
Happy reading 😘😘😘
"Candra --" Dafa berucap lirih. Namun terdengar oleh Pinka dan membuat dokter berparas cantik itu mengerutkan dahi, karena yang disebut oleh Dafa bukan Andrea dan Cantika--dua orang yang tengah berjalan ke arah mereka, melainkan Candra.
Pinka tidak tahu bahwa Candra adalah gabungan nama Cantika dan Andrea yang diberikan oleh salah seorang pembaca setia kisah mereka berdua.
"Candra? Candra siapa, Mas? Bukannya mereka Andrea dan Cantika?" Pinka menghujani Dafa dengan kalimat tanya disertai tautan kedua pangkal alisnya. Ia teramat heran bin penasaran terhadap Dafa. Pinka mengira, Dafa tengah berhalusinasi melihat sosok yang disebutnya sebagai Candra.
"Candra itu nama gabungan mereka, Yang. Cantika dan Andrea." Dafa menerbitkan senyum dan menoleh sekilas ke arah Pinka.
"Owh. Saya kira seseorang yang tengah berada di dunia imaji Mas Dafa," cetus Pinka diikuti helaan nafas lega. Ia lega karena ternyata Dafa tidak sedang berhalusinasi.
"Tentu saja bukan, Yang." Dafa terkekeh. Ia lantas beranjak dari posisi duduk, dan disusul oleh Pinka.
Kemudian mereka menyambut Andrea dan Cantika dengan lengkungan bibir yang membentuk seutas senyum.
"Bang, udah berapa jam lu pacaran ama Dokter Pinka di mari?" tanya Andrea seraya melontarkan candaan, begitu ia dan Cantika tiba di hadapan Dafa dan Pinka.
"Mau tau aja, atau mau tau banget?" Dafa mengimbangi candaan Andrea dengan balik bertanya.
"Mau tau aja, Bang."
"Kepo amat lu!" Dafa menjitak pelan dahi Andrea, lalu merangkul bahu adik bungsunya itu.
Rasa bahagia menyentuh kalbu Andrea saat Dafa merangkulnya. Seandainya ia mampu menghempas malu, ingin rasanya Andrea meneteskan air mata dan memeluk erat tubuh Dafa, sebab baru pertama kali ia dirangkul oleh abangnya.
"Sudah malam, kaga baik kalo kelamaan di mari, Bang. Kasihan calon kakak ipar gue, pasti kedinginan," celetuk Andrea.
"Sama seperti Cantika 'kan? Adik iparku juga pasti kedinginan."
"Kalo Cantika kedinginan, pan bisa gue kekep. Tapi kalo Dokter Pinka yang kedinginan, lu kaga bisa nge-kep, Bang. Makanya Bang Dafa buruan halalin Dokter Pinka!"
"Tanpa kamu suruh pun, aku bakal segera menghalalkan Pinka, Ndre. Insya Allah, dua minggu lagi aku akan terbang ke Jogja bersama Ayah dan Bunda untuk melamar Pinka."
"Woah, ternyata gercep amat lu, Bang. Kalo boleh tau, Jogja-nya mana?"
"Timur Alun-Alun Utara, Ndre. Tidak jauh dari Keraton." Pinka menyahut ucapan Andrea seraya menjawab tanya.
__ADS_1
"Berarti kaga jauh dari rumah man --" Andrea urung melanjutkan ucapannya. Ia merutuki dirinya sendiri di dalam hati karena hampir keceplosan menyebut kata 'mantan'.
"Tidak jauh dari rumah siapa, Ndre?" tanya Pinka.
"Eng, rumah temen, Dok." Andrea tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Sementara Cantika, ia melipat kedua tangan di depan dada dan memasang raut wajah cemberut.
Cantika tahu, Andrea hampir keceplosan menyebut kata 'mantan' dan temen yang dimaksud oleh suami berondongnya itu adalah Ayu--mantan Andrea sekaligus mantan muridnya yang sekarang tinggal di kota Jogja.
"Siapa nama teman kamu, Ndre?" Pinka kembali bertanya.
"Siapa tau, saya mengenal teman kamu itu," lanjutnya.
"Dia --"
"Ayu. Nama teman Mas Andrea Ayu, Dok," sahut Cantika seraya memangkas ucapan Andrea.
"Bukan hanya sekedar teman, tapi mantan." Cantika menyambung ucapannya dengan menekankan kata 'mantan'. Lantas ia memutar tungkai dan melangkah pergi. Kentara sekali ia tengah terbakar api cemburu.
