Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 29 Zalina dan Ferdy


__ADS_3

Dua minggu berlalu, tepatnya hari ini Nema dan Zalina akan melakukan Grand Opening toko cabang mereka. Setelah sebelumnya, selama dua minggu Zalina mempersiapkan semua keperluan toko cabang baru, termasuk juga mempersiapkan satu rumah produksi.


Zalina dan Nema memutuskan membuat satu rumah khusus produksi, dan dua toko. Jadi, untuk tempat produksi dan tempat penjualan dibedakan.


Zalina mengundang teman-temannya, teman-teman Nema, keluarga serta orang-orang yang ikut bekerja sama dengannya seperti Dewa dan juga Aldo.


Setelah pemotongan pita, Zalina mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan yang tersedia.


"Zalina," panggil Marcel.


Marcel memanggil Zalina yang sedang mengobrol tidak jauh darinya.


"Zalina, kamu ajak Ferdy ngobrol dulu ya, papa mau ngobrol dengan Pak Akbar sebentar," ucap Marcel.


Zalina tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan, Ferdy mengikuti langkah Zalina yang tidak tahu mau kemana. Ternyata Zalina membawa Ferdy ke dekat meja bulat, di dekat prasmana. Lalu, bagaimana dengan Dewa yang tadi berada di samping Marcel? Dewa yang memperhatikan interaksi Zalina dan Ferdy mengenggam kuat minuman di tangannya dan meminumnya hingga tandas 😂 Haus kayaknya babang Dewa 😅.


"Pak Akbar, minumannya mau ditambah?" tanya Marcel yang melihat gelas Dewa sudah kosong.


"Tidak Perlu, Pak," ucap Dewa.


Dewa yang diajak ngobrol oleh Marcel sesekali matanya mencuri pandang pada sepasang insan yang berada di ujuang ruangan.


Lain Dewa, lain pula Aldo yang memandang dari sudut yang berbeda. Dengan tatapan yang tajam, gigi yang dirapatkan, tergambar raut mukanya yang tidak suka, saat Zalina berduaan dengan Ferdy.


"Selamat ya, Zalina. Kamu hebat sudah bisa mengembangkan usaha kamu ini," ucap Ferdy.


"Terima kasih, Ferdy," jawab Zalina singkat.


Zalina yang tidak tahu mau bicara apa, hanya menjawab singkat semua yang ditanyakan oleh Ferdy.


"Besok, apa kamu ada waktu? setelah urusan pekerjaan aku selesai, aku ingin mengajakmu dinner," ajak Ferdy.


"Besok aku kabari, soalnya besok sepulang kerja aku juga ada urusan, tidak tahu sampai jam berapa."


Rasanya Zalina malas sekali mau meladeni Ferdy, entah mengapa dia kurang srek dihati semenjak pertemuan pertama kali, ngobrol sekarang saja dia sudah malas, apalagi untuk dinner besok malam. Kalau bukan karena papanya, Zalina pun tidak mau meladeni Ferdy.


Setelah seharian acara grand opening selesai, Zalina dan Nema pulang kerumah, sedangkan papa serta keluarga kecilnya menginap di hotel. Zalina mengistirahatkan badannya yang terasa lelah, tapi sebelum itu dia mandi agar badan terasa lebih segar.


*


*


Sore menjelang sepulangnya Zalina dari RS tempat dia bekerja, dia langsung menuju toko cabang karena janjian dengan Rindu, dia secara Resmi akan memperkenalkan Rindu pada karyawannya yang berada di toko cabang. Setelah hampir dua minggu sejak Rindu menerima ajakan Zalina mengelola toko cabang, sejak itu juga Rindu belajar banyak hal mengenai bisnis ini.


Sampainya di toko, Zalina langsung masuk disambut oleh karyawan yang ada. Zalina langsung masuk ke dalam ruangan yang nantinya juga akan menjadi ruang kerja Rindu. Tidak lama berselang, Rindu pun datang menyusul Zalina. Zalina mengumpulkan Karyawan dan mengumumkan kalau Rindu adalah penanggung jawab di toko ini.

__ADS_1


"Jadi, kalau ada hal apapun yang ingin ditanyakan yang berkaitan dengan toko cabang ini, silahkan bicarakan dengan Rindu. Karena beliau ini sudah saya Amanahkan untuk mengelola toko ini. Bagaimana? pahamkan semua?" tanya Zalina


"Pahaam ...." suara jawaban serentak dari para karyawan.


Setelah acara perkenalan tersebut selesai, Zalina dan Rindu masuk ke dalam Ruang kerja, mereka akan mengecek beberapa berkas yang berkaitan dengan toko cabang yang baru di buka, saat sedang asyik ngobrol, nada dering dari Hp Zalina pun berbunyi.


📞 Kriiing ... kriiiing ...


Zalina melirik ke layar Hp-nya yang tertulis nama 'Papa'.


"Rind, sebentar aku angkat telepon dari papa sebentar ya."


"Okay," ucap Rindu sambil mengangkat jempolnya.


📞"Assalamu'alaikum, Pa."


📞" ... "


📞 "Tapi Pa-"


📞 " ... "


📞"Ya udah deh, Pa. Ya ntar Zalina tunggu."


📞 " ... "


Setelah menerima telepon, Zalina segera kembali menemui Rindu.


"Habis teleponan, tapi muka kusut gitu. Kamu kenapa?"


