
Warning!!!! Mengandung adegan 21++++. Bagi Kakak-kakak yang masih di bawah umur, harap bijak memilih bacaan 😉🙏
Happy reading 😘😘😘
Setelah mengetahui kenyataan pahit yang menimpa Dafa, Airlangga dan Vay berusaha untuk berbesar hati. Mereka berpasrah dan berserah diri pada Illahi atas ketentuan yang digariskan oleh-Nya untuk Dafa.
Airlangga dan Vay yakin, Illahi tengah menguji dan memberi teguran pada keluarga mereka agar tersadar serta berkeinginan untuk berbenah.
Sebagai orang tua, Airlangga dan Vay ingin mendampingi Dafa melewati masa-masa sulitnya. Mereka juga ingin memberi kekuatan dan motivasi supaya tubuh ringkih Dafa bisa segera bugar kembali.
Setelah mengamanahkan perusahaan-nya pada Nasari dan Akbar, kedua paruh baya itu terbang ke Jerman untuk menyusul Dafa.
Sementara Andrea dan Cantika, keduanya mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke sekolah. Tentu saja sebagai seorang murid dan guru.
Ya, Andrea mengijinkan Cantika untuk tetap bekerja sebagai guru vokal di SMA Nusa Bangsa. Ia berjanji tidak akan mengungkap status mereka pada guru dan teman-temannya. Terkecuali pada Nofia dan Riri yang memang sudah mengetahui status mereka.
Seusai mandi dan menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di rumah bersama Andrea, Cantika menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Ia memasak menu sarapan pagi kesukaan Andrea yang teramat sederhana. Telur dadar sayur, tempe goreng, cah bayam, sambal terasi, dan dilengkapi dengan kerupuk udang.
Senyum terbit menghiasi wajah Andrea ketika ia mendapati Cantika tengah asyik menata piring di atas meja.
Andrea lantas berjalan menghampiri Cantika dengan mengendap-endap. Lalu dipeluknya tubuh Cantika dari belakang, sehingga wanita berparas cantik itu terjingkat dan hampir menjatuhkan piring yang dibawanya.
"Astaghfirullah. Kamu seneng banget mengagetiku, Mas," ucap Cantika sambil menghela nafas dan mengusap dadanya.
Andrea terkekeh dan mencuri kecupan yang ia labuhkan di pipi Cantika.
"Maaf Yang, aku sengaja. Oya, masak apa pagi ini, Nyonya Andrea Winata?" tanya-nya sekedar berbasa-basi sambil mengeratkan pelukan dan menghujani tengkuk Cantika yang terbuka dengan kecupan, sehingga Cantika menggeliat geli dan tak kuasa menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.
Tak puas menghujani tengkuk Cantika dengan kecupan, Andrea juga mencetak jejak merah seiring gerakan tangannya memainkan squisy kesayangan.
"Mas --" Cantika mende-sah. Ia sungguh tak mampu menahan nada-nada merdu yang keluar begitu saja dari bibirnya saat tangan Andrea mulai bermain nakal.
"Yang, semalam kita libur itu. Kita ganti sekarang ya sunah Rasulnya," bisik Andrea tepat di telinga Cantika dan membuat tubuh Cantika seketika meremang.
"Mas, sudah jam setengah enam. Kita bisa terlambat ke sekolah kalau --"
__ADS_1
"Sebentar saja, Yang. Lima belas menit cukup." Andrea memangkas ucapan Cantika dan memutar tubuh istrinya itu hingga berhadapan dengannya.
"Mas, kamu tahu 'kan, aku sedang tidak mood? Jujur, sebenarnya aku takut hamil dan jatuh cinta padamu," lirih Cantika sambil menundukkan wajah.
"Kenapa, Sayang takut hamil dan jatuh cinta padaku? Apa mungkin, Sayang meragukan-ku? Seandainya iya, apa yang Sayang ragukan dariku?" Andrea menghujani Cantika dengan kalimat tanya sembari mengangkat dagu kekasih halalnya itu, sehingga wajah Cantika yang tampak sendu memenuhi ruang pandang.
"Mas, aku memang meragukan kamu. Aku ragu pada cintamu saat ini. Terus terang, aku masih trauma. Dua kali aku terpedaya pada sikap dan ucapan manis seorang Adam. Dua kali juga aku ditinggalkan dan merasakan sakitnya patah hati. Jika kita sering menunaikan sunah Rasul dengan menyatukan raga, aku takut benih-benih cinta yang sudah mulai tumbuh di taman hati akan bermekaran. Dan ketika benih-benih cinta itu bermekaran, kamu akan meninggalkan aku seperti yang dilakukan oleh Mas Dafa. Aku tidak ingin, anak yang kelak terlahir dari rahimku tidak memiliki seorang ayah," jawab Cantika seraya menuangkan isi hati.
