
Happy reading 😘😘😘
Di saat Cantika tengah bertanya pada kalbunya, tiba-tiba Andrea melabuhkan ciu-man hangat di bibir. Seperti biasa, Cantika tak kuasa menolak sentuhan bibir Andrea yang sudah menjadi candu, bahkan ia membalasnya dan refleks melingkarkan kedua tangan di leher suaminya itu.
Sepersekian detik, sepasang kekasih halal itu memagutkan bibir dan saling menyesap madu. Melupakan sejenak permasalahan kecil yang hampir saja melemahkan tautan cinta mereka.
Keduanya meraup udara dalam-dalam di sela-sela pagutan bibir dan saling menatap dengan tatapan mendamba.
Andrea tak kuasa menahan ha-srat. Ia ingin segera mereguk kenikmatan surga dunia, menyatukan raga dengan kekasih halalnya--Cantika Maharani.
"Yang, aku ingin --" bisik Andrea disertai nafasnya yang memburu.
Cantika menggeleng pelan, lalu menggamit lengan Andrea dan memandunya untuk duduk.
"Aku obati dulu lukamu, Mas," ucap Cantika setelah mereka mendaratkan bobot tubuh di tepi ranjang.
"Nanti saja, Yang. Aku sudah nggak tahan --"
"Mas, obati dulu lukamu, setelah itu lakukan apa yang kamu mau!"
"Tapi, Yang. Aku bener-bener ingin itu --" Andrea merajuk. Namun Cantika tetap bersikukuh menolak.
"Mas, aku obati dulu lukamu atau kamu tidak akan mendapat jatah dariku?" Cantika melontarkan kalimat ancaman dan membuat Andrea tertunduk lemah.
"Hah, baiklah, Yang. Aku nurut aja asal Sayang nggak marah lagi dan dengan senang hati memberiku jatah." Andrea menyerah. Ia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan seraya mengendalikan dirinya yang sudah dikuasai oleh ha-srat.
"Nah, gitu dong! Anak pinter." Cantika mengusap rambut Andrea dan menerbitkan sebaris senyum yang membingkai wajah cantiknya.
Tanpa aba-aba, Andrea kembali menyerang Cantika dengan melabuhkan bibirnya. Namun kali ini Cantika mampu menguasai diri, sehingga ia tidak tergoda untuk membalas sentuhan bibir Andrea.
__ADS_1
"Dasar o-mes!" tukas Cantika sembari mendorong pelan dada bidang Andrea.
Andrea tersenyum lebar dan meraih jemari tangan Cantika yang berlabuh di dada bidangnya. Lalu ia hujani jemari tangan kekasih halalnya itu dengan kecupan lembut.
"Sayang yang membuatku o-mes," balasnya sambil menoel hidung mancung Cantika--wanita tercantik sejagad jiwa bagi Andrea untuk saat ini dan selamanya.
"Ehem, jangan menoal-noel hidungku, Mas! Hidungku bisa mancung ke dalam kalau kamu toal-toel."
"No problem. Nggak masalah kalau hidungmu mancung ke dalam, Yang. Kamu tetap cantik di mataku."
"Gombal, Mas. Stop dulu merayunya! Sini, aku obati lukamu!"
"Iya, Ratuku." Andrea mengulas senyum, lalu mencuri kecupan singkat di bibir ranum Cantika dan sukses membuat wanitanya itu terkesiap.
"Mas!" ujar Cantika sambil melotot.
Andrea tersenyum nyengir dan mengangkat dua jarinya ke udara--membentuk huruf V. "Peace, Yang!" ucapnya.
Dengan sangat hati-hati, Cantika membersihkan dan mengobati buku-buku jari Andrea yang terluka, lalu membalut luka itu dengan perban dan menempelinya dengan sticker Worms Zo-ne.
"Sudah, Yang?" Andrea bertanya pada Cantika diiringi lengkungan bibir.
"Sudah, Mas," jawab Cantika sambil merapikan kotak P3K, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas.
Andrea yang sudah tidak sabar untuk mereguk kenikmatan surga dunia, gegas menarik pelan lengan Cantika, lalu mendorong tubuh bidadari hatinya itu hingga rebah di atas ranjang.
Cantika memejamkan netra. Ia pasrah dengan apa yang ingin diperbuat oleh Andrea--lelaki yang halal menjamah raganya dan menanam benih di rahimnya.
Maka terjadilah apa yang semestinya terjadi. Gempa lokal berkekuatan 5,9 skala richter mengguncang ranjang dan mengakibatkan keduanya tenggelam ke dalam asmaraloka, menyatukan cinta, mereguk kenikmatan surga dunia bernilai ibadah.
Tanpa terasa, tiga jam telah berlalu. Seusai menuntaskan ha-srat berulang kali, sepasang anak manusia itu saling berpeluk erat dan seolah tak ingin terpisah meski sedetik pun.
__ADS_1
"Makasih, Cintaku," bisik Andrea seiring kecupan dalam yang ia labuhkan di kening Cantika.
Cantika mengangguk pelan dan membenamkan wajahnya di dada bidang Andrea sembari menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh suami brondongnya itu.
Andrea menarik kedua sudut bibirnya dan menghujani rikma Cantika yang panjang tergerai dengan kecupan lembut. Kemudian ia kembali berbisik, "Aku ingin lagi, Yang --"
Sontak, Cantika menengadahkan wajah dan menggeser posisi tubuhnya saat mendengar bisikan Andrea. Terbayang olehnya jika ia menuruti permintaan suami brondongnya itu.
Bisa dipastikan, tubuhnya akan semakin lelah dan kakinya akan sulit untuk melangkah karena rasa perih di sela-put mar-wah.
"Mas, aku --"
Andrea memangkas ucapan Cantika dengan memainkan squisy kesayangannya dan membuat Cantika seketika melantunkan nada-nada merdu.
Gempa berkekuatan 5,9 skala richter pun kembali menguncang ranjang dan membuat jari othornya semakin keder untuk melanjutkan kisah ini.
"Please Andrea, jangan keseringan meminta jatah! Kasihanilah othormu yang masih polos ini 🥺," said othor.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
__ADS_1
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