"Huuufffttt ... papa minta aku untuk pergi sama Ferdy dinner malam ini, aku udah pengen nolak, tapi papa pake ngomong 'papa mohon kali ini aja, kamu dinner sama Ferdy, papa yakin Ferdy anak baik. Pleasee ... papa gak akan minta apapun sama kamu lagi', aku kan gak bisa nolak kalo papa udah memohon gitu, tapi entah kenapa dari awal aku gak ada feel gitu ama Ferdy."


"Hmmm ... ya udah pergi aja kali ini, setelah ini kamu harus bisa tegas dengan keputusan apapun yang kamu mau."


"Ya udah, kalo gitu aku pulang duluan ya, biar siap-siap dulu," ucap Zalina.


"Okay, hati-hati ya, Lin."


Zalina segera meninggalkan ruangan Rindu dan melaju dengan mobilnya menuju rumah. sesampainya dirumah dia segera bersiap. Zalina menggunakan circle long dress warna pastel, hijab senada yang dililit di lehernya dan sedikit polesan di wajahnya. Perfect!


tepat jam 7 malam, Ferdy datang menjemput Zalina. Zalina segera keluar rumah menemui Ferdy yang sudah memarkirkan mobilnya di halaman. Ferdy terpukau dengan penampilan Zalina yang begitu anggun dipandangnya. Walaupun kepalanya tertutup, sungguh tidak mengurangi kecantikannya.


"Ehm ... ayok, kita berangkat sekarang," ucap Ferdy yang sudah membukakan pintu depan mobilnya.


Zalina segera masuk mobil, setelah pintu di tutup Ferdy menyunggingkan senyumnya dengan menarik sedikit sudut bibir, kemudian dia segera masuk dan duduk dibelakang kemudi.

__ADS_1


Zalina dan Ferdy tiba di sebuah Restoran jepang mereka masuk dan menuju sebuah ruangan VIP.


"Di ruangan yang biasa saja, ini terlalu berlebihan Ferdy," ucap Zalina yang merasa enggan masuk ruangan VIP, apalagi hanya berdua saja.


"Zalina, aku hanya ingin memberikan yang spesial untukmu, dengan penampilanmu yang begitu memukau ini, kamu tak pantas di tempat yang biasa." Ferdy berkata begitu gombalnya.


Zalina yang mendengar ucapan Ferdy hanya memutar bola matanya dengan malas. mereka berdua segera masuk ke dalam tuangan VIP tersebut. Ruangan yang cukup luas dengan nuansa Jepang, terdapat 2 variasi tempat duduk, yang menggunakan kursi dan meja, serta duduk lesehan dilantai ala Jepang.


"Mau di kursi atau lesehan?" tanya Ferdy.


"Di kursi saja."


Dengan sigap Ferdy menarik kursi untuk di duduki Zalina, dan dia pun duduk di hadapan Zalina. Tidak berapa lama masuk pelayan yang mengantarkan makan malam mereka.


"Maaf Zalina, aku ke toilet sebentar."


Zalina hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab ucapan Ferdy. Beberapa menit kemudian, Ferdy pun kembali dari toilet.


"Ayo, kita mulai makan malamnya," ajak Ferdy.


Zalina dan Ferdy pun mulai menyantap makanannya, makan malam yang penuh keheningan, Ferdy pun membuka obrolan mereka.


"Zalina, makasih ya sudah mau menerima ajakan Dinnerku malam ini," ucap Ferdy sembari menggenggam tangan Zalina.


Zalina terkejut dan reflek menarik tangannya.


"Ck ... Zalina, aku hanya menyentuh tanganmu tapi reaksimu berlebihan sekali.


"Maaf, atas reaksi keterkejutanku, aku memang tidak pernah seperti ini."


"Oh, ya? menarik sekali, bagaimana mungkin gadis secantik dirimu tidak pernah disentuh lelaki, apa mungkin kamu terlalu jual mahal Zalina?" tanya Ferdy yang berdiri dari kursinya dan berdiri memegang kedua pundak Zalina. Bahkan dia melatakkan dagunya di pundak Zalina


"Ferdy, tolong lepaskan!" Zalina berusaha melepaskan pegangan Ferdy di pundaknya. "Kalau kamu masih seperti ini, maka aku akan keluar sekarang juga," ancam Zalina.


"Hohohoho ... menarik sekali Zalina, aku menyukai gayamu yang seperti ini," ucap Ferdy yang mencolek dagu Zalina.


Zalina yang mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Ferdy, berdiri dari bangkunya ingin segera keluar dari ruangan tersebut.


Tapi secepat kilat Ferdy melangkah menuju pintu, mengunci, dan mengambil kunci tersebut lalu memasukkan kedalam kantong celananya.


"Ferdy! apa yang kamu lakukan! buka pintunya, aku mau pulang sekarang," ucap Zalina.


Ferdy dengan seringai liciknya berjalan maju ke arah Zalina, sedangkan Zalina yang melihat Ferdy mendekat memundurkan langkahnya.


"Zalina, kamu tidak usah naif, kita sudah sama-sama dewasa, tidak usah berlagak sok suci bertamengkan penutup kepala kamu menjadi sok alim. Kamu tahu? banyak wanita yang mau tidur denganku, tapi hanya kamu yang menolak."

__ADS_1


Zalina terus mundur, hingga punggungnya menempel di dinding. Zalina mulai merasa takut melihat sikap Ferdy.


"Ferdy, Please ... lepaskan aku! aku akan melaporkan pada papa sikapmu yang seperti ini," teriak Zalina memohon dan ketakutan.


__ADS_2