Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Kepergok


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Nasari dan Akbar masih berbincang di balkon. Mereka ditemani oleh burung-burung kecil yang bertengger di ranting pohon tatebuya sambil memperdengarkan kicauan merdu.


Di sela-sela perbincangan, atensi keduanya teralihkan oleh suara nada dering yang berasal dari gawai milik Akbar.


Nasari bergegas membuka resleting dan mengambil gawai milik Akbar yang ia simpan di dalam tas selempangnya.


Rupanya ada pesan masuk yang dikirim oleh Mita, sahabat Cantika sekaligus rekan kerja Akbar dan Cantika di SMA Nusa Bangsa.


"Bi, Mita mengirim pesan lagi," ucap Nasari setelah menggeser layar gawai dan membaca nama yang tertera di layar benda pipih itu.


"Apa isi pesannya, Mi?"


"Nich, dibaca saja, Bi!" Nasari menyodorkan gawai yang berada dalam genggaman tangannya pada Akbar.


Akbar menggeleng kepala dan mengulas senyum. "Nggak, Ummi saja yang baca! Tolong bacakan untuk Abi!"


"Baiklah, Bi." Nasari pun lantas membaca pesan yang dikirim oleh Mita.


Di dalam pesan itu, Mita menyampaikan bahwa tadi pagi saat mobil yang ditumpanginya melintas di depan Hotel Kenzie, Mita melihat seseorang yang sangat mirip dengan Dafa. Mita curiga, orang itu benar-benar Dafa. Dan jika benar orang itu adalah Dafa, berarti Dafa sudah pulang dari Jerman.


Kenyataannya, orang yang dimaksud oleh Nasari memang-lah Dafa.


"Hmmm, balas pesannya, Mi!" titah Akbar setelah Nasari selesai membaca pesan dari Mita.


"Sebelum membalas pesan Mita, Ummi ingin bertanya pada Abi."


"Apa yang ingin Ummi tanyakan?"


"Sebenarnya, Abi tahu keberadaan Dafa sewaktu dia kabur? Jawab yang jujur ya, Bi!"


"Tentu saja Abi nggak tahu, Mi. Waktu itu Abi dan Ummi 'kan nggak jadi menyusul keluarga kita ke Kalimantan. Dan pada saat Dafa kabur, Abi menemani Alwi di rumah sakit. Abi tahu keberadaan Dafa ya dari Mita."


"Lalu, bagaimana Mita bisa mengetahui keberadaan Dafa, Bi?"

__ADS_1


"Mita bilang, pada hari H pernikahan Cantika, Mita meminta Dokter Erland untuk mengawasi Dafa. Dokter Erland pun menyanggupi permintaan tunangannya itu. Diam-diam beliau membuntuti mobil yang membawa Dafa mulai dari rumah ayah. Di tengah perjalanan Dokter Erland merasa lega, karena mobil yang membawa Dafa berbelok, bukan melaju ke arah rumah orang tua Cantika, melainkan ke bandara. Dokter Erland yakin, Dafa ingin kabur dan menggagalkan pernikahannya dengan Cantika. Itu berarti, ancaman yang dilayangkan oleh Mita berhasil mempengaruhi Dafa. Sesampainya di bandara, Dokter Erland masih membuntuti Dafa untuk mencari tahu tempat tujuan Dafa. Dan ternyata, tujuan Dafa adalah Jerman." Akbar menjeda sejenak ucapannya dan menghela nafas.


"Abi meminta Alex untuk mencari keberadaan Dafa di Jerman, setelah Mita memberitahu Abi bahwa Dafa berada di negara itu. Alhamdulillah, tanpa membutuhkan waktu lama, Alex berhasil menemukan Dafa dan menghubungkan Abi dengannya. Kami berbincang cukup lama melalui sambungan telepon. Dan di akhir perbincangan kami, Abi memberi tahu Dafa bahwa Cantika sudah menikah dengan Andrea, Mi," sambungnya.


"Lantas, apa tanggapan Dafa ketika ia tahu, calon istrinya menikah dengan adiknya sendiri, Bi?"


