Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Sangkuni


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Sesampainya di ruang guru, Mita memanggil Ardyan, Septi Nuryani, dan Salma (Bunda Salma) untuk segera menghadapnya.


Ardyan dan kedua rekannya bergegas bangkit dari posisi duduk, lalu membawa langkah mereka masuk ke dalam ruangan Mita.


"Pak Ardyan, Bu Septi, Bu Salma, silahkan duduk!" titah Mita tanpa terlupa menyertainya dengan senyuman.


Ardyan mengangguk pelan dan menerbitkan seutas senyum, lalu mendaratkan bobot tubuhnya di sofa dan disusul oleh kedua rekannya--Septi dan Salma.


"Mohon maaf Bu Mita, apa ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan kepada kami, sehingga Bu Mita memanggil kami bertiga untuk menghadap?" Ardyan memberanikan diri bertanya pada Mita--kepala sekolah SMA Nusa Bangsa.


"Begini Pak Ardyan, saya meminta Pak Ardyan, Bu Septi, dan Bu Salma untuk menghadap karena memang ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda bertiga. Yang pertama, saya ingin meminta Pak Ardyan agar berkenan menghentikan konvoi siswa-siswa kita. Saya tidak ingin, konvoi yang mereka lakukan mengganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya." Mita menjeda sejenak ucapannya, lalu menggulirkan pandangan netra ke arah Septi dan Salma yang duduk bersisian di hadapannya.


"Bu Septi dan Bu Salma, saya minta kesediaan Anda berdua untuk membantu Pak Ardyan. Tolong hentikan konvoi siswa-siswa kita. Tadi saya sudah meminta dua security yayasan--Pak Noor Rehan dan Pak Romi Pratama untuk menghentikan konvoi, tetapi siswa-siswa kita tidak mengacuhkan mereka berdua. Saya yakin, Pak Ardyan, Bu Septi, dan Bu Salma bisa menghentikan konvoi karena Anda bertiga dikenal tegas dan tentunya tidak ada satu pun siswa SMA Nusa Bangsa yang berani melawan. Akan tetapi jika mereka tetap tidak mau menghentikan konvoi, sampaikan pada mereka bahwa saya akan menahan ijazah semua siswa yang turut berkonvoi," sambungnya dengan memasang raut wajah serius.


"Baik, Bu Mita. Kami akan segera menyusul semua siswa yang turut berkonvoi dan menghentikan mereka," tutur Septi seraya membalas ucapan Mita.


"Terima kasih, Bu Septi."


"Sama-sama, Bu Mita. Sudah kewajiban kami sebagai orang tua didik untuk menghentikan aksi siswa-siswa kita yang mengganggu kenyamanan dan mungkin merugikan orang lain."


Mita menanggapi ucapan Septi dengan mengulas senyum, lantas kembali bertutur.


"Yang kedua. Saya ingin meminta Pak Ardyan, Bu Septi, Bu Salma, dan semua rekan guru, serta karyawan yayasan supaya berkenan mendukung kegiatan positif yang tengah direncanakan oleh Andrea dan teman-temannya. Mereka ingin merayakan kelulusan dengan berbagi kebahagiaan. Yaitu dengan cara mengumpulkan sejumlah uang. Dan uang yang sudah terkumpul akan mereka belanjakan sembako atau sembilan kebutuhan pokok seperti beras, minyak, telur, dan lain sebagainya, lalu mereka sumbangkan kepada karyawan yayasan dan warga sekitar yang kurang mampu. Nah, bentuk dukungan kita adalah dengan turut berpartisipasi. Kita sisihkan uang kita untuk membantu mereka. Seikhlasnya dan tidak harus banyak --"


"Super sekali," ujar Ardyan seraya menyela ucapan Mita.


"Siapa yang super, Pak?"


"Tentu saja suami Bu Cantika, Bu. Di saat anak didik kita yang lain merayakan kelulusan dengan berkonvoi, Andrea malah ingin berbagi kebahagiaan pada sesama. Padahal dulunya, Andrea dikenal sebagai siswa yang badung karena sering terlibat tawuran dan balapan liar."


"Benar sekali, Pak. Dulu Andrea memang dikenal badung. Tetapi Anda perlu tahu, badungnya Andrea masih dalam batas wajar dan bukan tanpa alasan."


"Kalau boleh tahu, apa alasannya, Bu?" Jiwa kepo Ardyan meronta-ronta. Ia sungguh ingin tahu alasan kebadungan Andrea.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak bisa menjelaskannya sekarang, Pak. Lebih baik Pak Ardyan, Bu Septi, dan Bu Salma segera menyusul siswa-siswa kita yang berkonvoi, sebelum ada laporan dari warga atau pengguna jalan mengenai kelakuan mereka yang mungkin meresahkan," tutur Mita sembari beranjak dari posisi duduk, diikuti oleh Septi dan Salma.


Ardyan menghela nafas panjang dan berusaha meredam rasa keingintahuannya yang sudah menjalar hingga ke ubun-ubun. Ia lantas membawa tubuhnya berdiri dengan malas.


Seusai mengucap salam, Ardyan dan kedua rekannya berlalu dari hadapan Mita, kemudian bergegas menyusul para siswa yang berkonvoi.


"Woyyy, lu pada berisik banget! Mo gue matiin hah?" ujar Raymon dengan meninggikan intonasi suara diiringi tatapan nyalang sambil menghadang para siswa SMA Nusa Bangsa yang tengah berkonvoi.


"Lu yang gue matiin, Ray! Kalo lu ama anak buah lu kaga mau minggir, kita-kita bakal nabrak lu pada!" Dengan beraninya Sangkuni menyahut ucapan Raymon dan berganti melontarkan ancaman.


