Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Cilok


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Tawa Andrea seketika mereda saat terdengar suara lembut Cantika memanggil. Ia pun segera memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan wanita yang teramat dicintainya itu.


"Sayang --" Suara Andrea tercekat kala wajah cantik sang bidadari hati memenuhi ruang pandang. Ia sungguh tidak menyangka, wanita yang sedari tadi dicarinya kini sudah berdiri di hadapan.


"Mas --"


"Yang --"


"Mas, maafin aku," lirih Cantika sambil menundukkan wajah dan menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah sebab telah pergi tanpa pamit, sehingga membuat Andrea khawatir dan mencarinya di toilet wanita.


"Maaf? Kenapa kamu minta maaf, Yang?" Andrea bertanya heran diiringi kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.


"Aku minta maaf karena tadi pergi tanpa pamit sama kamu, Mas."


Andrea menarik kedua sudut bibirnya dan mengangkat dagu Cantika dengan perlahan. Lalu ditatapnya lekat sepasang manik mata Cantika yang selalu membuatnya jatuh cinta seiring usapan lembut yang ia labuhkan di bibir ranum kekasih halalnya itu.


"Yang, aku hampir gila karena-mu. Aku kira, kamu akan pergi dari hidupku," ucap Andrea tanpa melepas tatapan netranya dari wajah cantik sang bidadari hati--Cantika Maharani.


Cantika mengulas senyum dan melabuhkan usapan lembut di pipi Andrea.


"Mas, aku hanya pergi sebentar. Jujur, aku tidak pernah berpikir ataupun berniat untuk pergi dari hidupmu, karena --"


"Karena apa, Yang?"


"Karena aku sudah jatuh hati padamu," tutur Cantika seraya menjawab tanya.


Untaian kata yang terucap dari bibir Cantika menumbuhkan rasa bahagia di hati Andrea. Ia sungguh tidak percaya, Cantika Maharani--wanita yang berstatus sebagai istri sekaligus guru vokalnya kini telah membalas cintanya.


"Ucapkan sekali lagi, Yang!" pinta Andrea penuh harap untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah mendengar.

__ADS_1


Cantika mengerjapkan netra dan melabuhkan kecupan singkat di bibir Andrea, lantas mengulangi perkataannya.


"Karena aku sudah jatuh hati padamu, Mas. Aku cinta kamu Andrea Winata."


"Yang --"


"Aku cinta kamu, Mas."


"A-ku juga cinta kamu, Cantika Maharani. Teramat sangat cinta."


Andrea menerbitkan senyum, lalu melabuhkan kecupan dalam di bibir ranum Cantika.


Refleks Cantika melingkarkan tangan di leher Andrea dan menyambut kecupan yang dilabuhkan oleh suami brondongnya itu.


Sepersekian detik bibir Andrea dan Cantika saling berpagut, menyelami rasa manis yang menjadi candu, hingga membuat sepasang cicak yang menyaksikan keromantisan mereka terdorong untuk turut memagutkan bibir.


Karena terlalu dalam menyelami rasa manis, kedua cicak itu tergoda untuk membuat adonan. Entah adonan apa yang ingin mereka buat. Penulis kisah ini enggan bertanya.


Di saat Andrea dan Cantika semakin memperdalam ciu-man, sepasang cicak yang tengah menyatukan cinta itu terjatuh tepat di pucuk kepala Andrea.


"Ada apa, Mas? Apa yang terjadi sama kamu? Kamu tidak kerasukan jin bencong 'kan?" cecar Cantika.


Bukannya menjawab deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Cantika, Andrea malah ganti bertanya. "Yang, kenapa kepalaku seperti kejatuhan jelly ya?"


"Jelly? Jelly apa, Mas?"


"Jelly kenyal, Yang." Andrea lantas meraba rikmanya dan mengambil sesuatu yang terjatuh di pucuk kepalanya.


Bola mata Andrea berotasi sempurna dan lisannya tak mampu berword-word saat tangannya menangkap sepasang cicak yang tengah menautkan badan sembari terengah-terengah.


"Ck, ck, cicak kaga ada etika. Masa olah raga di atas kepala gue. Kurang asem bener lu pada!" tukas Andrea seraya meluapkan kekesalan dan membuat Cantika terkekeh karena teramat geli.


"Mas, cicak 'kan hewan. Jadi, mereka memang tidak mempunyai etika seperti manusia."

__ADS_1


"Tapi mereka perlu diajari etika, Yang. Biar nggak asal menjatuhkan diri di kepala orang."


"Coba kamu ajari, Mas!"


"Kamu aja yang ngajari, Yang! 'Kan kamu guru."


"Aku memang seorang guru, Mas. Tapi guru Andrea Winata, bukan gurunya cicak."


Andrea mengudarakan tawa kala mendengar ucapan Cantika yang sukses menggelitik indera pendengaran. Sementara Cantika, ia hanya menerbitkan seutas senyum sembari menatap lekat wajah Andrea yang terlihat semakin rupawan di netranya.


"Mas, aku ingin --" ucap Cantika setelah tawa Andrea mereda.


"Sayang ingin apa?"


"Aku ingin itu --"


"Ingin apa, Yang?"


"Aku ingin cilok kembar."


"Cilok kembar?"


"Heem."


"Hayuk lah! Mamas akan mengabulkan permintaanmu." Andrea tampak bersemangat. Ia mengira, cilok kembar yang diinginkan oleh Cantika bukanlah cilok sembarang cilok, tetapi cilok yang hanya dimiliki oleh kaum Adam.


Kenyataannya, Cantika menginginkan cilok kembar yang dijual oleh Ujang Kembar. Bukan cilok yang bermakna ambigu dan mengarah ke o-mes.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf, UP nya pelan-pelan ya, Kak 😊🙏

__ADS_1


Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏


__ADS_2