Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Kembali


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Pagi ini Andrea membawa Cantika kembali ke Jakarta. Mereka diantar oleh Hafidz, Khabibah, dan Najwa sampai di bandara.


Netra Cantika terbingkai embun saat berpamitan dengan abah, ummi, dan kakaknya. Ia serasa berat berpisah dengan keluarga yang teramat dikasihinya. Waktu satu minggu berkumpul dengan keluarga, terasa sangat singkat bagi Cantika.


Hafidz, Khabibah, dan Najwa bergantian memeluk Cantika. Sama seperti Cantika, mereka pun serasa berat untuk berpisah.


"Nak Andrea, Abah dan Ummi percayakan putri kami kepadamu. Jaga Cantika baik-baik! Jangan pernah menyakiti hati putri kami ataupun menyia-nyiakannya," pinta Khabibah pada Andrea sembari mengusap bahu menantunya itu.


"Iya, Ummi. Saya akan menjaga putri Abah dan Ummi. Insya Allah saya tidak akan pernah menyakiti hati Cantika apalagi menyia-nyiakannya." Andrea membalas ucapan Khabibah, lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan takzim.


"Jika kalian berdua sudah sampai di Jakarta, segera hubungi kami, Nak Andrea!" titah Hafidz sambil memeluk singkat tubuh Andrea.


"Insya Allah, saya akan segera menghubungi Abah dan Ummi setelah kami sampai di Jakarta." Andrea membalas ucapan Hafidz diiringi seutas senyum yang membingkai wajah rupawan-nya.


"Abah, Ummi, Kak Naj, kami pamit. Doakan kami, semoga Allah segera menumbuhkan benih-benih cinta di hati kami sehingga kami bisa saling mencintai dan rumah tangga yang kami bangun senantiasa sakinah, mawadah, warahmah," pinta Cantika dengan melirihkan suara disertai raut wajah sendu.


Najwa menerbitkan senyum dan mengangkat dagu Cantika. Lantas ia bertutur dengan lembut seraya membalas ucapan Cantika, adik satu-satunya yang teramat ia sayang. "Adikku sayang, Abah, Ummi, dan kakak akan selalu mendoakan kalian berdua, kamu dan Andrea. Semoga Allah segera menumbuhkan benih-benih cinta di hati kalian agar kalian berdua bisa saling mencintai. Dan bukan hanya benih-benih cinta saja yang akan tumbuh. Namun benih yang mungkin sudah tertanam di rahimmu pun, semoga akan segera tumbuh. Kami juga berdoa, semoga rumah tangga kalian senantiasa sakinah, mawadah, warahmah."


"Aamiin ya Allah. Terima kasih, Kak Naj."


Najwa kembali menerbitkan senyum dan mengerjapkan netra. "Kembali kasih, Dek," ucapnya sembari memberi pelukan singkat.


Setelah mengucap salam, Andrea dan Cantika lantas memutar tumit. Kedua insan itu berjalan beriringan dan saling menautkan tangan menuju pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Jakarta.


Mereka berdua disambut oleh seorang pramugari berparas cantik dan berjilbab begitu masuk ke dalam badan pesawat.


.Pramugari itu mempersilahkan Andrea dan Cantika untuk duduk di kursi penumpang dan mengingatkan mereka untuk mengenakan seatbelt (sabuk pengaman).


Sepuluh menit telah berlalu, pesawat yang mereka tumpangi mulai lepas landas. Seluruh penumpang pesawat tampak duduk dengan tenang, tak terkecuali Andrea dan Cantika.


Namun ada salah seorang penumpang yang tampak ketakutan. Ia seorang wanita berparas manis dan seumuran dengan Cantika. Karena baru pertama kali naik pesawat terbang, wanita itu panik dan teramat takut.


Ia terus berteriak sambil mengguncang-guncangkan sandaran kursi Andrea, sehingga Andrea merasa sangat terganggu.


"Ya Allah, astagfirullah, Allahu Akbar. Aku tidak ingin mati dulu. Aku belum bertemu dengan cintaku. Tolong selamatkan hamba Ya Allah," teriaknya dan sukses mengalihkan atensi seluruh penumpang, terutama Andrea dan Cantika yang duduk di depannya.


Seorang pramugari dengan name tag 'Meidina Khanza' bergegas menghampiri dan berusaha menenangkan penumpang itu. Namun si penumpang tetap saja berteriak dan tidak bisa menghempas rasa takut yang membuat tubuhnya bergetar hebat.


Cantika tidak tinggal diam. Ia melepas seatbelt dan beranjak dari posisi duduk untuk membantu Meidina.