Lantas, siapa sebenarnya Sangkuni?


Sangkuni adalah teman sekelas Andrea yang dikeluarkan dari Geng Pandawa karena sering memancing keonaran dan menciptakan perselisihan antar geng sekolah, terutama perselisihan antara Geng Pandawa dan Geng Kurawa.


"Kurang aja*! Lu berani nantang Geng Kurawa?"


"Jelas berani lah. Gue bakal ngerahin anak-anak Geng Pandawa buat ngelawan Geng Kurawa. Gue jamin, lu pada bakal ngacir."


"Bangsa*. Gue bakal ngebuktiin, lu pada yang bakal ngacir!"


Perkelahian pun tak terelakkan. Raymon dan anak buahnya menghajar para siswa SMA Nusa Bangsa yang turut berkonvoi dengan membabi buta, sementara Sangkuni berusaha melarikan diri dan berencana melaporkan Raymon beserta anak buahnya pada ketua Geng Pandawa--Andrea Winata, dengan niatan untuk mengadu domba kedua Geng.


Namun sial! Sebelum berhasil melarikan diri, tangan Sangkuni dicekal oleh Andrea yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan.


"Lu mo lari ke mana?" Andrea mencengkram lengan Sangkuni dan melayangkan tatapan menghunus, hingga membuat Sangkuni teramat ketakutan.


"Gu-gue mo boker, Ndre. Gu-gue udah ka-kaga tahan." Sangkuni berkilah.


Andrea menarik sudut bibirnya dan mengeratkan cengkraman tangannya.


"Lu kaga usah boong! Gue yakin, lu pasti mo melarikan diri 'pan?"


"Su-suer, Ndre. Gu-gue bener-bener mo boker --"


"Kalo lu beneran mo boker, dah boker di mari aja!"


"Tapi, Ndre. Gue kaga bisa. Gue mesti buru-buru balik ke yayasan."

__ADS_1


"Kalo lu mo buru-buru balik ke yayasan, lu mesti minta maaf ke Raymon ama temen-temennya dulu! Lu juga mesti minta maaf ama temen-temen yang udah lu jadiin kambing hitam!"


"Ta-tapi, Ndre --"


"Buruan!!!" Andrea menghempaskan lengan Sangkuni dengan kasar, hingga tubuh Sangkuni terhuyung dan menghantam tubuh kekar Raymon.


Suara Andrea yang terdengar menggelegar mengalihkan perhatian semua siswa yang sedang berkelahi, sehingga mereka sontak menghentikan perkelahian.


"Buruan minta maaf!" Andrea kembali memperdengarkan suara baritonnya dan membuat Sangkuni semakin ketakutan.


Dengan suaranya yang terdengar bergetar, Sangkuni meminta maaf pada Raymon dan anak buahnya. Ia juga meminta maaf pada Geng Pandawa yang sudah dijadikannya kambing hitam.


"Ma-af. Gu-gue minta maaf. Selama ini, gue yang sering mengadu domba Geng Pandawa ama Geng Kurawa. Karena gue tau Raymon teramat sayang ama adeknya, gu-gue gunain kesempatan itu buat bikin Raymon benci ama lu, Ndre. Gue sering aduin lu ke Raymon. Gue juga aduin dan ngejelekin Ayu--mantan lu ke Raymon ama Afri. Gue pengin, lu ama Ayu putus. Gue pikir, setelah kalian berdua putus, Ayu bakal mau nerima cinta gue. Ternyata gue salah. Ayu malah pergi --"


"Bangsa*!" Raymon menghadiahi wajah Sangkuni dengan bogem mentah. Ia kalap dan sudah tidak bisa menguasai amarahnya.


"Hentikan! Jangan main hakim sendiri!" ujar Ardyan dengan meninggikan intonasi suara sembari berjalan mendekat ke arah Raymon, Andrea, dan Sangkuni.


"Jangan kotori tangan kalian! Lebih baik, serahkan biang keonaran ini pada kami! Percayalah, kami--para guru SMA Nusa Bangsa akan memberi hukuman yang setimpal pada Sangkuni, supaya teman kalian ini jera!" lanjut Ardyan seraya meyakinkan Raymon dan Andrea yang saat ini tampak sangat murka.


"Baik, Pak. Kami percayakan hukuman untuk Sangkuni pada Pak Ardyan dan Bapak--Ibu guru yang lain. Beri dia hukuman yang setimpal! Kalo perlu, jangan lulusin dia, Pak!" sahut Andrea.


"Bener, Pak. Sekalian aja tenggelamin Sangkuni ke pantai selatan, biar dia dimakan ama anak buah Tuan Crab!" Raymon turut menimpali.


"Ya sudah, kami akan segera membawa Sangkuni kembali ke yayasan. Silahkan kalian berdamai! Jangan ada lagi permusuhan antara Geng Kurawa dan Geng Pandawa! Karena sejatinya kalian itu bersaudara. Satu tanah air dan satu bangsa, Indonesia," tutur Ardyan berapi-api.


Setelah Ardyan, Septi, Salma, dan Sangkuni berlalu pergi, Andrea dan Raymon saling mengucap kata maaf. Mereka juga saling berpelukan, diikuti oleh anak buah mereka yang turut saling berpeluk.


Kini dan selamanya, tidak ada lagi permusuhan antara Geng Pandawa dan Geng Kurawa. Bahkan, Andrea dan Raymon kembali bersahabat seperti dulu, saat Sangkuni--Sang Pengadu Domba belum berada di tengah-tengah mereka.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak terkasih 😘🙏

__ADS_1


__ADS_2