
Assalamualaikum Kakak-kakak terkasih. Karena author belum selesai mengetik kelanjutan kisah 'Muridku, Imamku', author perkenalkan karya-karya author yang telah end.
Sambil menanti UP kisah cinta Andrea dan Cantika, yuk mampir ke karya author yang lain. ๐๐
Cinta Gadis Biasa 'Alya'
Novel berjudul Cinta Gadis Biasa 'Alya' ini merupakan karya pertama author yang menjadi awal kecintaan author pada dunia literasi.
Mohon dimaklumi jika tulisan di kisah Alya masih acak kadul dan kurang rapi, karena saat menulis kisah tersebut author masih teramat buta ilmu literasi. โบ๐
Bab Mengandung Bawang
Mas Raikhan terus melajukan mobilnya. Di sepanjang perjalanan dia hanya terdiam, raut wajahnya pun menyiratkan cemas.
Sedangkan aku, berusaha membuang resah dengan selalu melantunkan zikir dan doa untuk keselamatan Mas Abi--calon suamiku.
"Semoga selalu Engkau jaga dia untukku ya Robb," pintaku sebagai seorang hamba yang mengiba kepada Robb-nya.
Setelah menembus keramaian kota, Mas Raikhan mulai melajukan mobilnya dengan menambah kecepatan.
Mobil yang dilajukan oleh Mas Raikhan itu melewati jalan yang menghubungkan kota dengan pedesaan.
Benar apa yang dikatakan oleh Mas Raikhan, jalan menuju Desa X teramat curam dan licin. Andai tidak hafal dengan medan jalan yang akan dilalui, mungkin mobil atau kendaraan sejenisnya, akan mudah terperosok ke dalam jurang. Naudzubillah.
"Al, coba hubungi Bima!" Suara Mas Raikhan memecah hening.
"I-iya, Mas. Sebentar, aku telepon Mas Abi."
Aku mencoba melakukan panggilan ke nomer handphone Mas Abi. Namun ternyata di luar jangkauan. Beberapa kali mencobanya, tetap saja tidak membuahkan hasil.
"Bagaimana ini, Mas Raikhan?" tanyaku dengan bibir gemetar karena rasa khawatir yang teramat sangat.
"Sabar Al! Mungkin, Bima sudah sampai di rumah Oma," balas Mas Raikhan seraya menenangkan aku.
Aku terus mencoba mengirim pesan. Tapi tetap saja nihil.
"Astaghfirullah --" Seketika kami berteriak saat mobil yang dikendarai oleh Mas Raikhan hampir saja beradu dengan truck yang lewat dari arah berlawanan.
Wajah Mas Raikhan tampak pucat. Namun ia terus saja berusaha mengendarai kendaraan besinya dengan fokus.
Di jalanan yang berliku, kami dikejutkan oleh bus dari arah berlawanan. Hampir saja mobil Mas Raikhan bersenggolan dengan bus itu.
"Ya Allah, ada apa ini?" monologku lirih.
Wajah Mas Raikhan semakin terlihat pucat. Tangannya pun mulai gemetar.
"Mas Raikhan baik-baik saja 'kan?" tanyaku.
"I-iya, Al. Aku baik-baik saja. Berdoa ya Al, semoga kita dan Bima diberi keselamatan!"
Aku menanggapi ucapan Mas Raikhan dengan mengangguk lemah.
"Mas, aku kog semakin mengkhawatirkan Mas Abi, ya? Jalanan yang kita lalui sangat berbahaya." Aku meremas kedua tanganku saat perasaan khawatir dan takut kian mendominasi.
"Positive thinking Al! Okay!"
"Iya Mas."
Ku edarkan pandangan netra ke luar jendela. Aku melihat segerombol orang sedang berdiri di pinggir jurang. Di sana tampak beberapa polisi yang tengah memasang police line dan membuat perasaanku semakin tidak karuan.
"Mas, kita berhenti di sini ya!" pintaku.
Mas Raikhan yang mengerti maksudku, seketika mengurangi kecepatan mobilnya dan menaruh kendaraan besinya itu di sisi kiri jalan.
"Al, biar aku yang melihatnya. Kamu tunggu di sini ya!" ucapnya dengan menatapku.
"Mas, aku ikut. A-aku tidak bisa menunggu."
"Alya, kali ini please jangan membantah, Okey! Tetap tunggu di sini dan jangan ke mana-mana!"