"Kak, tidak usah takut! Sekarang, tenangkan pikiran Kakak dengan menghirup udara dalam-dalam! Bayangkan sesuatu yang indah-indah dan hempaskan bayangan buruk dari pikiran Kakak!" tutur Cantika seiring usapan lembut yang ia labuhkan di punggung seraya mentransfer energi positif.

__ADS_1


Wanita itu pun mengangguk pelan dan menuruti perkataan Cantika. Ia sejenak memejamkan netra dan menghirup udara dalam-dalam sambil membayangkan sesuatu yang indah. Ia hempaskan bayangan buruk yang sedari tadi terlintas di pikirannya.


"Bagaimana, Kak? Sudah merasa tenang?" cecar Cantika setelah wanita itu kembali membuka netranya.


"Iya. Saya sudah merasa tenang. Terima kasih."


"Sama-sama, Kak. Oya, perkenalkan ... nama saya Cantika." Cantika mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri.


"Saya Umay," ucap wanita itu sembari membalas uluran tangan Cantika dan berganti memperkenalkan diri.


"Umay, nama yang sangat bagus ya, Kak. Ngomong-ngomong, Kak Umay suka mendengarkan musik atau membaca novel?"


"Saya lebih suka membaca novel?"


"Wah, kebetulan sekali." Cantika melengkungkan bibir dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya untuk ia berikan kepada Umay.


Rupanya Cantika mengambil novel cetak yang ditulis oleh Ayu. Namun dengan nama pena Ayunda Kirana.


"Novel ini untuk Kak Umay." Cantika menyerahkan novel itu pada Umay dan Umay pun menerimanya dengan senang hati.




"Wah, Takdir Cinta Si Janda Desa. Karya Kak Ayunda Kirana." Umay bersorak senang seiring binar mata yang terpancar dari kedua manik mata.


"Eng, iya. Saya sering chat-an sama Kak Ay. Tapi saya belum pernah bertemu dengannya. Mm, Kak Cantika kenal ... Kak Ay?" Umay ganti bertanya.


"Iya, saya kenal. Penulis novel ini adalah mantan murid saya, sekaligus --" Cantika urung melanjutkan ucapannya karena Meida memintanya untuk kembali ke tempat duduknya.


"Maaf, Nyonya. Silahkan kembali ke tempat duduk anda! Jangan lupa kenakan seatbelt, karena sebentar lagi pesawat akan mendarat!"


Cantika menanggapi ucapan Meida dengan mengangguk pelan.


"Maaf, Kak Umay. Saya harus kembali ke tempat duduk saya."


"Tidak apa-apa, Kak Cantika. Terima kasih banyak sudah membantu saya dan memberikan novel ini untuk saya."


"Sama-sama, Kak. Semoga novel yang ditulis oleh Ayu, bermanfaat untuk Kak Umay."


"Aamiin, Insya Allah, Kak."


Cantika mengulas senyum, lalu ia kembali mendaratkan bobot tubuhnya di samping Andrea.


"Sudah, Yang?" Andrea melontarkan tanya dan melirik sekilas Cantika dengan ekor netranya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Sudah," jawab Cantika sambil merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Novel siapa yang Sayang berikan?" Andrea kembali bertanya.


"Novelnya Ayu. Ayunda Kirana."


"Takdir Cinta Si Janda Desa?"


"Iya, Mas. Mas Andrea hafal sekali judulnya."


"Ya, karena aku yang mengajukan novel Ayu ke penerbit."


"Owh." Cantika menjawab singkat diikuti helaan nafas berat. Ada rasa yang membuatnya tak nyaman ketika Andrea menyebut nama sang mantan. Mantan di dunia halu, bukan di dunia nyata pastinya.


Andrea menarik kedua sudut bibirnya, lalu melabuhkan kecupan di bibir Cantika tanpa aba-aba.


Cantika terkesiap. Sepasang manik matanya berotasi sempurna tatkala mendapat serangan mendadak dari Andrea.


Seolah tak mengindahkan keberadaan penumpang lain, Andrea mengangkat dagu Cantika dan kembali melabuhkan kecupan di bibir ranum kekasih halalnya itu.


Cantika tak kuasa menolak. Refleks ia membalas kecupan yang dilabuhkan oleh Andrea.


Sepersekian detik Andrea dan Cantika saling memagutkan bibir, menyelami rasa manis yang menjadi candu.


Sepasang kekasih itu terlupa jika tengah berada di dalam pesawat dan menjadi pusat perhatian penumpang lain.


"Duh Gusti, jiwa jombloku meronta-ronta," gumam salah seorang penumpang sambil menggigit kerah bajunya.


"Nasib LDR. Kudu kuat iman." Umay pun turut bergumam.


Sementara penumpang yang lain, hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengusap da-da seperti para pembaca kisah ini. Hahay ... Sabar, sabar!!!! ✌✌✌


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan

__ADS_1


Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏


__ADS_2