
Happy reading 😘😘😘
Bola mata Cantika seketika berotasi sempurna kala mendengar deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Andrea. Ia benar-benar tidak menyangka, ternyata suami brondongnya itu masih teramat sangat polos.
Ya Allah, ternyata suamiku benar-benar masih bocah--batin Cantika berbisik.
"Yang, kok diem?"
"Eng, eh, ya, Mas." Cantika gelagapan. Ia tersadar dari lamun yang sesaat menyapa.
"Aku ulangi lagi pertanyaanku, Yang?"
"Iya, Mas. Ulangi lagi pertanyaanmu! Maaf, tadi aku agak ngebleng."
"Iya, nggak pa-pa, Yang." Andrea menerbitkan senyum dan mengulangi pertanyaan yang tadi ia lontarkan.
"Begini Yang, tadi 'kan bunda berpesan supaya kita sering-sering membuat adonan dan meminta kita untuk segera memberikan beliau cucu. Maksud bunda, adonan apa ya? Adonan kue donat, kue lapis, kue cucur, atau adonan yang lainnya? Lalu, apa hubungannya adonan dengan cucu? Sayang tahu nggak?"
"Mm, oh itu. Yang dimaksud bunda dengan sering-sering membuat adonan adalah beliau meminta kita untuk sering menunaikan ritual yang selayaknya dilakukan oleh pasangan suami istri, Mas. Kata 'adonan' hanyalah kata kiasan yang digunakan oleh bunda untuk memperhalus perkataan beliau mengenai ritual tersebut. Jadi, hubungan adonan dengan cucu --" Cantika menggantung ucapannya. Ia ragu sekaligus malu untuk menjelaskan hubungan antara adonan dengan cucu.
"Hubungannya apa, Yang?" Andrea kembali bertanya. Ia tampak tidak sabar menanti jawaban yang ingin dituturkan oleh Cantika.
Entah Andrea memang benar-benar tidak tahu dan belum bisa memahami hubungan antara adonan dengan cucu setelah Cantika menjelaskan definisi kata 'membuat adonan' yang dituturkan oleh Vay. Atau bisa jadi, ia hanya sedang berpura-pura. Ibarat kata ... kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.
"Hubungannya --"
"Apa, Yang?"
"Mmm, maaf Mas. Aku harus segera menghubungi Abah dan Ummi. Ada amanah yang mesti aku sampaikan kepada mereka berdua." Cantika beralibi untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tapi, Yang. Kamu belum menjawab pertanyaanku mengenai hubungan antara adonan dengan cucu. Jangan membuatku hidup penasaran karena menanti jawaban darimu tentang hubungan kedua kata itu!"
"Mm, maaf Mas. A-aku. Aku belum bisa menjawabnya sekarang."
"Kenapa belum bisa, Yang?"
"Karena aku harus segera menghubungi Abah dan Ummi. Aku takut terlupa menyampaikan amanah pada mereka berdua." Cantika beranjak dari posisi duduk lalu berjalan menuju pintu. Ia ingin segera keluar dari kamar dan sejenak menghindari suami brondongnya yang terus saja bertanya tentang hubungan antara adonan dengan cucu. Kata ambigu yang sukses membuat degup jantungnya bertalu.
Karena terburu-buru, Cantika lupa mengambil gawainya yang tergeletak di atas nakas.
__ADS_1
"Yang, tunggu!" Andrea meraih gawai milik Cantika dan membawa tubuhnya berdiri. Kemudian ia bergegas menyusul Cantika yang sudah bersiap untuk meraih gagang pintu.
"Ada apa, Mas?" sahut Cantika seraya bertanya pada Andrea. Ia urung meraih gagang pintu dan refleks merotasikan tubuhnya hingga berhadapan dengan Andrea.
"Sayang bilang ingin menghubungi Abah dan Ummi, kenapa handphone-nya malah ditinggal?"
"Oh, aku lupa untuk mengambilnya, Mas," jawab Cantika sembari tersenyum nyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi--tidak ada satu pun yang maju ke depan, atau mundur ke belakang.
Andrea menarik kedua sudut bibirnya dan menyerahkan gawai yang berada di dalam genggaman tangannya kepada si pemilik benda pipih itu.
"Makasih, Mas." Cantika mengulurkan tangan dan menerima benda pipih kesayangannya dari tangan Andrea.
"Yang --"
"Ya, Mas?"
"Sebenarnya, masih banyak yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Tentang apa?"
"Tentang rencana kita ke depannya."
"Hmm, baiklah. Kita bicarakan nanti setelah aku menghubungi Abah dan Ummi ya, Mas!"
"Iya, Mas. Maaf, aku tinggal sebentar ya?"
"Sayang mau pergi ke mana?"
"Cuma mau ke taman, Mas. Menelepon Abah dan Ummi."
"Kenapa nggak di kamar saja, Yang?"
"Eng, itu karena --"
"Karena apa, Yang?"
"Mm, karena aku ingin menelepon Abah dan Ummi di taman sambil melihat keindahan bunga mawar yang sedang bermekaran, Mas." Cantika menjawab asal.
"Aku boleh ikut?"
"Mmm, bo-boleh Mas."
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya, beneran Mas."
"Makasih istriku," ucap Andrea sambil mencuri kecupan yang ia labuhkan di pipi dan sukses membuat Cantika speechless, tidak bisa berkata-kata karena saking terkejutnya dengan serangan mendadak yang dilabuhkan oleh Andrea.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih 😘😘😘
Visual tokoh 'Muridku, Imamku'. Mereka adalah para sahabat sekaligus saudara yang berkenan mendukung karya author dengan mengijinkan nama mereka untuk dijadikan tokoh dalam kisah 'Muridku, Imamku'. ☺
Andrea Winata / Penulis Jelata
Sapri / Afri
Novi Artikasari / Na_Sari
Akbar
Najwa Aini
Nofiya Hayati / Nofi Kahza
Ria Diana Santi / Ria
Ayunda Kirana
__ADS_1