Tanpa menunggu balasan dariku, Mas Raikhan bergegas keluar dari dalam mobil. Kemudian ia mendekat ke arah sekumpulan polisi yang sedang berdiri di dekat police line.
Aku terus memperhatikannya dari kaca mobil. Raut wajah Mas Raikhan tampak sendu. Aku semakin tak tahan untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.
Tanpa sabar, aku keluar dari dalam mobil. Terlihat polisi sedang menunjukkan sesuatu pada Mas Raikhan.
Deg ... deg ....
Tatkala aku berjalan mendekat, barang yang ditunjukkan semakin jelas terlihat.
"Tasbih biru," ucapku lirih. Aku pun lantas berlari kecil menghampiri Mas Raikhan.
"Mas, ada apa ini? Tasbih biru? Itu bukan milik Mas Abi 'kan? Mas, jawab aku!" Pertanyaan yang terlontar dengan nada tinggi, menarik perhatian banyak orang. Mereka memandangku dengan tatapan iba.
"Mas, jawab! Apa yang terjadi?" Aku semakin meninggikan nada suara.
Nampak tetesan embun keluar dari telaga bening Mas Raikhan.
"Al, tabahkan hatimu!" ucapnya sembari berjalan mendekat ke arahku.
"Apa yang terjadi Mas? Please, jawab aku!"
"Tasbih ini milik Bima 'kan Al?" Mas Raikhan menyerahkan tasbih kesayangan Mas Abi padaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Ku amati dengan seksama dan ternyata memang benar milik Mas Abi.
"I-iya, ini tasbih kekasihku, Mas. Apa yang terjadi padanya?" Aku terisak membayangkan hal buruk terjadi pada Mas Abi.
Mas Raikhan menghela nafas panjang dan menatap-ku dengan intens.
"Al, apa yang kita takutkan benar-benar terjadi. Mobil Bima terperosok ke jurang dan meledak. Jasad Abi juga ditemukan hancur. Namun tasbih ini masih utuh."
"Arghhhhh ...." Badanku seketika lemas. Nyawaku seolah turut terbang bersama nyawa kekasihku.
Aku jatuh bersimpuh dan Mas Raikhan berusaha menguatkan dengan merangkul pundak-ku.
"Al, kamu harus kuat! Kamu harus tegar, Alya!"
"Tidak, Mas. Aku yakin itu bukan Mas Abi. Jasad yang ditemukan bukanlah Mas Abi. Aku yakin itu, Mas. Pasti bukan dia. Itu bukan dia --"
"Al, jasad yang ditemukan itu adalah Bima. Kamu harus bisa menerima kenyataan!! Iklas, Al!"
"Tidak, Mas. Hatiku meyakini, Mas Abi masih hidup. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku. Dia juga berjanji akan selalu menjaga Alya. Mas Abi berjanji tidak akan membiarkan calon istrinya ini menangis --" Dadaku semakin terasa sesak. Air mata kian mengalir deras. Aku memukul-mukul dada dan memanggil nama Mas Abi--calon suamiku, pria yang aku impikan menjadi imamku di dunia ini dan di akherat nanti.
Mas Raikhan terus berusaha menguatkan aku. Semua orang yang menyaksikan kerapuhanku turut menangis.
"Ndhuk, yang kuat ya! Sik sabar, tawakal!" Seorang ibu paruh baya, mendekati dan menepuk-nepuk pundakku.
Bukannya mereda. Tangisku malah semakin menjadi.
Detik berikutnya, pandanganku terlihat gelap. Tubuhku semakin lemas.
"Alya --" Suara yang terakhir kali aku dengar sebelum diri ini tak sadar dengan apa yang terjadi setelahnya.
๐น๐น๐น
Istri Comel Pilihan Abi
Novel berjudul Istri Comel Pilihan Abi merupakan sekuel dari kisah Cinta Gadis Biasa 'Alya'.
Novel ini menceritakan kisah cinta Abimana--mantan calon suami Alya.
Abimana berusaha menerima takdir cinta yang tidak berpihak padanya dan menjadikan Ayunda Kirana sebagai pengganti Alya.
Bab Candaan
Siang ini, mentari menyapa dengan kehangatan sinarnya. Angin pun berhembus sepoi-sepoi memainkan jilbab seorang gadis yang sedang bercengkrama dengan pria tampan bermata teduh dan dua orang wanita buruh gendong. Mereka adalah Kirana, Abimana, Yu Ghenah, dan Yu Kijul.
"Yu, soto yang sueger dimana ya?" tanya Kirana dengan mengulas senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.
