
Happy reading 😘😘😘
Selama dua minggu, Dafa menghafalkan Surat Ar Rahman beserta artinya. Ayat demi ayat dibacanya berulang kali hingga benar-benar hafal.
Dafa ingin membuktikan kesungguhannya pada Pinka bukan hanya dengan menghafal Surat Ar Rahman. Namun Dafa juga menepati janjinya. Ia terbang ke Jogja bersama Airlangga, Vay, Akbar, dan Nasari untuk melamar Pinka.
Dafa teramat berharap, semoga Sang Maha Cinta meridhoi niat tulusnya untuk segera menghalalkan Pinka--wanita yang telah berhasil menyadarkan dan merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik.
Selama mereka di Jerman, Pinka sering kali mengajak Dafa untuk menghadiri kajian dan meminjaminya buku-buku yang berisi tentang ajaran agama. Perlahan, hati Dafa pun terketuk dan ia tersadar dari kekhilafan.
"Kami berangkat dulu ya, Sayang," ucap Vay sambil mengecup pipi kanan dan pipi kiri Cantika.
"Iya, Bunda. Sampaikan salam kami pada Dokter Pinka dan keluarga. Semoga acara lamarannya diberi kemudahan dan kelancaran." Cantika membalas ucapan Vay tanpa terlupa mengiringinya dengan doa tulus dan Vay pun mengamini.
Sebenarnya Cantika ingin turut serta. Begitu juga Andrea. Namun karena usia kehamilan Cantika masih memasuki trimester pertama, Vay tidak mengizinkan mereka untuk turut terbang ke Jogja dan berpesan pada Andrea agar putra bungsunya itu selalu menjaga Cantika.
Seusai mengucap salam, Airlangga, Vay, Dafa, Akbar, dan Nasari mengayun langkah menuju pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Jogja.
Sementara Andrea dan Cantika masih berdiri di tempat semula, hingga punggung kelima orang itu menghilang dari pandangan netra.
"Yang, ayo kita pulang!" Andrea meraih tangan Cantika, lalu menggenggamnya erat.
Cantika menanggapi ajakan Andrea dengan mengangguk pelan dan mengulas senyum.
__ADS_1
"Iya, Mas. Ayo!" ucapnya kemudian.
Keduanya lantas berjalan beriringan dengan saling menautkan tangan--menghampiri Anggit yang sudah menunggu di dalam mobil.
Begitu melihat Andrea dan Cantika berjalan mendekat, Anggit bergegas keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu untuk kedua majikannya itu dan mempersilahkan mereka agar masuk ke dalam.
Setelah Andrea dan Cantika mengenakan seat belt, Anggit mulai melajukan mobil pajero warna hitam milik tuannya.
Selama berada di perjalanan, Andrea dan Cantika berbincang. Mereka juga bercanda dan mengumbar kemesraan, sehingga Anggit hanya bisa mengusap dada sembari menghela nafas panjang kala menyaksikan kemesraan kedua majikannya itu dari kaca spion.
"Yang, mau cilok kembar lagi nggak? Mumpung lewat warung Ujang Kembar lho," ucap Andrea seraya menawari Cantika, sambil mengusap jilbab yang dikenakan oleh Cantika.
"Tidak, Mas. Aku sudah eneg makan cilok kembar tiap hari."
"Tapi kalau cilok kembar --"
"Jangan membahas cilok kembar selain cilok kembar yang dijual oleh Ujang Kembar lagi, Mas!"
Andrea meraih tangan Cantika, lalu mengecupnya dalam.
"Kenapa nggak boleh, Yang?" tanya Andrea.
"Karena di sini ada Mas Anggit dan pembaca yang masih di bawah umur, Mas. Kita harus lebih berhati-hati dalam berucap dan bersikap. Hindari kata-kata ataupun sikap yang menjurus ke arah o-mes!" tutur Cantika dengan melirihkan suara agar tak terdengar oleh Anggit dan pembaca kisah ini.
"Tapi, Yang. Karakterku 'kan memang begini. Di dunia nyata pun aku selalu o-mes kalau berdekatan sama kamu."
__ADS_1
"Mas, dunia nyata dengan dunia halu itu berbeda. Bahkan sangat berbeda. Jika di dunia nyata, kamu bisa bebas berucap atau pun bersikap o-mes padaku, karena tidak ada orang yang tau, apalagi menyaksikan kita, Mas. Sedangkan di dunia halu, ke-omesanmu itu akan diketahui oleh banyak orang dan menjadi santapan lezat bagi mereka. Mungkin dari sekian ribu pembaca, beranggapan bahwa penulis kita yang bocor. Maksudku ... o-mes."
"Hem, gitu ya?"
"Iya, Mas," ucap Cantika seraya menjawab tanya, lalu ia merebahkan kepalanya di bahu Andrea.
Andrea menerbitkan senyum lantas membawa tubuh Cantika ke dalam pelukan.
Rasa nyaman dirasakan oleh Cantika saat Andrea memeluknya. Perlahan ia pun mengatupkan sepasang jendela hatinya dan mulai berlayar ke pulau mimpi.
Sepuluh menit telah berlalu. Namun sepasang jendela hati Cantika masih terkatup rapat.
Andrea tidak tega membangunkan Cantika, sehingga ia membiarkan bidadari hatinya terlelap.
Untuk menghilangkan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang, Andrea mengedarkan pandangannya ke luar jendela.
Tanpa sengaja indera penglihatan Andrea menangkap sosok yang serasa tidak asing baginya dan membuat ia merotasikan bola mata dengan sempurna.
"Arya?"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak terkasih. 😘🙏