"Yang, aku bukan Bang Dafa. Aku juga bukan Heru. Aku Andrea Winata yang selalu menjaga hati dan kesetiaan hanya untuk satu wanita. Dan wanita itu kamu. Bukan yang lain."
"Benarkah? Jika suatu saat Ayu kembali, apa mungkin hati dan kesetiaanmu akan tetap terjaga untuk aku, Mas? Atau mungkin, Mas Andrea akan berpaling padanya dan meninggalkan aku?"
"Aku pastikan, hati dan kesetiaanku tetap akan terjaga untuk kamu. Untuk Cantika Maharani. Wanita yang ditakdirkan oleh Sang Maha Kasih untuk melengkapi hidupku." Sesaat Andrea menjeda ucapannya, lalu melabuhkan kecupan di bibir ranum Cantika.
"Asal kamu tau, Yang. Ayu hanyalah masa lalu bagiku. Rasa cinta yang pernah ada untuknya sudah terhempas dan nggak tersisa setitik pun. Mulai detik ini, saat ini, kita tanggalkan masa lalu. Kita tapaki kehidupan ini dengan merangkai kisah cinta terindah," lanjut Andrea diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah rupawan-nya.
"I will always love you, Cantika Maharani." Andrea berbisik dan memandu Cantika untuk merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di sudut ruang.
Ia lafazkan doa sebelum berseng-gama dan melabuhkan kecupan dalam di kening Cantika.
"Sayang, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Andrea kembali berbisik dan mengulas senyum.
Kenikmatan yang luar biasa Cantika rasa saat Andrea menghujamkan bagian tubuhnya yang menegang dan menyemburkan benih cinta ke dalam sela-put marwah.
Tasbih cinta terlantun merdu dari bibir Cantika bersamaan air embun yang lolos dari telaga bening.
"Mas, jangan sudahi! Aku ingin lagi," pinta Cantika dengan suaranya yang terdengar parau disertai tatapan mendamba.
Cantika enggan menyudahi ritual yang membuatnya candu. Ia ingin mereguk kenikmatan hingga merasakan kepuasan.
Andrea menanggapi ucapan Cantika dengan menarik kedua sudut bibirnya dan mengecup singkat bibir ranum sang kekasih halal.
"Kita lanjut nanti, Yang. Sebentar lagi bel sekolah berbunyi," ucapnya sembari mencabut bagian tubuhnya dari lubang kenikmatan.
Ucapan Andrea sukses membuat Cantika tersadar dan seketika bangkit dari posisi berbaring.
"Astaghfirullah. Jam berapa sekarang, Mas?"
"Jam enam lebih lima belas menit, Yang."
__ADS_1
"Duh, aku harus segera mandi."
"Kita mandi bareng ya?"
Cantika menggeleng kepala dan membawa tubuhnya berdiri. Lalu ia bergegas memungut pakaiannya yang terserak di lantai dan berlari menuju kamar mandi.
Karena kurang berhati-hati, kaki Cantika terpeleset dan membuat tubuhnya limbung.
Dengan sigap Andrea mengulurkan tangan dan menopang tubuh Cantika, lalu menggendongnya ala bridal style.
"Mas, turunin aku!" pinta Cantika dengan mengibas-ngibaskan kaki. Namun Andrea enggan menurunkannya dan malah membawa Cantika masuk ke dalam kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Andrea menurunkan Cantika di bathtup. Kemudian ia memutar keran dan menyusul bidadari hatinya itu--masuk ke dalam bathtup.
"Kita mandi bareng, Yang," ucapnya diikuti kerlingan nakal dan senyuman terkembang.
Manik mata Cantika seketika berotasi sempurna kala mendengar ucapan Andrea. Terbayang oleh-nya apa yang ingin dilakukan oleh suami brondongnya itu jika mereka mandi bersama di dalam bathtup.
"Mas, kita belum mandi dan belum sarapan. Kalau kita mandi bersama di dalam bathtup, aku yakin pasti lama selesainya. Mending Mas Andrea mandi di kamar mandi sebelah! Setelah mandi, kita sarapan --"
"Aku janji, kali ini nggak akan lama, Yang. Asal Sayang diam saja dan menurut! Kalau nggak sempat sarapan, kita bisa sarapan di sekolah." Andrea memangkas ucapan Cantika dan mulai memandikan istrinya itu.
Cantika menghembus nafas berat dan membiarkan Andrea memandikannya. Namun ia tidak tinggal diam. Ia pun berganti memandikan Andrea.
Seperti yang dijanjikan oleh Andrea. Keduanya mandi bersama tanpa melakukan ritual yang membuat mereka candu.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
__ADS_1
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