"Soto Pak Muh, soto Yu Sudar, atau soto Bu Pujo, Den Ayu," balas salah seorang wanita buruh gendong, yang bernama Ghenah.
"Hmmm, baiklah. Kita makan soto Pak Muh saja. Oya, ini paper bag-nya ya, Yu." Kirana menyerahkan semua barang belanjaan-nya pada kedua wanita buruh gendong. Mereka pun menerima dan membawakannya dengan cara digendong dengan selendang.
"Njih, Den Ayu. Mari saya antar sekalian ke warung soto Pak Muh," tutur Ghenah dengan tersenyum ramah seraya membalas ucapan Kirana.
"Iya, Yu. Terima kasih ya."
"Sami-sami, Den Ayu."
Mereka berempat mulai melangkahkan kaki menuju warung soto, diiringi obrolan dan canda tawa.
"Yu, jangan panggil saya Den Ayu! Saya lebih suka kalau dipanggil dengan Kirana. Saya bukan keturunan Ningrat lho, Yu. Hanya saja, terlahir ning ratan," canda Kirana diikuti tawanya yang mengudara.
Sontak kedua wanita buruh gendong dan Abimana tertawa mendengar celotehan Kirana, si gadis konyol.
"Hhhhhahaha .... Njih, njih. Berati njenengan keturunan dewa dewi. Lha asmanya Dewi Candra Kirana. Owhhh ya pantas, lha wong jodohnya Den Bagus, berwajah mirip Arjuna," balas salah seorang wanita buruh gendong bernama Kijul disertai tawa--menampakkan deretan giginya yang putih.
"Hhhhahaa, bisa saja Yu. Jangan lupa, panggil saya Kiran! Dan pria tampan yang katanya mirip Arjuna ini, panggil saja Abim!"
"Njih, Mbak Kiran. Nanti saya boleh minta difoto bareng sama Mas Abim ya, Mbak?" Pertanyaan yang terlontar dari Kijul seketika membuat Kirana dan Abimana tertawa geli.
"Boleh, Yu. Dibawa pulang juga boleh."
"Wahhhh, kalau boleh dibawa pulang, saya gendong kemana-mana Mas Abim-nya."
"Haishhhh, malah seperti Mbah Surip Yu." Kirana tersenyum lebar membalas ucapan Kijul. Abimana pun semakin geli mendengar ucapan konyol sahabatnya dan Kijul.
๐๐๐
Mereka berempat kini tengah duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Kirana duduk bersebelahan dengan Abimana, sedangkan Kijul duduk bersebelahan dengan Ghenah.
Kirana memesan empat porsi soto daging sapi dan empat gelas es kopyor.
Tanpa menunggu waktu lama, salah seorang karyawan membawakan pesanan Kirana. Setelah menaruh semua pesanan di atas meja, karyawan tersebut mempersilahkan mereka untuk menikmati kesegaran soto dan es kopyor dengan disertai senyuman ramah.
Kirana, Abimana, Kijul dan Ghenah, mulai menikmati soto dan es kopyor. Dalam hitungan menit, soto dan es kopyor sudah habis disantap.
__ADS_1
"Matur nuwun Mbak Kiran, kami sudah ditraktir soto dan es kopyor," ucap Kijul setelah selesai menghabiskan makanan dan minumannya.
"Sama-sama, Yu. Tapi makanan dan minuman yang Yu Kijul habiskan, dibayar sendiri lho!" canda Kirana dengan menampakkan mimik wajah serius, hingga membuat raut wajah Kijul seketika berubah sedih.
"Waduuuuhhhh, lha nanti saya pulangnya naik apa kalau harus membayar soto dan es kopyor?"
"Naik sandal jepit, Yu," jawab Kirana sambil menahan tawa. Abimana yang mendengar celotehan sahabatnya itu, serasa ingin menjitak si gadis konyol.
"Sandal saya cuma sepasang ini. Lha nanti kalau untuk jalan sampai ke Kulon Progo, bisa jebol, Mbak," balas Kijul dengan sendu.
"Ya mau bagaimana lagi, Yu? Soto dan es kopyornya sudah terlanjur habis."
"Haduuuuhhh, piye iki Ghenah?" (Haduuuh, bagaimana ini Ghenah?) Raut wajah Kijul semakin tampak menyedihkan.
"Pfffftttt ... hahhaha, sudah Yu jangan bersedih! Saya hanya bercanda."
"Walaaahhhhh, Mbak Kirana ternyata cantik-cantik suka bercanda juga. Masuk grup srimulet saja Mbak!"
