
Happy reading 😘😘😘
Speechless
Cantika terkesiap (sangat terkejut) dan tak mampu mengucap sepatah kata pun tatkala mendapati si pemilik suara yang tidak asing dan pernah bertahta di hatinya.
Sama seperti Cantika, Andrea pun sangat terkejut. Namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan bersikap biasa saja tatkala pandangan netranya tertuju pada si pemilik suara yang ternyata adalah Dafa--kakak kandungnya sekaligus mantan calon suami Cantika.
"Bang Dafa." Andrea menyapa Dafa, lalu ia beranjak dari posisi duduk dan mengulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh Dafa.
Seketika Dafa mematung saat Andrea memeluk tubuhnya. Ia ragu untuk membalas pelukan Andrea, lelaki yang telah menggantikan posisinya sebagai imam Cantika.
Namun detik berikutnya, Dafa mengangkat kedua tangannya yang semula menjuntai dan membalas pelukan Andrea.
Sesaat keduanya saling berpeluk disaksikan oleh Cantika dan para pengunjung Kafe K & R.
Cantika berusaha melawan rasa yang tengah bergejolak di dalam jiwa. Rasa marah, benci, kecewa, dan rasa iba yang berbaur menjadi satu saat ia dipertemukan kembali oleh Sang Penulis Skenario dengan Dafa--pria yang pernah menorehkan luka dan mendorongnya ke palung duka.
"Bang, maafin gue. Gue udah lancang nikahin Cantika. Wanita yang seharusnya jadi bini lu," bisik Andrea sembari mengurai pelukan.
"Aku nggak bakal maafin kamu, Ndre." Dafa tersenyum tipis dan meninju pelan wajah Andrea.
"Hak lu, Bang. Mo maafin gue apa kaga. Tapi gue minta, jangan usik rumah tangga gue!"
Ucapan Andrea menggelitik indera pendengaran sehingga membuat Dafa terkekeh.
"Hey, siapa juga yang mau mengusik rumah tanggamu? Ralat, rumah tangga kalian--kamu dan Cantika," ujarnya sambil mengacak rambut Andrea dengan gemas.
__ADS_1
"Terus terang, aku memang pernah berkeinginan untuk mengusik rumah tangga kalian dan merebut kembali Cantika. Namun setelah aku bertemu dengan Dokter Pinka, aku tersadar bahwa bukan hanya Cantika saja wanita saleha dan tercantik di dunia ini yang patut aku perjuangankan --"
"Aroma-aromanya, lu lagi demen ama Dokter Pinka, Bang," sahut Andrea seraya memangkas ucapan Dafa.
"Ya, aku memang jatuh hati pada Dokter Pinka. Di mataku, dia adalah maha karya Illahi yang begitu sempurna, hampir sama seperti Cantika."
"Gue kaga nyangka, lu bisa move on dari Cantika secepat kilat, Bang. Tapi gue malah seneng. Bahkan seneng banget."
"Kamu seneng banget karena sudah nggak ada saingan berat lagi 'kan?"
"Lu kalo ngomong suka bener, Bang."
Andrea dan Dafa mengudarakan tawa. Tanpa mereka sadari, Cantika sudah berlalu pergi.
"Duduk dulu, Bang! Lu boleh pesen apa aja. Gue yang bakal bayarin," ucap Andrea setelah tawa mereka mereda.
"Aku saja yang bayarin, Ndre. Simpan uangmu untuk mencukupi kebutuhan kalian!"
"Hmm, baiklah kalau kamu memaksa. Tapi bagaimana dengan istrimu? Cantika mau nggak makan siang semeja denganku? Sang mantan yang berpenyakitan."
"Lu kaga usah ngomong gitu, Bang! Gue yakin, doi mau. Ya 'kan, Yang?" Andrea menoleh ke arah kursi yang tadi diduduki oleh Cantika. Begitu juga Dafa.
Sontak Andrea dan Dafa terkejut saat mendapati kursi yang diduduki oleh Cantika telah kosong.
"Ndre, di mana Cantika?" Dafa melontarkan tanya diikuti kerutan yang tercetak jelas di dahinya.
"Gue kaga tau, Bang."
"Coba kamu hubungi nomer Cantika!"
__ADS_1
"I-ya, Bang."
Andrea bergegas mengambil gawainya yang ia simpan di saku celana. Kemudian ia menghubungi nomer handphone Cantika dan berharap Cantika segera menerima panggilan telepon darinya.
"Gimana, Ndre? Nomer Cantika aktif 'kan?"
"Kaga, Bang. Nomer Cantika kaga aktif." Suara Andrea terdengar lirih dan bergetar. Tubuhnya serasa lunglai, seolah tanpa daya.
"Tenangkan dirimu, Ndre! Mungkin handphone Cantika kehabisan baterai," tutur Dafa. Ia berusaha menenangkan Andrea, meski dirinya sendiri jauh dari kata tenang karena teramat mencemaskan Cantika--sang mantan terindah.
"Lebih baik, sekarang kita berpencar! Kamu mencari Cantika di toilet dan aku akan mencarinya di yayasan. Siapa tahu, Cantika kembali ke yayasan untuk mengambil sesuatu atau mungkin menemui Mita--sahabatnya."
"Iya, Bang." Andrea pun menyetujui perkataan Dafa. Ia bergegas membawa langkahnya menuju toilet untuk mencari Cantika.
Sementara Dafa membawa ayunan kaki menuju area parkir Kafe K & R untuk mengambil kendaraan besinya. Ia berniat membantu sang adik--mencari Cantika yang tiba-tiba menghilang entah ke mana.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksana-lah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
__ADS_1
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