
Happy reading 😘😘😘
"Bu Cantika, lepasin calon pacar gue!" titah Afri dengan meninggikan intonasi suara diikuti tatapan nyalang.
Cantika terkesiap tatkala mendengar suara Afri yang memekakkan telinga. Wanita berparas cantik itu pun tersadar jika ia dan Andrea sudah sampai di sekolah.
Sontak, Cantika menjauhkan tubuhnya dari Andrea, lalu turun dari sepeda motor yang ditungganginya.
"Afri --" Suara Cantika tertahan seiring bunyi bel tanda masuk diperdengarkan.
Afri yang sudah berdiri tepat di samping sepeda motor trail milik Andrea, tiba-tiba ditarik oleh Shelly--sahabatnya. Sehingga ia urung menyembur Cantika dengan kata-kata pedas yang ingin dilontarkannya.
"Ayo, Fri! Buruan kita masuk ke kelas! Jangan sampe keduluan Pak Guru Killer!" ujar Shelly sambil terus menarik tangan Afri dan membawa kakinya berlari.
Mau tidak mau, Afri pun turut berlari demi mengimbangi ayunan kaki Shelly.
"Lepasin gue, Shel! Gue mo ngelabrak Bu Cantika! Dia udah berani-beraninya nge-kep calon pacar gue. Gue mo bikin perhitungan ama ntu guru ganjen, biar dia kaga berani ngedeketin Andrea, apalagi nge-kep doi." Afri membalas ucapan Shelly dengan nafas terengah-engah. Hampir saja ia terjungkal karena menginjak tali sepatunya sendiri yang terlepas.
"Udah lah, Fri! Nglabraknya nanti aja! Nasib kita di ujung tanduk kalo ampe keduluan ama Pak Johan. Guru killer ntu bakal ngehukum kita, kalo kita telat masuk ke kelas. Sumpah, gue kaga mau dihukum ama ntu guru."
Afri tak kuasa membantah ucapan Shelly dan terus berlari mengikuti ayunan kaki sahabatnya itu. Karena terlalu kencang berlari, keduanya tidak memperhatikan Johan yang tengah berjalan menuju kelas mereka.
BRUK
Afri dan Shelly menabrak tubuh Johan--Sang Guru Killer, hingga tubuh pria berkumis tipis itu terjungkal dan buku-buku yang dibawanya pun berhamburan.
Shelly terlihat sangat ketakutan dan tubuhnya bergetar hebat. Begitu pun Afri. Terbayang oleh kedua gadis itu hukuman yang akan mereka terima dari Johan.
"Duh, gimana nich, Fri?" Shelly melontarkan tanya dengan melirihkan suara agar tak terdengar oleh Johan, sembari melirik Afri dengan ekor netranya.
"Kaga tau, Shel. Elu sih, main lari aja. Ampe kaga lihat ada penampakan segede ntu," bisik Afri seraya membalas ucapan Shelly.
"Elu juga sih! Ngapain nyamperin Andrea ama Bu Cantika? Terus mo nglabrak Bu Cantika segala? Harusnya pan kita kaga telat kalo langsung masuk ke kelas."
"Jadi, elu nyalahin gue?" Afri mulai nyolot. Ia tidak terima disalahkan oleh Shelly.
"Gue kaga nyalahin elu. Tapi gue ngomong yang sebenernya, Fri. Kalo tadi kita berdua langsung masuk ke kelas, kaga bakal sial kek gini." Shelly merendahkan suara dan berusaha untuk bersabar menghadapi Afri yang tampak mulai terpancing emosi.
"Halah, tep aja lu nyalahin gue. Lu mesti inget, Shel! Gue kaga terima kalo elu nyalahin gue lagi. Gue bakal aduin lu ke Bang Raymon, biar Bang Raymon kaga nerima lu jadi pacarnya."
"Kaga diterima juga kaga pa-pa, Fri. Gue nyadar diri, siapa gue dan siapa abang lu," ucap Shelly sembari menghembus nafas berat.
Afri dan Shelly terus saja beradu kata tanpa memedulikan Johan yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua dan bersiap untuk memberi hukuman.
Johan membawa tubuhnya berdiri. Kemudian ia menyuruh Afri dan Shelly untuk mengambil buku-bukunya yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Ma-afin kami ya, Pak! Jangan beri kami hukuman! Kami terlambat masuk ke dalam kelas karena ingin menghampiri Andrea dan Bu Cantika. Mereka berdua-lah yang menyebabkan kami terburu-buru, sehingga kami tidak sengaja menabrak Pak Johan," ucap Shelly seraya meminta maaf pada Johan sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada dan sedikit menundukkan wajah.