"Wahhhhh, nggak ach. Nanti Tante Nunung bisa kesaing."
"Owhh, ya ikut audisi komedi saja, Mbak!"
"Apalagi itu, Yu. Jurinya nanti malah klepek-klepek melihat titisan Dewi Candra Kirana."
Celotehan Kirana membuat Abimana, Kijul, dan Ghenah tertawa lebar.
Di sela-sela candaan mereka, datanglah seorang pengamen dengan memakai pakaian minim, polesan wajah tebal. Ditangan-nya membawa alat musik tambourine icik icik. Tepatnya si pengamen adalah seorang waria, wanita setengah pria.
Setelah memberikan sapaan, si pengamen memperkenalkan diri.
"Haiiii, nama saya Miranda. Nama asli saya Maradona. Oke dech, saya ingin menyanyikan lagu yang membuat para pengunjung sekalian hatinya akan ambyarrrr."
Miranda pun mulai bersenandung dengan memainkan alat musik yang ia bawa.
"Wikk ... wikk, ewerrr ... eweerr ... ambyarr. Achh, ach ambyarrr. Uchhh, ach ... ambyar. Ekkkkk achhhhh, ambyarrrr."
Para pengunjung tertawa terpingkal-pingkal kala menyaksikan aksi Miranda. Tak terkecuali, Kirana dan Abimana.
Setelah usai beraksi, Miranda berjalan mendekati para pengunjung untuk meminta saweran.
Ketika tiba di samping Abimana, Miranda mengusap pipi pria tampan itu. Abimana terkejut dengan apa yang dilakukan oleh si waria. Refleks ia pun menepis tangan jahil Miranda.
Kirana yang melihat kelakuan Miranda, seketika memasang wajah galaknya. Kedua netra si gadis menatap tajam pada pengamen jahil itu.
"Jauhkan tanganmu dari suamiku!" bentak Kirana.
"Ehhh, maaf. Ternyata Sampean sudah punya istri tho, Mas?" Bibir Miranda tampak gemetar tatkala melihat tatapan Kirana yang seolah ingin membunuh ditambah ucapannya yang terdengar tegas.
"Yaiyalah. Jangan ganjen ya dengan suamikuhhh!"
"I-iya, Mbak."
"Nich sawerannya!" Kirana memberikan selembar uang kertas berwarna biru dan Miranda menerimanya dengan wajah yang sumringah.
"Ahaaaa, terima kasih Mbak syantiiik. Bisa buat beli bedak donk. Miranda permisi dulu ya, Mbak syantikkkk."
"Hemmmmzzz."
Selepas kepergian Miranda, Kirana tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah sahabat sekaligus calon suaminya yang tampak cemberut.
"Pfffftttt ... hhhhahhaha, pipimu ternoda ya, Bim? Ya Allah Bim, sepertinya Miranda naksir berat sama kamu dech."
"Hisssshhh, apaan sich Markonah. Ayo buruan pergi dari sini!"
"Hhhhehe, baiklah Abim-kuhhh."
Kirana beranjak dari posisi duduk. Ia lantas berjalan menuju meja kasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang telah disantap sebelum mereka pergi meninggalkan warung soto Pak Muh, salah satu warung soto legendaris di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.
๐๐๐
Ket.
Ning ratan \= di jalan
๐น๐น๐น
Mantan Jadi Besan
Novel berjudul 'Mantan Jadi Besan' merupakan sekuel dari novel 'Istri Comel Pilihan Abi'.
Novel ini menceritakan kisah cinta Keanu--putra Abimana dengan Raina--putri Alya.
Bab Malam Yang Mendebarkan
BRUK
Tubuh mereka terjatuh di atas ranjang. Dengan posisi tubuh Raina menindih tubuh Keanu.
Deg ... deg ... deg ....
Cukup lama mereka berada di posisi yang sama. Keanu menelan saliva ketika bibir ranum Raina terlihat semakin menggoda.
Refleks, Keanu menarik tengkuk Raina. Pemuda tampan bermata teduh itu sudah tidak bisa lagi menahan ha-srat untuk segera menyentuh bibir ranum dan menyesap manisnya.
Bibir Keanu dan Raina pun saling berpagut. Meski masih terkesan kaku, kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu teramat menikmati kein-timan yang tercipta.
Seolah ingin merasakan sensasi lebih, Keanu semakin mendorong tengkuk Raina.