Ya, Cantika cemburu pada Andrea. Ia beranggapan bahwa Andrea belum sepenuhnya move on dari Ayu.
"Yang, tunggu!" pinta Andrea dengan sedikit berteriak. Ia bergegas menyusul Cantika, lalu meraih pergelangan tangan Cantika dan menariknya pelan.
"Yang, jangan cemburu!" ucap Andrea sembari membawa Cantika ke dalam dekapan.
"Sayang yang cemburu."
"Tidak! Aku sama sekali tidak cemburu, Mas. Aku hanya tidak suka kamu menyebut kata mantan dan masih mengingat Ayu."
Andrea menarik kedua sudut bibirnya dan melabuhkan kecupan dalam di pucuk kepala Cantika. Ia tahu bahwa wanita yang teramat dicintainya itu tengah beralibi.
"Yang, maaf atas kelancangan bibirku. Percayalah, meski bibirku keceplosan mengucap kata mantan, bukan berarti aku masih menyimpan perasaan terhadap Ayu, apalagi ingin mengingat segala kenangan tentangnya. Sama sekali bukan." Andrea menjeda sejenak ucapannya dan merenggang pelukan. Lalu ditatapnya sepasang manik mata sang kekasih halal dengan tatapan penuh cinta.
"Yang, antara aku dan Ayu udah nggak ada hubungan apa-apa. Sama seperti kamu dan Bang Dafa. Saat ini dan selamanya, hanya kamu bidadari hati yang aku cinta. Bukan Ayu ataupun wanita lainnya," sambungnya diikuti kecupan yang ia labuhkan di bibir Cantika.
Cantika memejamkan netra dan membiarkan Andrea menge-cup bibirnya. Keduanya seolah terlupa bahwa masih ada orang lain di taman itu yang tengah memperhatikan mereka.
"Yang, aku pengin --" Dafa sedikit mencondongkan tubuh dan memonyongkan bibirnya untuk menggoda Pinka.
"Halalin saya dulu, Mas! Setelah kita halal, Mas Dafa boleh mengecup bibir, pipi, dan ... semuanya."
__ADS_1
"Ya sudah, saya halalin kamu malam ini juga, Yang!"
"Haish, mana bisa, Mas?"
"Pasti bisa. Apalagi kita berada di dunia halu yang segalanya bisa terlaksana secepat kilat. Asalkan sang penulis skenario berkehendak."
"Iya juga sih, Mas. Kalau Mas Dafa ingin menikahi saya malam ini, saya akan menghubungi Ayah dan Bunda supaya segera datang ke Jakarta --"
"Kasihan Ayah dan Bundamu, Yang. Lagi pula, saya belum mempersiapkan mahar untuk kamu jika saya benar-benar ingin menghalalkan kamu malam ini."
"Mas, saya tidak menginginkan mahar yang muluk-muluk. Saya hanya ingin, kamu membacakan surat Ar Rahman untuk saya."
Dafa bergeming. Ia kehilangan kosa kata untuk membalas ucapan Pinka. Dafa tidak yakin bahwa ia sanggup menghafalkan surat Ar Rahman dan membacanya sebagai mahar.
"Mas --" Pinka menepuk pelan bahu Dafa, sehingga Dafa tersadar dari lamun.
"Kamu tidak keberatan 'kan jika saya meminta mahar itu?"
Dafa menggeleng ragu dan menerbitkan seutas senyum.
"Saya tidak keberatan, Yang. Tapi, beri saya waktu untuk menghafalkan Surat Ar Rahman."
"Tentu, Mas. Saya akan memberi kamu waktu. Setelah kamu berhasil menghafalkan Surat Ar Rahman, segera halalkan saya, Mas! Saya ingin mendampingi kamu, hingga kita sama-sama menua."
"Insya Allah, Yang. Tapi jika Allah berkehendak lain, bagaimana?"
"Maksud kamu apa, Mas?"
"Jika Allah berkehendak memanggil hamba-Nya ini sebelum saya berkesempatan menghalalkan-mu --"
Kata-kata yang terlisan dari bibir Dafa bagaikan sebilah pisau yang menghujam ulu hati Pinka dan menciptakan rasa nyeri, hingga mendorong air bening lolos tanpa permisi dari kedua sudut netra.
Ia sungguh tidak sanggup, jika ucapan Dafa akan menjadi nyata.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Insya Allah, beberapa bab lagi kisah 'Muridku, Suamiku' akan end. Jadi, tetap stay meski authornya lelet UP. 😊🙏
__ADS_1
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terkasih yang masih setia mengawal kisah cinta Andrea dan Cantika. 😘🙏