Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Kelulusan


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Tanpa terasa lima purnama telah terlewati. Selama lima purnama itulah Cantika menunaikan amanah dari Airlangga sebagai ketua yayasan, mewakili Andrea. Namun mulai hari ini posisinya digantikan oleh Akbar atas permintaan Andrea dan disetujui oleh Airlangga, sebab kehamilan Cantika sudah memasuki usia tujuh bulan.


Andrea meminta Cantika untuk beristirahat di rumah, karena ia tidak ingin jika istri tercintanya itu kelelahan dan mungkin saja akan berakibat buruk pada malaikat kecil mereka yang masih berada di dalam rahim.


Bertepatan dengan kemunduran Cantika dari jabatannya sebagai ketua yayasan, Mita--selaku kepala sekolah SMA Nusa Bangsa mengumumkan pengganti Cantika kepada seluruh guru, karyawan, dan para siswa yang bernaung di yayasan. Bukan hanya itu saja, tetapi ia juga mengumumkan nama-nama siswa yang telah lulus ujian akhir dan berhasil menamatkan study di SMA Nusa Bangsa.


Sorak sorai dan tangis bahagia para siswa kelas tiga SMA Nusa Bangsa mengiringi pengumuman kelulusan yang disampaikan oleh Mita.


Para guru dan seluruh karyawan yayasan melafazkan kalimat syukur karena tidak ada satu pun siswa yang mengulang di kelas tiga. Semua siswa SMA Nusa Bangsa lulus dengan nilai yang memuaskan, terutama Andrea--sang juara kelas. Bukan hanya juara di kelasnya. Namun juara dari kelas A hingga kelas F.


Usai pengumuman kelulusan, hampir semua siswa berkumpul di depan gerbang yayasan dengan menunggangi sepeda motor mereka masing-masing, lalu mereka berkonvoi--memenuhi jalan sambil berteriak dan menggeber sepeda motor hingga memekakkan telinga pengguna jalan lainnya.


Berbeda dengan para siswa yang merayakan kelulusan mereka dengan berkonvoi, Andrea dan semua sahabatnya yang tergabung dalam Geng Pandawa justru berkumpul di halaman sekolah sambil berbincang.


Di sela-sela perbincangan mereka, Andrea mengutarakan pendapatnya. Ia mengusulkan agar mereka merayakan kelulusan dengan berbagi kebahagiaan pada sesama, yaitu dengan mengumpulkan sejumlah uang untuk membeli sembako, kemudian dibagikan pada karyawan yayasan dan warga sekitar yang kurang mampu, sehingga mereka turut merasakan kebahagiaan, meski dengan versi yang berbeda.


Semua sahabatnya pun langsung menyetujui usulan Andrea dan mulai mengumpulkan sejumlah uang, lalu mereka berikan pada Nofia selaku bendahara Geng Pandawa.


"Udah terkumpul berapa uangnya, Fi?" Andrea bertanya pada Nofia.


"Satu juta, Ndre," jawab Nofia.

__ADS_1


"Oiya, Ndre. Ini daftar nama anggota Geng Pandawa yang sudah mengumpulkan uang," sambungnya sembari menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nama-nama anggota Geng Pandawa yang sudah mengumpulkan sejumlah uang padanya. Tentu saja untuk mendukung dan mewujudkan usulan Andrea.


"Alhamdulillah. Elu juga udah ngumpulin uang lu, Fi?"


"Ya udahlah. Emang kamu. Ngasih usulan doank, tapi belum ngumpulin uang."


Andrea menarik kedua sudut bibirnya sambil membuka dompet kulitnya. Kemudian mengeluarkan sejumlah uang yang ia simpan di dalam dompet, lalu diberikannya pada Nofia.


"Nih, kaga usah ditulis nama gue! Cukup tulis aja 'Hamba Allah' suaminya Cantika!" ujar Andrea seraya melontarkan candaan.


"Hayah, sama aja. Ditulis hamba Allah, tapi ditambahi embel-embel suaminya Cantika."


"Dasar Sop Buntut! Elu kalau mo ngasih uang yang ikhlas dong! Kaga usah riya'! Nih contohnya gue! Gue minta si Fia buat nyamarin nama gue. Harusnya pan Riri. Nah gue samarin jadi Rido." Riri turut menimpali dan mengimbangi candaan Andrea.


"Dih apaan sih? Kalian berdua sama aja tau'! Rido 'kan nama calon suami kamu, Ri. Sekaligus nama gabungan-mu sama Bang Ido. Riri dan Ido." Nofia mencebik dan merotasikan sepasang manik matanya dengan sempurna, hingga membuat Andrea dan Riri tergelak lirih karena geli menyaksikan ekspresi yang ditunjukkan oleh Nofia.


Suara Mita sukses mengalihkan atensi Andrea dan para sahabat. Sontak mereka bersamaan menoleh ke arah asal suara.


"Bu Mita --" sahut mereka kompak.


"Ibu perhatikan dari tadi, kalian sedang asik berbincang sambil bercanda. Kalau Ibu boleh tahu, apa yang sedang kalian perbincangkan?" Mita melontarkan tanya tanpa terlupa mengiringinya dengan sebaris senyum.


"Kami sedang memperbincangkan usulan Andrea, Bu," terang Nofia seraya menjawab tanya.


"Memangnya, Andrea mengusulkan apa?" Mita kembali bertanya.

__ADS_1


"Andrea mengusulkan agar kami merayakan kelulusan dengan berbagi kebahagiaan pada sesama. Yaitu dengan mengumpulkan sejumlah uang untuk membeli sembako, kemudian kami berikan pada karyawan yayasan dan warga sekitar yang kurang mampu, sehingga mereka turut merasakan kebahagiaan, meski dengan versi yang berbeda."


"Usulan yang sangat bagus, Andrea. Ibu mendukung usulanmu itu. Ibu juga akan mengajak semua rekan guru untuk turut berpartisipasi."


"Alhamdulillah, terima kasih, Bu," balas Andrea dan Nofia hampir bersamaan.


"Sama-sama. Nanti, kalian temui saya ke ruang guru untuk mengambil uang dari kami!"


"Siap, Bu. Nanti kami akan menemui Bu Mita ke ruang guru," sahut Nofia.


"Ya sudah, Ibu permisi dulu! Ada hal penting yang ingin segera Ibu sampaikan pada Pak Ardyan dan rekan guru lainnya."


Mita mengucap salam, lantas mengayun langkah menuju ruang guru.


Sesampainya di ruang guru, Mita memanggil Ardyan, Septi Nuryani, dan Salma (Bunda Salma) untuk segera menghadapnya.


Ardyan dan kedua rekannya bergegas bangkit dari posisi duduk, lalu membawa langkah mereka masuk ke dalam ruangan Mita.


Entah apa yang ingin dituturkan oleh Mita, sehingga ia memanggil ketiga guru itu untuk menghadapnya.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Kita lanjut di bab selanjutnya ya, Kak. Insya Allah dua atau tiga bab lagi, kisah Muridku, Suamiku benar-benar end 😊🙏

__ADS_1


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terkasih 😘🙏


__ADS_2