
Happy reading 😘😘😘
"Pak Johan --" Cantika dan Mita kompak menyebut nama Johan. Kedua wanita itu sangat terkejut dengan kemunculan Johan yang tiba-tiba. Begitu juga Andrea dan Erland. Kedua lelaki itu juga sama terkejutnya.
"Bu Can, Bu Mit, apa yang Anda berdua lakukan di tempat ini? Kenapa si badung dan Dokter Erland juga berada di sini?" Johan kembali bertanya, lalu membawa tubuhnya berdiri sejajar dengan Cantika.
"Eng, kami --"
Andrea memangkas ucapan Cantika dengan mengibaskan tangannya ke udara. Kemudian ia beranjak dari posisi duduk dan berdiri tepat di samping Cantika.
"Kami sedang rapat keluarga. Karena Pak Johan bukan anggota keluarga kami, silahkan Bapak meninggalkan tempat ini!" ujar Andrea tanpa segan dan bernada ketus.
Andrea mampu membaca gelagat Johan yang tak biasa terhadap Cantika. Ia yakin, bahkan teramat yakin, Johan menaruh hati pada istri tercintanya itu.
"Rapat keluarga? Memangnya, kamu anggota keluarga Bu Cantika atau Bu Mita?" Johan menarik satu sudut bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada seiring tatapan meremehkan yang ia tujukan pada Andrea.
"Tentu saja Andrea keluarga saya, Pak. Tepatnya keluarga kami. Dia adalah cucu dari eyang buyutnya simbah saya, sekaligus cucu Eyang Adam--simbahnya Cantika."
Jawaban yang dicetuskan oleh Mita sukses membuat Johan mengerutkan dahi. Kentara sekali ia tengah berpikir keras untuk memahami maksud ucapan Mita yang lumayan membingungkan baginya.
Di saat Johan tengah berpikir keras, Mita menarik lengan Cantika dan Erland. Ia juga memberi isyarat yang ditujukannya pada Andrea dengan gerakan netra dan Andrea pun membalasnya dengan mengangguk pelan sebagai pertanda bahwa ia mengerti maksud dari isyarat yang diberikan oleh Mita.
Mita, Cantika, Erland, dan Andrea lantas berjalan dengan langkah lebar--meninggalkan Johan yang masih fokus berpikir.
Lima menit telah berlalu. Johan mulai tersadar bahwa ia telah ditinggalkan seorang diri di taman.
__ADS_1
Johan berdecak dan menggumamkan umpatan seraya meluapkan kekesalan.
Kita tinggalkan Johan dengan kekesalannya dan beralih pada empat orang yang saat ini berada di area parkir setelah berhasil melarikan diri dari Johan--si guru killer yang diam-diam menaruh hati pada Cantika.
Sesampainya di area parkir, Andrea meminta Cantika untuk naik ke atas sepeda motor yang ditungganginya. Namun Cantika menolak dan meminta izin pada Andrea agar memperbolehkannya menumpang di mobil Erland bersama Mita.
Dengan berat hati, Andrea pun memberi Cantika izin. Ia berusaha memahami dan memaklumi Cantika.
Tiba di kafe K & R, mereka berempat disambut oleh Keanu dan Raina--pemilik kafe tersebut.
Kedua paruh baya itu tersenyum ramah dan mempersilahkan keempat tamunya untuk duduk di sofa yang berada di dekat jendela.
Sebelum mendaratkan bobot tubuh di sofa, Erland mencium punggung tangan Keanu dan Raina, lalu memeluk singkat tubuh mereka. Sama seperti Erland. Mita, Andrea, dan Cantika pun mencium punggung tangan kedua pemilik kafe itu.
Rupanya, Keanu dan Raina masih memiliki hubungan keluarga dengan Erland, sebab Erland adalah putra bungsu Rangga dan Khanza--adik perempuan Keanu.
Keanu dan Raina juga merupakan sahabat Airlangga dan Vay--kedua orang tua Andrea.
"Nak Erland, kami tinggal dulu ya! Kamu pesan saja makanan dan minuman yang kalian inginkan!" tutur Raina tanpa menanggalkan kesan ramah.
"Siap, Bude." Erland membalas ucapan Raina dengan mengangguk kecil dan mengulas senyum.
Selepas Keanu dan Raina pergi, Erland memesan beberapa menu makanan dan minuman sesuai yang diinginkan oleh mereka berempat--ia, Mita, Andrea, dan Cantika.
Mereka lantas berbincang sambil menunggu makanan dan minuman yang dipesan oleh Erland.
Di sela-sela perbincangan mereka, Andrea terlihat berulang kali memijit kepalanya yang terasa cenat-cenut. Ingin rasanya ia mengajak Cantika untuk pulang dan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa?" Cantika melisankan tanya dan menatap lekat wajah Andrea yang tampak pucat.
"Aku nggak kenapa-napa, Yang. Cuma sedikit pusing dan badanku tiba-tiba saja terasa lemas."
"Jangan-jangan suami kamu masuk angin, Tik," tebak Mita--menimpali ucapan Cantika.
"Bisa jadi, Mit."
"Atau mungkin, Andrea mengalami sindrom couvade yang sering disebut kehamilan simpatik," tutur Erland mengemukakan pendapatnya.
Manik mata Cantika berotasi sempurna kala mendengar ucapan Erland. Terbayang olehnya jika Andrea benar-benar mengalami kehamilan simpatik.
Cantika khawatir jika kehamilan simpatik yang mungkin dialami oleh Andrea akan menjadikan suami brondongnya itu kehilangan fokusnya di dalam menuntut ilmu, sehingga tidak lulus SMA tahun ini.
Berbeda dengan Cantika. Wajah Andrea yang semula pucat, seketika tampak berbinar. Ia teramat girang dan ingin mengumumkan kehebatannya bercocok tanam jika ucapan Erland terbukti benar.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
__ADS_1
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih dan love-love sekebon 😘🙏