Mereka segera meninggalkan kantor polisi untuk pulang ke rumah Dewa terlebih dulu, Setelah itu mereka akan ke rumah Nema.
"Kamu baik-baik saja, Mas?" Zalina menyentuh tangan kiri Dewa, berusaha menyalurkan ketenangan. Karena ia tahu saat ini Dewa masih sangat kesal.
"Hufftt ..." Dewa menghembuskan nafasnya. "Aku tidak menyangka kalau dia nekat berbuat seperti itu, Aku cukup lama mengenalnya karena dia adalah temannya Dewi. Bahkan ia juga adalah teman Hanum, mereka berteman semenjak kuliah."
"Kamu tahu, Mas? alasannya cuman satu 'CINTA' Awalnya dia mungkin mencintaimu tapi karena cintanya yang berlebih dan selalu bertepuk sebelah tangan akhirnya berubah menjadi Obsesi, sehingga dia bisa berbuat nekat seperti kemarin."
"Sudahlah! tidak usah membahasnya, yang penting Sekarang dia sudah berada di pihak yang berwajib. Semoga dia bisa sadar atas apa yang sudah ia lakukan, biarlah dia menerima hukuman yang pantas atas semua kejahatannya," ujar Dewa.
Zalina menganggukkan kepalanya.
Setelah 20 menit perjalanan, mereka pun tiba di halaman rumah Dewa. Dewa turun terlebih dulu kemudian ia membukakan pintu untuk Zalina.
Dewi beserta suaminya yang sedang duduk bersantai di ruang tamu melihat pada Zalina dan Dewa yang baru masuk.
"Wah, selamat datang kakak iparku tersayang, tuan putri yang cantik jelita," ucap Dewi dengan nada cemoohnya.
"Kamu tidak usah berlebihan, Mas. Aku hanya menyapa kakak iparku ini, kakak ipar? instan sekali ya hidupmu, baru kemarin jadi mahasiswaku, sekarang kamu sudah menjadi kakak ipar ku, wwaahh ... kamu pakai pelet apa sih untuk Mas Dewa?"
"DEWI!!!!!" bentak Dewa.
Zalina pun berjingkat kaget mendengar bentakan Dewa.
"Mas, sudah," ucap Zalina menenangkan Dewa.
Dewa pun menarik nafasnya kemudian membuangnya pelan. Dewa yang tidak ingin berlarut-larut, ia meninggalkan Dewi dan berlalu ke kamarnya sambil terus menggenggam tangan Zalina. Saat akan menaiki tangga, dia berhenti dan menoleh pada Dewi.
"Oh iya, Apa kamu sudah tahu Dewi, sahabat tercintamu Maura sudah ditahan oleh pihak Kepolisian?"
__ADS_1
Dewi terkejut dan terbelalak mendengar berita yang diberikan oleh Dewa, tidak hanya dewi, bahkan Romi suami Dewi juga terkejut dan segera mengecek ponselnya.
"Maura ditahan kepolisian? bercanda kamu, Mas. Nggak lucu candaan kamu, hahaha ..."
"Ini ... nih," ucap Dewa menggoyangkan telunjuknya menunjuk Dewi. "yang katanya sahabat tapi tidak tahu kondisi dari sahabatnya, dan juga tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh sahabatnya. Kalian itu tidak cocok bersahabat, cocoknya menjadi musuh dalam selimut di luar terlihat baik tapi di dalam menusuk. Daripada kamu mengurusi hidupku di sini, lebih baik kamu ke penjara sekarang dan kamu lihat apa yang sudah terjadi. Oh ... tidak perlu ... tidak perlu mungkin kamu bisa mencari tahu dari teman-temanmu atau info dari yang lain, aku rasa sekarang info itu sudah menyebar, bukankah sahabatmu anak seorang konglomerat?"
Dewa pergi meninggalkan Dewi yang bingung dengan berita yang didengarnya. Tidak menunggu lama, Dewi membuka handphonenya dan mencari tahu Info yang dikatakan Maura.
Sebelum dia mendapat informasi, suaminya terlebih dulu mengetahui.
"Kamu lihat ini, Wi." Romi menyerahkan ponselnya pada Dewi.
Dewi mengambil ponsel tersebut dan membaca berita yang terdapat di salah satu grup kepunyaan suaminya.
"Oh my God ... ternyata benar beritanya. Maura yang sudah mencelakai Mas Dewa? gila ... dia benar-benar nekat! ucap Dewi tidak percaya.
"Pasti kamu yang buat ulah!" seru Romi menyalahkan Dewi.
"Kenapa, Mas jadi menyalahkan aku?" tanya Dewi.
"Karena aku tahu siapa kamu, Wi. Pasti kamu yang sudah mengompori otaknya Maura, kamu tahu? dengan kebodohan yang kamu buat ini maka itu akan berimbas pada karirku."
Dewi menggaruk dagunya. "Maaf, Mas. Aku tidak menyangka kalau Maura akan senekat itu."
Romi menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bangkit dari duduk dan meninggalkan Dewi.
Dewi kini merasa bingung dan juga menyesal atas apa yang dia lakukan terhadap Maura. Ia berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya.
"Bisa gawat ini, kalau Maura di penjara dia pasti akan membatalkan promosi naik pangkat Mas Romi. Dia sudah berjanji akan membantu Mas Romi naik pangkat dan berbicara pada ayahnya, jika dia bisa menjadi istrinya Mas Dewa, tapi bukannya menjadi istri mas Dewa, dia malah dimasukkan ke penjara oleh Mas Dewa. Kacau ... kacau ... kacau!" ucap Dewi yang memukul kepalanya.
__ADS_1
Dilain tempat, tepatnya di kamar Dewa mereka sedang membereskan barang-barang yang akan dibawa oleh Dewa nantinya.