"Dafa diam saja, Mi. Dia langsung memutus sambungan telepon."


"Mungkin, Dafa sangat marah ya, Bi."


"Sudah pasti, Mi."


"Ummi berharap, semoga seiring berjalannya waktu, Dafa bisa menerima kenyataan dan merelakan Cantika untuk Andrea."


"Abi juga berharap seperti itu, Mi."


"Oya Bi, Abi tahu di mana Dafa berada saat ini?"


"Abi nggak tahu, Mi. Tadi pagi, Dafa menyambangi rumah ini. Dafa bilang, dia akan kembali ke Jerman."


"Dafa menyambangi rumah ini? Pasti Dafa ingin menemui Andrea dan Cantika ya, Bi. Tapi, bagaimana Dafa bisa tahu jika Andrea dan Cantika berada di sini?"


"Betul juga, Bi. Tapi, kenapa Dafa tidak menemui Ummi dan keluarga kita yang lain?"


"Dafa bilang, dia belum siap, Mi. Kita tunggu saja sampai tubuhnya bugar. Setelah tubuhnya bugar, Dafa memastikan dia akan kembali."


"Iya, Bi. Lantas, bagaimana dengan ayah dan bunda? Mereka juga berhak mengetahui keadaan Dafa."


"Untuk saat ini, jangan beritahu ayah dan bunda dulu, Mi. Abi khawatir, mereka akan syok dan terkena serangan jantung."


"Itu 'kan menurut Abi. Sekarang atau nanti akan sama saja, Bi. Menurut Ummi, lebih baik kita segera memberitahu ayah dan bunda, tetapi pelan-pelan saja. Seburuk apapun Dafa, kita harus mendampingi dan memotivasinya. Ummi yakin, Dafa pasti bisa melewati masa-masa sulit di hidupnya. Ummi juga yakin, kelak Dafa akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik."


"Abi setuju dengan perkataan Ummi. Abi mendukung jika Ummi akan memberitahu ayah dan bunda mengenai keadaan Dafa." Akbar menerbitkan senyum dan merengkuh tubuh Nasari. Lalu ia membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukan.


"Mi, kata Andrea, kita bisa membuat adonan di kamarnya. Mumpung tidak ada gangguan dari dua bocil, yuk kita ngadon kue Susan!" bisik Akbar tepat di telinga Nasari.


Nasari seketika merinding. Terbayang olehnya apa yang akan terjadi jika ia mengiyakan ucapan suaminya. Bisa dipastikan, Akbar akan meminta jatah berjam-jam.

__ADS_1


"Eng, Abi 'kan belum membalas pesan Mita. Buruan gih dibalas!" Nasari mengalihkan pembicaraan. Kemudian perlahan melepas pelukan suaminya.


Akbar terkekeh dan menggeleng kepala. "Balasnya nanti 'kan bisa, Mi."


"Duh, nggak mempan. Bagaimana ini?" gumam Nasari dengan suaranya yang terdengar lirih. Namun didengar oleh Akbar.


Dalam satu hentakan, Akbar mengangkat tubuh Nasari dan membawanya masuk ke dalam kamar Andrea.


"Allohumma, kamu nekat banget, Bi."


"Ya harus nekat. Kalau nggak nekat, kapan kita bisa berikhtiyar membuat adonan kue Susan sebebas ini. Ya 'kan?"


Nasari tertunduk malu. Ia pasrah saat Akbar merebahkannya di atas ranjang.


Akbar bersiap memulai ritual yang diinginkan olehnya dengan mengu-kung tubuh Nasari. Namun sayang, ia terlupa mengunci pintu kamar.


CEKLEK


Seseorang membuka pintu kamar. Ia menggeleng kepala saat memergoki Akbar sedang mengu-kung tubuh Nasari.


Siapakah dia? Next episode akan terjawab ....


🌹🌹🌹


Bersambung ....


Bab kali ini masih berisi penjelasan mengenai Dafa dan Mita ya Kakak-kakak. Bab berikutnya insya Allah kembali menceritakan keromantisan Andrea dan Cantika. 😊🙏


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan

__ADS_1


Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏


__ADS_2