Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Speechless


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, mobil yang dikendarai oleh Anggit berhenti di depan rumah minimalis ber cat biru muda. Rumah tersebut terlihat sederhana dan asri, sehingga Cantika sangat menyukainya.


Cantika meraup udara dalam-dalam sembari memejamkan netra, menikmati aroma alam yang menguar dari pepohonan dan membuat jiwanya serasa tenang.


"Kamu menyukai rumah ini, Yang?" bisik Andrea sambil memeluk tubuh Cantika dari belakang.


"Iya, aku sangat menyukainya, Mas." Cantika menerbitkan senyum dan perlahan membuka sepasang netra indahnya.


"Syukurlah kalau Sayang menyukainya." Andrea kian mengeratkan pelukannya dan melabuhkan kecupan di pipi Cantika.


"Mm ... rumah ini, rumah kontrakan Mas Andrea?"


"Iya, Yang."


"Mahal tidak, Mas?"


"Apanya yang mahal?" Bukannya menjawab kalimat tanya yang dilontarkan oleh Cantika, Andrea malah balik bertanya.


"Ya biaya kontrakannya, Mas. Berapa biaya per bulan atau per tahunnya? Kalau biaya-nya mahal, lebih baik kita pindah saja di rumah kontrakan-ku --"


"Nggak mahal kok, Tika. Lagi pula, rumah kontrakan ini sudah kakak beli untuk kalian." Nasari yang tiba-tiba muncul dari balik pohon tatebuya, memangkas ucapan Cantika.


Andrea dan Cantika terkesiap kala mendengar suara Nasari (Sari). Keduanya pun sontak menoleh ke arah asal suara.

__ADS_1


"Kak Sari --" ucap Andrea dan Cantika kompak.


Andrea lantas melepas pelukannya, lalu berjalan menghampiri Nasari, disusul oleh Cantika.


"Kak, sejak kapan lu ada di mari?" Andrea bertanya heran diikuti tautan kedua pangkal alisnya.


"Sejak kemarin, Dek."


"Sejak kemarin?" Andrea kembali bertanya.


"Iya. Semalam, Kakak dan Bang Akbar menginap di rumah ini."


"Dari mana Kakak dapet kunci rumah kontrakan gue?"


"Ya dari pemilik-nya lah. Kakak sengaja membeli rumah ini untuk kalian, sebagai hadiah pernikahan dan sebagai permintaan maaf dari kami. Kakak dan Bang Akbar minta maaf karena kami tidak bisa turut menyaksikan pernikahan kalian."


Nasari menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan. "Sebenarnya waktu itu, kami sudah memesan tiket pesawat untuk menyusul kalian ke Kalimantan. Atas kehendak Allah, satu jam sebelum pesawat berangkat, Alwi mendadak demam. Karena teramat panik dan khawatir jika Alwi kenapa-napa, kakak dan Bang Akbar langsung membawa Alwi ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata Alwi terkena DB dan harus opname di rumah sakit selama satu minggu."


"Innalillah. Terus, gimana keadaan Alwi sekarang, Kak?"


"Alhamdulillah, Alwi sudah sembuh dan sehat seperti sedia kala, Dek."


"Alhamdulillah. Gue pingin ketemu Alwi, Kak."


"Boleh, tapi nanti. Sekarang, ajaklah istrimu untuk masuk ke dalam rumah!"


"Ogeh, Kak." Andrea mengerjapkan netra dan menerbitkan senyum. Kemudian ia memandu Cantika untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Welcome dua kesayangan."


Speechless


Andrea dan Cantika tidak bisa berkata-kata saat mendapat sambutan dari keluarga mereka.


"Welcome, Sayang," ucap Vay sembari merentangkan tangan, lantas membawa Andrea dan Cantika ke dalam pelukan. Keduanya pun membalas pelukan Vay.


Sejenak mereka bertiga saling berpeluk diiringi senyuman yang menyiratkan rasa bahagia.


Setelah Vay mengurai pelukan, Airlangga merengkuh tubuh Andrea dan memeluk putranya itu dengan erat. Sementara Hafidz, Khabibah, dan Najwa, bergantian memeluk Cantika.


Rasa hangat bercampur haru menyelinap ke relung kalbu dan membuat Cantika tak kuasa membendung butiran embun yang lolos begitu saja dari kedua sudut netra.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


UP nya segini dulu ya Kakak-kakak ter love. Insya Allah nanti dilanjut lagi. Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan

__ADS_1


Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏


__ADS_2