Manik mata Afri berotasi sempurna kala mendengar rangkaian kata yang diucapkan oleh Shelly. Ia tidak terima, sahabatnya itu menjadikan Andrea sebagai alasan untuk meminta maaf pada Johan.
"Asal ma-ngap aja lu, Shel! Bukan Andrea yang jadi penyebab kita terlambat, tapi Bu Cantika. Guru ganjen ntu," ujar Afri bernada ketus dan membuat Johan murka.
Johan, guru Bahasa Inggris yang dikenal killer itu sangat tidak suka dengan gaya bicara Afri yang jauh dari kata sopan dan terkesan kasar.
"Tapi, Fri --"
"Diam!" Johan memperdengarkan suara baritonnya seraya memangkas ucapan Shelly.
"Saya tidak mau mendengar lagi alasan apapun dari kalian. Sekarang, kalian bersihkan gudang dan seluruh kamar mandi di yayasan ini! Kalian berdua tidak akan saya perbolehkan untuk mengikuti pelajaran sampai jam sekolah usai, sebelum kalian selesai membersihkan gudang dan seluruh kamar mandi hingga benar-benar bersih," lanjutnya dengan penuh penekanan disertai tatapan tajam. Sehingga membuat Shelly dan Afri tak berani membantah.
Kedua gadis itu pun lantas menunaikan perintah sang guru killer. Dengan teramat sangat terpaksa, mereka mulai membersihkan gudang yang berada di samping kelas.
Kita tinggalkan Afri dan Shelly yang tengah menjalani hukuman dari Johan, lalu beralih pada Andrea dan Cantika yang saat ini berada di dalam satu ruangan--kelas 3A.
Seperti biasa, Cantika mengajar murid-muridnya dengan pembawaan-nya yang ramah dan menyenangkan. Sementara Andrea, lelaki berparas tampan itu tampak memperhatikan Cantika yang tengah menyampaikan materi.
"Gaesss, ada yang bisa memberi contoh, bagaimana cara menyanyikan lagu yang benar dan tentunya sesuai dengan teknik vokal yang pernah Ibu sampaikan?" tanya Cantika pada seluruh murid kelas 3A, tak terkecuali Andrea.
"Saya, Yang!" sahut Andrea dengan penuh percaya diri sambil mengangkat jari telunjuknya.
Karena terlalu bersemangat, Andrea tidak sadar jika mulutnya telah lancang menyebut Cantika 'Yang' di saat mereka berada di dalam kelas.
"Huuuuuu ...." Hampir semua murid di kelas itu menyoraki Andrea, sehingga kelas yang semula tenang menjadi gaduh.
"Anak-anak, tenanglah!" titah Cantika--menirukan gaya bicara Ibu Sumena--salah satu tokoh yang berperan di telenovela kesayangannya.
Kata-kata yang diucapkan oleh Cantika bagaikan mantra yang mampu menghipnotis semua murid yang berada di ruang itu, sehingga mereka kembali tenang dan fokus memperhatikan Cantika--guru vokal berparas cantik dan kharismatik.
"Andrea, silahkan maju ke depan! Berikan contoh pada teman-temanmu, bagaimana cara menyanyikan lagu yang benar dan sesuai dengan teknik vokal yang pernah Ibu sampaikan!"
"Baik, Bu." Andrea mengangguk patuh dan beranjak dari posisi duduk. Kemudian ia berdiri di depan kelas dan mulai memperdengarkan suara emasnya ....
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku, oh
Banyak kata
Yang tak mampu ku ungkapkan
__ADS_1
Kepada dirimu
Aku ingin engkau s'lalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku, s'panjang hidupku
Aku ingin engkau s'lalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil s'luruh ragaku
Ku ingin kau tahu, ku s'lalu milikmu
Yang mencintaimu s'panjang hidupku
Spontan, Cantika pun turut bernyanyi. Ia menyahut lagu yang dinyanyikan oleh Andrea--murid sekaligus imamnya.
Sungguh, hanyalah dirimu yang aku cintai
Dan sungguh, ku kan di sisimu hingga ku mati
Andrea kembali melanjutkan lagu yang ia nyanyikan dan mengajak semua temannya untuk turut bernyanyi.
Bukan hanya teman-teman Andrea saja yang turut bernyanyi. Namun semua pembaca kisah ... Muridku, Imamku pun turut bernyanyi, tak terkecuali kakak-kakak yang tergabung dalam Iwankor dan penulis kisah ini.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
__ADS_1
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