"Eump ...." Raina memukul dada Keanu dengan pelan, karena mulai kehabisan nafas. Meski tak rela, Keanu menyudahi sesapan-nya.
Keanu dan Raina menghirup udara dalam-dalam. Mengisi paru-paru mereka dengan oksigen.
"Ke --"
"Hemmm .--"
"Jantungmu ... berdisko." Raina terkikik geli kala mendengar irama degup jantung Keanu.
"Jantungmu juga, Rain. Jedag ... jedug ...."
Keanu dan Raina mengudarakan tawa, menutupi kegugupan mereka.
"Ke, lepaskan tanganmu! A-aku kurang nyaman dengan posisi seperti ini --" pinta Raina dengan menampakkan wajahnya yang terbingkai rona merah.
Keanu menyungging seutas senyum. Bukannya menuruti permintaan Raina, Keanu malah semakin mengeratkan pelukan.
Keanu sedikit menggulingkan tubuhnya, hingga posisi mereka saling berhadapan.
"Rain ... bolehkah, aku memilikimu seutuhnya?" Keanu menatap netra kekasih halalnya dengan tatapan penuh cinta.
Raina membalas pertanyaan yang terlontar dari bibir Keanu dengan mengangguk samar. "Iya, Ke. Miliki-lah aku seutuhnya!"
Keanu lantas memberi kecupan dalam di kening Raina.
Dengan tangan gemetar, Keanu berusaha melepas kancing gamis yang membungkus tubuh indah istrinya itu.
"Su-susah sekali, Rain." Keanu merasa kesulitan saat membuka kancing gamis yang dikenakan oleh Raina karena terlampau gugup.
"Bi-biar aku buka sendiri, Ke --"
Perlahan, Raina membuka kancing gamisnya. Netra Keanu tidak berkedip ketika satu persatu kancing itu terlepas. Bukan hanya membuka gamis, Raina melepas semua kain yang membalut tubuhnya.
Raina tertunduk malu saat menyadari tatapan Keanu seperti seekor srigala yang siap menerkam mangsanya.
Keanu menelan saliva tatkala melihat keindahan tubuh yang kini halal disentuhnya. Refleks, Keanu mulai menjamah tubuh indah istrinya dan meninggalkan jejak kepemilikan.
Keanu semakin terbakar oleh api gaira*, kala mendengar suara merdu yang keluar dari bibir Raina.
"Ke --" Raina meremas rambut Keanu, ketika pemuda tampan itu menyesap harta terindahnya.
Keanu melepas semua kain yang membungkus tubuhnya. Lalu membuangnya ke sembarang arah.
Kemudian ia arahkan bagian tubuhnya yang menegang pada mulut gua dan dengan gugup Keanu berusaha memasuki objek yang ia tuju.
Peluh Keanu bercucuran saat berulang kali salah mengarahkan bagian tubuhnya. Ia merasa frustasi dan semakin tegang.
Tetiba, Keanu teringat ucapan Ikhsan. Jangan lupa baca doa sebelum makan saat ingin memakan Raina. Maksudku, saat akan memulai ritual itu ....
"Astaghfirullah ...." Sontak Keanu menepuk jidatnya.
"A-ada apa, Ke?" Raina sedikit mengerutkan dahi.
"A-aku lupa tidak membaca doa sebelum makan, Rain."
"Doa sebelum makan?"
Keanu mengangguk samar. "Iya Rain. Aku lupa tidak membaca doa seperti apa yang dikatakan oleh Ikhsan."
Keanu menghela nafas dalam dan sekejap memejamkan netra. Lalu ia melafazkan doa dengan bibir gemetar.
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar."
Raina tertawa kala mendengar doa yang dilafazkan oleh Keanu. "Masa doanya seperti itu, Ke?"
"Kan kata Ikhsan, doa sebelum makan, Rain," jawab Keanu dengan memasang tampang polos.
"Iya, tapi maksudnya doa sebelum makan yang lain. Doa sebelum berhubungan, Ke," sahut Raina. Ia terkekeh mendengar jawaban Keanu yang terkesan polos.
"Oh, sebentar Rain! Aku belum hafal." Keanu menggaruk kepalanya dan berniat mengambil ponsel.
"Ngga perlu, Ke. Aku udah hafal kok." Raina mencegah tangan Keanu yang hendak mengambil ponsel.
"Ayo, aku tuntun!" Raina mengulas senyum sambil meletakkan tangan Keanu di puncak kepalanya.
โAllahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maa razaqtanaa. Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
Keanu menatap Raina kagum bercampur heran. Dari mana Raina tahu doa sebelum bersenggama? Lancar lagi bacaannya, tanya yang hanya terlisan di hati Keanu.
"Ayo Ke, mulai lagi!" ujar Raina sambil tersenyum.
Keanu terkesiap, lalu ia tersenyum menutupi keterkejutannya.
__ADS_1
Perlahan, diulurkan tangannya membelai rambut Raina sembari mengulangi lagi doanya.
Secara naluriah, Keanu menuntun tangannya menjamah istrinya lagi. Tetapi lebih lembut dan penuh perasaan.
Benar, ketika makan sebaiknya berdoa terlebih dahulu agar setan tidak mencampuri kita. Keanu bermonolog di dalam hati.
Perasaan aneh membuat keduanya mengerang lembut. Irama mulai teratur dan mengalun indah, ketika raga mereka bersatu.
"Makasih, Rain --" ucap Keanu sembari memeluk erat tubuh istrinya yang bermandikan peluh.
Raina mengangguk dan menghiasi bibirnya dengan senyuman yang merekah.
Keduanya saling berpeluk seolah tak ingin terpisahkan.
"Ke ... aku ingin mandi." Raina meregangkan pelukannya.
"Kita mandi bareng, ya."
"Heem --"
Keanu mengurai pelukan. Lalu beranjak dari ranjang. Ia raih tubuh sang istri tercinta dan menggendongnya ala bridal style.
Raina melengkungkan bibir dan mengalungkan tangan di leher pria tampan yang selama ini sangatttttt ia cintai.
Di bathroom, Keanu memulai kembali ritual yang kini menjadi candu. Seolah, ia ingin terus menyesap madu kekasih halalnya.
Irama yang mengalun indah kembali terdengar bersamaan dengan derasnya air yang terpancar dari shower, membasahi tubuh keduanya.
Satu jam telah berlalu. Keanu dan Raina keluar dari kamar mandi dengan senyuman yang merekah. Wajah mereka terbingkai binar bahagia, meski tubuh serasa lelah.
Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah, yang kamu dustakan?
๐๐๐
Khanza bersujud di tengah malam, merayu pada Illahi, agar perasaan cintanya yang begitu besar terhadap Birru segera dihapuskan.
Khanza sangat tersiksa dengan perasaan yang terlanjur dalam. Meski pertemuannya dengan Birru hanya sekejap, nyatanya ... Khanza tidak mudah untuk menghempaskan rasa yang terlanjur menyapa. Entah, perasaan cinta itu merupakan anugerah atau ... ujian dari Illahi.
"Ya Robb, jika memang kak Birru bukanlah jodoh yang Engkau persiapkan untuk hamba, maka hapuskan-lah perasaan yang tidak semestinya ini. Berikan kebahagiaan pada kak Birru beserta keluarga kecilnya."
Di tempat yang berbeda, Birru melakukan hal yang sama dengan Khanza. Pemuda berlensa hijau itu menengadahkan tangan seraya melangitkan pinta kepada Sang Maha Pemilik Hati.
"Allahumma Inni-Asโaluka Hubbaka Wa Hubba Man Yuhibbuka Wal-Amalalladhi Yuballighuni Hubbak. Allahummajโal Hubbaka Ahabba Ilaiya Min Nafsi, Wa Ahli Wa Minal-Maโil-Barid. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, curahan cinta-Mu dan rasa cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan melakukan perbuatan yang dapat menyampaikan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah jadikanlah kecintรขnku kepada-Mu melebihi kecintรขnku kepada diriku, keluargaku, dan kepada air yang segar."
Seusai melangitkan pinta, Birru mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Birru melengkungkan bibirnya saat menatap tasbih biru pemberian Khanza. Gadis kecil yang berhasil mengukirkan namanya di hati seorang Albirru.
"Kak, nama Kak Birru juga selalu Khanza sematkan dalam setiap untaian doa. Khanza berharap, apapun keputusan Kakak, itulah yang terbaik." Birru memegang dadanya yang tetiba serasa sesak, ketika terngiang ucapan Khanza.
"Khanza, Zahra ... maafkan keputusanku yang malah menyakiti hati kalian. Bukan ... bukan hanya menyakiti hati kalian. Tetapi, hatiku pun juga sakit. Bahkan teramat sakit."
Bulir kesedihan jatuh tanpa permisi membasahi wajah Birru. Pria blonde itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuh kekarnya berguncang hebat, tatkala tersadar dari kesalahan diri.
๐น๐น๐น
Pernikahan Tanpa Cinta
Novel berjudul Pernikahan Tanpa Cinta merupakan sekuel dari novel 'Mantan Jadi Besan'.
Novel ini menceritakan kisah cinta Khanza--adik perempuan Keanu dengan Rangga, seorang driver ojek online yang ternyata pemilik perusahaan GO-Success.
Bab Tragedi Handuk
Happy reading ๐๐๐
Khanza mengakhiri ritual mandinya, kemudian ia memutar tubuh untuk mengambil handuk yang berada di gantungan.
Betapa terkejutnya Khanza ketika menyadari kehadiran Adithya. Seketika ia pun berteriak ....
"Adithyaaaaaaaaaa ...."
Setelah membalut tubuh polosnya dengan handuk, Khanza memukuli tubuh Adithya dengan tangan kosong tanpa ampun, meluapkan amarah bercampur kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Dasar o-mes. Suka ngeliatin orang mandi. Aku bejek-bejek baru tau rasa," tukas Khanza tanpa menghentikan pukulannya.
"Adududuh, sakit Za. Jangan siksa suami tampan-mu ini," pintanya sambil mengaduh.
Khanza memutar bola mata jengah saat mendengar ucapan Adithya yang terkesan ke PD an.
"Tampan dari Hongkhonggg? Ngaca dulu Dit!"
"Aku udah ngaca, Za. Bundaku selalu bilang ... aku mirip dengan artis --"
"Mirip artis? Kamu tuch mirip Pak Raden yang kumisnya lebat di film si Unyil," sarkas Khanza.
"Za, please jangan memukulku lagi! Aku mau buang air kecil. Sudah kebelet banget."
"Halah, alibi."
"Beneran, Za. Aku sudah nggak tahan. Kalau ngompol gimana?"
"Urusan kamu lah --"
"Yaudah, kamu keluar dulu ya! Aku buang air kecil sebentar. Tapi --"
"Tapi apa?" ketusnya disertai mata yang nyalang.
"Itu." Adithya menunjuk dengan dagunya.
"Itu apaan sich?" Khanza mengerutkan dahi. Ia tidak faham dengan maksud ucapan suaminya.
"Itu-mu ditutup dulu sebelum keluar, Khanza sayang!" sahut Adithya setengah berbisik.
"Itu-mu? Apa itu-mu ... itu-mu? Ngomong tuch yang jelas, Dit!" ketus Khanza sambil berkacak pinggang dan membusungkan dada. Karena amarah yang meluap-luap, ia tidak sadar ... handuknya melorot.
Adithya menghela nafas dalam. Ia berusaha mati-matian untuk meredupkan ha-srat.
"Za, pejamkan kedua matamu! Aku mau buang air kecil sebentar, okey!" pinta Adithya dengan suaranya yang terdengar lembut.
Ucapan Adithya bagaikan sihir yang mampu menghipnotis istrinya. Khanza menurut. Ia memejamkan mata sampai Adhitya memberikan instruksi.
"Sekarang bukalah matamu, Za! Aku sudah selesai buang air kecil."
Perlahan Khanza membuka netranya. Lantas ia menagih penjelasan dari Adithya.
"Sekarang, jelaskan apa yang kamu maksud dengan itu-mu!"
Adithya tersenyum simpul. Lalu ia membenarkan handuk Khanza yang melorot. "Za, handukmu melorot. Sebelum keluar dari dalam kamar mandi, lebih baik harta terindahmu yang masih suci dan belum terjamah ini ditutup!"
Netra Khanza membola disertai wajah yang terhias rona merah saat menyadari handuknya melorot. Khanza teramat malu. Ia pun segera memutar tumit lalu keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah lebar.
Rangga tergelak melihat ekspresi wajah istrinya yang sangat menggemaskan. Namun tawanya memudar saat tubuh bagian bawahnya memberi sinyal untuk segera dimanjakan.
"Duh Dek, sabar dulu ya! Belum saatnya kamu mendapat jatah," gumamnya lirih.
....
Pagi ini suasana di rumah Abimana terasa berbeda karena kehadiran Keanu, Raina, Chayra, dan tentunya Adithya. Mereka menikmati sarapan bersama dengan diiringi obrolan ringan.
Raut kebahagiaan terlukis jelas di wajah Abimana, Kirana, Dylan, Keanu, Raina, Adithya, dan Chayra. Namun tidak dengan Khanza. Wajahnya terlihat masam.
"Za, ambilkan makanan untuk suami kamu!" titah Kirana pada putrinya.
Khanza membalas ucapan Bundanya dengan malas, "dia bisa ngambil sendiri, Bund."
"Za, sebagai seorang istri yang baik, layanilah suamimu! Jangan sampai putri Bunda menjadi istri yang durhaka," tutur Kirana dengan merendahkan suara.
Khanza menghembus nafas kasar. Dengan sangat terpaksa ia mematuhi perintah sang bunda.
Tangannya terulur untuk mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan nasi serta lauk berupa cha bayam, ayam goreng, kerupuk, dan sambal terasi.
"Nih, dimakan!" ketusnya sambil menaruh piring yang sudah terisi nasi dan lauk di hadapan Adithya.
Kirana mengelus dada, menyaksikan sikap putrinya yang sama sekali tidak sopan terhadap suami. Bukan hanya Kirana yang mengelus dada ketika menyaksikan sikap Khanza. Namun Abimana, Keanu, dan Raina pun melakukan hal yang sama dengan Kirana. Bahkan mereka kompak mengucap istighfar.
Setelah selesai sarapan nanti, Kirana berniat untuk kembali memberi wejangan kepada putrinya agar bisa menghargai Adithya sebagai seorang suami.
...
Seusai sarapan, Abimana bercengkrama bersama keluarganya di gazebo. Mereka berbincang ditemani kesegaran teh hangat gula batu dan camilan berupa keripik singkong.
"Za, Dith, kalian ingin berbulan madu di mana?" Abimana melisankan kalimat tanya yang ditujukan pada sepasang pengantin baru, Adithya dan Khanza.
Khanza sama sekali tidak merespon pertanyaan ayahnya. Ia malah asik memainkan game yang tengah viral.
"Kami ingin berbulan madu di desa W saja, Yah. Saya sudah mempersiapkan gubug untuk kami tinggali. Saya berniat, bukan hanya berbulan madu, tetapi menetap di desa tersebut," sahut Adithya tanpa ragu.
Khanza memutar bola mata malas ketika mendengar ucapan Adithya. Mau tidak mau, suka tidak suka, sebagai seorang istri ia harus bersedia mengikuti kemauan suaminya, tinggal di desa W.
"Bagaimana Za, kamu tidak keberatan 'kan, jika kalian tinggal di desa W?" tanya Abimana sembari menatap wajah putrinya dengan intens.
"Nggak Yah," jawabnya singkat tanpa menatap wajah lawan bicara. Ingin protes pun, percuma.
"Syukurlah kalau begitu. Kapan kalian akan berangkat ke Desa W?"
"Insya Allah secepatnya, Yah. Mungkin dua hari lagi." Adithya menjawab pertanyaan ayah mertuanya dengan mantap. Ia ingin segera pergi ke desa W dan hanya tinggal berdua bersama Khanza meski di rumah yang teramat sederhana. Adithya berharap, setelah tinggal berdua di desa W, hati Khanza akan mulai luluh.
"Baiklah, Dith. Ayah dan Bunda mempercayakan putri kami kepadamu. Jangan pernah membuatnya bersedih! Bimbing Khanza menjadi seorang istri yang salehah. Bersabarlah dengan sifat dan sikapnya yang terkadang memancing emosimu," tutur Abimana.
"Iya, Yah. Terima kasih atas kepercayaan yang Ayah dan Bunda berikan. Saya berjanji sebisa mungkin tidak akan membuat Khanza bersedih. Saya juga akan berusaha membimbingnya menjadi seorang istri yang salehah. Tentang sifat dan sikap Khanza, saya sudah memakluminya, Yah."
Mendengar ucapan sang menantu, Abimana dan Kirana semakin yakin bahwa Adithya-lah pria yang sangat tepat menjadi pendamping hidup putri mereka. Keduanya juga yakin, suatu saat nanti hati Khanza akan luluh oleh ketulusan cinta Adithya yang tak lain adalah Rangga--teman SMA Khanza.
๐น๐น๐น
Author mengucapkan ribuan terima kasih teruntuk Kakak-kakak pembaca setia yang telah berkenan mengawal author berkarya, mulai dari kisah Alya hingga kisah Andrea.
Author juga mengucapkan ribuan terima kasih teruntuk Kakak-kakak terkasih yang telah berkenan serta sabar menunggu kelanjutan kisah 'Muridku, Imamku'.
Love-love sekebon .... ๐๐
__ADS_1
Wasalamu'alaikum ....